
Akhirnya mereka sampai disebuah ruangan yang luas dan besar, di sekeliling ruangan tersebut, terdapat berbagai macam jenis senjata, baik panah beserta anaknya, pedang, samurai, pistol, belati dan lainnya, tetapi senjata disini hanya senjata biasa yang sengaja diletakkan untuk latihan, berbeda dengan senjata yang ada diruang rahasia bawah tanah milik Rayyan.
Laras yang melihat Nana dan Azka latihan bela diri bersama, dia tidak bersuara tetapi memerhatikan setiap gerakan yang Azka dan Nana lakukan, bagaimana cara Azka menyerang dan menangkis semua serangan yang diberikan oleh Nana dan begitu pun sebaliknya.
Rayyan yang sudah berganti pakaian dengan pakaian bela dirinya langsung bergerak cepat menyerang ke arah Azka.
"Lawan yang tidak seimbang" kata Laras melihat Rayyan dan Nana sama-sama menyerang Azka
Laras melangkah menuju ke sebuah lemari pakaian yang ada disana karena dia melihat Rayyan mengambil baju yang dipakainya sekarang ini disana, lalu ia membuka lemari tersebut dan mengambil pakaian yang sama seperti yang dikenakan oleh Rayyan, Nana dan Azka.
Setelah siap, Laras dengan gerakan cepat membantu Azka, dia menyerang Rayyan dengan gerakan cepat, Azka dan Nana yang masih bertarung tiba-tiba berhenti melihat ke arah Rayyan dan Laras yang sedang bertarung dengan tangguhnya.
"Tuan Azka, apa saya tidak salah lihat?" tanya Nana namun pandangannya tidak berpindah, dia masih melihat kearah Rayyan dan Laras.
"Tidak, kamu tidak salah lihat, benar kata Tuan Rayyan, gadis ini sepertinya menyimpan banyak rahasia didalam dirinya namun dia tidak menyadarinya" kata Azka
"Benar kata Tuan Azka, kemaren waktu Tuan Muda mengajaknya keruang rahasia bawah tanah, ketika diruang senjata, Nona Laras begitu tertarik dengan sebuah samurai dan begitu lihat memainkannya, Tuan muda sendiri yang menceritakannya kepada saya dan Bibi Ina" kata Nana
"Iya, Tuan Rayyan juga menceritakannya kepada saya" jawab Azka
Rayyan dan Laras masih kuat bertahan dan menyerang satu sama lain.
Rayyan melihat Laras yang sudah sedikit kelelahan langsung menangkap tangan Laras yang akan menyerangnya, Rayyan memutar tubuh Laras sehingga tangan kanan Laras berada diantara bahu dan lehernya sedangkan tangan kirinya berada diperut nya, dalam keadaan seperti ini mereka seperti berpelukan karena dagu Rayyan sengaja diletakkan dibahu kiri Laras.
"Sudah cukup latihannya" kata Rayyan tepat ditelinga kiri Laras
"Ba...Baik Mas, maafkan saya yang lancang menyerang dirimu" kata Laras
"Tidak apa-apa, ayo kita istirahat sebentar" kata Rayyan yang melepaskan tangannya yang menahan kedua tangan Laras
"Iya Mas" jawab Laras lalu mengikuti langkah kaki Rayyan untuk istirahat.
Mereka pun istirahat didalam ruangan tersebut, namun belum berganti pakaian.
"Nona belajar dari mana gerakan-gerakan tadi?" tanya Nana
"Entahlah, Saya tidak tau Nana, saya melihat setiap gerakan yang dilakukan oleh kakak Azka saat menyerang mu tadi, jadi saya lakukan gerakan itu saat menyerah Tuan Rayyan" jawab Laras
"Cepat sekali kamu mempelajari gerakkan tersebut, aku saja seminggu baru bisa, itupun tidak semuanya" kata Azka
"Entahlah kak, saya tidak tau, saya tidak mengerti dengan diri saya sendiri, saya merasa semua gerakan tadi pernah saya lihat dan saya lakukan, jadi ketika saat melihat Kakak Azka bertarung dengan Nana, gerakan yang Kakak Azka lakukan itu seperti langsung ada di otakku." kata Laras yang menjelaskan panjang lebar.
"Sudah, ayo kita latihan lagi, sekarang kita latihan menggunakan senjata" kata Rayyan
__ADS_1
"Baik Bos" kata Azka
"Baik Tuan" jawan Nana
Laras hanya menganggukkan kepalanya sekali sebagai jawaban
Azka berlatih menggunakan pistol dan Nana menggunakan panah, mereka membidik sasaran dan melepaskan peluru dan anak panah bersamaan.
