
"Varen," kataku sambil terus melangkah bergandengan dengannya. Varen menuntunku memasuki hutan yang sunyi, aku benar-benar tak merasakan satu pun kehidupan hewan suci di sini, tapi tak terasa mengerikan sama sekali karena mataku terbius akan keindahan seluruh tumbuhan liar yang unik. "Kau selalu mendengarkanku dengan sepenuh hati, bagaimana kalau kali ini giliran aku yang mendengarkanmu?"
Varen memperlambat langkahnya, agar kami bisa saling bicara sambil menikmati pemandangan, "apa yang ingin kau dengar sayang?"
"Semua yang ada di benakmu," sahutku sambil tersenyum padanya, jujur aku penasaran akan segala hal menyangkut dirinya.
"Semua hal yang ada di benakku adalah dirimu dan tentangmu, kau pasti akan bosan mendengarnya," Varen mengerling jail.
Aku mencubit lengannya ringan tapi sukses membuat Varen meringis, "aku rasa aku akan cepat kebal dengan gombalanmu itu!" Aku memeluk lengan Varen, sambil terus berjalan memasuki hutan dengan langkah kecil nan pelan. "Negeri seperti apa yang ingin kau bangun?"
Varen menatap berkeliling, tapi tangannya mempererat genggaman, "aku ingin negeri tanpa kasta."
Langkahku terhenti, "apa itu? Aku baru pernah mendengarnya."
Varen menghadapkan tubuhnya ke arahku, "negeri di mana rakyatlah yang menjadi kaisar, negeri yang selalu mengutamakan kepentingan rakyat."
"Rakyat yang menjadi kaisar?"
Varen mengangguk, "Aira aku ingin sebuah pemerintahan yang tidak diwariskan turun temurun." Varen menatapku lekat-lekat, "tentu aku butuh pertimbanganmu."
"Maka jelaskanlah agar aku mengetahui maksudmu dengan jelas," kataku yang dipenuhi rasa penasaran. Ide apa yang sedang mendominasi isi kepala orang yang kucintai ini?
"Aku tidak ingin menjadikan golden ring sebagai sebuah kekaisaran yang dipimpin oleh seorang kaisar dan permaisuri yang kekuasaannya diturunkan secara turun temurun." Varen menjentikkan jarinya hingga sebuah tikar muncul di atas rerumputan, ia menuntunku dan mempersilahkanku duduk di atas karpet, lalu ia duduk di sampingku. Aku merasa pembicaraan ini akan panjang.
"Aku ingin sebuah negeri yang berpusat pada rakyat, di mana pemimpin adalah orang yang dipilih oleh rakyat, aku ingin semua orang memiliki hak, kewajiban dan kedudukan yang sama, tanpa kasta," Varen tampak mengutarakan gagasan yang lama ia pendam.
Aku berpikir keras sebelum mengutarakan pendapatku, ini adalah ide baru yang belum pernah terpikir olehku, tapi sistem penghapusan kasta yang diucapkan Varen membuatku tertarik.
"Jadi dengan kata lain jika kasta dihapuskan maka semua orang akan memiliki kedudukan yang sama, dan itu membuat setiap orang di negeri ini akan memiliki hak untuk menjadi pemimpin bukan?" tanyaku memastikan bahwa apa yang ku tangkap sejalan dengan apa yang dipikirkan Varen.
"Ya, itulah yang kupikirkan."
__ADS_1
Itu adalah ide yang bagus, tapi banyak hal menggangguku hingga dahiku mengernyit. "Tapi Varen, dalam lingkup keluarga kekaisaran yang terbilang kecil saja sering terjadi perebutan kekuasaan, apalagi jika skalanya adalah orang banyak, bukankah peluang akan perebutan kekuasaan semakin besar?"
Varen menatapku dengan mata yang bersinar, "aku takkan pernah meragukan bahwa kau adalah belahan jiwaku, karena tampaknya pemikiran kita sama persis." Varen kembali mencium dahiku, "apa yang kau ungkapkan adalah masalah serius yang membuatku terus mencari solusi."
Aku bergeser mendekat ke arahnya, "jadi solusi apa yang kau temukan?" rasa penasaran mendominasiku hingga aku tak sabar mendengar jawaban Varen.
Varen tersenyum lebar melihat tingkahku, "selain menemukan pentingnya sistem pemerintahan yang kokoh, tegas, adil dan bersih, aku tidak menemukan jawabannya."
Aku heran dengan jawaban Varen, "apa maksudmu?"
"Belum ada contoh nyata di masa ini Aira, susah bagiku menemukan jawabannya, satu-satunya cara adalah melihatnya sambil menjalankannya. Aku tahu ini beresiko tapi aku yakin penghapusan kasta akan membuat semua orang lebih bahagia dan biarkan hati nurani menuntun mereka," kata Varen meyakinkanku.
"Aku setuju dengan penghapusan kasta, karena selama ini aku mengamati banyak orang yang berbakat dan sangat berpotensi melebihi diriku, tapi mereka terhambat karena kasta, jika kasta dihapuskan maka setiap orang berhak mengeksplore kemampuan mereka, tanpa ada lagi tembok tinggi yang menghalangi," jawabku setuju.
"Jadi kau mendukungku?"
Aku mengangguk, "tentu asal kau bertanggung jawab dan berjanji untuk takkan menyerah."
Varen menggenggam kedua tanganku, "tentu saja aku harus bertanggung jawab, apalagi aku memilikimu di sampingku, aku telah berjanji untuk membahagiakanmu, dan jika gagasan ini tidak membuatmu bahagia, maka aku tidak akan mewujudkannya."
