rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
16


__ADS_3

Rayyan menghidupkan lampu ruangan dengan menepuk tangannya dua kali, dan seketika lampu menyala, mengungkapkan seekor hewan yang sangat besar.


"Ya Allah... harimau putih," kata Laras sambil menutup mulutnya, terkejut melihat hewan besar tersebut tanpa dikandangkan.


"Tidak apa-apa, dia patuh dan mengenal aroma tubuhku, jadi dia tidak akan menyakitimu jika ada aku ," kata Rayyan mendekati harimau tersebut.


"Apa kamu yakin?" tanya Laras, tidak bergerak dari tempatnya.


"Iya, sangat yakin. Aku menemukannya ketika masih kecil di hutan saat aku dan anak buahku melakukan transaksi. Kami memiliki ikatan batin. Ketika aku dalam bahaya, dia merasa resah dan berusaha keluar dari sini," jelas Rayyan kepada Laras sambil mengusap kepala harimau putih tersebut.


"Keluar? Bagaimana caranya? Dia terikat rantai, dan hanya kamu yang bisa membuka pintunya," tanya Laras.


"Dia hanya perlu menekan tombol itu, lalu keluar melalui pintu di belakang. Pintu dan rantai akan terbuka otomatis ketika tombol itu ditekan," kata Rayyan sambil menunjuk tombol dan pintu dekat harimau tersebut.


"Ayo, mendekat lah dia," ajak Rayyan.


"Saya takut, dia belum pernah bertemu denganku," kata Laras.


"Tidak apa-apa, mendekat lah " kata Rayyan.


Laras perlahan mendekati Rayyan dan harimau putih tersebut.


"Maukah kamu mencoba memegangnya?" tanya Rayyan kepada Laras.


"Aku mau, tapi aku takut," kata Laras.


"Ayo, serahkan tanganmu padaku," kata Rayyan, mengambil tangan Laras dengan lembut dan membimbingnya mengarah ke kepala harimau.


Harimau itu bangkit dan berdiri ketika merasakan tangan Laras menyentuh kepalanya. Harimau itu menatap Laras, yang mulai ketakutan. Kakinya seperti tak mampu menopang beban tubuhnya, namun dia tetap memandang harimau tersebut.


Harimau tersebut berjalan mengelilingi Laras dan Rayyan, mengendus mereka. Setelah beberapa putaran, harimau itu berbaring di dekat kaki Laras dan memegang kakinya, seolah meminta dielus.


"Ada apa dengannya, Mas?" tanya Laras, tak bergerak.


"Aku tidak tahu. Dia belum pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan kepada Bibi dan Nana, dia biasanya cuek. Tapi mengapa denganmu dia malah minta dielus?" kata Laras bingung.


Harimau putih terus berguling-guling di kaki Laras. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Laras membungkukkan tubuhnya sedikit untuk memegang tangan harimau tersebut.


"Ternyata kamu lucu juga," kata Laras sambil tersenyum.


Seperti mengerti apa yang dikatakan Laras, harimau itu mengulurkan tangannya berusaha mencapai tangan Laras.


"Oh iya, namanya siapa?" tanya Laras.


"Namanya Lexi," kata Rayyan.


"Lexi..." kata Laras sambil memegang tangan Harimau tersebut.


Beberapa menit kemudian Rayyan mengeluarkan suaranya.

__ADS_1


"Sudah, mainnya nanti disambung lagi. Kita ke ruangan lainnya," kata Rayyan mengajak Laras.


"Ya, baiklah. Ayo," jawab Laras.


Seolah-olah mengerti apa yang diucapkan oleh Laras dan Rayyan, Lexi menghadang langkah kaki mereka.


"Lexi, nanti saja mainnya lagi, ya," kata Rayyan sambil mengelus kepala Lexi.


Lexi tidak berpindah dari posisinya, dia hanya diam dan terus melihat ke arah Laras.


"Lexi, saya janji setelah berkeliling, saya akan kembali ke sini untuk bermain denganmu," kata Laras sambil mengelus lembut kepala Lexi.


Seolah tau apa yang diucapkan oleh Laras,


Lexi pun berpindah kembali ke tempatnya seperti semula.


Di dalam hatinya, Rayyan berkata, "Mengapa harimau ini begitu patuh padanya? Biasanya, ketika dia bertemu dengan orang baru, dia tidak sepatuh ini." Rayyan melihat ke arah Laras yang sedang mengelus kepala Lexi yang telah berpindah.


"Ayo," ajak Laras.


Rayyan tersadar dari lamunannya saat mendengar suara Laras.


"Hmmm," kata Rayyan sambil menganggukkan kepala dan meninggalkan ruangan tempat Lexi berada.


Rayyan sengaja menutup pintu ruangan tersebut tetapi tetap menyala lampunya.


"Di ruangan ini aku yakin kau pasti menyukai isinya," kata Rayyan.


