
"Balin mari pulang dan beristirahat, aku lelah."
Aku mengulurkan tangan, portal terbentuk sempurna, Balin segera mengikutiku masuk ke dalam portal. Selama berteleportasi, aku memejamkan mata saking lelahnya.
"Yang Mulia, sudah sampai."
Aku membuka mata, syukurlah kali ini tampaknya portalku berhasil mengantarkanku dengan mulus. Kami mendarat di halaman depan kamarku, "terimakasih Balin."
Balin menundukkan kepalanya, aku mengangguk dan melangkahkan kaki dengan gontai masuk ke dalam kamar.
"Aroma apa ini?" setengah sadar karena kelelahan, aku mencium aroma bunga lavender yang cukup kuat. Semakin lama menciumnya, tubuhku semakin terasa lelah dan lemas, hingga akhirnya kakiku tak dapat lagi menopang berat tubuhku, aku jatuh ke lantai dan terlelap.
Wangi bunga lavender tercium kuat di hidungku, angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut panjangku yang tergerai. Aku membuka mata perlahan dan hamparan ladang bunga lavender seketika memenuhi pandangan mataku.
"Sayang, akhirnya kau tiba juga!"
Aku berbalik dan menemukan nenek permaisuri tersenyum memandangku hangat, "tidakkah kau merindukan nenek, Aira?"
Nenek membuka lebar kedua tangannya, aku menangkap isyarat nenek dan berlari masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan nyaman. "Nenek, trimakasih telah selalu muncul dalam mimpiku," aku ingat sudah dua kali nenek muncul dalam mimpiku, yang pertama adalah saat aku bersemedi di danau keabadian dan yang kedua ialah saat aku melakukan perjalanan waktu untuk melihat kelahiranku sendiri.
"Nenek harap kau takkan pernah bosan sayang, karena nenek akan selalu hadir untukmu, dibutuhkan ataupun mungkin tidak, karena sidah kewajiban nenek melindungi dan membimbingmu, Aira."
Nenek mencium pucuk kepalaku, dan membelai rambutku lembut. Ia kembali memelukku untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Aku tahu kalau kau merindukannya sayang, tapi maukah kau memberi kesempatanku untuk memeluknya juga?"
Nenek melonggarkan pelukannya, "pergilah ke kakekmu, ia mungkin hampir menangis karena merindukanmu."
Aku mengangguk dan melepas pelukan nenek, lalu menghampiri kakek yang tampak duduk di sebuah kursi kayu yang panjang dan besar. Melihatku mendekat, kakek berdiri dan menungguku dengan kedua tangan terbuka, dengan senang hati aku berlari ke dalam pelukannya. Aku tidak peduli jika ini hanyalah mimpi seperti sebelumnya, karena mimpi ini terlihat amat nyata dan indah, lebih dari cukup untuk mengobati kerinduanku. Keduanya mengorbankan nyawa saat aku lahir ke dunia, hingga aku tak memeiliki kesempatan bertemu dengan keduanya di dunia nyata, sehingga aku berkata pada diriku sendiri untuk mensyukuri setiap momen bersama mereka, walaupun hanya mimpi.
"Cucu bungsuku sudah tumbuh besar dan anggun sekarang, kakek dengar kau sedang mencari pasangan?" kakek melepaskan pelukannya dan membimbingku duduk di kursi kayu yang tadi ia duduki. Kami duduk bersebelahan, nenek menghampiri kami dengan tangan kanan membawa keranjang piknik besar.
"Apakah kakek selama ini selalu memperhatikanku?" aku bersandar pada bahu kakek yang lebar, sementara mataku tertuju pada nenek yang kini sedang mengeluarkan isi keranjang piknik yang tadi ia bawa, menatanya di meja kayu di hadapanku dan kakek.
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu kami selalu memperhatikan kalian semua dari sini," nenek memotong pembicaraanku dengan kakek.
"Nenekmu benar sayang, jadi apa yang akan kau lakukan? Memilih seseorang dalam daftar atau?" kakel menggantung pertanyaannya, tangan kirinya merangkul pundakku, membuatku lebih nyaman bersandar padanya.
"Maka ikutilah kata hatimu dan pilihlah Varen, apalagi yang kau ragukan Aira?" Nenek menggenggam tangan kiriku.
