
Memilih tidak menua? Apa maksudnya? Memangnya kita bisa memilih? Aku bingung bukan kepalang.
"Waktu hamba tidaklah banyak, Yang Mulia." Paman tampak menyadarkanku dari lamunan. "Mari kita bahas alasan Yang Mulia menemui hamba," matanya tampak berbinar penuh semangat.
"Aku tahu paman pasti telah mengetahui segalanya, jadi apa yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan Lia?"
"Persis seperti apa yang Yang Mulia dengar dari Pangeran Ken."
Aku melihat Paman menjentikkan jarinya, "sampai bertemu lagi Yang Mulia."
Entah kenapa aku merasa seperti masuk ke dalam portal, apa ini? Aku bahkan tidak merasa mengaktifkan portal, tapi rasanya benar-benar seperti berada di dalam portal!
"Aira!"
Suara Varen terdengar sangat jelas, aku langsung mencari sumber suara. "Varen!"
Aku berlari ke arah Varen yang juga tengah berlari ke arahku, kami melepaskan rindu dalam sebuah pelukan erat di bawah Langit yang bertabur bintang.
"Apakah ini mimpi juga? Mimpi yang sama seperti terakhir kali?" ucapku sambil melepas pelukan, suasana hatiku tiba-tiba berubah buruk.
"Kenapa tiba-tiba kesal?" Varen meraih beberapa helai rambutku dan menaruhnya di belakang telinga. "Apa karena aku menghilang setelah menciummu?"
Pipiku terasa panas, jantungku berdebar kencang, aku berbalik dan mencoba mengatur nafasku.
"Kau sungguh menggemaskan," ucap Varen sambil memelukku dari belakang. Kedua tangan kekarnya melingkar di perutku. "Syukurlah aku mendapatkan ciuman pertamamu, aku mencintaimu, Aira."
Jantungku berdebar teramat kencang, aku menarik nafas panjang dan mencoba menatap langit, berusaha sekuat tenaga menetralkan diriku, tapi Varen tampaknya tak mengijinkanku untuk tenang. Hembusan nafasnya terasa hangat di telingaku, detak jantungnya terdengar menggebu, sama sepertiku.
__ADS_1
"Aura ini.. " aku merasakan aura yang kukenal dengan teramat baik keluar dari tubuh Varen, aku berbalik dan menatapnya dengan mata dewaku.
"Kedua kakak iparku telah memberikan restu mereka," Varen menatapku dengan bangga. "Melihat kecantikan kalian bertiga, membuatku tak sabar bertemu ayahanda dan ibunda yang tampaknya sangat rupawan."
Kenapa Varen semakin lama semakin pandai merayu? Tapi tunggu, bagaimana ia bisa mendapat restu kak Nala dan kak Prisa padahal ia tak bisa menemuiku?
"Kau benar-benar mendapat restu dari Kak Nala dan Kak Prisa?"
Varen mengangguk, "tentu saja, aku bahkan hampir mati karena keduanya!"
"Hampir mati?" tanyaku cemas.
"Ya dan semua itu menyadarkanku bahwa kau teramat berharga, Aira. Memilikimu adalah sebuah anugerah yang tak terhingga."
"Berhentilah merayuku, aku tidak sehebat yang kau kira, Varen." Aku menatap mata biru Varen yang berubah menjadi hitam sejak auranya dibangkitkan, "Varen apa kau tidak takut menyesal karena telah mencintai dan memilihku?"
Aku memegang kedua tangannya yang masih menangkup wajahku, "ya, menyesal. Banyak wanita yang lebih cantik, lebih pintar, lebih anggun, lebih hebat dan lebih segalanya dariku. Aku takut jika kita terburu-buru hanya akan membuatmu menyesal nantinya."
"Memang benar banyak yang lebih segalanya darimu, tapi Aira yang kuinginkan dan kucintai hanya ada satu, yaitu wanita yang sekarang berdiri di hadapanku." Varen menyalurkan kehangatannya lewat kedua tangannya di wajahku. "Paman menutup semua pintu yang mengarahkan diriku padamu untuk memberiku segala ujian agar aku paham bahwa mencintaimu tidaklah mudah, awalnya aku merasa egois dengan keinginan menggebu-gebu untuk memilikimu, tapi yang kudapat selalu kegagalan dan malah lebih menjauhkanku darimu."