Rayyan pun membuka pintu tersebut, dan dalam ruangan terlihat dua ekor kucing yang sangat besar, berwarna putih dan hitam, dengan badan yang melebihi ukuran kucing pada umumnya.


"Wahhhh... kucingnya besar sekali! Saya tidak pernah melihat kucing sebesar ini," kata Laras sambil berlari mendekati kucing-kucing tersebut.


Rayyan hanya tersenyum melihat tingkah Laras yang seperti anak-anak yang mendapatkan hadiah besar dari ayahnya.


"Kau menyukainya kan?" tanya Rayyan, yang sudah berdiri di samping Laras yang duduk sambil mengelus kepala kucing-kucing tersebut.


"Sangat suka," kata Laras yang tersenyum bahagia.


"Apakah mereka sama dengan Lexi yang sepertinya memiliki ikatan batin denganmu?" tanya Laras sambil tetap mengelus kepala kucing-kucing tersebut.


"Tidak, Lucy dan Lacy hanya akan memberitahu jika ada bahaya yang mendekat pada ku, bibi, atau Nana dengan sikap mereka yang aneh. Terkadang mereka akan membawa kain berwarna itu kepada kami," kata Rayyan sambil menunjuk ke arah kotak putih yang berisi kain polos berwarna merah, hijau, dan putih.


"Oh, namanya Lucy dan Lacy ya?" tanya Laras.


"Iya," jawab Rayyan.


"Kalau boleh tahu, apa makna warna kain tersebut?" tanya Laras.


"Merah artinya bahaya sudah dekat, hijau artinya berjaga-jaga bahaya akan datang, dan putih menandakan bahwa kami merencanakan sesuatu yang akan berhasil," jelas Rayyan sambil duduk di samping Laras dan ikut mengelus kepala kucing-kucing tersebut.

__ADS_1


"Apa saya boleh membawanya keluar, maksud saya, jangan di sini, tapi letakkan di rumah saja?" kata Laras.


"Baiklah, boleh. Tapi kita letakkan di sebelah kamarmu, ada satu kamar kosong di sana," kata Rayyan, memberikan izin kepada Laras.


"Baik, terima kasih," kata Laras sambil tersenyum kepada Rayyan.


"Sama-sama," jawab Rayyan. Entah setan apa yang merasuki Rayyan, tangan dan pandangannya bergerak menggosok dan mengelus kepala Laras.


"Emmm, Mas, rambut saya," kata Laras, melihat ke wajah Rayyan.


"Eh... maaf, aku tidak sengaja," kata Rayyan, mengalihkan tangan dan pandangannya kembali ke kucing.


Laras tidak menjawab, tapi berkata dalam hatinya, Dia begitu baik dan lembut padaku. Aku pun sudah nyaman dekat dengannya, tapi ah... sudahlah.


"Sudah, ayo ke ruangan lainnya," ajak Rayyan.


Baru mereka ingin bangun dari duduknya, kucing yang berwarna hitam membawa kain berwarna putih ke hadapan Laras.


"Meow... meow... meow," suara kucing tersebut seolah meminta Laras mengambil kain tersebut.


"Mas, apa kamu merencanakan sesuatu?" tanya Laras kepada Rayyan sambil mengambil kain tersebut, lalu menyerahkannya ke Rayyan.


"Sudah, nanti saja aku ceritakan. Sekarang, kita keluar dan pergi ke ruangan lain," kata Rayyan sambil mengambil dan mengembalikan kain itu ke tempat semula.


"Katanya boleh bawa ke rumah," kata Laras seolah mengingatkan Rayyan.


"Iya, boleh. Ayo, keluarkan mereka," kata Rayyan yang sudah mengangkat salah satu kucing tersebut.


Laras dan Rayyan pun keluar dari sana sambil menggendong Lucy dan Lacy. Mereka menuju sofa di mana bibi dan Nana sudah duduk.


"Loh, kenapa mereka dibawa keluar, tuan?" tanya Nana.


"Laras ingin membawanya ke rumah," jawab Rayyan.


"Saya bosan tidak ada yang ingin diajak bermain," kata Laras.


"Ya, sudah. Kucingnya dilepas dulu, nanti ketika kita mau keluar baru dipanggil," kata bibi.


"Baik, bi," jawab Laras dan Rayyan.


"Tuan dan nona, apakah masih ingin ke ruangan selanjutnya?" tanya Nana.


"Iya, Nana. Kami masih mau ke ruangan berikutnya. Nanggung tinggal 2 ruangan lagi, setelah itu baru kita makan di sini," kata Rayyan.


"Baiklah, kalian pergilah. Bibi dan Nana akan membawa makanan dari dapur ke sini," kata bibi.


"Baik, bi," kata Rayyan.


Bibi dan Nana langsung menuju dapur, sementara Rayyan dan Laras menuju pintu ketiga.

__ADS_1


__ADS_2