rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
23


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 sore. Mereka masih berada di rumah Laras. Setelah beberapa menit menunggu, Laras terlihat mendekati Azka dan Rayyan yang sedang duduk di ruang tamu. Ia membawa sebuah nampan berisi air minum dan beberapa cemilan.


"Ini, mas, kak, minumlah," kata Laras sambil meletakkan air minum di depan Azka dan Rayyan.


"Terima kasih, Nona," ucap Azka.


"Iya, sama-sama," jawab Laras, lalu kembali ke dapur.


Laras berjalan meninggalkan mereka di ruang tamu dan menuju dapur untuk meletakkan nampan yang dibawanya tadi.


Di ruang tamu, Azka dan Rayyan duduk berbincang-bincang tentang siapa yang mungkin berusaha melukai Laras di jalan tadi.


"Kau sudah menyelidikinya?" tanya Rayyan sambil menutup botol minumannya.


"Sudah," jawab Azka sambil meminum minuman yang disajikan oleh Laras.


"Siapa yang menyuruhnya? Atau apakah ada informasi lain mengenai ini?" tanya Rayyan lagi.


"Belum dipastikan, tapi aku dan Elang menduga bahwa ini mungkin perbuatan anak buah Niel. Orang yang Elang bawa ke markas kita tadi memiliki gelang yang sama dengan anak buah Niel yang pernah menyerang kita," jelas Azka.


"Dia sudah kukatakan, jangan pernah main-main denganku. Ternyata dia belum paham arti kata-kata itu," kata Rayyan sambil tersenyum penuh makna.


"Tapi Elang dan aku masih ingin menyelidiki lebih lanjut. Ini semua belum pasti bahwa anak buah Niel yang melakukannya atau bahkan Niel yang menyuruhnya. Bisa saja ada seseorang yang ingin mengadu domba kita dengan Niel," tambah Azka sambil melihat Rayyan.


"Baiklah, aku mempercayakan ini kepadamu. Jika ada informasi atau apapun, beri tahuku secepatnya. Dan jika benar bahwa Niel menyuruh anak buahnya mencari masalah dengan aku, kita akan merencanakan cara untuk memberinya pelajaran," kata Rayyan sambil meminum air yang dibawa oleh Laras.


"Baik, Bos. Aku akan menyelidiki semuanya," jawab Azka.


Tanpa mereka sadari, Laras yang sedang dari dapur melangkah mendekati mereka. Tanpa sengaja, dia mendengar sedikit pembicaraan mereka di ruang tamu.


"Rencana untuk memberi pelajaran kepada siapa, Mas?" tanya Laras, yang masih berdiri, langsung bertanya kepada Rayyan.


"Bukan untuk siapa-siapa," jawab Rayyan, yang sedikit terkejut.


"Mas, saya tahu kamu seorang mafia, jadi kamu pasti mau melakukan sesuatu. Siapa yang ingin kamu beri pelajaran, Mas?" tanya Laras kembali.


"Sudah, sudah. Sudah sore ini, lebih baik kita langsung pulang saja. Nanti kita kemalaman di jalan," kata Azka, menjadi penengah di antara Rayyan dan Laras.


"Ya, sudah. Ayo kita pulang," jawab Rayyan yang sudah berdiri dari duduknya.


"Baiklah. Sebentar, saya antar ini semua ke dapur," jawab Laras yang langsung mengantar gelas bekas minum Azka dan Rayyan ke dapur. Dia sengaja meninggalkan cemilan di atas meja ruang tamu.


"Ayo kita berangkat sekarang," ajak Rayyan yang sudah melihat Laras melangkah mendekati mereka.


"Mas, sebentar. Rumah ini dikunci atau bagaimana?" tanya Laras.

__ADS_1


"Tidak perlu. Anak buah ku yang ikut kita tadi yang menjaga rumah ini. Aku sudah memberi tahu mereka," jawab Rayyan.


"Baiklah," jawab Laras.


Mereka pun melangkah menuju pintu keluar. Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiga orang anak buah Rayyan yang ikut tadi masuk.


"Bos," sapa mereka.


"Ya, saya minta kalian jaga rumah ini. Jangan kasih siapa pun masuk, kecuali aku yang memberitahu kalian siapa orang itu," kata Rayyan.


"Baik, Bos," jawab mereka.


"Anggap saja seperti rumah sendiri. Tidak apa-apa. Bahan dapur dan perlengkapan lainnya lengkap kok, cuma ada beberapa saja yang sudah habis," kata Laras.


"Baik, Nona. Terima kasih," kata mereka.


"Sama-sama," jawab Laras sambil tersenyum.


"Ya sudah, kami pulang dulu," kata Rayyan.


