
Pagi ini seusai sarapan aku memilih menghabiskan waktuku di gazebo istana utama, menikmati hamparan bunga yang indah.
"Yang Mulia," suara Balin membuatku terjaga.
"Ya Balin," sahutku pendek.
Melihat Balin, yang kini tampak semakin tegap berotot membuatku sadar bahwa waktu telah berlalu dengan cepat.
"Yang Mulia belum ada kabar kelahiran dari istana hutan hujan, mereka masih menunggu."
Aku mengangguk, "terimakasih Balin."
Kualihkan pandanganku kembali ke arah taman istana yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang indah beraneka rupa. Beberapa bulan ini aku menyibukkan diri dengan urusan kekaisaran, aku belajar dari ayah, ibu dan kakak-kakakku. Banyak hal baru yang kupelajari dan kuakui aku cukup menikmatinya, walaupun seringnya membuatku tak tidur beberapa malam.
Akupun menyadari kurangnya kekuatanku, hingga aku belajar mengasah kekuatanku di bawah bimbingan Paman Ezio. Di saat suntuk, aku selalu menemui temanku Aciel, aku menikmati menghabiskan waktu bersamanya. Apapun suasana hatiku ketika datang menemuinya, pada akhirnya aku bisa pulang dengan suasana hati yang bagus. Kami belajar memanah, strategi militer, bercocok tanam hingga melukis bersama, dia adalah teman yang bisa membuat suasana belajar menjadi seperti bermain, darinya aku belajar banyak dan menemukan arti kata 'tulus' yang sesungguhnya, hingga tak kusadari bahwa waktu berlalu dengan cepat.
Hari ini aku pun masih menunggu kabar kelahiran dari istana hutan hujan, ya dekat waktunya Vivian melahirkan, maka setiap hari aku selalu mengutus Balin untuk menanyakan kabar pada ibu asuh Sarala.
"Balin, adakah sesuatu yang ingin kau lakukan?" tanyaku sambil meneguk teh hangat yang kuseduh sendiri.
"Melindungi Yang Mulia sampai akhir."
"Uhuk..uhuk..uhukk..." aku tersedak keras.
"Yang Mulia, apa Yang Mulia baik saja?"
Balin menatapku dengan wajah cemasnya, aku menghirup nafas panjang. "Aku yang salah, aku seharusnya tidak berharap banyak atas jawaban yang kau berikan. Harusnya aku sudah bisa menebak jawaban konsisten yang selalu kau berikan untuk satu pertanyaan ini."
__ADS_1
"Tapi itu adalah sebenar-benarnya jawaban, karena itulah yang ingin hamba lakukan, Yang Mulia."
Ada rasa sedikit kesal karena Balin selalu memberiku jawaban yang sama untuk satu pertanyaan itu, tapi di sisi lain aku merasa sangat beruntung memiliki seseorang yang amat setia di sampingku.
"Balin, dengarkan baik-baik." Aku menyandarkan punggungku di kursi, lalu menatap mata Balin, "jika suatu saat nanti kau menemukan sesuatu atau mungkin seseorang yang kau inginkan melebihi keinginanmu untuk melindungiku, maka katakanlah tanpa ragu."
Balin mengernyit, seolah ia tak pernah memikirkan kemungkinan dari perkataanku akan terjadi padanya, tapi ia tampak tak ingin membantah.
"Baik, Yang Mulia."
Aku melirik ke arahnya lagi, "Balin apa kau tidak ingin menikah?"
Kali ini Balin tampak sedikit terkejut atas pertanyaanku yang mungkin tidak terprediksi olehnya.
"Melindungi Yang Mulia adalah prioritas hamba," jawab Balin tegas dengan suara beratnya.
Balin tidak menyanggah maupun meng-iyakan pertanyaanku, dia hanya menyiratkan bahwa menikah bukan prioritasnya saat ini. Mendengar jawaban Balin, aku jadi teringat akan Paman Ezio, apakah ia juga memprioritaskan melindungi kekaisaran hingga mengenyampingkan pernikahan?
Mataku beralih menatap cincin yang masih bertengger di jari manisku, cincin yang akan selalu mengingatkanku pada Varen. "Balin, apa kau pernah mendengar tentang kekaisaran perak?"
Balin yang biasanya menjawab dengan cepat dan tegas, kini tampaknya hanyut dalam pikirannya sendiri. Ia tampak ragu untuk menjawab hingga berkali-kali tampak mengecek ingatannya lagi dan lagi.
