Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
78. Guru


__ADS_3

"Guru Tang, Guru Yang, selamat datang," ucapku menyambut keduanya dengan sedikit membungkuk, mereka membalasku dengan anggukan dan mendudukkan diri di hadapanku dan ayah.


"Wah kalian sungguh tega meninggalkanku, untung saja aku datang bersama keponakanku," suara ini.. aku menoleh ke asal suara dan melihat Varen datang bersama pamannya! Bukankah pamannya sudah meninggal? Apa ini?


Paman Varen langsung duduk di samping Guru Tang dan Guru Yang, sudah menjadi kebiasaan dan rahasia umum jika Guru Tang dan Guru Yang tidak memberi hormat sekalipun pada ayah, karena menurut cerita ayah telah melarangnya sejak dulu, ada yang bilang bahwa keduanya juga merupakan guru ayah, jadi ayah sangat menghormati keduanya, sementara melihat paman Varen yang langsung duduk, mungkin hal itu juga berlaku untuknya?


Di sisi lain Ken tampak bingung melihat pelayan Tang yang ia kenal tak pernah meninggalkan restoran di seberang pasar, kini kusambut dengan panggilan Guru Tang, aku telah menyadarinya dari awal tapi kala itu aku masih ragu, setelah memastikannya dengan Kak Nala dan Kak Prisa barulah aku yakin bahwa pelayan Tang adalah Guru Tang yang amat melegenda, aku bahkan hanya melihat lukisannya di buku, dan baru bertemu dengannya di restoran itu, tapi wajahnya tak dapat dengan mudah dilupakan.


Tapi Ken tampaknya tak begitu terganggu melihat paman Varen, bukankah harusnya ia terkejut karena tabib kerajaan yang ia kira telah meninggal kini ada di hadapannya? Oh ya ampun, mungkinkah paman Varen melakukan sihir perubah rupa?


"Hormat hamba Yang Mulia Kaisar, Hormat hamba Yang Mulia Putri Mahkota," ucap Varen memberi hormat.


Ayah mengangguk dan aku pun membalas memberi hormat, "hormat hamba Yang Mulia Putra Mahkota."


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku lewat telepati.


"Oh ya ampun aku sangat merindukanmu! Kau sangat cantik Aira."


"Varen, berhentilah merayuku!" Aku melirik tajam ke arah Varen memberi peringatan.


"Aku juga tak tahu, paman mengajakku kemari." Varen tampak jujur, suaranya menggema di benakku, membuat jantungku berdegup kencang. "Wajahmu tampak merah, apa kau demam?"


Aku berusaha mengatur nafasku, melihat Varen di hadapanku sungguh membuat jantungku tak terkendali, tak sengaja aku menangkap tatapan ayah yang tampak menatap menyelidik ke arah Varen, persis seperti tatapan yang diberikan pada kak Aditya dan kak Arya dulu.

__ADS_1


"Tidak, aku baik saja." Aku menatap Varen, "kau harus bersiap meminta restu ayah dan ibuku, Varen."


"Tentu, aku akan melakukan yang terbaik agar kita bisa segera menikah."


Wajah tampan Varen seolah mengalihkan seluruh perhatianku, aku benar-benar tak bisa berpaling darinya, ciuman yang terakhir kali dilakukannya, tiba-tiba terbayang membuatku salah tingkah, aku langsung mengakhiri telepatiku dengan Varen.


"Jadi sekolah seperti apa yang diinginkan Yang Mulia?" guru Tang padaku.


Aku berusaha mengembalikan fokusku dan menatap Guru Tang, "sekolah yang tidak hanya mengajarkan ilmu duniawi tapi juga ilmu kehidupan, sekolah yang tak hanya mengutamakan keilmuan tapi juga mengasah kemampuan, sekolah yang tak hanya mengutamakan kecerdasan otak tapi juga mengasah kecerdasan emosional, serta etika dalam kehidupan sosial."


"Maka tak ada celah untuk menolaknya," paman Varen tersenyum ke arahku. "Putri Mahkota sungguh patut dibanggakan, Yang Mulia."


"Hahaha... kau ini, kata-katamu selalu membuatku bahagia! Hahahaha...." ayah tertawa bahagia mendengar kata-kata paman Varen, membuatku semakin penasaran akan banyak hal.


