
"Yang Mulia," suara Balin membuatku membuka mata.
Aku berada di depan sebuah gedung tua yang tampak tak terurus, apa ini? kenapa malam ini aku terus berpindah tempat di luar kemauanku sendiri?
"Yang Mulia karena saya tidak bisa menemukan tanah kosong di pusat kota, saya memilih membeli beberapa bangunan, Yang Mulia bisa menghancurkan dan membangun apa yang Yang Mulia inginkan."
Secara tak sadar aku mengelap bibirku yang terasa sedikit basah, "ehm, baiklah terimakasih Balin."
"Yang Mulia tampak lelah, sebaiknya kita kembali agar Yang Mulia bisa beristirahat."
Aku mengangguk setuju, energiku benar-benar terasa terkuras hari ini. Balin tampaknya paham apa yang aku pikirkan, kali ini ia tampak mengaktifkan portalnya untukku, "silahkan Yang Mulia."
Aku masuk dan memejamkan mata, portal Balin terasa sangat stabil dan cepat mengantarkanku ke depan kamar, tunggu bukankah ini kamarku di istana? Aku menatap Balin penuh tanya.
"Selamat beristirahat Yang Mulia," Balin membungkuk hormat lalu meninggalkanku begitu saja.
Aku menyerah dan memilih untuk memasuki kamar, seketika aku langsung menuju ke kolam pemandian air panas. Kulepas semua pakaian yang melekat dan merendam seluruh diriku dalam air hangat yang nyaman. Rasa habngat menjalar ke seluruh tubuhku, menghapus rasa lelah yang melekat. Kusenderkan punggungku ke dinding kolam dan memejamkan mata, kesunyian merayap memberi ketenabgan yang tiada tara.
"Kreeek," suara pintu digeser membuatku membuka mata, aku bergegas keluar dari kolam dan memakai pakaian tidur dengan sihir. Kulangkahkan kakiku menuju ke arah kamar tidur, pintu tampak telah tertutup sempurna, tapi mataku menangkap sesosok tubuh di atas ranjang.
"Kemarilah Aira, aku merindukanmu!"
__ADS_1
"Kak Nala?" aku mendekat ke arah ranjang dan menemukan kakak pertamaku terbaring sambil memejamkan mata, keanggunannya tak terbantahkan.
"Apa yang terjadi? Kenapa kakak membaringkan diri di ranjangku?" tanyaku heran karena sejak menikah, Kak Nala tak pernah berperilaku seperti ini.
"Aku akan tidur denganmu malam ini," ucapnya dengan suara yang terdengar mengantuk, ia terlihat menguap lebar. "Kemari dan tidurlah," Kak Nala menggeser tubuhnya di ranjang besarku, ia memberiku ruang berbaring di sampingnya.
Aku mengikuti keinginannya dan berbaring di sampingnya, seketika senyumku mengembang. Ingatan akan masa lalu tiba-tiba datang menyapaku, dulu ketika aku masih kecil, kak Nala seringkali tidur denganku, menemaniku yang takut tidur sendiri di kediaman yang luas. Kak Nala tak pernah menolak ketika aku mengetuk pintu kamarnya dan memintanya menemaniku, tapi itu jauh sebelum Kak Nala menikah. Sejak menikah aku paham jika prioritas utamanya adalah keluarga kecilnya, Kak Aditya, Agam dan Agler.
"Oh, bagaimana dengan Kak Aditya?" tanyaku seolah baru sadar, apakah mereka bertengkar? Apa yang terjadi?
"Berhentilah berpikir macam-macam, kakakmu pergi menjemput Agam dan Agler." Kak Nala menggeliat, ia meraih guling dan memeluknya erat, "kemungkinan mereka sampai besok pagi."
"Aku sangat merindukan keponakan kembarku," aku tak sabar bertemu Agam dan Agler. Mereka kembar tapi sangat berbeda, Agam cenderung diam dan serius, sementara Agler tak bisa diam. "Tak terasa hampir setahun kita tak bertemu mereka kan?"
Aku tertawa tanpa suara, tentu saja ketenangan yang selama ini akan sirna seketika dengan kehadiran si kembar, terutama Agler yang suka berulah, dan Kak Nala membutuhkan energi ekstra untuk menghadapi keduanya. Usia mereka hanya terpaut tujuh tahun dariku, orang lain yang tak tahu seringkali salah menganggap kami kakak-beradik ketika sedang berjalan bersama. Selama setahun terakhir Agam dan Agler mengikuti perkemahan Guru Yang, mereka menjelajah kekaisaran untuk mempelajari banyak hal langsung dari Guru Yang.
"Bukankah biasanya Guru Yang selalu mengantar pulang?" tanyaku mengingat dulu Guru Yang mengantarku pulang.
