
Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 siang. Laras sudah siap dengan setelan yang elegan, karena tadi Azka mengantar beberapa pakaian yang diperintahkan oleh Rayyan. Laras bersiap-siap dibantu oleh Nana, yang mahir dalam berdandan. Nana membiarkan rambut panjang Laras terurai ke belakang, diikat dengan pita putih, dan memberikan poni di dahi Laras, membuat Laras semakin cantik. Ditambah lagi, Nana memakaikan sedikit make up pada wajah Laras, membuat siapapun akan terpesona oleh kecantikannya. Nana memilih pakaian berwarna putih dengan panjang di bawah lutut dan lengan tangan yang panjang, cocok dengan sepatu hak tinggi yang bewarna putih yang senada dengan baju.
"Nona, anda terlihat seperti seorang putri," kata Nana.
"Kamu bisa saja," kata Laras tersenyum.
Laras sudah siap dan ingin turun ke bawah untuk menunggu kedatangan Rayyan di ruang tamu, namun sebelum mereka berdua melangkah, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Laras.
"Tok..tok..tok" terdengar ketukan pintu.
Laras berdiri, berusaha membuka pintu kamarnya, tetapi dicegah oleh Nana.
"Nona, biar saya saja," kata Nana.
"Baiklah, cepat bukalah. Siapa tahu itu penting," kata Laras.
Nana pun membuka pintu kamarnya. Ternyata yang mengetuk adalah Rayyan, orang yang mereka tunggu. Nana sengaja membuka pintu lebar-lebar agar Rayyan bisa melihat kecantikan Laras. Rayyan hanya melihat Laras yang berdiri di depannya, begitu juga Laras yang terdiam melihat ke arah Rayyan. Terjadi pandangan yang cukup lama.
"Maaf, tuan. Kami terlalu lama bersiap-siap," kata Nana yang berhasil membuat mereka sadar.
"Tidak apa-apa. Bibi yang meminta saya langsung ke kamar Laras," kata Rayyan.
Nana hanya menganggukkan kepalanya.
"Apakah kau sudah siap?" tanya Rayyan kepada Laras.
"Sudah, saya sudah siap," jawab Laras.
"Baik, ayo kita berangkat sekarang," kata Rayyan mengajak Laras.
"Iya," jawab Laras.
Mereka bertiga turun ke bawah dan langsung menuju rumah Laras. Laras dan Rayyan diantar oleh bibi dan Nana sampai di depan pintu keluar. Laras dan Rayyan masuk ke mobil yang dikemudikan oleh Azka.
"Laras pergi dulu, Bibi, Nana... Assalamualaikum," kata Laras sambil langsung menutup pintu mobil.
"Waalaikumsalam," jawab Bibi dan Nana serentak.
Setelah mobil Rayyan pergi, Bibi dan Nana masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu.
__ADS_1
"Mereka cocok ya, Bi, jadi pasangan suami-isteri," kata Nana yang ingin pergi ke dapur.
"Iya, semoga saja jadi kenyataan," jawab Bibi.
"Amin," doa mereka berdua.
Di dalam perjalanan, Rayyan dan Laras tidak berbicara sedikit pun. Azka fokus dengan mengemudi, sementara Rayyan sibuk dengan ponselnya. Laras hanya terdiam, memandangi pemandangan di luar jendela mobil.
"Kak Azka," panggil Laras kepada asisten Laras karena Laras sudah meminta izin kepada Azka untuk memanggil dirinya dengan sebutan Kakak.
"Iya, ada apa, Nona?" jawab Azka.
Suara Laras memanggil Azka berhasil membuat Rayyan berhenti bermain ponselnya dan duduk santai di kursi mobil seolah-olah akan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Laras kepada asistennya ini.
"Boleh berhenti sebentar, saya mau beli jajanan itu," kata Laras sambil menunjuk ke arah makanan yang dijual di pinggir jalan.
"Baik, Nona," kata Azka mengiyakan permintaan Laras
Azka mulai mengurangi kecepatan mobil yang dikendarainya, tiba-tiba suara Rayyan terdengar olehnya.
"Tidak, itu tidak baik untuk kesehatanmu, Azka jangan berhenti," larang Rayyan kepada Laras dan kepada Azka
"Tapi aku mau, sudah lama aku tidak makan makanan di pinggir jalan seperti ini," kata Laras sambil menunduk.