Varen mengecup keningku lembut, ia menatap lurus kedua mataku. "Hingga akhirnya aku menyadari cinta bukan hanya masalah memiliki dan dimiliki, tapi cinta adalah satu kata yang merupakan muara dari berbagai emosi yang terbungkus dalam kesetiaan, pengorbanan dan penerimaan."
"Selama ujian aku merasakan berbagai emosi mulai dari senang, sedih, kecewa, marah, terpukul hingga putus asa, tapi mengingatmu membuatku tak pernah mengenal kata menyerah." Varen mencium kedua pipiku bergantian, "secara tersirat paman ingin menyadarkanku bahwa kau teramat berharga untukku, sehingga ia ingin ketika aku mencintaimu, aku harus mencintaimu sampai mati dan takkan melukaimu sedikitpun, pamanku tidak menerima janji, ia lebih suka pembuktian, maka ia membuat ujian untukku, agar aku lebih memahami apa itu cinta dan bagaimana cara yang baik untuk mencintaimu, aku belum menyelesaikan sepenuhnya, tapi setidaknya aku telah membuka banyak pintu, jadi maukah kau menungguku?"
Aku mengangguk, air mataku menetes tanpa bisa kubendung lagi. Hatiku terasa sesak, aku tak bisa membayangkan ujian berat yang dihadapi Varen hanya untuk mencintaiku, dan bagaimana pula aku bisa menyampaikan padanya bahwa paman yang teramat dicintainya kini telah wafat?
Aku menangis seperti seorang bayi yang sedang merengek, Varen menarikku ke dalam pelukannya. "Paman memang mencabut keabadianku sejak menjalankan ujian, tapi jika aku berhasil ia akan mengembalikannya, kau tidak perlu menangis seperti ini Aira, tenanglah aku baik-baik saja."
__ADS_1
Varen melepas pelukannya dan menghapus air mataku. Tunggu dia bilang keabadiannya dicabut? Itu tandanya..
"Kau makhluk abadi?"
Varen tampak bingung, "bukan hanya aku, tapi kita."
"Apa? Aku abadi? Tidak, kau salah Varen, aku hanyalah manusia biasa."
Varen tersenyum, "pantas saja pamanku menjagamu bagaikan berlian langka, awas saja kalau kau menampilkan kepolosanmu itu pada laki-laki lain, aku akan membinasakan mereka seketika."
"Apa maksudmu? Kita sedang membicarakan keabadian kenapa malah tiba-tiba menuduhku merayu pria lain hingga kau mau membinasakan mereka?" Aku sedikit kesal karena obrolan ini terus terasa tak nyambung.
"Kalung di lehermu menandakan kau telah bertemu pamanku, apa yang membuat kalian bertemu?"
"Ah benar, aku akan menceritakan semuanya padamu." Aku menceritakan semua hal mengenai Lia pada Varen, ia tampak mendengar ceritaku dengan seksama, tatapan matanya tak pernah beralih dariku sedikitpun.
"Jadi intinya kau ingin menyelamatkannya?" tanya Varen ketika aku selesai bercerita.
"Tentu saja, aku tak tahan melihatnya kesakitan. Ia baik dan cantik, aku ingin ia hidup bahagia dengan senyum cantiknya, bukan dengan tubuh yang lemah karena terus menerus menahan sakit."
"Aira," Varen memanggil namaku lirih. "Apa kau sadar bahwa kau bisa kehilangan nyawa jika melakukannya?"
Aku tersenyum, kekhawatiran jelas terlihat di mata Varen. Aku sadar bahwa nyawaku bisa melayang seperti halnya paman Varen, tapi tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyelamatkan Lia.
"Aku akan berusaha untuk tetap hidup seperti dirimu yang selalu berusaha untukku, anggaplah ini seperti ujian untukku, bukankah tidak adil jika hanya kau yang mendapat ujian?"
Mata Varen tampak berkaca-kaca, "aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu, Aira." Varen mendekatkan wajahnya, ia menciumku lembut, memperlakukanku layaknya barang pecah belah, seolah takut aku rusak. Aku memejamkan mata dan membalas ciuman Varen dengan sedikit kasar, aku ingin Varen tahu kalau aku tidaklah serapuh yang ia pikirkan, kami mencurahkan semua cinta yang tak dapat terucap, di bawah bintang gemintang yang menjadi saksi.
__ADS_1