Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
13. Rindu yang Tak Tersampaikan


__ADS_3

Kurasakan cahaya mentari menerpa hangat kulitku, perlahan kubuka mataku yang terasa sedikit berat. "Paman," ucapku melihat Paman Ezio yang duduk di samping ranjang, ada lingkaran hitam yang tampak di bawah matanya, mungkin tak bisa tidur beberapa hari.


"Yang Mulia, syukurlah." Paman Ezio tersenyum ke arahku, tangan kanannya membelai lembut pucuk kepalaku. "Putri Aira, apa yang membuatmu tertidur begitu lama? Kau membuat kami semua cemas!"


Gerutuan Paman Ezio membuatku tersenyum ke arahnya, "maafkan Aira, Paman." Mataku berkeliling, aku masih berada di istana hutan hujan, ada barrier pelindung di sekeliling ruang tidurku, aku rasa mereka menambahkan beberapa sihir yang tak kuketahui.


Hanya ada Paman Ezio dan aku, mungkin suara ayah dan ibu yang tadi kudengar hanyalah halusinasi, mungkin itu hanyalah perwujudan dari kerinduanku pada keduanya. Ada perasaan sedih yang menggelanyut dalam hati, tapi aku kembali mengingatkan diriku sendiri, saat ini bukan waktunya untuk menangis dan merengek ingin bertemu ayah dan ibu, karena masih banyak hal yang harus kuselesaikan, termasuk hukuman ayah. Aku kembali menyadarkan diri, rasa haus menerpaku. Kerongkonganku terasa amat kering bagai tak minum berhari-hari.


"Paman, aku haus."


Paman Ezio dengan sigap mengambil sebuah cangkir di meja samping tempat tidurku dan membantuku minum, aku meneguknya hingga tak tersisa. Oh ya ampun aku melupakan sesuatu!


"Di mana naga perak yang mengantarku Paman?" tanyaku teringat naga perak yang kutunggangi, kalau semua itu hanya mimpi maka naga perak pun mungkin hanya bunga mimpiku.


"Naga perak? Seumur hidupku, aku belum pernah menjumpai naga perak, Yang Mulia." Paman Ezio menatapku, mencoba mencari sesuatu dalam mataku, entah apa. Paman Ezio sering diperintahkan ayah pergi ke beberapa kekaisaran lain, ia juga sudah melalang buana, maka jika paman mengatakan bahwa ia belum pernah menjumpai naga perak, maka mungkin semua yang terjadi selama aku tidur, hanyalah mimpi biasa, apalagi seekor naga perak yang tercipta dari rambut dan darahku? Oh ya ampun mungkin aku sudah gila karena berharap terlalu tinggi kalau semua itu nyata!


"Memang ada sebuah ramalan yang menyebutkan bahwa satu-satunya penawar racun dingin adalah air mata naga perak." Aku menatap Paman Ezio yang tampak terhanyut dalam pikirannya sendiri.


"Tapi sampai Yang Mulia tak sadarkan diri, setau hamba belum pernah ada yang berhasil sembuh dari racun dingin, maka dapat disimpulkan bahwa belum ada yang bisa mendapatkan air mata naga perak, mungkin belum ada yang bisa menemukan keberadaan sang naga."


Paman Ezio kembali menatapku, "kenapa Anda bertanya Yang Mulia?"


Aku ragu menjawabnya, tiba-tiba aku merasakan perih di ujung jariku. Refleks aku meraba ujung jariku dan alangkah kagetnya aku, ada bekas sayatan belati persis seperti di mimpiku.


"Paman tolong ambilkan aku gunting," pintaku lirih, aku termakan oleh rasa penasaranku sendiri. Tanpa bertanya, Paman Ezio mengibaskan tangan kanannya dan muncullah sebuah gunting perak kecil di tangannya lalu segera ia berikan padaku.

__ADS_1


Aku mengambil ujung rambut panjang hitamku yang terlihat sedikit kusut, memotongnya sedikit. Paman Ezio memperhatikan seluruh tindakanku dalam diam, ia mengamati dengan mata elangnya. Aku menarik nafas panjang, dan benar saja, potongan rambut hitamku kini berubah menjadi perak, seperak rambut nenek permaisuri ke-5! Maka ada kemungkinan naga perak benar-benar ada!


Paman Ezio terhenyak kaget, ia memandangku tak percaya. Aku mengingat cara Paman Ezio memanggil Fia, kadang ia memanggilnya lewat telepati, kadang pula ia bersuara memanggil nama Fia, kadang ia pun hanya perlu bersiul ringan.


"Naga perak, tolong keluarlah!"


