Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
81. Si Kembar


__ADS_3

Mataku sibuk menatap bayi yang teramat tampan di gendonganku, tubuhnya masih merah, matanya terpejam karena kantuk, tubuhnya yang mungil membuatku tak mau melepasnya.


Mataku beralih pada Varen yang masih tak berhenti menatap bayi cantik di gendongannya, bayi cantik itu tampak membuka mata dan mengamati wajah Varen, sementara Varen mulai mengoceh padanya, si bayi tampak tenang, tangan mungilnya menggapai jari Varen dan tampak menggenggamnya erat, Varen pun tampak sangat bahagia.


"Oh lihatlah sayang, dia menggenggam tanganku!" Ucap Varen kegirangan, membuatku tersenyum lebar.


Aku menampakkan senyum lebar di wajahku tapi air mataku menetes perlahan, aku mengingat banyak hal yang telah terjadi di masa lalu, tapi kini akhirnya Yang Kuasa memberi berkah sepasang bayi yang sempurna, maka aku percaya bahwa semua cobaan yang ada hanyalah bertujuan untuk menempa diri kita agar menjadi lebih kuat.


"Varen, apa kau begitu menyukainya?" tanyaku yang kini melihat Varen berhasil menidurkan si bayi cantik dalam gendongannya, ia berjalan mengitari ruangan perlahan sambil bersenandung pelan.


"Tentu saja, mana bisa aku tidak menyukai bayi secantik dia," Varen menjawabku dengan berbisik, ia kembali mengitari ruangan beberapa kali, barulah setelah yakin bahwa si bayi tertidur pulas, ia tampak berhenti.


"Varen, pink." Aku menunjuk tempat tidur pink di tengah ruangan yang dibuat khusus, siapapun yang melihatnya pasti tahu bahwa tempat tidur ini dibuat secara khusus dengan penuh perhatian.


Varen mendekat ke arah yang kutunjuk lalu membaringkan bayi di gendongannya dengan hati-hati, tak lupa ia menyelimutinya dengan lembut.


"Terima kasih," ucapku ketika Varen mengambil si bayi tampan dari gendonganku lalu membaringkannya di tempat tidur warna biru yang berdampingan di tengah ruangan, ia juga menyelimutinya dengan lembut, lalu mengecup dahi si bayi bergantian.


Aku berdiri dan mendekat ke arah Varen yang masih memandangi keduanya, "kau tahu aku mungkin bisa cemburu kalau kau terus seperti ini," bisikku di telinga Varen.


Varen langsung mengalihkan tatapannya ke arahku dan mencium dahiku lembut, "kau yang memberiku kesempatan berharga ini, kenapa malah kau yang cemburu?"


Aku cemberut padanya dan memperlihatkan wajah yang merajuk, "karena aku tahu aku tak bisa mengalahkan mereka."


Varen tersenyum, "jangan konyol! Kau tetap nomer satu di hatiku, sayang."


Varen merengkuh pundakku, dan aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Kami berdua terhanyut dalam ketenangan yang dibuat oleh sepasang bayi yang kini tengah tertidur pulas.


"Hey orang pasti akan mengira kalau mereka anak kalian berdua!"

__ADS_1


"Kak Prisa!" Aku langsung berjalan ke arahnya dan memberinya pelukan, "kakak baru datang?"


"Ya, ibu asuh Sarala bilang kalau kau dan Varen ada di sini," jawab kak Prisa menatapku dan Varen bergantian.


"Selamat datang kak, di mana Kak Arya?" tanya Varen sambil membungkuk memberi hormat.


"Ah dia berkumpul dengan yang lain di halaman, ayah menyuruhku memanggilmu untuk bergabung," ucap Kak Prisa tanpa kikuk.


"Oh kalau begitu aku akan bergabung dengan mereka," Varen mengucapkannya padaku, aku pun mengangguk dan melepasnya pergi.


"Bagaimana dengan Vivian?" Kak Prisa menatapku menyelidik.


"Aku telah memulihkannya tapi kubiarkan ia tidur sebentar, bagaimanapun ia pasti kelelahan melahirkan sepasang bayi yang sempurna ini," ucapku lirih. "Bukankah kakak punya sesuatu untuk dikatakan?" tanyaku sambil melirik ke arah perut Kak Prisa.


"Kau merasakannya?" Kak Prisa tampak terkejut.


"Tentu saja, ada dua kehidupan di dalam sana, bagaimana bisa aku tak merasakannya? Bahkan sudah lebih dari 9 minggu, wah kakak pasti belum bertemu ibu ya? Kalau ketahuan kakak tidak memberitahu ibu, ibunda pasti akan sangat kecewa!"


"APA?" tanyaku sambil melotot, bagaimana bisa?


