Putri Bungsu Yang Rendah Diri

Putri Bungsu Yang Rendah Diri
25. Di atas Langit Masih Ada Langit


__ADS_3

"Berjanjilah untuk bertahan bersamaku," Varen kembali menatapku serius.


Aku mengangguk, "aku berjanji."


Varen membalas anggukanku, aku melihat tekad di matanya. Aku tau kalau ia mencoba memberitahuku kalau kami bisa menghadapi mereka, kami berdiri saling bertolak belakang, punggung kami bersentuhan, aura kami menguar saling menguatkan. Aura inti memang masih terkunci, tapi aura gelap kami tampak semakin mendominasi, aku merasakan hawa dingin yang amat menusuk dari punggung Varen.


"Setidaknya, bertahanlah sampai bulan Dewa muncul."


Aku mengangguk tanpa memandang ke arah Varen. Pasukan gelap di hadapanku semakin mendekat, hampir sama dengan pasukan Bedros, tapi kali ini jumlahnya lebih banyak dan beragam, bahkan banyak hewan kegelapan yang ikut serta. Aku bergidik ngeri, aku tidak bisa lagi menguras tenagaku untuk membuat lapisan pelindung untukku dan Varen. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menyingkirkan rasa takut yang mulai menggerogoti.


"Hahaha, ternyata aku tidak perlu bersusah payah lagi karena kalian berdua berkumpul di sini!"


Seorang laki-laki tampak kejam, ia menunggangi kuda iblis dan membawa tombak, kudanya berlari kencang dari arah belakang pasukan, lalu terbang dan berhenti di hadapanku.


"Sial, kenapa Abigor turun tangan?" Varen kini membalikkan tubuhnya, dan berdiri di sampingku, menghadap ke arah Abigor. Sungguh aku benar-benar harus mulai belajar sejarah kegelapan, aku tak memahami mereka, apalagi mengenali nama mereka.


"Hei kalian, berani memalingkan muka dariku hanya karena iblis jelek itu?"


Aku dan Varen refleks berbalik ke arah suara, seorang wanita berambut panjang berwarna semerah darah terlihat garang menatap ke arah kami. Dia cantik tapi kecantikannya tertutup aura gelap yang amat membara, bukan hanya aura gelap, ada api yang membara di seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Raina! Berhati-hatilah dengannya, Aira. Dia iblis api yang cukup licik."


Aku mengangguk, "bolehkah aku saja yang melawannya?"


"Baiklah, akan kulawan Abigor. Bertahanlah, kau tahu kan?" Varen kembali menelisik wajahku, aku mengangguk dan menatapnya tanpa ragu. Setelah melihat anggukanku, Varen berbalik menghadap Abigor, sedang aku masih dalam posisiku menghadap Raina. Aku dan Varen kembali berdiri saling bertolak belakang, menghadap musuh kami masing-masing, punggung kami saling bersinggungan, aura kami saling menenangkan satu sama lain.


Aku berusaha fokus hanya pada Raina, aku sama sekali tidak mengenalnya, sama sekali tidak tahu kelemahan dan kehebatannya, posisinya juga sama denganku, kami baru bertemu kali ini.


"Jadi kau sudah siap mati di tanganku?" Raina menatapku dengan tatapan merendahkan, bibirnya seolah mencibir. "Tapi maaf, aku sangat menghargai ribuan pasukanku yang sudah datang jauh-jauh ke sini, jadi.."


Aku terus mengawasinya, Raina menjentikkan jari, sebuah singgasana bernuansa hitam merah terlihat muncul dengan cepat, Ia berjalan ke arah singgasana. Aku dengan cepat mengayunkan tanganku, aura gelap yang semakin lama semakin terasa kuat dalam tubuhku, kini berubah layaknya petir hitam yang menyambar singgasana Raina, seketika singgasana itu hancur berkeping-keping.


