Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
60. Kemarahan Aciel


__ADS_3

"Wah terimakasih nona, akhirnya anda datang juga," ucapku menyela pembicaraan Joana dan Aciel yang tengah duduk di pelataran gedung utama.


"Ada hubungan apa antara nona dan tuan?"


"Hahahaha..." aku kembali tertawa atas pertanyaan lugas Joana. "Nama tuan tampan yang kau kagumi ini adalah Aciel, mengenai pertanyaanmu barusan, aku ingin kau menebaknya."


Joana tampak melihatku dan Aciel bergantian, selama beberapa saat pandangannya terpaku pada gelang pemberianku yang melingkar di tangan Aciel. Joana menatapku dengan mata penuh rasa penasaran yang tampak lucu bagiku. Aku memilih berdiri bersandar pada dinding gedung dan bersiap mendengar pertanyaan lugas yang terlontar dari bibir kecilnya.


"Siapakah nama anda nona?"


Aku tersenyum, "Rara."


"Rara seperti yang tertulis di papan?" Tanya Joana lagi sambil menunjuk ke arah papan yang terpasang kokoh di depan pagar.


Aku mengangguk menanggapinya, menangkap anggukan kepalaku kini Joana tampak ceria. "Syukurlah kalau begitu nona bukanlah saingan yang harus saya lawan!"


"Hahahahaha...." aku kembali tak bisa menahan tawaku, "jadi apa yang akan kau lakukan terhadapku yang bukan saingan ini?"


"Memohon agar nona bisa mempekerjakan saya, saya ingin melihat tuan tampan setiap hari." Joana memohon dengan matanya yang sengaja ia tampilkan agar tampak memelas.


Tiba-tiba Aciel berdiri dari tempat duduknya dan menyambar tangan kananku, ia menarikku ke dalam gedung. Tatapanku tak bisa lepas dari tangan Aciel yang kini memegang pergelangan tanganku.


"Aku perlu bicara," Aciel mulai bicara ketika kami berada di dalam gedung.


"Sebelumnya, apakah kau sadar apa yang kau lakukan?" tanyaku yang masih melihat tangan Aciel yang melingkar di pergelangan tanganku.


"Ya," Aciel menjawab mantap.


"Kalau begitu lepaskan," kataku tegas. Aku masih tak habis pikir dengan Aciel, dia melihat sendiri ayahnya terbakar ketika menyentuhku, selama ini pun ia tak berani menyentuhku, kenapa sekarang ia melakukannya?


"Tidak, aku belum selesai bicara."

__ADS_1


Aku menatap mata Aciel, "kau bisa bicara setelah melepasnya."


"Ini?" Aciel mengangkat tangan kananku yang dipegangnya. "Sampai kapan kau akan sadar bahwa menyentuh orang lain tidak akan membuat mereka terbakar seperti ayahku?"


Aku terdiam dan mengunci rapat mulutku, aku takut bicara kalau sudah menyangkut ayah Aciel.


"Ayahku terbakar karena lapisan pelindung lahirmu mendeteksinya sebagai ancaman karena ia memiliki niat jahat terhadapmu," Aciel masih menatapku, kata-katanya mengalir tajam di setiap kata. "Dan lagi aku tahu kalau sekarang kau memakai lapisan pelindung dari ujung kepala hingga ujung kaki, lihatlah tak terjadi apapun terhadapku."


Aciel melepaskan tangannya di depan mataku, ia menunjukkan tangannya yang utuh tak terbakar sedikitpun.


"Berhentilah terlalu khawatir akan hal ini," Aciel menghela nafas panjang, ia tampak puas telah melepaskan apa yang ia perlu katakan padaku.


"Kenapa kau tiba-tiba mengungkitnya?"


"Aku muak melihatmu menjaga jarak dari orang lain dan melihat matamu yang seakan takut melukai setiap orang yang kau temui!" Aciel mulai menggunakan nada tinggi, ini pertama kalinya setelah hari itu Aciel mengeluarkan kata-kata nada tinggi dan sedikit kasar padaku. Ada rasa perih di hatiku.


"Kalau kau ingin aku di sini, maka bersikaplah normal seperti orang lain!" Aciel lalu melangkah pergi menuju pintu belakang yang membuka akses menuju ke ladang budidaya.


"Tok..tok..tok.."