"Aku ragu karena aku tidak bisa menemukannya, aku sangat merindukan Varen tapi aku tak tahu harus pergi ke mana untuk menemukannya, Nek."
Rasa sedih mulai memenuhi hatiku, aku telah melakukan berbagai usaha untuk menemkan Varen, tapi tak kunjung ada jawaban.
"Jadi, jika kau bisa menemukan Varen, kau akan memilihnya menjadi pendampingmu? Apa kau yakin tidak ingin melihat semua orang dalam daftar lebih dulu sebelum memutuskan?" Aku menatap mata kakek, "nenekmu bahkan menghabiskan beberapa waktu mengelilingi dunia terlebih dulu hingga akhirnya kembali pada kakek."
Nenek tersipu malu, "itu karena aku menyadari bahwa tidak ada yang bisa mengalihkan perhatianku dari dirimu!"
__ADS_1
"HAHAHA..." Kakek tertawa keras, ia tampak puas dengan jawaban nenek.
"Jadi bagaimana?" kakek kini menatap mataku meminta jawaban.
"Aku hanya menginginkan Varen kek, aku tak mau yang lain." Aku membalas tatapan kakek, "aku tidak meragukan Varen, justru aku meragukan diriku sendiri. Apakah aku pantas mendampinginya? Apakah dia mau menerimaku yang seperti ini?"
"Apa maksudmu sayang? Kekhawatiran yang berlebihan tidaklah baik," kakek membelai rambut panjangku. "Lihatlah betapa panjangnya daftar nama yang dipegang Balin," kakek menunjuk ke satu arah di sebelah kanannya.
Aku terkesiap kaget, "Balin?" Balin tampak tertidur di sebuah sofa yang nyaman di teras pondok kayu klasik yang indah, ia tampak memejamkan mata dan menikmati mimpinya. "Ia tak pernah tidur ketika bersamaku."
"Tentu, kau beruntung memilikinya Aira, ia orang yang baik dan bisa dipercaya, ia pun menolak beristirahat ketika sampai, karena ia memikirkanmu, ia mengkhawatirkanmu padahal kakek tahu kalau tubuhnya sangatlah lelah, karena itu kakek memaksanya untuk istirahat." Aku menatap mata kakek, aku tahu persis sifat Balin, dipaksa bagaimanapun, ia takkan mungkin menurut jika sudah masalah tugas dan tanggung jawab. "Ehm kakek memberinya sedikit sihir karena ia terus menolak, tapi tenanglah sihir yang kakek gunakan tak berbahaya sama sekali."
Aku kembali menatap Balin yang memang tampak tertidur pulas. "Tapi bagaimana dia bisa ikut kemari?"
"Ikat kepala yang kau berikan." Nenek menjawabku, ia mengambil sepotong pie apel dan menyuapkannya padaku, aku membuka mulut dan melahapnya, pie itu sangat lembut hingga membuatku terus menginginkannya. "Balin akan terus mengikutimu kemanapun kau melakukan perjalanan, baik perjalanan biasa maupun menjelajah waktu, selama ia masih menggunakan ikat kepala yang kau berikan, karena ikat kepala itu mengandung esensi energimu. Kau perlu menghancurkannya ketika selesai, akan berbahaya jika jatuh ke tangan orang yang tidak tepat."
Aku mengangguk dan mengingatnya baik-baik untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. "Aku memberikannya pada Balin agar tak perlu menyentuhnya saat memakai portal atau melakukan perjalanan waktu."
"Memangnya kenapa? Kenapa kau terlihat takut menyentuh dan bersentuhan dengan orang lain?" Kakek dan nenek bersamaan menatapku dengan penuh tanya.
"Kakek, Nenek, aku pernah membunuh ayah Aciel hanya dengan menyentuhnya. Aku melihatnya terbakar karena sentuhanku!" Air mataku mengalir, ingatan akan hari kembali berkelebat membuat perasaan berdosa kembali muncul.
"Jadi karena itu lalu kau menyimpulkan bahwa kau bisa membunuh orang lain dengan sentuhanmu?" Nenek terlihat menatapku sedih, matanya berkaca-kaca, kedua tangannya memegang wajahku. "Kakek dan Nenek akan melepaskan belenggu itu hari ini," ia mencium dahiku lalu memelukku erat.
__ADS_1