Laras hanya melihat kearah mereka yang sangat mahir menggunakan senjata ditangan mereka masing-masing.
Rayyan yang melihat Laras begitu memperhatikan Azka dan Nana berlatih tersenyum simpul, entah apa arti dari senyumannya itu, hanya dirinya lah yang tau.
"Apa kamu juga ingin berlatih menggunakan senjata yang sama dengan mereka?" tanya Azka
"Apa boleh?" tanya Laras yang mengalih pandangannya kearah Rayyan
"Tentu boleh" jawab Rayyan yang sudah berdiri dari duduknya.
"Tapi saya ingin kekamar mandi dulu" kata Laras
"Baiklah kalau begitu, mari aku antar kekamar mandi" kata Rayyan
Rayyan dan Laras keluar dari ruangan latihan. Baru beberapa langkah mereka keluar dari ruang tersebut, 4 anak buah Rayyan terlihat keluar dari sebuah ruangan yang sangat gelap.
"Dari penjara bawah tanah" jawab Rayyan dengan santai
"Penjara bawah tanah?" tanya Laras kembali
"Iya" jawab Rayyan
"Apa saya boleh kesana?" tanya Laras dengan hati-hati.
"Boleh, tapi berjanjilah, jika sudah didalam sana, jangan pernah mengajak ku bicara, bersikap tegas lah, jangan menampakan sikap lemah mu" kata Rayyan memperingatkan Laras
Laras yang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Rayyan hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayo" kata Rayyan
"hm" jawab Laras sambil mengangguk sekali
Mereka pun melangkahkan kaki menuju pintu dimana anak buah Rayyan tadi keluar.
Tangga yang mereka lewati menuju ke arah bawah, tanpa ada sedikit pun penerangan.
__ADS_1
"Mas, gelap sekali" kata Laras
"Kemari kan tanganmu" kata Rayyan yang mengulurkan tangannya
"Untuk apa?" tanya Laras
"Jangan banyak tanya, kemari kan tanganmu" kata Rayyan kembali
Laras yang tidak mau berdebat langsung menyambut tangan Rayyan yang terulur.
Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya untuk turun ke penjara bawah tanah dengan tangan Laras yang dipegang oleh Rayyan.
Akhirnya mereka pun sampai diujung tangga, Rayyan melepas genggaman tangan Laras.
"Ingat pesan ku tadi" kata Rayyan mengingatkan Laras.
Laras hanya menganggukkan kepalanya.
"Selamat siang tuan," kata 2 orang anak buah Rayyan yang ada disana.
Rayyan hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya kepada anak buahnya.
Laras yang melihat itu hanya diam tidak berani mengeluarkan sedikit pun suaranya.
"Ikuti aku" kata Rayyan yang langsung melangkah maju ke depan
Laras hanya mengikuti langkah kaki Rayyan tanpa bertanya satu kata pun.
Dari jauh Laras melihat beberapa orang yang berada didalam penjara, memandang dirinya dengan tatapan tajam, sehingga membuat dirinya sedikit takut.
"Dasar kau laki-laki kejam, mengapa kau membunuh anak ku?, laki-laki biadap kau, kejam" kata salah satu pria yang ada didalam penjara dengan melihat kearah Rayyan dengan tatapan kebencian
"Kau perempuan yang bodoh, maunya dengan laki-laki seperti dia, yang tidak punya rasa belas kasihan, kau akan dibuang setelah kau tidak berguna lagi" kata laki-laki yang berada didalam penjara yang berbeda dengan pria pertama tadi.
"Lepaskan kami laki-laki sialan" kata pria yang ada didalam penjara lain.
"Diam!" kata anak buah Rayyan yang meminta dengan suara lantang membuat Laras sedikit terkejut.
Laras dan Rayyan terus melangkah maju ke depan melewati penjara yang berada disisi kanan dan kiri mereka.
Rayyan berhenti melangkah ketika dihadapannya terdapat sebuah kandang yang berukuran lumayan besar, begitu pula dengan Laras berhenti melangkah, lalu Laras memberanikan diri untuk bertanya kepada Rayyan.
"Mas, kenapa berhenti disini?" tanya Laras sambil kearah depan dan sekelilingnya.
__ADS_1
Rayyan tidak menjawab,dia hanya diam menatap kedepan.