"Baik, Bos. Hati-hati, Nona, Mas Azka," kata salah satu dari mereka.


Hanya Laras dan Azka yang menganggukkan kepala sebagai jawabannya, lalu mereka keluar dari rumah Laras menuju mobil dan pulang ke rumah Rayyan.


"Bibi, mungkin mereka sudah pulang. Biar aku yang membukakan pintunya, ya," kata Nana sambil melangkah menuju pintu depan untuk membiarkan Laras dan lainnya masuk.


"Baiklah, pergilah," kata Bibi.


Nana membuka pintu untuk mereka masuk.


"Assalamualaikum," ucap mereka serentak.


"Waalaikumsalam," jawab Nana yang sudah membuka pintu.


"Terima kasih, Nana," kata Laras kepada Nana.


"Sama-sama, Non," jawabnya sambil menutup pintu masuk itu kembali


Mereka langsung menuju ruang tamu. Namun, Azka sedikit-sedikit mencuri pandang ke arah Nana. Hanya Laras yang melihat tingkah tersebut, dan dalam hatinya Laras berpikir, "Sepertinya Kak Azka menyukai Nana." Laras mengangkat sedikit bibirnya sambil melangkah untuk duduk di sofa ruang tamu.


Terlihat Bibi datang dari arah dapur, berjalan mendekati mereka.


"Maaf, tuan. Makanan sudah siap. Apakah kalian mau langsung makan atau membersihkan diri dulu?" tanya Bibi kepada mereka semua.


"Kami akan membersihkan diri dulu, Bi," kata Rayyan menjawab pertanyaan Bibi.

__ADS_1


"Iya, Bi. Setelah itu baru kami makan," kata Azka.


"Baiklah kalau begitu, Bibi tunggu di meja makan ya," kata Bibi kepada mereka.


"Baik, Bi. Terima kasih," jawab Laras.


"Sama-sama," jawab Bibi sambil tersenyum.


Mereka pergi ke kamar masing-masing. Azka pergi ke kamar sebelah Rayyan, yang memang dikhususkan untuk dirinya dan juga sahabat-sahabat Rayyan yang lain. Baju-baju mereka ditempatkan di lemari yang berbeda-beda. Ruang kamar mereka lumayan besar.


Bibi dan Nana melangkah menuju meja makan


"Bi, Nana boleh membuat ayam goreng sebentar?" tanya Nana ke Bibi


"Boleh, buat yang banyak Nana, karena bibi juga ingin makan ayam goreng" jawab Bibi Ina sambil tersenyum manis


"Baiklah Bibi, Nana akan membuat nya, sebentar ya Bi" kata Nana yang kemudian melangkah menuju dapur untuk membuat ayam goreng.


Setelah hampir satu jam, akhirnya terlihat Laras dan Azka turun untuk makan malam bersama. Mereka berjalan beriringan menuruni anak tangga dan menuju meja makan.


"Kak Azka, saya lihat Nana memang cantik, ya?" sindir Laras sambil tersenyum kepada Azka.


"Maksud nona?" tanya Azka pura-pura tidak mengerti.


"Sudahlah, Kak Azka. Jangan pura-pura tidak mengerti. Sedangkan urusan kantor sekali baca saja, kakak sudah paham. Apalagi hanya kata-kata seperti itu," jawab Laras sambil tetap tersenyum.


"Nona ada-ada saja. Mana mungkin saya menyukai Nana, non?" kata Azka sengaja mengecilkan suara agar Nana atau bibi tidak mendengarnya.


"Jujurlah, Kak," kata Laras kembali.


"Hmm, belum yakin, nona," jawab Azka.


"Baiklah, kalau begitu, nanti saya akan bertanya sedikit-sedikit pada Nana apa saja yang dia sukai. Yah, itung-itung biar kakak dapat mendekatinya," kata Laras sambil memainkan alis matanya.


"Baiklah, terima kasih, nona," jawab Azka sambil tersenyum.


"Sama-sama, Kak," jawab Laras.


Tanpa sepengetahuan Laras dan Azka, Rayyan yang sudah turun dari tangga berdiri dibelakang mereka yang berhenti berjalan saat ingin menuju meja makan.


"Kalian membicarakan apa?" tanya Rayyan seolah olah cemburu melihat kedekatan antara Laras dan Azka


"Eh.. Tidak, tidak ada apa-apa, ya kan Laras," kata Azka yang langsung melangkah menuju meja makan meninggalkan Rayyan dan Laras yang masih berdiri.


Laras mengikuti langkah kaki Azka tanpa melihat dan menjawab pertanyaan dari Rayyan

__ADS_1


__ADS_2