"Ampun Yang Mulia, hamba akan mencoba mengumpulkan informasi mengenai kekaisaran perak, jika Yang Mulia menghendaki."
Aku kembali menarik nafas panjang, lalu mengalihkan pandanganku ke arah taman bunga. Jawaban Balin adalah tanda bahwa ia sama sekali belum pernah mengetahui ataupun mendengar tentang kekaisaran perak. Beberapa bulan ini aku mempelajari peta di perpustakaan, tapi sama halnya dengan Balin, aku juga tak menemukannya. Jika kekaisaran perak tak ada di peta, maka di manakah letak tempat tinggal Varen?
"Tidak perlu, aku hanya bertanya." Aku berdiri dan menyunggingkan senyum ke arah Balin, "baiklah mari kita pergi, sudah saatnya bertemu mereka."
__ADS_1
Balin mengangguk, mempersilahkanku untuk berjalan terlebih dulu. Balin mengikutiku di belakang, seperti yang biasa ia lakukan. Lorong demi lorong ku lewati, hingga kulihat sepasang suami istri yang tampak menungguku di depan pintu agung berlapis emas.
"Menemui Aciel?"
Aku menggeleng, "tidak ibu, hanya menatap kebun bunga istana yang tampak indah pagi ini."
Ibunda merangkul pundakku, "senyummu membuat ibu lebih tenang."
Membuat ibu lebih tenang? Apakah ada sesuatu yang membuat ibu gelisah? Aku menatap ayah yang berdiri di samping ibunda, tapi ayah hanya diam.
"Kita masuk sekarang," kata ayah yang membuat prajurit penjaga pintu bergerak membukakan pintu agung untuk kami. Ayahanda dan ibunda melangkah masuk terlebih dulu, aku mengikuti keduanya dari belakang.
"Hormat pada Yang Mulia Kaisar, Permaisuri dan Putri Mahkota," aku menatap para tetua dan petinggi kekaisaran yang berkumpul di balai pertemuan. Ada sekitar lima puluh orang, dan mereka tampak mencemaskan sesuatu, sama seperti ayah dan ibu.
Kami bertiga duduk berdampingan, ketiga singgasana kami diletakkan lebih tinggi dari tempat duduk tetua dan para petinggi kerajaan. Aku senang melihat beberapa wajah yang tak asing.
"Duduklah!"
Mereka mengikuti perintah ayah, dan tampak mendudukkan diri di kursi mereka masing-masing, di setiap meja tertulis nama mereka serta kerajaan atau bagian yang mereka wakili.
"Kali ini langsung saja pada intinya," ayah bersuara memecah keheningan. Aku terkejut, karena biasanya pada pertemuan seperti ini, Paman Eziolah yang bertugas memandu jalannya rapat dari awal hingga akhir, tapi kali ini sepertinya ayah langsung turun tangan. Ada apa sebenarnya? Masalah apa yang membuat ayah sampai turun tangan memulai rapat?
"Mengenai pernikahan putri mahkota yang kalian ributkan, akan kuserahkan sepenuhnya pada putriku," kali ini ayah menatapku sekilas.
Aku terhenyak kaget, aku kira ada permasalahan yang amat jauh lebih penting dari apa yang ayah ucapkan, kenapa malah membahas pernikahanku dalam rapat? Dulu di istana hutan hujan mereka juga meributkan penerus tahta, apakah sekarang akan terjadi hal yang sama?
"Mohon ampun Yang Mulia, banyak pangeran baik dari dalam kekaisaran Matahari maupun dari Kekaisaran tetangga yang berniat untuk meminang Yang Mulia Putri Mahkota, bolehkah kami mendengar tanggapan Yang Mulia Putri Mahkota mengenai hal ini?"
__ADS_1
Tetua Mahira mengajukan pertanyaan yang membuatku bimbang, apakah sebaiknya aku mengatakan bahwa aku bertunangan dengan Varen? Ataukah aku harus menutup mulut hingga bisa menemukan Varen dan membawanya ke kekaisaran matahari?
"Apakah pernikahanku sangatlah penting hingga harus dibahas di balai pertemuan?" tanyaku hati-hati, aku tidak ingin menyinggung siapa pun, aku hanya berpikir bahwa ini terlalu cepat untuk dibahas dan aku belum mempersiapkan jawaban baik yang dapat memuaskan semua pihak.