
"Apa kau masih ingat akan pertanyaanmu dulu saat pertama kita bertemu?"
Aku memiringkan kepalaku, sedikit berpikir sepertinya Ken tak berniat membicarakan masalah sekolah yang ingin ku bangun, melainkan hal lain yang belum bisa ku tebak, aku memilih diam dan membiarkan Ken melanjutkan ucapannya.
"Dulu kau bertanya mengenai restu kaisar yang diberikan padaku, bukan?"
Aku mengangguk, aku ingat dulu aku menemukan aura ayah pada tubuh Ken yang ternyata adalah restu ayah yang diberikan padanya.
"Saat itu aku bilang ingin menikah dengan orang yang ku cintai, memberikan diriku seutuhnya untuk membahagiakan dan melindunginya sampai takdir memisahkan. Apa kau ingat?" tanya Ken lagi.
aku mengangguk, "tentu aku ingat kalau kau memutuskan tidak mengirimkan upeti lamaran untuk Yang Mulia Putri Mahkota walaupun mendapat restu Yang Mulia Kaisar, karena kau ingin menikah dengan orang yang kau cintai, sama seperti adikmu Lia."
Aku menangkap sosok Lia yang tampak tertawa lepas bersama yang lain, ada kebahagiaan tersendiri yang kurasakan saat melihatnya, seolah aku telah menyelamatkan sebuah nyawa yang berharga.
"Kini aku telah menemukan orang itu," Ken menyadarkanku dari lamunan. "Aku mencintai seseorang dan ingin selalu membuatnya bahagia," Ken menenggak wine yang tersisa di gelasnya lalu meletakkannya di atas meja.
"Wah, selamat Ken aku senang mendengarnya, jadi kapan kau akan menikah?" tanyaku antusias, aku tak sabar ingin segera menghadiri upacara pernikahan, sudah lama sejak terakhir kali aku melakukannya. Aku selalu senang datang dalam sebuah acara pernikahan yang penuh dengan dekorasi bunga yang indah nan harum, menampilkan pengantin wanita yang terlihat secantik dewi dan pengantin laki-laki bak dewa, kebahagiaan yang terpancar dari keduanya membuat energi positif yang berlimpah, dan turunnya banyak berkah, wah aku sungguh tak sabar.
"Segera setelah ia menerima lamaranku," Ken tiba-tiba turun dari tempat duduknya dan menekuk lututnya ke arahku, ia mengeluarkan kotak cincin dari saku jaket panjangnya.
"Rara, aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta sejak pertama kali bertemu denganmu, awalnya aku ragu tapi kini aku yakin bahwa aku mencintaimu, aku ingin menjadikanmu ibu dari anak-anakku dan berjanji untuk selalu membahagiakanmu."
Aku kaget bukan kepalang, oh tidak ini bencana! Apa jadinya kalau Varen tahu? Apa jadinya kalau ken tahu aku adalah Putri Mahkota yang tidak ingin dinikahinya? Oh ya ampun bagaimana cara menolaknya agar ia tak sedih? Aku benar-benar tak mau kehilangan seorang teman.
"Rara, maukah kau menikah denganku?" Ken membuka kotak cincin di tangannya sehingga menampilkan sebuah cincin dengan dengan batu zamrud yang indah.
Aku termenung dan merasa canggung, mulutku seolah terkunci, aku berusaha menenangkan diriku dan menarik nafas panjang, apapun yang terjadi, menolaknya adalah hal yang tepat!
"Maafkan aku Ken, aku telah bertunangan," jawabku sambil memperlihatkan cincin di jari manisku.
__ADS_1
Aku dapat melihat perubahan ekspresi di wajah Ken, ia tampak menarik nafas panjang seolah menenangkan dirinya sendiri.
"Apakah kau mencintainya?" tanya Ken yang masih menekuk satu lututnya di hadapanku.
"Ya, aku sangat mencintainya."
"Hmm.." Ken menutup kotak cincin yang dipegangnya dan memasukkannya kemvali ke saku jaket yang ia kenakan. "Kalau begitu berbahagialah Ra, kudoakan agar kau selalu bahagia."
Aku tersenyum mendengar harapan tulus yang Ken ucapkan, "berdirilah atau celanamu akan kotor!"
Kuulurkan tanganku dan Ken meraihnya, aku membantu Ken berdiri dan benar saja ada beberapa noda yang menempel di celananya, aku hendak mengulurkan tangan membersihkannya tapi aku tahu itu tak pantas, maka kujentikkan jari dan memasrahkannya pada sihirku.
