Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
51. Kolam Air Panas


__ADS_3

"Chirp...chirp..chirp..."


Suara burung terdengar riang di telingaku, perlahan kubuka mataku dan menguap ringan. Aku terkaget melihat diriku terbangun di lantai kamar. Burung-burung berkicau di jendela yang terbuka, angin pagi yang segar sedikit dingin berhembus menerba tubuhku, yang masih mengenakan pakaian kemaren. Kubangunkan diriku dan melangkah menuju kolam pemandian air hangat yang berada di bagian dalam kamar pribadiku, rasanya aku ingin berendam pagi ini.


Aku melepas pakaianku dan menceburkan seluruh tubuhku ke dalam kolam, rasa hangat alami dari sumber air panas menghangatkan tubuhku. Kupejamkan mata menikmati kenyamanan yang menjalar, pikiranku berkelana mengingat semua kata yang diucapkan kakek dan nenek yang menemuiku lewat mimpi. Banyak hal yang kupelajari dan masih kurenungkan, rasa lelah yang tadi terasa kini mulai menghilang perlahan. Taburan bunga beraneka rupa yang selalu disiapkan pelayan lewat pintu belakang setiap sebelum waktu mandi, menambah rasa nyaman dan relaksasi.


Sekelebat ingatan dari kunjungan ke kerajaan api yang kulakukan kemarin, aku mengakui bahwa kerajaan api adalah negara maju nan makmur, tak ada pengemis di jalanan, kebersihan terjaga, kota tertata rapi, tingkat pendapatan rakyat juga terbilang tinggi, sang raja dan dewan kerajaan tampak berhasil mengelola semuanya dengan baik. Aku tak menyangka Raja Hakan yang sukses memimpin kerajaan api, memiliki masalah keluarga yang tak pernah kuduga sebelumnya.


Memang benar tidak ada manusia yang sempurna, tapi kenapa seorang suami bisa menghianati istrinya? kenapa wanita itu juga mau dengan seorang laki-laki yang sudah berkeluarga? Aku kembali teringat wajah Liam, dari satu sudut pandang aku merasa kasihan pada Liam, ia adalah seorang anak yang tidak bisa memilih dari rahim siapa ia dilahirkan, dari sudut pandang ini aku merasa Liam tidak bersalah, ia hanyalah seorang anak tidak berdosa yang kebetulan dilahirkan dari sepasang orang tua yang tak bijak.


Aku menghela nafas panjang dan menenggelamkan kepalaku ke dalam air. Masih dengan mata menutup di dalam air, tiba-tiba suara burung bersahut-sahutan tertangkap inderaku yang tajam, aku segera memunculkan kembali kepalaku ke permukaan dan mengusap wajahku, membilas air yang menetes deras dari pucuk kepala. Kelopak bunga beraneka warna berjatuhan bagaikan hujan, aku terkesiap. Mataku menatap berkeliling, aku tampak berpindah tempat! Ini tampak seperti kolam air panas alami di tengah hutan, kolam ini dikelilingi berbagai macam pohon yang berbuah dengan ranumnya, burung-burung berterbangan dan hinggap di ranting pohon dengan bebasnya, bunga-bunga liar menambah keindahan kolam yang asing bagiku.


"Siapa kau? Berani-beraninya kau masuk ke sini tanpa ijin!"

__ADS_1


Aku kaget bukan main dan langsung menutupi bagian tubuh atasku, walaupun aku menceburkan diri ke dalam air kolam tapi air ini sangat jernih hingga aku ragu badanku akan tertutupi. Saat aku masih panik tiba-tiba sebuah barier tercipta di sekelilingku.


"Yang Mulia tolong bergegaslah," suara Balin membuatku lega. Balin bagaikan penyelamat yang datang siap sedia melindungiku, kali ini aku teramat bersyukur memberikan ikat kepala kepada Balin, karena kalau tidak aku pasti sendirian sekarang. Aku bergegas mengeluarkan pakaian dari cincin penyimpanan, mengaktifkan sihir dan membuat barrier Balin benar-benar aman, memastikan tak bisa ditembus ataupun tak transparan. Aku menerbangkan diri agar seluruh tubuhku keluar dari air, mengeringkan tubuh dan bergegas memakai pakaian.


