rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
10


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, tetapi tidak ada tanda-tanda Laras dan Rayyan bangun. Di dapur terlihat Bibi dan Nana sudah sibuk memasak, menyiapkan sarapan pagi.


"Nana, kamu lanjutkan memasaknya, Bibi mau ke atas dulu untuk membangunkan tuan dan Laras," kata Bibi kepada Nana.


"Baik, Bi," jawab Nana.


Di depan pintu kamar Laras, Bibi mengetuk pintu namun tidak kunjung dibuka.


"Tok..tok..tok," suara pintu diketuk oleh Bibi.


"Laras... Laras... Nak, bangunlah sudah jam 07.00. Sarapan dulu, nanti bisa tidur lagi," kata Bibi, yang sudah tahu pasti Laras kelelahan karena malam tadi.


"Biarkan saja dulu, Bi. Nanti dia akan turun jika lapar. Kasihan dia baru tidur sekitar jam 04.00 tadi," suara Rayyan tiba-tiba muncul di belakang Bibi dan berhasil membuat Bibi Ina terkejut.


"Ya Allah, Tuan! Terkejut, Bibi," kata Bibi sambil mengusap dadanya.


"Maaf, Bi," kata Rayyan sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Ayo, Bi, kita turun," kata Rayyan.


"Ayo," jawab Bibi.


Mereka berdua pun turun menuju meja makan untuk sarapan. Sesampainya di sana, Rayyan duduk dan meminta Bibi untuk menemaninya sarapan.


"Bi, temani Rayyan sarapan ya?" kata Rayyan.


"Baiklah, Bibi akan menemani tuan sarapan. Sini, Bibi bantu ambilkan sarapannya," kata Bibi sambil mengambil piring lalu meletakan makanan didalamnya untuk sarapan Rayyan.


"Terima kasih, Bi," kata Rayyan setelah Bibi meletakkan piring yang berisi makanan di depannya.


Bibi hanya membalas dengan senyuman dan menganggukkan kepalanya


Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Laras sudah mandi dan turun untuk makan karena perutnya terasa lapar. Laras menuju dapur dan di sana terlihat Nana sedang membersihkan kompor.


"Nana, apa masih ada makanan? Saya lapar, hehehe," kata Laras sambil cengengesan dan tangannya menggosokkan perutnya.


"Eh... Nona lapar? Di atas meja masih ada makanan kok. Makan saja, jika Nona ingin dipanaskan atau mau masak yang baru, katakan saja, saya akan memasak nya untuk Nona," kata Nana sambil tersenyum ke arah Laras.


"Tidak usah, yang ada saja. Tidak apa-apa, Nana. Terima kasih banyak," kata Laras sambil berjalan ke arah meja makan.


"Sama-sama, Nona," jawab Nana.


Setelah selesai makan, Laras pergi ke dapur untuk meletakkan piring kotor dan mencucinya. Di sana, ia melihat Nana masih berada di situ.


"Sudah, Nona. Biarkan saja di situ, nanti saya yang akan mencucinya," kata Nana, melarang Laras.


"Tidak apa-apa, Nana. Ini hanya sedikit," kata Laras.

__ADS_1


"Baiklah, Nona," kata Nana.


Setelah selesai mencuci dan jam menunjukkan pukul 12.30 siang, Laras keluar dari dapur menuju kamarnya untuk melaksanakan shalat Dzuhur. Namun, ketika hendak membuka pintu kamarnya, terdengar suara Rayyan.


"Nanti malam jam 10.00, datang ke ruangan semalam," kata Rayyan.


Laras terkejut mendengar suara Rayyan dan spontan membalikkan badannya.


"Baik, tuan," ucap Laras sambil tertunduk.


"Saya masuk dulu, tuan. Saya mau shalat sebentar," pamit Laras kepada Rayyan.


"Hmmm," jawab Rayyan sambil menganggukkan kepala sekali.


"Assalamualaikum," kata Laras dan langsung membuka pintu kamarnya untuk masuk.


"Waalaikumsalam," jawab Rayyan sambil segera kembali ke kamarnya.


Malam harinya, jam menunjukkan pukul 10.00 malam. Laras berdiri di depan pintu ruangan yang dimaksud oleh Rayyan, lalu mengetuk pintunya.


"Tok... tok... tok," terdengar suara ketukan pintu dari Laras.


"Assalamualaikum," ucap Laras sambil membuka pintu ruangan tersebut.


"Waalaikumsalam," jawab Rayyan dan para anak buahnya yang berada di dalam ruangan.


"Silakan duduk," ucap Rayyan sambil mengundang Laras untuk duduk.


