
"Apa salah kami hingga diperlakukan seperti ini Yang Mulia? Bencana ini datang karena kerajaan dipimpin oleh Ratu yang bukan keturunan Murni! Kami hanya menyampaikan kebenaran, kenapa disalahkan?" satu-satunya wanita dari ke-5 orang itu bersuara.
"Ibu tolong berhentilah," Darel mencoba memperingatkan wanita itu dengan suara meninggi.
"Tunggu, jangan-jangan kalian satu keluarga?" aku menangkap sesuatu.
"Benar Yang Mulia, saya Darel putra Leon dan Iris, lalu keduanya adalah kakek saya." Berbeda dengan Darel yang tampak memahami kesalahannya, ke-4 lainnya tak bergeming, bahkan dua orang yang dipanggil Darel dengan kakek kini menatap angkuh ke arahku.
"Anda akan menyesal memperlakukan keluarga saya seperti ini! Tanpa kami, Kaisar dan Permaisuri mungkin sudah tiada! Beginikah cara Anda membalas kami! Kami adalah keluarga keturunan murni, bukankah kami yang pantas memegang tahta?"
Langit terdengar bergemuruh, angin bertiup kencang bahkan terasa sampai ke dalam ruangan, kemarahanku pun ikut tersulut.
"Diam kau Alex, beraninya kau membawa-bawa Kaisar dan Permaisuri!" Tetua Mahanta yang sedari tadi duduk diam, kini telah berdiri dengan wajah yang menampakkan kemarahan. Aku melihat seekor naga hijau terbentuk dari auranya dengan mata yang kini menyala merah.
"Jangan sok baik Mahanta, tanpa kau, aku dan Elenio, mereka tak akan bisa sampai ke tanah ini dengan selamat! Apa karena kau menduduki jabatan lebih tinggi dariku jadi kau ingin memutus tali pertemanan kita dan ingin membunuhku keluargaku?" Alex tampak mengepalkan tangannya.
Refleks, aku menggerakkan tanganku menciptakan barrier pelindung untuk 20 orang petinggi dan kami ber-4. Aku merasakan ada aura yang tidak biasa mencoba menerobos masuk.
"BUM!"
Asap mengepul menutupi tubuh kelimanya, tak lama setelahnya rantai Elenio terlepas, kini ia berdiri menampakkan aura abu-abu yang bertambah pekat. Seekor harimau hitam tampak mendampingi Elenio yang sedari tadi hanya duduk diam menatapku dengan angkuh.
"Dasar Putri kurang a**r! Kau hanya beruntung karena lahir sebagai putri, sisanya kau bahkan tak pantas mewarisi kekaisaran, apa kau pikir aku akan memberimu restu? Kau takkan bisa mewarisi kekaisaran kalau ada satu kerajaan yang tak memberimu restu, apa kau tahu itu?" Mata Elenio penuh dengan kemarahan.
"Ternyata bukan hanya lancang, tapi Anda juga berani memfitnahku! Apakah anda tahu, sebelum datang ke sini untuk melakukan perjalanan, aku sudah bersumpah di hadapan kedua orang tuaku, bahwa aku akan rela dengan sepenuh hati apabila keduanya mengangkat pewaris lain yang memang pantas. Mari kita dengar, apalagi yang akan Anda tuduhkan padaku dan keluargaku?" tanyaku masih dengan nada mengejek, aku akan sopan pada orang yang memperlakukanku dengan sopan. Tapi aku tidak akan pernah tinggal diam jika ada orang yang memperlakukan orang-orang yang kusayang dengan tidak benar.
"Diam Kau! Jangan jadi pengecut dan berlindung dibelakang barrier, kemarilah dan tunjukkan keangkuhanmu itu dengan beradu kekuatan!" Elenio berteriak lantang.
"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika sesuatu terjadi pada kalian." Aku berjalan melewati barrier dan mendekat ke arah Elenio dan 4 orang yang bersimpuh.