"Berani-beraninya kau tidak memalingkan badan saat Yang Mulia mandi!" Balin berteriak dengan suara yang menakutkan. "Aku akan mencabut nyawamu sekarang juga!"


Aku panik mendengar Balin dari balik barrier, aku mempercepat gerakanku dan menggunakan sihir untuk mengeringkan rambut dan menguncirnya.


"Apa katamu? Yang Mulia? Akulah yang seharusnya kau panggil dengan Yang Mulia! Berani-beraninya kalian memasuki wilayah pribadiku tanpa ijin! Bukan hanya itu, kau bahkan mengancam hendak membunuhku? Dasar gila!"


Posisiku yang masih terbang melayang di atas air membuatku bisa mengamati keduanya dengan leluasa. "Maaf tuan muda, bisakah anda memberitahu kami, di manakah kami berada sekarang?"


Pemuda itu tampak berusaha membuka mulutnya tapi tak bisa, aku menurunkan sedikit tekanan auraku pada keduanya, bagaimanapun Balin juga harus sedikit dihukum karena tak bisa menahan emosinya.

__ADS_1


"Tolong jawablah sekarang," aku kembali menatap ke arah pemuda itu. Ia masih tak bisa mengangkat kepalanya yang menunduk, tapi ia tampak berhasil membuka mulutnya, lama aku menunggu tapi aku masih belum mendengar suara keluar dari mulutnya yang terbuka, hingga aku melepas seluruh tekananku pada keduanya. Keduanya kini tampak terengah-engah berusaha mengatur nafas, bahkan si pemuda kini tampak membaringkan tubuhnya, keringat bercucuran deras membasahi tubuhnya.


"Maaf bolehkah saya tahu siapa anda?" seorang pemuda lain terbang dari arah hutan dan berdiri di hadapanku. Sedikit aura ayah kurasakan dari tubuhnya, aku mengamati pemuda yang tampak sempurna di hadapanku, kulitnya kuning langsat, rambut hitam pendek, mata hitam pekat, pakaiannya terlihat mahal terbuat dari sutera pilihan, sulaman burung elang emas terlihat di dada sebelah kanan. Tapi kenapa ada aura ayah yang kurasakan darinya?


Aku ingin bertanya langsung padanya, tapi aku ragu ia akan menjawabnya dengan jujur, "Rara, anda boleh memanggil saya Rara. Lalu bolehkah saya tahu nama tuan muda?" tanyaku dengan sopan, seraya diam-diam melakukan telepati pada Balin untuk mengingatkannya memanggilku Rara tanpa embel-embel Yang Mulia.


"Maaf nona Rara, sepertinya tidaklah penting mengetahui nama saya. Saya akan meminta maaf atas kesalahan adik saya yang tidak sopan karena tidak memalingkan tubuhnya saat nona sedang mandi, tapi perlu nona ketahui bahwa nona memasuki wilayah pribadi keluarga kami tanpa ijin."


"Ah, benar." Aku mengakui walaupun bukan kemauanku berpindah tempat ke sini, tapi kenyataannya di mata mereka aku adalah seseorang yang memasuki wilyah pribadi mereka tanpa ijin, walaupun kalau dipikir-pikir ini adalah panggilan waktu, tapi aku tak tahu caranya menjelaskan pada mereka, terlebih aku sangat penasaran pada aura ayah yang dapat kudeteksi dari dirinya.


"Nona, ini bukan kesalahan nona," kata Balin mengingatkan, ia tampaknya tak ingin aku mengucap maaf.


Aku tersenyum pada Balin, "kita tidak bisa menyalahkan panggilan waktu, Balin."

__ADS_1


"Mohon ampun Yang Mulia," pemuda di hadapanku langsung bersimpuh dan menundukkan kepalanya.


__ADS_2