"Aku hanya ingin menjadi penggagas dan membantu mendirikannya, tapi aku tidak ingin kita menjadi pelaksana," Varen memegang kedua pundakku. "Kita abadi Aira, sedangkan rakyat yang akan datang ke negeri ini adalah manusia."
Aku terhenyak, "apa maksudmu abadi?"
Varen menghela nafas panjang, "layaknya keluarga kita dan para petinggi kerajaan di empat kekaisaran yang kita kenal, kekaisaran matahari, perak, bulan dan bintang, semuanya adalah makhluk abadi, tak terkecuali kita berdua."
Aku mencoba mencerna perkataan Varen dan menghubungkannya dengan orang-orang di sekitarku, "kau bilang bahwa aku dan kau abadi? bahwa kita bukan manusia biasa yang bisa menua secara alami?"
Varen mengangguk, "keluarga kita memilih pindah dari tempat yang seharusnya dan membangun kekaisaran di bumi karena kekacauan yang terjadi di tempat asal kita dulu, sekarang tempat itu telah hancur dan tak berpenghuni, aku rasa kita harus kembali ke sana, dan mulai menempatkan diri kita di tempat yang seharusnya."
"Tempat yang seharusnya? Di mana tempat yang seharusnya itu, Varen?" tanyaku bingung.
__ADS_1
Varen menunjuk tepat ke atas kepalaku, "di sana, sayang."
"Kau menunjuk langit?" aku mengerjap beberapa kali hingga akhirnya aku yakin arah tunjuk Varen tak lain dan tak bukan adalah langit biru yang terhampar luas.
"Tugas kita yang sebenarnya adalah mengawasi manusia dari atas sana, memberi teguran jika mereka salah, memberi berkah atas hal-hal positif yang mereka lakukan dan mewujudkan harapan bagi yang berusaha," Varen membelai rambutku.
"Aira, aku ingin keluarga kecil kita nanti kembali memulai kehidupan sebagaimana yang telah digariskan dan mengembalikan tatanan kehidupan seperti yang seharusnya." Varen menatapku lekat-lekat, "apakah kau bersedia ikut denganku?"
"Kenapa terus bertanya ketika pernikahan kita tinggal menghitung hari?" aku menatapnya dengan kesal. "Jika tadi aku tak bertanya mungkin aku bisa mati berdiri karenamu!"
"Kau takkan mati, kau abadi sepertiku," Varen menggodaku dengan tatapan dan senyim bengalnya.
"Varen!" Aku berteriak kesal dan memukuli dadanya, "oh ya ampun berapa banyak rahasia yang masih kau simpan?"
"Mengapa kau terburu-buru sayang? Tunggu sampai kita menikah, maka kau akan tahu dengan sendirinya! Hahahaha...."
Aku cemberut melihatnya yang terus mengalihkan pembicaraan menjadi candaan yang mengesalkan, aku mencubit lengannya keras, "oh ya ampun kau sangat mengesalkan hari ini!"
"Aw!" Varen mengelus lengannya yang memerah, tapi hanya sekejap ia lalu menatapku kembali dengan tatapan seriusnya. Ia bergerak dang mengubah posisi duduknya menjadi bersimpuh dengan menekuk satu kaki di hadapanku.
"Aira Airlangga aku mencintaimu dan akan selalu berusaha membahagiakanmu, maka maukah kau menikah denganku?" tangan Varen mengeluarkan kotak cincin dari saku bajunya dan membukanya.
Sebuah cincin berlian yang berkilau membuat aku terpesona, jika dilihat sekilas tentu terlihat seperti cincin biasa tapi jika aku menggunakan mata dewaku, berlian itu bagaikan bekuan es yang melingkupi sedikit aura kegelapan dan cahaya yang membaur menjadi satu di dalamnya, cincin yang hanya ada satu-satunya di alam ini, karena hanya bisa dibuat oleh pria di hadapanku.
"Aku Aira Airlangga bersedia menikah dengan lelaki pilihanku, Varen Vijendra."
Jantungku berdegup kencang, keraguanku menguap ketika Varen memakaikan cincin di jari manis tangan kananku. Aku merasakan cinta yang begitu besar di hatiku, Varen mencium punggung tanganku, dan kami mencoba berdiri bersama.
"Jangan pernah tinggalkan aku sayang, aku takkan pernah bisa hidup tanpamu," Varen mencium dahiku. "Tegur aku bila aku salah, tapi tolong jangan pernah pergi dari sisiku."
Aku menangkupkan kedua tanganku di wajah tampan Varen, "aku berjanji akan selalu berada di sampingmu dalam susah maupun senang, dalam sehat maupun sakit." Aku berjinjit dan mencium dahinya, "aku berjanji akan selalu di sampingmu dan mendampingimu selamanya, sayang."
__ADS_1
Varen tampak senang mendengarku memanggilnya sayang untuk pertama kalinya, ada senyum bahagia terpancar di wajahnya. Varen menciumku dalam, kali ini ia tampak ingin aku tahu bahwa ia benar-benar mencimtaiku dengan seluruh hati dan hidupnya. Aku menikmati sentuhannya dan menerima semua cinta yang diberikan Varen, kupejamkan mataku, aku tidak tahu apa yang menunggu kami di hari esok, tapi aku bahagia karena aku tahu dengan pasti hari ini bahwa aku memilih laki-laki yang tepat.
Kupasrahkan dan kuserahkan hati dan jiwaku pada lelaki pilihanku, sisanya biarlah alam semesta yang memutuskan, kami pun akan selalu berusaha untuk saling membahagiakan dengan cinta dan kasih sayang yang terus tumbuh, karena cinta adalah nyawa dari kehidupan.