
"Maaf aku tidak tahu jika anda adalah Yang Mulia Putra Mahkota," ucapku sambil menyandarkan punggungku ke tempat duduk di dalam kereta kuda. Pemuda itu duduk di sampingku, hanya terpisah sekitar dua jengkal saja.
Aku masih ingat, bendera yang terpasang di kereta kuda adalah singa emas dengan dasar perak, sama seperti jubah yang pemuda ini pakai. Maka benar dugaanku, dia adalah pemuda yang ku tolong saat itu. Tapi masalah usia masih menjadi pertanyaan yang harus kuselidiki nanti, begitu pula racun dingin yang tampaknya masih ada dalam tubuh pemuda ini.
"Sepertinya ucapanmu terdengar lebih sopan setelah mengetahui kalau aku adalah putra mahkota," ia menoleh dan menatapku. "Gelar dan Jabatan seseorang ternyata benar-benar berpengaruh bagimu ya?"
Aku menarik nafas panjang menahan emosi, di sini tentu aku bukanlah siapa-siapa, hanya orang biasa tanpa pangkat dan kedudukan. "Tentu Yang Mulia, kalau hamba berani mengenyampingkan gelar dan jabatan Yang Mulia, mungkin hamba sudah tidak bernyawa."
Aku menunduk, merasakan cahaya matahari yang hangat menyelimuti tubuhku. Kedua tanganku kembali bercahaya, tapi hanya cahaya emas, bukan pelangi. Sepertinya ada sesuatu yang menghalangi aura pelangiku.
"Bertahanlah sebentar, akan ada penyembuh yang bisa menyembuhkan lukamu."
Aku menoleh ke arah pemuda di sampingku yang kini tengah membuang muka menatap ke luar jendela. Aku mengikutinya, aku ikut menatap ke luar jendela di sampingku. Kereta kuda bergerak cukup cepat, pemandangan pohon dan hutan kini berganti dengan pemandangan kota yang penuh bangunan. Orang-orang membungkuk ke arah kami, anak-anak kecil tampak bersorak bahagia melihat kereta kuda lewat. Ternyata cara hormatnya pun berbeda, ini memang wilayah di luar ketiga kekaisaran.
Tak lama kemudian kereta kuda memasuki gerbang perak yang amat besar, puluhan prajurit berdiri menjaganya. Mereka memberi hormat saat kami lewat, tak lama setelah itu, kereta kuda berhenti.
Seorang prajurit membuka pintu di samping pemuda itu. Tiba-tiba pemuda itu kembali menggenggam tangan kananku, menggandengnya tanpa berniat melepaskan. Ia turun dari kereta kuda, aku mengikutinya. Ia membantuku turun masih dengan menggandeng tanganku.
"Hormat kami Yang Mulia Putra Mahkota," berbeda dengan prajurit yang tadi kulihat, di depanku kini berdiri 10 orang memakai pakaian perak polos, aura perak mereka menguar keluar.
"Oh syukurlah putraku kembali!"
Seorang wanita bermahkota menghambur ke dalam pelukan pemuda di sampingku, diikuti seorang laki-laki yang juga bermahkota di belakangnya. Mereka amat berkharisma, pemuda ini mendapatkan rambutnya dari sang ibu yang amat cantik, sementara mata birunya ia dapatkan dari sang ayah. Mereka keluarga yang berparas mengagumkan, aku jadi merindukan ayah dan ibu.
"Oh tidak, tubuhmu terluka! Bagaimana ini, ibu kan sudah bilang kau harus berhati-hati karena penyembuh tak bisa mengobatimu!" Ibunya terlihat panik.
__ADS_1
"Ehm, permaisuri putramu tidak datang sendirian," sang ayah membuka suara.
Tubuhku menegang, tapi pemuda itu mempererat genggamannya.
"Hormat hamba pada Yang Mulia Kaisar dan Yang Mulia Permaisuri," ucapku sambil membungkukkan badan meniru cara hormat orang-orang yang tadi kulihat.
"Oh ya ampun lihatlah! Kau terluka begitu banyak, ayo ikut aku nak," Permaisuri yang entah namanya siapa, merengkuh kedua pundakku, aku terhenyak kaget takut ia terluka karena sentuhannya padaku, tapi aku ingat pemuda itu juga tak bereaksi maka mungkin ibu dan ayahnya juga sama tak terpengaruh. Aku sedikit tenang.
"Varen, lepaskan genggamanmu nak! Kalau tidak, bagaimana ibu bisa membawanya dan mengobatinya?"