Waktu terus bergulir hingga kami menemukan kesepakatan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sekolah terintegrasi, bahkan hal kecil pun telah kami bahas tuntas.


"Sepertinya tak perlu lagi membawa bahasan ini ke dalam rapat, aku hanya perlu mengumumkannya karena semua hal yang dibutuhkan telah selesai dibahas, jadi hanya perlu melanjutkan rencana dengan melakukan penunjukkan pelaksana terkait."


Semua orang mengangguk dengan keputusan ayah, aku pun merasa lega karena akhirnya ada solusi yang bisa membuat kondisi rakyat lebih baik.


"Ayo kita ke aula ke sekarang, sudah waktunya kita pergi," ayah bangkit dari duduknya, semua orang mengikutinya dari belakang, sementara aku berjalan di samping ayah.


"Maaf aku tak bisa berjalan di sampingmu," ucapku lewat telepati, karena Varen tampak berjalan paling belakang di sampinh pamannya.

__ADS_1


"Bukan tak bisa, tapi belum. Aku berjanji akan mengubah statusku menjadi suamimu segera, agar aku bisa menggandeng tanganmu walau di depan orang banyak sekalipun," suara Varen terdengar menggebu.


Ibu tampak telah menunggu di depan pintu aula, ayah menghampirinya dan menggandeng tangannya. Satu tangan ibu yang bebas, membelai kepalaku penuh kasih, hingga kurasa ia menangkap sosok Varen. Ibu menatapku meminta penjelasan, tapi tampaknya ibu sadar bahwa ini bukanlah waktu yang tepat, maka kami memasuki ruang rapat bersama dan menempatkan diri sesuai nama yang tertera di meja.


"Hormat kami pada Yang Mulia Kaisar, Hormat kami pada Yang Mulia Permaisuri, Hormat kami pada Yang Mulia Putri Mahkota," seru seisi ruangan versamaan ketika kami telah menempati tempat kami masing-masing.


"Duduklah," kata ayah membuat semuanya duduk di tempat masing-masing.


Paman Ezio yang lama tak kutemui terlihat masih sama, dengan kharismanya ia berdiri dan membuka jalannya rapat, aku tidak menghiraukan kata-katanya, aku hanya mengamati gerakannya dan melihat le arah paman Varen bergantian, ucapan paman Varen kala itu kembali terngiang.


"Seperti halnya Ezio, hamba memilih tidak menua." Kata-kata Paman Varen membuatku membandingkan dirinya dengan Paman Ezio, yang kutahu Paman Ezio berusia lebih muda dari Kak Nala tapi lebih tua dari Kak Prisa, tapi jika perkataan Paman Varen benar adanya, maka ada kemungkinan bahwa paman Ezio seumuran dengan ayah, bukan?


"Aku mengumumkan akan dibangunnya sekolah terintegrasi di seluruh kerajaan, atas usul Putri Mahkota." Ayah memulai pengumumannya, "penunjukkan tim pelaksana, proses pembangunan, hingga pelaksanaan project ini akan diserahkan kepada Guru Tang, Guru Yang, dan Guru Vamana, di bawah pengawasan Putri Mahkota, aku berharap untuk bisa segera diselesaikan."


Guru Vamana? itukah nama Paman Varen yang sebenarnya?


"Kami menerima titah Yang Mulia," seru semuanya dengan suara bulat.


Paman Ezio kembali berdiri menyampaikan age da selanjutnya, fokusku kembali teralihkan, mataku menatap Varen yang duduk di samping pamannya, menatap wajahnya walau dari jauh membuatku merasa tenang, keberadaannya membuatku senang, lama kami berpisah bahagia rasanya bisa memandanginya kapanpun aku ing]n seperti sekarang.


"Yang Mulia Putri Mahkota?" paman Ezio menegurku, sepertinya aku ketahuan melamun.


"Apa yang tadi paman tanyakan? aku benar-benar tidak mendengarnya, tolonglah aku paman," pintaku memelas lewat telepati.

__ADS_1


"Waktunya untuk memberi laporan mengenai seleksi Yang Mulia," ucap Paman Ezio dengan suara yang cukup lantang, ia bahkan tak menjawabnya lewat telepati, mungkinkah ia telah memanggilku berkali-kali? Aku menatap sekeliling ruangan dan ternyata benar semua pandangan tertuju padaku tanpa terkecuali, bahkan Varen menatapku bingung.


__ADS_2