Melihat Laras yang sedih membuat Rayyan tidak tega, sehingga ia meminta Azka untuk berhenti di pinggir jalan, tepat di depan pedagang yang menjual cilok.
"Pergilah, tapi cepat kembali, jangan lama-lama," kata Rayyan.
"Terima kasih mas, iya, saya hanya akan beli cilok itu saja," kata Laras yang langsung turun membeli cilok.
"Bang, beli ciloknya 10.000 aja," kata Laras.
"Pedas atau tidak, Neng?" tanya penjual cilok tersebut.
"Pedas aja, bang," jawab Laras.
"Oke, Neng, sip, bentar ya," kata penjual cilok tersebut.
Laras hanya menganggukkan kepala mengiyakan kata-kata penjual cilok tersebut. Dia duduk di kursi yang sengaja disediakan penjual cilok untuk para pembeli yang menunggu ciloknya selesai.
__ADS_1
Tanpa disadari oleh Laras, dari arah belakang ada seorang laki laki, bertubuh tegap yang memegang kayu, kemungkinan akan membuat Laras pingsan dan menculiknya, ketika laki laki tersebut ingin memukul belakang Laras, Rayyan langsung menarik tangan Laras untuk bangun dari duduknya, karena Rayyan dan Azka terus memperhatikan tingkah laki laki yang dibelakang Laras, dengan langkah seribu Rayyan berlari menghampiri Laras yang sedang duduk.
"Awas Laras!" seru Rayyan sambil menarik tangan Laras, dan berhasil membuat Laras memeluk dirinya dalam keadaan berdiri.
Azka yang melihat laki laki tersebut ingin kabur dengan cepat dia keluar dari mobil dan mengarahkan pistol ke arah kaki laki laki tersebut agar tidak melarikan diri.
Dor..." suara pistol Azka tepat mengenai kaki kanan laki-laki tersebut.
"Aaaaa, kakiku!" teriak laki-laki tersebut sambil terguling di tanah.
Laki-laki tersebut mengenakan baju hitam dan masker hitam. Azka segera menekan tombol alat yang ada di telinganya untuk memberitahukan kepada anak buahnya yang ikut dengannya untuk membawa orang tersebut ke markas mereka.
"Elang, cepat kesini bersama temanmu! Bawa orang yang ada di depan kami ini ke markas, cepat!" perintah Azka.
"Baik," jawab Elang sambil segera datang dengan temannya.
Dalam waktu dua menit, Elang tiba dan segera membawa orang tersebut ke markas menggunakan mobil yang sebelumnya digunakan oleh Rayyan dan Laras. Azka segera menelepon anak buah yang ada di markas agar segera mengantarkan mobil lain untuk membawa mereka ke rumah Laras.
Di sisi lain, Rayyan membawa Laras untuk duduk di kursi dengan tujuan menenangkan keterkejutan Laras.
"Ayo, duduklah di sini," kata Rayyan sambil menuntun Laras.
Laras tidak menjawab, hanya mengikuti apa yang dikatakan Rayyan.
"Tuan, kasihan istrinya. Pasti dia syok. Ini, saya berikan minuman dulu," kata pedagang sambil memberikan sebuah botol air.
"Iya, pak. Terima kasih," jawab Rayyan sambil mengambil botol air yang diberikan oleh pedagang.
"Laras, minumlah dulu ya, agar agak tenang," kata Rayyan sambil memberikan botol minuman ke tangan Laras.
Laras hanya diam, tidak menjawab, dan tidak mengambil botol yang diberikan oleh Rayyan.
"Laras, minumlah dulu ya," kata Rayyan sambil membuka botol dan mengarahkannya ke mulut Laras.
Laras pun meminum air tersebut, tapi hanya sedikit.
"Tuan, mobilnya sudah sampai. Apakah kita melanjutkan atau pulang?" tanya Azka, yang berdiri di depan pedagang cilok, memanggil Rayyan dengan sebutan "tuan".
"Tunggu sebentar, kita duduk di sini dulu. Kasihan Laras," kata Rayyan.
__ADS_1
"Baik, tuan. Saya akan menunggu di mobil," kata Azka.