rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
17


__ADS_3

"Ini ruangan apa, Mas?" tanya Laras saat mereka memasuki ruangan yang gelap.


"Ini ruang senjataku," kata Rayyan sambil menepuk tangannya dua kali, sehingga lampu di ruangan tersebut menyala


"Wah, banyak sekali senjata api di sini," kata Laras sambil melihat deretan senjata yang tersusun rapi di sebelah kanannya.


"Iya, sebelah sini khusus untuk senjata api, dan di depanmu ada senjata seperti pedang, samurai, belati, dan sejenisnya. Di sebelah kanan adalah senjata panah," jelas Rayyan tentang isi ruangan tersebut.


"Banyak sekali senjatanya di sini," kata Laras sambil melangkah mendekati salah satu samurai.


"Kamu suka dengan ini?" tanya Rayyan kepada Laras, yang sepertinya tertarik untuk memegang samurai tersebut.


"Entahlah, rasanya saya tidak asing dengan samurai ini," kata Laras.


"Apakah kamu pernah melihat seseorang menggunakan samurai ini sebelumnya?" tanya Rayyan kepada Laras.


"Entahlah, tapi bolehkah saya memegangnya?" tanya Laras kepada Rayyan.


"Tentu, pegang lah," kata Rayyan memberikan izin kepada Laras.


Laras memegang dan menggenggam samurai tersebut, lalu bergerak ke tengah ruangan, mengayunkan samurai tersebut seolah-olah dia sedang berlatih menggunakannya.


Rayyan yang melihat Laras begitu lincah menggunakan senjata tersebut tersenyum, hanya dia yang mengetahui arti dari senyumannya.


Laras tidak menyadari bahwa Rayyan juga telah menggenggam sebuah samurai. Tiba-tiba, Rayyan menyerang Laras, namun untunglah Laras menyadari serangan tersebut dan dengan cepat menghindar. Tanpa berkata, Rayyan terus menyerang Laras, namun setiap serangan yang diarahkan kepadanya bisa dihindari dan ditangkis olehnya.


"Sudah, sudah. Sudah cukup," kata Rayyan, menghentikan pertarungan.


"Mengapa kamu menyerang saya?" tanya Laras kepada Rayyan sambil berjalan menuju tempat awal dan meletakkan kembali samurai yang digunakan.


"Maaf, aku sengaja menyerang mu, hanya untuk sedikit menguji mu. Ternyata, kamu begitu lincah memainkan senjata ini. Dari mana kamu belajar gerakan-gerakan tersebut?" tanya Rayyan sambil ikut meletakkan samurai yang digunakan tadi pada tempat semula.


"Entahlah, saya tidak tahu," jawab Laras dengan jujur.


"Hmm, baiklah. Kita ke ruangan terakhir," kata Rayyan mengajak Laras.


"Baik, ayo," jawab Laras.


Rayyan melangkah keluar dari ruang senjatanya sambil berkata didalam hatinya "dari mana dia belajar gerakan gerakan seperti tadi, dia begitu lincah dan gerakkan yang aku berikan dengan mudah dibaca dan ditangkis olehnya"


Rayyan dan Laras melangkah menuju ruangan terakhir. Sebelum mereka meninggalkan ruang senjata, Rayyan tidak lupa menutup pintu ruangan tersebut.


Mereka pun sampai di depan pintu ruangan terakhir tersebut. Rayyan membuka pintu ruangan itu.


"Ini kamarku," kata Rayyan yang sudah masuk dan duduk diatas tempat tidurnya.


"Wah... besar sekali," kata Laras, yang sudah beberapa langkah masuk, namun tiba-tiba dia berhenti.


"Kenapa berhenti?" tanya Rayyan sambil melihat ke arah Laras.


"Apa saya boleh masuk ke kamar ini?" tanya Laras.

__ADS_1


"Kalau tidak boleh, kenapa aku membawa kamu kemari?" kata Rayyan.


"Terima kasih," jawab Laras yang melangkah masuk menuju dekat tempat tidur di kamar tersebut.


"Duduklah," kata Rayyan yang menepuk tempat tidur tepat di sampingnya.


"Em... terima kasih," jawab Laras sambil melangkah untuk duduk.


"Mas, itu brankas apa?" tanya Laras sambil menunjuk ke arah brankas.


"Itu brankas simpananku," jawab Rayyan yang berjalan mendekati brankas tersebut.


"Oh," jawab Laras singkat.


"Apa kamu ingin membukanya?" tanya Rayyan.


"Apa boleh?" tanya Laras kembali.


"Boleh, kemari lah," kata Rayyan.


Laras melangkah mendekati Rayyan dan duduk bersila di depan pintu brankas tersebut.


"Kenapa kau duduk di situ?" tanya Rayyan.


"Tidak apa-apa, supaya lebih nyaman membukanya," jawab Laras.


Melihat Laras duduk di lantai, Rayyan juga mengikuti dengan duduk bersila, tetapi mereka tetap duduk menggunakan karpet tebal yang lembut sebagai alas.