"Terima kasih," jawab Laras sambil duduk.


"Maaf, mengapa saya dipanggil ke sini, tuan?" tanya Laras kepada Rayyan.


"Pertama, tolong jangan memanggilku dengan sebutan 'tuan'. Panggil saja namaku," kata Rayyan.


"Ehmm, kalau saya panggil mas Rayyan, apakah boleh?" tanya Laras kepada Rayyan.


"Tentu saja. Tidak apa-apa. Panggil saja sesuai yang kamu nyaman," jawab Rayyan.


"Terima kasih, mas," kata Laras yang masih agak canggung, namun tetap tersenyum.


Rayyan menatap wajah Laras yang tersenyum ke arahnya, tak berkedip.


Beberapa detik kemudian, Rayyan tersadar karena suara ponsel Azka yang berbunyi. Itu disebabkan oleh anak buahnya yang meneleponnya untuk segera kembali ke markas karena ada yang ingin menemuinya.


"Bos, gue pergi ke markas dulu, bos," kata Azka tanpa lagi menggunakan bahasa formal karena mereka berada di luar kantor.


"Iya, kalau ada apa-apa, cepat kabari gue," kata Rayyan sambil memandang ke arah Azka yang sudah berdiri.

__ADS_1


"Oke, siap, bos. Assalamualaikum, semuanya," kata Azka.


"Waalaikumsalam," jawab mereka yang berada di ruangan itu.


Rayyan kembali memandang wajah Laras dan melanjutkan pembicaraan.


"Yang kedua, ini buku diary mu dan kotak merah milikmu," kata Rayyan seraya menyerahkan barang-barang milik Laras.


"Terima kasih, mas. Kamu sudah mau membantu saya mengambil barang penting ini," kata Laras sambil membuka buku diary biru tersebut.


"Iya, sama-sama," jawab Rayyan.


"Mas, ini alamat Pak Alex," kata Laras sambil menunjukkan alamat dalam buku itu kepada Rayyan yang duduk di sampingnya.


Rayyan segera melihat buku dan mengeluarkan teleponnya untuk menuliskan alamat Pak Alex dan mengirimkannya kepada dua anak buah yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Kalian berdua, carilah orang bernama Pak Alex. Alamatnya sudah saya kirimkan ke kalian. Minta dia datang ke rumah saya besok. Biar dia yang menentukan jamnya, karena besok saya tidak kemana-mana dan bisa kapan saja," kata Rayyan kepada dua anak buahnya tersebut.


"Baik, bos. Kami pamit, assalamualaikum," ucap mereka lalu segera keluar dari ruangan itu.


"Waalaikumsalam" jawab Laras dan Rayyan bersamaan


Di dalam ruangan itu, tinggal Rayyan dan Laras yang sama sekali tidak saling berbicara.


"Boleh aku bertanya?" kata Rayyan, mencoba untuk memecah kebekuan suasana.


"Tentu, silahkan," jawab Laras.


"Apa isi kotak ini?" tanya Rayyan, menunjuk kotak merah milik Laras.


"Saya tidak tahu, Mas. Ibu saya yang memberikannya saat kami ditinggal ayah yang pergi ke luar kota," kata Laras.


"Lalu, mengapa tidak membukanya saja?" tanya Rayyan.


"Saya sangat ingin membukanya, tapi saya tidak punya kuncinya," kata Laras, sambil memegang kotak merah tersebut.


"Baiklah, tidak apa-apa. Nanti aku akan mencoba membuat kunci untuk membuka kotak ini dan kita bisa tahu apa isi di dalamnya," kata Rayyan.


"Terima kasih banyak atas bantuanmu, Mas," kata Laras, tersenyum kepada Rayyan tetapi tidak berani menatapnya.


"Aku akan menyimpan kotak ini di kamarku. Jika kamu ingin melihatnya nanti, masuk saja ke kamarku. Aku akan menyimpannya di lemari pakaianku, di bagian atas," tambah Rayyan.


"Apakah tidak masalah jika Saya masuk ke kamarmu sembarangan?" tanya Laras.


"Tidak apa-apa, aku percaya padamu," kata Rayyan sambil menatap wajah Laras.


Laras tidak menjawab, dia mengalihkan pandangannya dari Rayyan. Mereka saling menatap selama beberapa detik.

__ADS_1


Namun, Laras dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Rayyan. Rayyan juga tersadar karena teleponnya berdering. Anak buahnya yang bertugas memantau rumah Laras ingin memberikan informasi. Rayyan berdiri dan menuju ke meja dan kursi kebesarannya yang ada dalam ruangan itu.


__ADS_2