__ADS_1
"Yang Mulia!" Edward, Vivian dan Tetua Mahanta berusaha mencegahku tapi aku tak bergeming, aku memperkuat barrier agar tidak dapat mereka tembus, karena aku ingin menyelesaikannya sendiri.
"Hahaha, berani juga kau rupanya!" Alex tampak tertawa dan melepas ikatannya, dengan sigap diikuti oleh Iris, Leon dan Darel, tapi alangkah terkejutnya aku, Darel berdiri di depanku, tapi menghadap ke-4 orang lainnya.
"Ku mohon kakek, ayah, ibu, jangan seperti ini. Kita memang bersalah, bukankah seharusnya kita meminta maaf, kenapa malah menyulut perkelahian?" Darel tampak ingin menyadarkan keluarganya. "Lupakah kalian? Ada lapisan pelindung yang akan melindungi keluarga kaisar, kalian akan mati walaupun Putri tak melakukan apapun. Tolong sadarlah," Mata Darel terlihat berkaca-kaca, ada ketulusan yang terlihat.
"Dasar anak cengeng, kemari atau ibu juga akan melawanmu! Kedua kakekmu juga ikut andil dalam menciptakan lapisan pelindung, apa yang perlu ditakutkan? Kemarilah nak!" Iris tampak membujuk putranya, tapi Darel tak beranjak sedikitpun di depanku. Lambat laun aura Darel kembali hijau, warna abu-abunya lenyap.
Seekor pheonix coklat muncul di samping Darel, "Yang Mulia Putri Aira, hamba akan melindungi Yang Mulia walau nyawa taruhannya. Hamba bersumpah akan selalu setia pada Kekaisaran Matahari."
Aku tersenyum, "Atas nama Kaisar dan Permaisuri Matahari, kuterima sumpahmu." Langit kembali bergemuruh seakan menerima sumpah setia Darel.
"Dasar anak tidak berbakti!" Leon menyerang dengan kekuatannya, tampak akar raksasa muncul dari kedua tangan Leon berusaha melilit tubuh Darel, dengan sigap aku berlari kedepan Darel dan membuat barrier, untungnya berhasil, akar raksasa itu tak dapat menembusnya. Tapi gawat aku belum sempat belajar apapun, sejauh ini aku hanya bisa membuat barrier dan menggunakan auraku untuk menekan orang lain, aku belum bisa menciptakan sesuatu.
Saat aku berpikir tiba-tiba langit terdengar bergemuruh amat keras petir terdengar menghias langit, seolah bersiap menyambar seseorang hingga hangus. "Permasalahan ini bisa diselesaikan dengan baik-baik, tanpa harus saling melukai. Apakah kalian tetap akan seperti ini?" tanyaku lagi, karena tak ingin ada yang terluka.
Rion, harimau hitam milik Elenio, menggeram keras, mata merahnya berkilat. Rion berjalan mendekat ke arahku, aku bersiap melepas seluruh pengaruh auraku jika keadaan memburuk. Aku menatap kedua mata merahnya, "Tolong aku Yang Mulia."
Aku terkejut, suara yang kudengar tampak seperti berasal dari Rion, tapi kelihatannya hanya aku yang mendengarnya. Paman Ezio pernah berkata bahwa ia dan Fia berkomunikasi lewat telepati, seseorang bisa berkomunikasi dengan hewan sucinya melalui telepati. Tapi Rion bukanlah hewan suci milikku.
"Rion, apakah itu suaramu?" tanyaku membatin, sambil menatap kedua mata Rion yang masih berjalan mendekat.
"Benar Yang Mulia, tolong maafkan hamba. Bisakah Yang Mulia menolong hamba untuk lepas dari kepemilikan Tuan Elenio? Hamba ingin kembali mengabdi pada penguasa sesungguhnya," batin Rion meminta.
"Bagaimana caranya?" tanyaku kebingungan, aku ingin membantunya tapi sama sekali tidak tahu caranya.
"Bebaskan hamba dengan aura suci Yang Mulia," kata Rion yang makin mendekat.
