
Setelah Nana menyimpan kotak kalung tersebut di lemari pakaiannya, mereka pun keluar dari kamar, mereka melanjutkan langkahnya untuk kekamar Laras dengan Nana membawa nampan yang berisi kue dan air minum.
"Tok...Tok...Tok.." suara pintu kamar Laras yang diketuk dari luar.
"Assalamualaikum" kata Nana dan Azka serentak
"Waalaikumsalam" jawab Bibi dan langsung membukakan pintu kamar Laras.
Azka dan Nana masuk kekamar Laras dan melangkah untuk mendekati sofa yang ada dikamar Laras, karena Rayyan dan Elang duduk disana. Sofa dan tempat tidur yang ada dikamar Laras tidak begitu jauh jaraknya
"Maaf, gue telat" kata Azka yang langsung duduk disamping Elang
Rayyan tidak menjawab dia hanya melihat Nana yang berada dibelakang Azka.
"Nana, letakkan saja yang kamu bawa itu dimeja ini, setelah itu temani Laras dan Bibi disana" kata Rayyan menunjuk kearah Bibi dan Laras yang berada ditempat tidur dengan pandangannya.
"Baik Tuan" jawab Nana yang langsung meletakkan minuman dan kue yang dibawanya keatas meja, sedangkan nampannya diletakkan dibawah meja, lalu Nana melangkah menuju kearah Laras dan Bibi.
"Dari mana saja lo?" tanya Rayyan
"Dari dapur" jawab Azka
"Menemani Nana?" tanya Rayyan.
Azka yang mendapat pertanyaan tersebut langsung mengajak Elang berbicara.
"Elang, mana bukti yang telah kau dapatkan?" tanya Azka yang sengaja, agar bisa mengalihkan pembicaraan.
"Ini Tuan Azka" kata Elang yang memperlihatkan sebuah video di ponselnya
"Bukannya orang tersebut yang kemaren menyerang Nona Laras?, dan dia anak buah Niel kan?" tanya Azka
"Iya Tuan, dia merupakan anak buah Niel yang baru, dia terpaksa melakukan apapun yang diperintahkan oleh Niel, jika tidak ibunya yang akan menjadi korbannya" jawab Elang
"Lalu dari mana kau mendapatkan video ini?" tanya Rayyan
"Saya meminta dia untuk bekerja sama" kata Elang
"Bekerja sama dengan anggota lawan?" tanya Azka
"Iya Tuan," jawab Elang
"Apa dia dapat dipercaya?" tanya Rayyan
"Dia sudah menceritakan semuanya kepada saya, namanya Candra, dia tinggal dengan ibunya, ayahnya sudah meninggal, saat ini ibunya sedang sakit, dia butuh banyak uang untuk pengobatan ibunya, dia memberikan alamat rumahnya kepada saya, agar kami bisa melihat sendiri keadaan ibunya yang sedang sakit, beberapa hari setelah penyerangan Nona Laras, kami pergi kerumahnya untuk membuktikan apakah benar yang dikatakannya ini, dan ternyata benar ibunya sedang sakit, kami bertanya semuanya kepada ibunya, tetapi ibunya tidak mengetahui apa-apa tentang pekerjaan anaknya, hanya tau anaknya menjadi kuli bangunan" jawab Elang.
__ADS_1
Azka dan Rayyan hanya menganggukkan sebagai jawaban
Tak sengaja Nana mendengar nama yang disebutkan oleh Elang, ia pun memberanikan diri untuk mendekat dengan mereka yang duduk di sofa.
"Maaf Tuan muda, bukan saya ingin ikut campur, tapi, siapa namanya tadi?" Candra?" tanya Nana
"Iya, namanya Candra, Candra Gunawan" kata Elang yang menjawab dengan cepat.
"Apa kau mengenalnya?" tanya Azka yang sudah berdiri
"Iya Tuan, saya mengenalnya" jawab Nana sambil menunduk karena takut akan dimarahi oleh Azka
"Apa kau tau banyak tentang dia?" tanya Rayyan
"Tidak terlalu banyak, tetapi cukup tau" jawab Nana yang masih menunduk.
Laras Bibi Ina yang melihat Azka berdiri sambil menatap ke arah Nana, langsung mendekati mereka di sofa.
"Nana, coba kamu ceritakan yang kamu tahu tentang dia" kata Laras sambil berjalan mendekati mereka yang ada di sofa
Nana menganggukkan kepalanya lalu menceritakan yang dia ketahui tentang Candra Gunawan.
