rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
06


__ADS_3

Sementara itu, di meja makan, Rayyan terus menikmati masakan yang dibuat oleh Laras dengan lahapnya.


"Enak sekali masakannya. Kalau seperti ini, aku akan makan di rumah saja setiap hari," kata Rayyan sambil menyuap makanan ke mulutnya.


Di dapur, bibi dan Laras sibuk mencuci peralatan-peralatan yang digunakan untuk memasak tadi.


"Bibi, bagaimana pendapatnya? Apakah dia marah mengetahui bahwa aku yang memasak, bukan bibi?" tanya Laras kepada bibi.


"Tidak marah, hanya saja tadi agak terkejut," jawab bibi jujur.


"Sudahlah, sebaiknya kamu ikut makan di meja bersama tuan muda. Biarlah bibi yang menyelesaikan ini semua," pinta bibi.


"Tidak apa-apa, bi. Ini akan selesai sebentar lagi," jawab Laras dengan senyuman.


Laras sengaja menghindari makan bersama Rayyan karena masih trauma dengan kejadian yang lalu. Terlebih lagi, dia merasa tidak nyaman duduk di meja makan yang berdekatan atau berhadapan langsung dengan seorang pria.


Sementara itu, di meja makan lain, Rayyan merasa kekenyangan dengan makanan yang lezat namun bingung mengapa Laras tidak terlihat sejak tadi.


Dia bertanya-tanya, "Kemana dia pergi? Mengapa dia tidak terlihat sejak tadi? Apa yang dia lakukan selama itu didapur? Apakah ada begitu banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hingga tidak bisa berhenti dan keluar dari dapur?


Tanpa disadari oleh Rayyan, Laras dan bibi sudah keluar dari dapur dan langsung menuju kamar Laras. Laras ingin bibi menemaninya dikamar dan bibi pun mau menemaninya.


Sementara Rayyan masih duduk di meja makan, terdengar suara mobil yang datang dan kemudian suara pintu yang diketuk.


"Tok.. tok.. tok," Azka mengetuk pintu


"Assalamualaikum, tuan." salam Azka dengan sedikit berteriak, karena dia masih diluar dengan pintu yang masih tertutup


"waalaikumsalam tuan Azka," kata Nana yang menjawab salam Azka sambil membuka pintu.


Nana adalah seorang pembantu muda yang telah dianggap seperti anak oleh bibi Ina dan dipandang sebagai adik oleh Rayyan.


"Nana, saya ingin bertemu dengan tuan Rayyan. Di mana dia berada sekarang?" tanya Azka sambil tersenyum.


"Tuan muda sedang berada di meja makan. Silakan langsung menuju ke sana saja tuan Azka" kata Nana.


"Baik, terima kasih Nana," kata Azka dengan ramah.


Azka melangkah perlahan ke arah meja makan tempat Rayyan berada. Ada sebuah surat yang harus ditandatangani, dan Azka sengaja datang untuk menyelesaikan tugas tersebut. Namun, begitu tiba di meja makan, pandangannya tertuju pada pemandangan yang menakjubkan. Meja tersebut dipenuhi dengan aneka hidangan lezat yang membuatnya terpesona. Tanpa disadari, Azka lupa dengan tujuan utamanya.


"Wahhh... banyak sekali makanannya, enak-enak kelihatannya. Boleh dong aku makan di sini, aku jadi lapar nih," kata Azka sambil mengubah gaya bicaranya karena di sana tidak ada siapa-siapa, hanya mereka berdua.


Rayyan tidak menjawab, dia bertanya kepada Azka apa tujuannya datang ke sini.


"Apa ada yang terjadi? Tumben kamu datang kemari malam-malam begini?" tanya Rayyan langsung.


"Nanti deh, aku ceritain. Aku lapar, mau makan dulu," jawab Azka sambil tersenyum, menunjukkan gigi putihnya.

__ADS_1


"Cepat makanlah," kata Rayyan.


Tanpa berkata lagi, Azka langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi serta lauk-pauk untuk dimakan.


Di meja makan, Rayyan menunggu Azka selesai makan dan kemudian menanyakan kembali tujuan kedatangannya.


"Gue kesini mau minta tanda tangan lo. Besok lo kan nggak masuk ke kantor, jadi males gue dateng siang-siang, mending malem aja. Sekalian gue tau kalau jam segini biasanya lo makan malam, jadi gue... hihihi...numpang makan di sini deh." kata Azka sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Gue kira ada apa, dasar lo ya. Sini, mana berkasnya biar gue tanda tangan dan lo bisa pulang," kata Rayyan yang sedikit kesal


"Kejam banget lo sama gue," kata Azka, yang pura-pura sedih sambil memberikan berkas kepada Rayyan.


Terlihat bibi turun dari lantai dua dan langsung menuju meja makan.


"Eh, ada nak Azka di sini," kata bibi Ina.


Bibi memang tidak memanggil dengan sebutan 'tuan' ke Azka, karena Azka yang memintanya. Kalau tidak dituruti, dia merajuk. Apalah daya, bibi sudah terlanjur sayang ke Azka karena Azka sangat mirip dengan mendiang anaknya yang sudah meninggal.