Suara ketukan pintu membuatku tersadar dan menatap ke asal suara, Joana terlihat menatapku dengan canggung. Mungkinkah ia mendengar perkataan Aciel?


"Maaf nona, saya harus bekerja sekarang. Emm saya pamit undur diri," kata-kata Joana terdengar sedikit berhati-hati.


"Kau bekerja? Di mana?" tanyaku.


"Ya, saya bekerja di pagi hari hingga siang, di klinik pengobatan dekat pasar, nona."


"Aah," aku mengeluarkan kantong dari cincin penyimpananku dan mengulurkan sepuluh koin emas pada Joana. "Terimakasih telah membawa tanaman obat untuk kami, tolong datanglah lagi selepas kerja nanti, kita perlu bicara mengenai pekerjaan bukan?"


"Ya, tentu nona." Joana menerima koin emas dengan kedua tangannya, tiba-tiba ia menggenggam tanganku, "terimakasih nona Rara."

__ADS_1


Joana tersenyum dengan mata yang ceria, ia lalu berbalik dan berjalan menuju pagar. Aku melihatnya beberapa kali mengamati kedua tangannya sendiri, tangan yang ia gunakan untuk menggenggam tanganku tadi.


"Aah, rupanya ia benar-benar mendengar semuanya!" Senyumku mengembang melihat tingkah Joana yang lucu, polos dan lugas.


"Yang Mulia, tuan Aciel meminta hamba memanggil Yang Mulia untuk sarapan." Balin tampak lebih segar, ia memakai setelan hitam yang lebih santai dengan rambut yang dibiarkan basah, mungkin baru selesai mandi?


"Balin, apakah ia tampak marah?" tanyaku sambil berjalan beriringan dengan Balin menuju ke halaman belakang gedung.


"Tuan Aciel tampak lebih sedikit bicara, Yang Mulia."


Aku menghela nafas panjang, Aciel akan lebih banyak diam bagaikan mogok bicara jika ia marah atau kesal terhadapku, tak mudah meluluhkan kemarahannya.


"Bersiaplah menghadapi perang dingin, Yang Mulia."


Aku melotot ke arah Balin, "tolong bantulah aku kali ini Balin."


"Maaf Yang Mulia, saya netral kali ini."


Aku mencelos mendengar jawaban Balin, ketika berhadapan dengan Aciel, Balin selalu bersikap netral, terkadang bahkan aku ragu kalau ia ada di pihakku. Kali ini Balin berjalan mendahuluiku dan membukakan pintu belakang untukku. Aku melangkah ke halaman belakang gedung yang berbatasan dengan lahan budidaya, aku ingat menaruh beberapa kursi dengan parasol dan membuat dapur terbuka di dekatnya.


Aroma masakan yang harum dan menggugah selera tertangkap indera penciumanku yang tajam. Balin mendahuluiku dan mempersilahkanku duduk di sebuah kursi yang menghadap ke arah dapur terbuka di mana Aciel tampak sedang memasak. Balin beranjak menata piring dan gelas di meja hadapanku, ia juga membawa beberapa makanan yang telah matang ke meja.


Rasanya baru beberapa menit yang lalu ia marah, kenapa cepat sekali bisa menyajikan makanan? sihirkah? Tapi ia tampak sedang memasak sungguhan.


Aku mengamati bagian belakang Aciel dari tempatku duduk, rambut ikalnya yang panjang sebahu terlihat diikat rapi, tubuhnya kini tampak lebih tinggi dariku, tangannya terlihat terampil saat memasak. Tiba-tiba Aciel berbalik dan menuangkan masakannya ke piring, uap panas langsung terlihat di atas masakan yang berhasil dipindahkan ke piring yang besar. Ia membawa piring itu ke arahku duduk, menaruhnya di meja dan duduk di hadapanku. Tangan kirinya meraih Balin yang masih berdiri hingga duduk di sampingnya.


"Waah bagaimana kau bisa menyiapkan makanan sebanyak ini dalam waktu singkat?" aku bertanya sebagai usaha untuk memecah keheningan yang tak nyaman.


"Sihir," jawab Aciel singkat tanpa ekspresi.


Aku menatap Balin meminta bantuan mencairkan suasana, tapi Balin malah menyendokkan nasi dan lauk ke piringku. Baru kali ini ia salah menerjemahkan isyaratku, aku mencelos dan frustasi dengan Aciel tampak marah.

__ADS_1


__ADS_2