rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
40


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 22.30 malam, Nana yang takut salah dengar atau dia takut saat ini dia sedang bermimpi, Nana langsung bertanya kepada Azka lagi yang masih memeluknya


"Tu...Tuan, apa yang Tuan katakan tadi?, cemburu?" tanya Nana


Azka yang masih memeluk Nana hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban


"Maksudnya?" tanya Nana


Azka langsung melepaskan pelukannya dan menatap kewajah Nana sambil memegang kedua bahu Nana.


"Aku menyukaimu, Nana" kata Azka dengan matanya terus menatap ke mata Nana


Mendengar kata yang keluar dari mulut Azka, Nana langsung menatap kearah mata Azka untuk mencari kebohongan disana, tetapi Nana tidak menemukannya, Nana merasakan bahwa Azka mengatakan suka pada dirinya itu benar-benar dari hatinya.


Nana diam dan berdiri mematung, dia tidak berani untuk memberi jawaban dari perkataan Azka.


Azka yang melihat Nana tidak kunjung menjawab langsung menggoyangkan tubuh Nana


"Nana" kata Azka yang menggoyangkan tubuh Nana dengan sedikit kuat agar Nana tidak hanya menatapnya tetapi memberi jawaban atas perkataannya.


"Eh...Iya, Tuan," jawab Nana yang masih menatap kewajah Azka


"Apa kamu tidak mendengar ku?" tanya Azka yang masih memegang kedua bahu Nana


"Saya mendengarnya, Tuan, apa yang Tuan katakan tadi, semuanya saya dengar" jawab Nana tetapi sudah mengalihkan pandangannya kebawah


"Apa jawaban mu?" kata Azka yang sudah memegang dagu Nana dan mengangkatnya agar Nana tidak menunduk lagi.


"Saya juga menyukaimu, Tuan, tapi.." kata Nana yang dipotong oleh Azka.


"Ssstttt" kata Azka yang jari telunjuknya sudah diletakkan ke bibir Nana, meminta agar Nana diam, dan tidak melanjutkan perkataannya lagi.


"Sudah, sudah cukup, saya hanya ingin kamu mengatakan jawabnya saja, dan tidak ingin mendengarkan kata lain" kata Azka


Nana hanya terdiam, dan kembali menundukkan kepalanya kebawah.


"Saya ada dihadapan mu, tidak dibawah sana" kata Azka yang kembali mengangkat dagu Nana.


"Tuan, saya hanya merasa tidak pantas menjalin hubungan dengan mu, kamu adalah Tuan saya, atasan saya, sedangkan saya hanyalah seorang pembantu" kata Nana yang dagunya masih dipegang oleh Azka


"Cup..." suara bibir Azka yang mencium kening Nana


Setelah Azka mencium kening Nana, Nana menatap kearah mata Azka dan Azka pun membalas tatapan itu.


"Kenapa?" tanya Azka

__ADS_1


"Tuan, kenapa mencium kening saya?" tanya Nana


"Agar kamu tidak banyak bicara lagi" kata Azka yang sudah menjauhkan tangannya dari bahu dan dagu Nana, namun masih berdiri dihadapan Nana.


Nana kembali duduk ditepi tempat tidurnya, dengan keadaan masih duduk, Nana bertanya kepada Azka.


"Tuan, apa Tuan yang memberitahu Nona Laras, bahwa Tuan menyukai saya?" tanya Nana yang sudah duduk ditepi tempat tidurnya.


"Saya tidak memberitahunya, Nona Laras sendiri yang mengetahuinya" kata Azka yang ikut duduk disamping Nana


"Dari mana Nona tahu hal ini?" tanya Nana dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh Azka


"Sudah lah, jangan dipikirkan, Nona Laras tidak akan mempermasalahkan tentang kita" kata azka yang menjawab pertanyaan Nana padahal Nana tidak bertanya padanya.


"Jadi sekarang kita?" tanya Nana


"Kita?" tanya Azka kembali, sambil tersenyum karena dia tahu apa yang di maksud oleh Nana.


"Em...tidak, tidak ada apa-apa, kalau begitu saya keluar dulu" kata Nana yang langsung berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu kamarnya untuk keluar.


Azka yang mengerti, bahwa saat ini Nana sedang malu, dia langsung menarik tangan Nana dengan tiba-tiba, Nana yang ditarik tangannya langsung mundur dan terduduk dipangkuan Azka yang duduk ditepi tempat tidur Nana.