"Ya, tapi tampaknya Guru Yang memiliki sesuatu untuk diurus sehingga ia meminta Aditya untuk menjemput anak-anak."
"Ah begitu rupanya," aku mengangguk lemah.
__ADS_1
"Aira kuakui kau memilih pemuda yang hebat," Kak Nala membuka matanya, tangannya terjulur mengusap rambutku berulang. "Waktu berlalu begitu cepat, tak kusangka adik kecilku yang dulu teramat rendah diri hingga selalu menangis sembunyi-sembunyi, kini memiliki seorang pangeran yang rela mengorbankan nyawa demi kebahagiaan dirinya," tangan Kak Nala turun dari rambutki ke pipiku.
"Aku beruntung memilikinya bukan?" ucapku sedikit berbangga diri akan Varen.
Kak Nala sedikit berdecak, "perjuangannya belum selesai, kau tahu kan ayah tak akan mudah."
Kak Nala mengerjapkan matanya, "aku masih ingat Aditya yang hampir pingsan saat menghadapi ayah pertama kali, hahaha.... aku tak sabar melihat calon adik ipar menghadapinya!"
"Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya Kak, tapi kak bukankah ini tak adil?" tanyaku menatap Kak Nala yang kini memiringkan tubuhnya ke arahku, masih dengan memeluk guling.
Kak Nala diam menatapku, memintaku melanjutkan, sementara suara rintik air hujan mulai terdengar di telingaku. Semerbak bau tanah basah yang kusukai membuat malam ini terasa penuh makna.
"Varen harus melalui banyak ujian untuk mendapatkanku, tapi aku sama sekali tak diuji, bukankah ini tidak adil? Padahal kalau dipikir-pikir, akulah yang beruntung memiliki Varen, tapi kenapa malah ia yang harus berusaha begitu keras?" tanyaku lagi.
"Siapa bilang kau tak diuji? Kau hanya tak sadar bahwa kau sedang diuji." Kak Nala tersenyum menatapku, "Aira, selama 17 tahun kau hidup tanpa bakat, tapi kau hanya menganggap semua itu sebagai bagian dari dirimu yang terlahir sebagai manusia biasa tanpa bakat dan menerimanya dengan lapang dada walau terkadang harus menangis diam-diam, aku tahu kala itu kau berusaha teramat keras nempelajari segala yang kau bisa agar kau bisa tetap hidup berguna walau tanpa bakat, saat itu aku bahkan tak bisa terlalu lama menatapmu, karena air mataku akan menetes jika melakukannya."
Kak Nala menghela nafas panjang, "bahkan saat ayah memberimu ujian sebelum usiamu 17 tahun, kau malah menganggapnya sebagai hukuman akibat tak menghargai rakyat, sekarang kau mengungkapkan padaku bahwa kau sama sekali tak diberi ujian yang sama dengan Varen, tahukah kau bila masalahnya adalah dirimu sendiri?"
"Aku?" tanyaku heran, kenapa jadi aku yang bermasalah?
Kak Nala mengangguk, "ya, kau Aira. Kau selalu memikirkan orang lain sebelum dirimu sendiri. Kau selalu memperdulikan orang lain hingga terkadang mengabaikan dirimu sendiri. Kau bahkan terlalu mandiri hingga tak memberi ruang bagi orang lain di sekitarmu."
__ADS_1
"Ketahuilah Aira, tak semuanya harus kau selesaikan sendiri. Kami ada di sampingmu karena kami siap sedia untukmu sepanjang waktu." Kak Nala menatap lurus mataku, "jika tanggung jawab di pundakmu membuat langkahmu semakin berat, katakanlah agar kami bisa membantumu, jangan hanya diam dan membuat dirimu sendiri terluka, sudah banyak luka di tubuhmu, jangan buat kami menangis karena tak memberi kami celah untuk membantumu."
Aku tersenyum, tapi hatiku terasa hangat, aku tahu Kak Nala berusaha menyampaikan bahwa ia sangat menyayangiku dan akan selalu ada ketika aku membutuhkan, bahkan bukan hanya dirinya, malainkan seluruh anggota keluarga juga akan melakukan hal yang sama, tapi aku benar-benar ingin menyelesaikan semua sendiri selagi aku bisa, aku tak ingin memberi beban yang tak perlu bagi mereka, aku hanya akan menyayangi mereka dan memberi mereka kebahagiaan, tapi tidak kesedihan atau masalah yang tak dapat kuselesaikan, karena aku tahu kalau aku tak sehebat mereka maka aku haruslah berusaha lebih keras, bukan malah menggantungkan diri pada mereka tanpa berusaha, karena aku benci pada orang-orang yang malas.