"Bukalah," perintah Rayyan.


"Oh iya, aku lupa. Biar aku masukkan. Kau lihat saja, agar nanti jika terjadi sesuatu, kau dapat membukanya," kata Rayyan.


"Baiklah," jawab Laras.


Rayyan memasukkan kata kuncinya di brankas tersebut, sementara Laras memperhatikan dengan seksama.


"Sekarang kau tahu kan?" tanya Rayyan.


"Iya, aku tahu, Mas," jawab Laras sambil mengangguk.


"Baiklah, bukalah pintunya sekarang," pinta Rayyan.


Laras pun membuka pintu brankas tersebut, namun dia sangat terkejut melihat begitu banyak emas dan uang di dalamnya.


"Mas, apakah kamu merampok sehingga bisa memiliki begitu banyak emas dan uang?" tanya Laras dengan heran.


"Ya Allah, Laras... aku tidak melakukan itu. Aku memang memiliki sifat kejam, tapi aku bukanlah seorang pencuri atau perampok... Aku seorang mafia, Laras, dan juga seorang CEO. Ini belum seberapa, di kamar ku juga ada brankas seperti ini namun ukurannya agak kecil," jujur Rayyan.


"Maafkan saya, saya tidak bermaksud menuduh, cuma saya heran melihat begitu banyak harta di sini," kata Laras sambil menutup kembali pintu brankas tersebut dan berdiri diikuti oleh Rayyan yang sudah mengunci kembali pintu tersebut.


"Sekarang mari kita temui bibi dan Nana, mereka pasti sudah menunggu lama di luar," kata Rayyan.

__ADS_1


"Baiklah, ayo keluar," jawab Laras lalu melangkah keluar.


Merekapun keluar dari ruangan terakhir, tidak lupa Rayyan menutup pintu ruangan tersebut kembali.


"Maaf ya, Bi, membuat kalian menunggu lama," kata Laras yang sudah sampai di dekat bibi.


"Tidak apa-apa, Nona," kata bibi.


"Ayo kita makan," ajak Nana.


"Ayo," jawab bibi, Laras, dan Rayyan.


Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 sore, mereka yang sudah selesai makan dan sudah mencuci piring yang kotor, masih betah duduk di dalam ruang Rahasia bawah tanah milik Rayyan.


"Mas, sudah sore ini. Kita keluar saja dulu untuk mandi, nanti kita kembali kesini lagi," kata Laras.


"Baiklah, kita mandi dulu. Setelah itu, baru kita kembali kesini lagi," ujar Rayyan.


"Ayo," jawab bibi dan Nana.


"Mereka pun bangun dari duduknya. Tiba-tiba, Laras mengingat janjinya kepada Lexi untuk bermain dengannya setelah berkeliling.


"Mas, saya ke ruangan Lexi dulu ya, sebentar saja, untuk memberitahunya bahwa nanti malam saya akan bermain dengannya. Kasihan dia pasti menunggu, tadi kan saya janji untuk bermain ketika sudah selesai berkeliling," kata Laras.


"Baik, pergilah," kata Rayyan.


"Sebentar saja ya, Bi, Nana," kata Laras berpamitan kepada bibi dan Nana.


Bibi dan Nana hanya menganggukkan kepala sekali.


"Tuan, kenapa Nona Laras dan Lexi bisa begitu dekat? Kami saja tidak berani menyentuh hewan itu," kata Nana, dan bibi menganggukkan kepala setuju.


"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Rayyan.


"Tapi bagus juga Lexi dekat dengannya. Biar Nona Laras saja yang memberi makan dan memandikannya nanti," ujar Nana.


"Tidak, saya tidak mengizinkan. Biarkan saya saja yang mengurus semuanya seperti biasa," jawab Rayyan tegas.


"Baik, Tuan. Maaf," ujar Nana dengan rasa bersalah.


Rayyan hanya menganggukkan kepala sekali.


"Bi, Nana, tadi ketika aku membawa Laras ke ruang senjataku, dia sangat tertarik dengan sebuah samurai milikku. Dia meminta izin kepadaku untuk memegangnya, dan setelah aku mengizinkannya, dia bermain samurai itu dengan lihai. Semua gerakan yang dilakukannya benar, aku mengujinya sendiri. Semua serangan ku bisa dihindarinya dan ditahan olehnya," cerita Rayyan kepada bibi dan Nana.


"Apa Tuan tidak bertanya padanya?" tanya bibi.


"Sudah, Bi, tapi dia mengaku tidak tahu," jawab Rayyan.


"Biarlah bi, aku berencana ingin melatihnya sedikit ilmu bela diri" kata Rayyan


"Iya tuan, Bibi setuju" kata Bibi dan diangguki oleh Nana

__ADS_1


"Ya sudah, kita duduk dulu, sambil menunggu nona Laras kembali" kata Nana


Mereka pun duduk kembali di kursi sofa ruangan tersebut sambil menunggu kedatangan Laras dari ruangan Lexi.


__ADS_2