"Dulu, dia adalah teman ku, sewaktu aku masih sekolah dasar, tetapi iya putus sekolah lebih dulu dariku, karena ayahnya meninggal dunia, sejak saat itu, dia membantu ibunya mencari uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari" kata Nana
"Lalu?" tanya Azka yang sudah duduk kembali ke tempatnya.
"Berarti benar dia tinggal bersama ibunya" jawab Elang
Rayyan yang melihat Laras berdiri, memintanya untuk duduk disampingnya
"Laras, kamu kenapa berdiri?, duduklah" kata Rayyan sambil menepuk sofa disebelahnya.
"Tidak apa-apa, saya berdiri saja" jawab Laras
Rayyan tidak mengeluarkan suara lagi, tetapi hanya melihat Laras dengan tatapan yang tajam, Laras yang tau akan kesalahannya yang tidak menuruti perintah Rayyan, akhirnya melangkahkan kakinya mendekati Rayyan dan duduk disampingnya.
"Apa kau tau tentang ibunya?" tanya Laras kepada Nana
"Tidak begitu tau, tapi dulu waktu kami masih berteman, saya pernah datang kerumahnya, ibunya tidak bisa kerja berat dan keras, ibu candra hanya mengambil upah cuci baju dan menyetrika pakaian saja dari rumah" kata Nana
"Baiklah, aku percaya dengan orang ini," jawab Rayyan
"Dia menjadi mata-mata kita disana, Tuan" kata Elang.
"Apa kamu yakin dia akan aman?" tanya Nana
__ADS_1
"Iya, saya yakin dia akan aman dan tidak akan ketahuan, karena saya sudah memberitahunya untuk bersikap seperti biasa saja agar tidak mencurigakan, saya juga sudah memintanya untuk melekatkan perekam suara didalam jasnya, yang dapat memberi kita informasi tentang rencana-rencana yang akan dibuat oleh Niel" jawab Elang
"Mengapa kamu begitu mengkhawatirkan keselamatannya, Nana?" tanya Azka
"Em... Tidak ada apa-apa, Tuan Azka" jawab Nana sambil menunduk
"Aku izin kedapur sebentar ingin membuat kopi" kata Azka yang beralasan, karena entah kenapa rasa hatinya sedikit sakit, ketika Nana telihat begitu mengawatirkan orang lain
Nana yang tidak mengerti akan hal tersebut hanya diam saja, karena dia hanya merasa kasihan jika terjadi sesuatu pada Candra siapa yang akan memelihara dan menjaga ibunya.
Azka langsung melangkah keluar dari kamar Laras, Rayyan dan Elang masih fokus melihat ponsel yang memutarkan sebuah video
"Nana, ikut saya sebentar" kata Laras
Nana hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah kaki Laras yang menuju kekamar mandi.
Sedangkan Bibi kembali ketempat tidur Laras, dan duduk disana, sambil menunggu Laras dan Nana.
Didalam kamar mandi, Laras dan Nana berbicara tentang Azka
"Nana, apakah kamu tidak merasa bersalah kepada Azka?" tanya Laras
"Maksudnya apa, Nona?" tanya Nana yang sama sekali tidak mengerti
"Nana, Kak Azka itu sakit hati, karena sikap kamu tadi yang seperti perhatian dengan teman kamu itu" kata Laras memberi penjelasan
"Dengan Candra?" kata Nana
"Iya" jawab Laras
"Kenapa sakit hati?, apa Tuan Azka juga menyukai saya?" tanya Nana kepada Laras
"Iya, Nana," jawab Laras
"Nona, saya dengan teman saya itu tidak ada apa-apa" kata Nana
"Iya, saya tau, tapi kamu harus jelaskannya kepada Kak Azka, cepat kejar dia" kata Laras
"Tapi Nona, dari mana Nona tau kalau Tuan Azka menyukai saya?" tanya Nana
"Dia sendiri yang berbicara kepada saya" jawab Laras
"Tapi bagaimana jika sebaliknya, Nona?" tanya Nana lagi
"Sudah lah, jangan banyak tanya, percaya dengan saya, cepat kejar dia" kata Laras
__ADS_1
Nana keluar dari kamar mandi dengan berlari menuju pintu keluar untuk mengejar Azka, Bibi yang melihat itu hanya terdiam, tidak berani untuk menghentikan Nana yang sedang berlari, Rayyan dan Elang sama sekali tidak terganggu akan hal itu, mereka masih fokus kepada layar ponsel yang menayangkan sebuah video.