Pipiku kembali terasa panas, malu rasanya. Pemuda itu menatapku beberapa saat lalu mengangguk, "baiklah." Ia melepaskan genggamannya.
Permaisuri melepaskan jubahnya dan memakaikannya di pundakku, ia membantuku berjalan sambil terus memeluk kedua pundakku. Hangat, walaupun tidak sama seperti ibu, tapi aku tahu tindakannya tulus. Sepuluh orang berpakaian perak polos juga mengekor mengikuti kami.
Istananya tampak di dominasi warna putih bersih dengan atap perak, bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, aku menyukainya, tampak bersih tapi tetap elegan. Permaisuri membawaku ke sebuah kamar dengan lukisan bunga tulip putih menghiasi seluruh dinding kamar.
"Kalian keluarlah, biarkan aku yang membantunya."
Sesuai perintah permaisuri, mereka keluar dari kamar dan menutup pintunya, meninggalkan kami berdua.
"Siapa namamu nak?" tanya permaisuri yangbkini duduk di sampingku, kedua tangannya menangkup tangan kananku.
"Aira, Yang Mulia," jawabku sambil menatap wajah cantiknya. Melihatnya, aku merasa bagaikan butiran debu, oh ya ampun kecantikannya luar biasa!
"Nama yang indah," ucapnya seraya kurasakan aura putih tiba-tiba keluar dari tubuhnya. Aura suci itu menyelimuti seluruh tubuhku, memberikan perasaan hangat dan nyaman, menutup seluruh luka yang ada sampai tak berbekas.
__ADS_1
Ia lalu membelai rambutku, "kemarilah nak." Ia memberiku pelukan hangat, membuatku rindu ibunda. "Terimakasih telah datang untuk putraku."
Permaisuri melepaskan pelukannya, ada bekas air mata di pipinya yang putih. "Putraku berbeda dari orang kebanyakan, ia sangat kesepian, tapi hari ini melihatnya membawamu pulang, aku sedikit lega, tolong perlakukan putraku dengan baik."
Kedua mata permaisuri terlihat berkaca-kaca, ada kesedihan yang dalam.
*-*-*-*-
Malam terlihat indah di kekaisaran perak, Varen duduk di sampingku, menatap hamparan bunga yang bermekaran ditemani cahaya bulan dan bintang. Aku menatap Varen, pakaiannya sudah berganti dengan pakaian khas kekaisaran perak, setelan putih dengan jubah panjang perak bersimbol singa emas. Tapi kata-kata permaisuri masih terngiang-ngiang di telingaku, aku ingat kalau ibu Varen mengatakan bahwa ia tak dapat disembuhkan oleh penyembuh, itu artinya lukanya masih ada!
"Yang Mulia, apakah masih sakit?" tanyaku penasaran.
Varen menggulung lengan bajunya, menampakkan luka yang masih sama kulihat sebelumnya, beberapa diantaranya masih berdarah. "Aku berbeda darimu," Varen menatapku, matanya penuh kesedihan. "Bahkan ibuku sendiri tak bisa menyembuhkanku," Varen mengalihkan pandangannya ke langit.
"Maafkan aku Aira, aku berulang kali menggenggam tanganmu tanpa meminta persetujuanmu lebih dulu," Varen masih menatap jauh ke arah langit, tapi kata-katanya terdengar tulus. "Aku merasakan kehangatan saat memegang tanganmu, kehangatan yang dapat melawan hawa dingin di tubuhku."
Aku masih diam sambil menatapnya, memberinya waktu untuk meneruskan kata-katanya.
"Aku hidup dalam dingin, aku bahkan tak bisa merasakan kehangatan ketika orang tuaku memelukku."
Aku terhenyak, aku tidak menyangka ia hidup seperti itu. Aku bahkan tidak bisa membayangkan hidup tanpa bisa merasakan kehangatan dari keluarga yang paling aku sayangi.
"Rasanya dingin, hampa dan tak berujung. Aku lelah, selama ini aku hanya hidup demi orang tuaku." Perlahan Varen kembali memandangku, "tapi aku mulai merasakan kehangatan ketika mencoba mentransfer energiku padamu waktu itu. Ada sedikit kehangatan yang bisa kurasakan, hingga akhirnya aku mencoba menggandengmu karena penasaran."
Ia tertunduk tiba-tiba, "maafkan aku Aira, rasa penasaranku mengalahkan kesopananku. Ayah telah menghukumku, kau pun boleh menghukumku."
__ADS_1
Ada perasaan aneh yang muncul, aku kasihan melihat Varen tapi rasa penasaran pun menyelimutiku, alhasil aku meraih tangan kiri Varen di sampingku, menggenggamnya dengan erat.