"Iya, bi," jawab Azka.


"Sudah lama, nak Azka datangnya?" tanya bibi.


"Lumayan, bi. Ini Azka sudah makan juga. Enak banget masakan bibi kali ini. Bibi baru belajar ya masakan seperti ini?" tanya Azka ke bibi.


"Masakan ini semua bukan bibi yang buat, nak. Ini Laras yang membuatnya," jawab bibi.


"Dia berada di kamar tamu, Nak. Pergilah ke sana," kata Bibi.


Namun, saat Azka hendak melangkah menuju tangga, Rayyan menghalanginya.


"Azka, berkas ini sudah ku tandatangani semuanya dan ini juga sudah malam, lebih baik kau pulang. Aku ingin istirahat, dan dia pasti sudah tidur juga," kata Rayyan.


"lo tahu segalanya, ya?" goda Azka sambil tersenyum sambil menaik turun alis matanya


"Azka, pulang sekarang, atau aku akan memotong gajimu," ancam Rayyan.


"Kamu itu suka sekali mengancam, ya? Bi, apakah Bi juga suka diancam seperti ini?" rayu Azka sambil berpura-pura sedih.


"Hihihi, sudahlah, jangan bertengkar lagi," kata Bibi


"Hmm, sudahlah, aku pulang tapi jangan potong gajiku," kata Azka.


"Iya, sudahlah. Pergilah," usir Rayyan


"Iyaa, assalamualaikum," ucap Azka seraya menuju pintu keluar setelah mengambil berkas di meja makan yang telah ditandatangani oleh Rayyan


"Waalaikumsalam," jawab Rayyan dan Bibi Ina.

__ADS_1


Setelah Azka pulang, Rayyan pun ingin menuju kamarnya.


"Bibi, Rayyan, ke kamar dulu ya, Bi. Mau istirahat," kata Rayyan.


"Iya, Tuan. Selamat malam," jawab Bibi.


"Selamat malam, Bi," jawab Rayyan yang sudah jauh menuju tangga.


Ketika Bibi mendekati meja makan, ia berpikir apakah benar masakan Laras enak seperti yang mereka bilang. Lalu, Bibi membersihkan meja makan dan mengumpulkan piring kotor untuk mencucinya. Setelah selesai mencuci piring dan meletakkannya kembali di tempat semula, perut Bibi terasa lapar dan ia ingin makan.


"Tadi Laras bilang di lemari ada makanan yang sengaja ditinggalkan untukku," kata Bibi, berbicara sendiri.


Bibi pun makan dengan lahapnya. Ia mengakui bahwa masakan yang dibuat oleh Laras sangat enak. Dalam hati, Bibi berharap, "Pantas saja tuan dan Azka menyukai masakannya. Semoga sedikit demi sedikit hati tuan muda terbuka untukmu, Laras. Mulailah dari hal yang terkecil." Bibi tersenyum dan menyuapkan makanan ke mulutnya.


Setelah makan, Bibi membersihkan semuanya. Ia melihat jam menunjukkan pukul 10.30 malam. Bibi pun mematikan lampu dapur dan pergi ke kamar untuk beristirahat.


Ketika Bibi hendak menuju kamar, ia bertemu dengan Nana yang juga ingin keluar dari kamarnya. Kamar mereka memang bersebelahan karena Rayyan telah merenovasi kamar pembantu menjadi kamar seperti pada umumnya.


"Nana, kamu belum tidur?" tanya bibi.


"Belum, Bi. Aku mau ke kamar mandi dulu, mau buang air, baru setelah itu tidur," jawab Nana.


"Oh, baiklah. Kalau begitu, Bi masuk dulu ya, mau istirahat," kata bibi Ina.


"Iya, Bi... Eh, Bi, boleh Nana bertanya?" kata Nana kepada bibi Ina.


"Tentu, Nana. Kamu mau bertanya apa?" tanya bibi.


"Tuan Azka sudah punya pacar belum, Bi?" tanya Nana.


"Kenapa? Kamu naksir sama Tuan Azka?" tanya bibi.


"Iya, Bi. Tapi aku sadar diri kok. Dia itu orang berada, sedangkan aku hanya seorang pembantu. Jadi, tidak mungkin lah, Bi," kata Nana.


"Nak Azka belum punya pacar. Kamu jangan menyerah begitu saja," kata bibi Ina sambil memegang kedua bahu Nana


"Gimana aku nggak menyerah, Bi?" kata Nana.


"Ya sudah, ya sudah. Nanti Bi pikirkan caranya. Sekarang sudah larut malam. Ayo, tidur," ajak bibi.


"Iya, Bi. Sebentar aku ke kamar mandi dulu, Bi. Bibi masuk saja duluan," jawab Nana.


"Ya, sudah. Bibi duluan ya... Assalamualaikum," ucap bibi.


"Waalaikumsalam," jawab Nana sambil pergi ke kamar mandi.


setelah keluar dari kamar mandi, Nana pergi ke kamarnya untuk istirahat karena besok harus bangun pagi dan membuat sarapan lagi.

__ADS_1


__ADS_2