Aku melangkah maju, meninggalkan Darel dalam lindungan barrier yang kubuat. Aku dan Rion sama-sama berjalan mendekat, hingga kami berhenti saat saling berhadapan.
__ADS_1
"Aku Aira Airlangga, melepaskanmu dari kepemilikan tuan yang tak bijaksana," kataku sambil mengeluarkan auraku ke arah Rion. Cahaya pelangi menyelimuti Rion, menari diseluruh tubuhnya, hingga akhirnya berkumpul kembali di tanganku.
"Terimakasih Yang Mulia," ucap Rion dengan bersimpuh di hadapanku.
"Apa yang kau lakukan? Dasar tidak berguna!" Elenio mengeluarkan ratusan duri ke arahku dan Rion, seketika kukibaskan tanganku, tapi ada satu yang melesat menyerempet rambut panjangku, aku tidak terluka karena duri itu menembus sela-sela rambut panjangku yang tergerai.
Tiba-tiba petir yang Maha dahsyat menyambar ke tengah aula tempat Elenio berdiri. Iris, Leon dan Alex terpental keras hingga muntah darah, tapi aku dan Rion baik-baik saja, barrier pun tetap melindungi orang-orang dalam ruangan.
Tatapan ngeri tertuju pada Elenio yang kini hangus terbakar tak bernyawa. Aku bergidik ngeri, inikah petir suci yang berasal dari lapisan pelindung? Aku masih tak bergerak dari tempatku, syok dengan apa yang kulihat. Rion berdiri di depanku seolah melindungiku dengan siaga.
Kepakan sayap terdengar semakin keras mendekat, suaranya amat familier. Terus mendekat menerobos atap aula yang hancur akibat petir suci. Fia mendarat tepat di hadapanku, Paman Ezio bergegas turun dari punggung Fia da berlari ke arahku.
"Yang Mulia, apakah anda baik-baik saja? Bagian mana yang terluka?" Paman Ezio memeriksa seluruh tubuhku.
"Aku baik-baik saja paman, tapi dia.." aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku, ini kali pertamanya aku melihat seseorang mati di hadapanku. Paman Ezio mengikuti arah pandangku, lalu beralih menatap Edward dan mengangguk.
"Kalian semua pergilah," perintah Edward diikuti oleh perginya 20 orang petinggi dari aula.
Paman Ezio memelukku erat, sambil membungkam kedua telingaku. Aku merasakan kekuatannya amat luar biasa, mengalir dengan kemarahan penuh. "Jangan lihat dan jangan dengarkan apapun."
Aku mengerti Paman Ezio ingin menghukum mereka, ia masih memelukku, merapalkan mantra agar aku tak bisa melihat atau mendengar apapun, aku membalas memeluknya erat, tubuh Elenio yang hangus terbakar masih membayangiku.
"Dasar tidak tahu diri! Berani-beraninya kalian membahayakan nyawa Yang Mulia Putri Aira!" Teriak Paman Ezio, aku mendengarnya dengan amat jelas, sihir ini benar-benar tidak mempan terhadapku.
Tubuh paman Ezio bergetar penuh amarah, "Duar.. Duar ... Duar!!"
Teriakan kesakitan terdengar memekakkan telinga, aku tak kuat. Air mataku keluar dengan derasnya, membasahi baju paman Ezio yang kupeluk. Seolah tahu kondisiku, paman Ezio menghentikan tindakannya, ia menyapukan tangan kanannya, seolah membersihkan semua kekacauan, terdengar kepakan sayap Fia terbang menjauh dan beberapa suara lain.
Tubuhku terasa lemas, Paman Ezio melonggarkan pelukannya. "Yang Mulia," tatapannya tampak cemas, ia menghapus air mataku. Aku benar-benar kehilangan tenagaku, barrier yang kubuat menghilang perlahan seiring hilangnya tenagaku, mataku terasa berat. Paman Ezio menggoyangkan tubuhku, terlihat mengucapkan beberapa kata, tapi aku tak bisa mendengarnya, hingga semua menjadi gelap.
__ADS_1