Dari ujung jariku yang masih membekas luka sayatan, tampak aura perak mulai memancar, makin lama makin membesar hingga menampakkan naga perak yang amat besar, sampai ia harus melingkarkan ekornya beberapa kali agar muat di ruang tidurku. Paman Ezio menatap aku dan naga perak bergantian, tatapannya antara tak percaya dan menyelidik butuh penjelasan.


"Hormat hamba Yang Mulia," Naga perak menundukkan kepalanya, memberi hormat padaku.


"Kemarilah," aku menepuk tempat tidur dengan tangan kiriku, di samping kananku Paman Ezio terus memperhatikan naga perak, matanya menelisik seluruh tubuh naga perak, ia terlihat tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Naga perak menurut dan meletakkan sepertiga kepalanya di ranjangku, tepat di mana tangan kiriku tadi menepuknya.


"Terimakasih telah membantuku, bolehkah aku memberimu nama?" tanyaku sambil mengusap kepalanya dengan tangan kiriku, entah kenapa sisiknya tak sekasar yang kubayangkan malah terasa halus bagaikan kulit biasanya tapi lebih licin, semakin dilihat, semakin terlihat indah, kilauan peraknya benar-benar menakjubkan.


"Mulai hari ini aku akan memanggilmu Ryu," aku melihat mata peraknya berkilat bahagia, senyumku mengembang melihatnya. Awalnya Ryu tampak besar dan menakutkan, tapi ternyata amatlah menggemaskan!


"Terimakasih Yang Mulia, hamba akan setia mengabdi pada Yang Mulia."


"Semoga kau bisa melindungi orang-orang yang membutuhkan perlindunganmu, jangan pernah menyalahgunakan kekuatan yang kau miliki Ryu," aku bergerak mendekati kepalanya dan mencium pucuk kepalanya lembut. Aura pelangiku menyelimuti kepala Ryu dan kini meninggalkan sebuah mahkota silver di kepalanya, tepat di pucuk kepala yang tadi kucium.


"Itu pantas untukmu, beristirahatlah Ryu."


Ryu menggerakkan tubuhnya, perlahan cahaya perak mengelilingi tubuhnya dan ia hilang tanpa bekas.


"Yang Mulia, bukankah anda perlu menjelaskannya?" Paman Ezio menatapku menyelidik. "Apa yang anda lakukan selama hampir 5 bulan tertidur?"

__ADS_1


Aku kembali terkejut, 5 bulan? ya ampun kenapa begitu lama? Eh ramalan buku pusaka itu! Aku baru mengingatnya.


"Paman tolong, aku ingin bertemu Vivian, Edward dan kalau ada seorang tabib," pintaku tanpa menjawab pertanyaan Paman Ezio.


Paman Ezio menarik nafas panjang, mungkin itu tanda bahwa ia harus bersabar denganku karena tak satupun pertanyaannya kujawab. Paman Ezio mengibaskan tangan kanannya, seketika barrier pelindung hilang begitu saja, menampilkan Edward, Vivian, Tetua Mahanta dan Darel yang duduk berjejer menghadap ke arahku. Jadi selama ini mereka juga mengguiku tapi terhalang oleh barrier milik Paman Ezio?


"Yang Mulia," mereka bersimpuh serempak memberi hormat padaku.


"Duduklah lagi, maaf telah membuat kalian cemas." Aku membetulkan posisi dudukku, lalu menatap lagi ke arah Paman Ezio.


"Tunggu, sebentar lagi ia akan tiba." Ucap Paman Ezio seolah tahu apa yang kutanyakan.


Sebuah portal tampak di ujung ruang tidurku, seorang wanita paruh baya yang pernah kulihat di mimpiku, kini keluar dari portal, Ia berjalan mendekat dan bersimpuh memberi hormat.


"Hormat hamba Yang Mulia," ucapnya sopan. Ia tak menua sedikitpun, rambut perak bergelombang bahkan gelang naga hijau di pergelangan tangannya masih tampak sama seperti yang kulihat di mimpi.


"Berdirilah, Mahira."


Semua orang di ruangan itu seolah terkejut mendengar kata-kataku, mungkin mereka tahu bahwa aku belum pernah bertemu Mahira sebelumnya.


"Terimakasih Yang Mulia, akhirnya kita berjumpa lagi." Mahira tersenyum, matanya memberikan tatapan penuh arti. "Jadi Yang Mulia menginginkan hamba untuk memeriksa siapa?"


"Vivian," jawabku singkat.


Mahira mengangguk dan segera mendekati Vivian, di kepalaku masih terngiang-ngiang ramalan yang tertulis di buku pusaka, tepat sebelum aku melakukan perjalanan ruang waktu.

__ADS_1


__ADS_2