"Jika kau melakukan ini, bagaimana bisa mencintai gadis lain?" Ken terlihat bergurau.
"Tentu saja bisa, kau akan menjadi pemimpin yang bijaksana dan penuh pesona, gadis mana yang tak mau denganmu?" ucapku yakin.
"Hey, kalau aku tentu tak bisa, aku sudah ada yang punya!" Aku meladeni candaan Ken, "lain kali pastikan dulu apakah wanita yang kau sukai itu benar-benar masih lajang atau tidak, oke?"
Ken mengangguk, "tapi aku bersyukur tak mengetahui kenyataan bahwa kau telah bertunangan."
Aku melirik ke arahnya seolah bertanya, kenapa?
"Cinta adalah perasaan yang tak bisa dipaksakan, jika aku mengetahui kau sudah bertunangan maka aku takkan bisa menyatakan perasaanku yang sebenarnya, aku pasti akan sangat tertekan menyembunyikannya, karena aku bukan orang yang bisa berpura-pura baik-baik saja."
Ken menghela nafas panjang, "walaupun kau menolakku, tapi aku benar-benar bersyukur bahwa aku telah menyatakan perasaanku, rasanya teramat melegakan. Terimakasih Ra, telah membuatku merasa jatuh cinta untuk yang pertama kalinya."
"Maafkan aku Ken, semoga kau segera bertemu dengan wanita yang mencintaimu dengan tulus," ucapanku membuat serbuk emas turun dari langit.
"Wah apakah itu serbuk emas lagi?" Ken bergegas keluar dari rumah kaca dan bergabung dengan yang lain, aku tak tahu apakah Ken melakukannya karena benar-benar penasaran atau karena ingin cepat pergi dari hadapanku.
__ADS_1
Mereka terlihat takjub dan menikmati sensasi ketika serbuk emas menyentuh tubuh mereka dan lenyap begitu saja, tapi mereka teramat menyadari bahwa serbuk emas yang turun bagaikan hujan membuat aura mereka berpendar lebih terang.
Aku melangkahkan kakiku menuju ke arah mereka, "apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
Aciel menghentikanku dengan pertanyaannya, aku menatap langit malam yang kini masih menurunkan serbuk emas. "Aku akan memasrahkan peternakan dan budidaya ini padamu, aku akan menjemputmu 1 bulan dari sekarang," ucapku pada Aciel.
"Tentu, serbuk emasmu pasti mempercepat tumbuhnya tanaman obat dan hewan ternak pun akan lebih cepat berkembang biak karenanya."
"Benarkah?" aku bahkan masih meragukan efek serbuk emasku sendiri, banyak orang menganggapnya sebagai berkah karena doa dan harapan yang kupanjatkan untuk mereka, tapi aku masih tak tahu apakah benar-benar memberi dampak yang bagus?
"Kau akan fokus mengurus sekolah?" tanya Aciel lagi.
Aku menggeleng, "aku pun akan menyerahkan masalah sekolah pada seseorang, setelah ijin kudapatkan."
"Orang itukah yang membuatmu yakin bahwa tak akan gagal?"
Aku mengangguk mantap atas pertanyaan Aciel, orang yang kumaksud memegang kunci utama dari permasalahan ini.
"Aku akan kembali ke istana untuk mendiakusikannya, apa ada yang ingin kau sampaikan pada kak Althea?" tanyaku pada Aciel, menurut perhitunganku sudah hampir satu bulan kami berada di masa lalu, tentu Aciel mungkin merindukan kakaknya.
"Tak ada, kau berjanji akan mengembalikanku pada saat kau meminta bantuanku kan? Maka itu tandanya dilihat dari sisi Kak Althea maka aku hanya pergi melukis pemandangan, akan aneh jika aku menitip pesan untuknya."
"Ah benar," aku lupa akan hal itu. "Aku akan mrninggalkan Balin bersamamu, apakah kau tak apa?"
Aciel tersenyum sumringah, "wah apa kau menganggapku anak kecil sampai harus ditemani ketika ditinggal pergi?"
Aku tertawa terbahak, kadang Aciel memang tampak seperti anak kecil di mataku.
"Ya! Kenapa kau tertawa? Apa kau benar-benar menganggapku anak kecil?" tanya Aciel lagi dengan muka kesalnya yang lucu, yang malah membuatku tertawa semakin keras, gelang persahabatan yang kuberikan padanya tampak bersinar terang menandakan persahabat kami yang semakin erat, dan membuatku mengulang rasa syukurku karena memiliki sahabat seperti Aciel.
__ADS_1