Sebuah bola api terbentuk di tangannya, entah kenapa aura gelapku terus menyeruak keluar, seperti tak sabar melawan aura Raina. Aku memfokuskan seluruh aura gelap yang ada, aku mengikuti keinginan aura gelap, selama masih dalam kendaliku, aku merasa masih aman. Aura gelapku membentuk bola hitam menyerupai bola api milik Raina, dan disaat yang bersamaan kami saling melepaskannya, membuat kedua bola itu saling bertabrakan, tapi aku melongo! Tidak terjadi ledakan hebat seperti yang kupikir akan terjadi, bola hitamku melahap bola api milik Raina dan terus melesat menuju Raina dengan kecepatan penuh, tapi sayangnya Raina dengan sigap menyelamatkan dirinya dengan membuka portal. Bola hitam terus melesat ke arah ribuan pasukan Raina dan "DUUUUUAAAAARRR!" Bola hitamku meledak, kini tampak api hitam membakar semua pasukan Raina tanpa terkecuali. Suara jeritan terdengar memekakkan telinga, aku benci suara seperti ini, tapi dengan cepat suara-suara itu berhenti, kini tumpukan abu terlihat memenuhi pandanganku.


"Dasar gila! Kau memang tidak sopan!"


Aku terkesiap, Raina tiba-tiba muncul d] hadapanku, ia mengeluarkan energinya membentuk layaknya cambuk api.


"Sial!" aku kalah cepat untuk bertindak. Cambuk api itu melesat ke arahku, dengan kecepatan luar biasa melilitku erat. Rasanya amat menyakitkan tapi masih tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan apa yang kurasakan di gua batu. Tapi kalau ini berlangsung lama, aku bisa mati lemas karena tampaknya cambuk ini selain menyiksaku, ia juga mencoba menghisap energiku.

__ADS_1


"Ooh masih sanggup tak berteriak? Rasakan ini!" Raina kembali membentuk cambuk api dan mencambukiku yang masih terikat. Aku marah, aku tidak harus segera melawan, aku tak ingin mengganggu konsentrasi Varen jika ini terjadi terlalu lama.


Aku mencoba diam, meredam sakit sambil memusatkan energiku ke dahi. Tangan dan kakiku terikat, aku harus mengalihkan seluruh energiku ke tempat lain. "AAAAH!" aku mengerang kesakitan, sebuah bola api kecil baru saja mengenai tubuhku. Aku memejamkan mataku, terus mencoba memfokuskan energi ke dahi, tapi aneh hanya energi gelap yang mengikuti kemauanku. Seolah energi cahayaku ikut tersegel dengan energi inti. Aku merasa darah keluar hidungku, luka di bagian tubuhku yang lain mulai terasa perih. Kini aku merasa dilempar ke berbagai arah, terdengar Raina berteriak tapi aku tak tahu apa. Aku masih fokus untuk memusatkan energi, hingga akhirnya aku merasa semua energi gelap, tunggu bahkan kalau dirasa energi gelap yang kurasakan lebih bahyak berkali-kali lipat dari sebelumnya. Aku membuka mata, menemukan sosok Raina yang sedang menertawaiku.


Kemarahanku terasa memuncak, aura gelap menguar di seluruh tubuhku melepaskan tubuhku dari ikatan cambuk api Raina. Aku melekatkan pandanganku pada sosok Raina, aku belum menyerang tapi kulihat Raina yang tadinya tertawa kini mulai diam bahkan seperti menahan sakit, tubuhnya perlahan tumbang. Raina tampak menahan tubuhnya dengan kedua tangan, layaknya sedang bersimpuh. Aku melepaskan semua aura hitamku, sama seperti saat aku melepaskan aura pelangiku di hutan hujan. Seketika Raina mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Apa hakmu atas nyawaku?" Amarahku membuncah, aku mengarahkan auraku pada Raina mengikatnya dengan aura gelapku.


"Aaaah! Kenapa? Kenapa kau bisa memiliki aura gelap seperti ini! Aaaaa!!!" Raina berteriak kesakitan, jeritannya membahana di langit tapi kali ini entah kenapa aku sama sekali tidak membenci suara teriakannya.


"Aira!"


Suara Varen seperti menyadarkanku, aku berbalik ke arah Varen. Seluruh tubuhnya sama sepertiku, dilingkupi aura gelap yang dahsyat. Di belakang Varen aku melihat Abigor dan seluruh pasukannya membeku layaknya patung es!


Varen bergerak cepat ke arahku, ia meneliti seluruh tubuhkup, lalu menggenggam tanganku erat. "Lihatlah!"


Aku mengikuti arah pandang Varen, ia memandang ke arah ujung langit. Tampak semburat cahaya yang teramat terang, membuat langit gelap kini mulai terhiasi cahaya.


"Terimakasih, kau berhasil memenuhi janjimu." Varen menatapku, mata birunya penuh keteduhan. "Terimakasih sudah bertahan Aira!"

__ADS_1


__ADS_2