"Aku takut ini hanyalah siklus menstruasiku yang bermasalah, jadi aku memutuskan untuk menunggunya terlebih dulu," Kak Prisa mengusap perutnya yang baru tampak sedikit membuncit. "Mendengarmu mengatakan bahwa kau bisa merasakan kehidupan di dalam rahimku, ada rasa lega dan bahagia yang kurasakan."


"Apa maksudmu?" Kak Nala tampak tanpa sengaja mendengar pembicaraan kami. Ia mendekati Kak Prisa dan mengusap perutnya, "ah selamat adikku, tampaknya ayah dan ibu akan memiliki sepasang cucu kembar lagi," Kak Nala meraih wajah kak Prisa dan mencium dahinya.


"Ah, syukurlah!" Air mata menetes dari mata Kak Prisa. "Awalnya aku takut berharap, aku takut salah mengartikannya," ia menangis tersedu-sedu.


Aku melirik ke arah Kak Nala dan berbicara lewat telepati, "apakah hamil sungguh bisa merubah seseorang? Kak Prisa hampir tidak pernah menangis, sejak kapan dia menjadi sesensitif ini Kak?"


Kak Nala memeluk Kak Prisa dan menenangkannya dengan menepuk-nepuk punggungnya, ia kemudian menjawabku lewat telepati, "jangan mengejek kakakmu yang satu ini, sebentar lagi kau juga pasti akan merasakannya, tunggu dan lihatlah!"

__ADS_1


Hatiku mencelos, wah menjadi anak bungsu memanglah berat, apalagi kalau bicara soal pengalaman, aku takkan pernah bisa mengalahkan kedua kakakku yang teramat cemerlang.


"Jangan beritahu siapapun, aku ingin memberitahu Arya terlebih dulu," Kak Prisa tampak memohon.


"Tentu, tak baik jika Kak Arya tahu setelah orang lain. Aku akan pura-pura tidak tahu, tapi kakak harus segera memberitahu kakak ipar."


"Benar kata Aira, kau harus segera melakukannya, Arya pasti akan sangat bahagia jika mendengar kabar ini langsung darimu," Kak Nala mengeluarkan sapu tangan dan mengusap air mata Kak Prisa lalu menuntunnya duduk di sofa.


"Pasti, aku pasti akan melakukannya."


Aku tersenyum melihat kedua kakakku yang duduk berdampingan, mereka benar-benar layak disebut dewi, walaupun keduanya berbeda tapi mereka memiliki ciri khas masing-masing. Kecantikan merekapun tak pudar seiring usia, melihat mereka membuatku merasa sangat beruntung.


"Oh bagaimana dengan pernikahanmu, Aira?" Kak Nala tiba-tiba mengalihkan topik.


"Ah masih banyak yang perlu dipersiapkan, lagipula kami masih harus menunggu kedua orang tua Varen untuk membahas banyak hal," jawabku apa adanya.


"Benar, tapi semakin cepat semakin baik." Kak Nala kembali menatapku, "apa kau benar-benar yakin?"


"Apa maksud kakak? Tentu aku yakin, ayah dan ibu sudah memberi restu, kenapa kakak menanyaiku begitu?" tanyaku heran.


Kak Prisa melirikku, "lihat saja, semakin dekat dengan pernikahan maka kau akan sering bertanya pada dirimu sendiri, apakah kau yakin? apakah dia orang yang tepat? apakah ini pilihan yang benar? dan jika mentalmu tak kuat, kau akan mulai berpikir hal-hal gelap, oh jangan sampai terjadi! Kau harus bisa mengendalikan jiwa dan ragamu dengan baik, dan menguatkan mentalmu," Kak Prisa tampak lebih cerewet dari biasanya. "Ah aku lupa, kalian berdua adalah penerus kekaisaran, kau putri mahkota dan Varen adalah putra mahkota, apakah kalian sudah memutuskan untuk tinggal di mana?"


"Varen memilih untuk membangun kekaisaran sendiri," jawabku acuh tak acuh.


"Apa? Di mana? Bagaimana bisa dia memutuskannya?" Kak Prisa benar-benar tampak seperti orang yang berbeda.


Lain halnya dengan Kak Nala, ia tampak terkejut dengan jawabanku, tapi ia menungguku untuk memberikan penjelasan.


"Gold Ring," jawabku singkat dan mendudukkan diri di hadapan kedua kakakku.

__ADS_1


"GOLD RING? MAKSUDMU GOLDEN RING?" Kak Nala dan Kak Prisa bertanya bersamaan, suara keduanya membuat si kembar sedikit terganganggu dan menggerakkan tubuh mereka hingga membuat kami menahan nafas beberapa saat sampai kami yakin mereka tak terbangun.


"Bersiaplah untuk mengunjungiku sekaligus berlibur nanti," ucapku seraya menunjukkan senyum simpul pada kedua kakak cantikku yang masih menatapku tak percaya.


__ADS_2