"Mau kemana?" tanya Azka yang melingkarkan tangan kanannya ke pinggang Nana, sedangkan tangan kirinya mencubit hidung Nana.


"Kenapa?", disini tidak ada orang" kata Azka


"Iya, saya tau, tapi kenapa memeluk pinggang saya seperti ini" kata Nana yang sudah menunduk sambil menahan malunya


"Karena aku tidak mau kau pergi" kata Azka dengan santainya


"Saya mau keluar, untuk kembali kekamar Nona Laras" kata Nana yang berusaha melepaskan tangan Azka yang ada di pinggangnya


"Sudah jam 23.00 malam, sebaiknya kamu istirahat" kata Azka sambil mengeratkan pelukannya dipanggang Nana.


"Tapi, Tuan..." kata Nana yang lagi-lagi terpotong


"Sudah, jangan banyak alasan, biar saya yang memberitahu mereka kalau kamu ingin istirahat terlebih dahulu" kata Azka


"Baiklah, terima kasih, Tuan" kata Nana yang masih berada dipangkuan Azka


"Tuan?" kata Azka sambil menaikkan sebelah alis matanya.


"Iya, Tuan" jawab Nana menganggukkan kepalanya beberapa kali


"Saya tidak mau kamu memanggil saya dengan kata itu" kata Azka

__ADS_1


"Lalu?" kata Nana bertanya kepada Azka yang masih memangkunya


"Terserah kamu memanggil saya dengan kata apa, asalkan jangan menggunakan kata yang tadi" kata Azka


"Baiklah, jika saya memanggil Tuan dengan sebut 'Mas', boleh?" tanya Nana


"Em...Baiklah, boleh" jawab azka


Nana yang merasa tangan kanan Azka yang tadi memeluk pinggangnya sedikit longgar, langsung turun dan berdiri, lalu Nana sedikit menjauh dari Azka, agar dirinya tidak ditarik lagi oleh Azka dan duduk kembali dipangkuan Azka.


"Baiklah kalau begitu, aku akan keluar, kamu istirahat lah" kata Azka yang berdiri dan melangkahkan kakinya untuk mengambil kopi yang tadi diletakkannya diatas lemari kecil disamping tempat tidur Nana.


"Baik, Tuan... Em...Maksudnya Mas" kata Nana


Azka yang sudah memegang gelas kopi ditangannya, melangkah menuju pintu untuk keluar dari kamar Nana, Azka membuka pintu kamar tersebut dan menutupnya setelah dirinya keluar.


Nana yang melihat pintu kamarnya telah ditutup oleh azka, dia langsung melangkah mendekati pintu itu untuk menguncinya.


Namun baru beberapa langkah Nana menuju ke pintu, tiba-tiba pintu tersebut terbuka kembali dan terlihatlah Azka yang berdiri disana.


"A...Ada apa, Tuan?" tanya Nana yang sedikit terkejut


"Kau tidak diizinkan untuk mendekati pria manapun, hanya boleh dekat dengan ku, kau milikku, hanya milikku" kata Azka yang melangkah masuk kembali mendekati Nana yang tidak jauh dari pintu kamar.


"Ta...Tapi, saya inikan pembantu dirumah Tuan Rayyan, jadi saya harus melayan Tuan Rayyan, dia kan laki-laki, jadi bagaimana Tuan, eh....Mas?" tanya Nana yang sengaja bertanya seperti itu agar melihat reaksi Azka terhadap Bos dan sekaligus sahabatnya itu.


"Nana, jangan sekali-sekali kamu memancing ku" kata Azka yang sudah berada dihadapan Nana dengan jarak yang sangat dekat.


Nana yang merasakan hangatnya nafas Azka langsung memundurkan dirinya.


"Ba..Baiklah kalau begitu" jawab Nana sambil menundukkan kepalanya


Azka melangkah maju mendekati Nana dan langsung memegang dan mengangkat dagu Nana agar menatapnya.


"Cup..." suara bibir Azka yang mencium kening Nana


Nana memundurkan dirinya lagi agar sedikit memberi jarak pada Azka


"Tuan, kenapa suka sekali mencium kening saya?" tanya Nana


"Suka saja, sudah aku mau keluar, kunci pintu dan istirahat lah" kata Azka


"Baiklah" kata Nana sambil menganggukkan kepalanya


Azka langsung keluar dari kamar Nana, Nana pun mengikuti langkah kaki Azka karena akan menutup dan mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2