
Setelah Rayyan dan Laras melihat Barong kembali tertidur, mereka melangkahkan kaki untuk keluar dari kandang tersebut, tidak lupa Rayyan menutup pintu kandang tersebut dengan menekan tombol merah itu kembali.
"Ayo kita keatas" kata Rayyan
"Ayo" jawab Laras
"Biarkan saja lampunya menyala" kata Rayyan kepada anak buahnya untuk tidak mematikan lampu yang ada didalam kandang Barong
"Baik bos" Jawab anak buah Rayyan yang tadi menghidupkan lampu di kandang Barong.
"Ayo" kata Rayyan dan langsung melangkah kan kakinya menuju tangga diikuti oleh Laras dibelakangnya.
Rayyan dan Laras kembali melewati penjara yang tadi mereka lalui. Mereka yang ada di dalam penjara menatap Laras dan Rayyan dengan tatapan kebencian.
Laras tidak peduli dan tidak bertanya kepada Rayyan lagi, dia terus mengikuti langkah Rayyan. Rayyan yang mengerti akan ketakutan Laras pun sedikit memelankan langkah kakinya agar sejajar dengan Laras, Sehingga sekarang Rayyan berada di samping kanan laras.
Tanpa mereka sadari, pria yang ada di dalam penjara sebelah kiri Laras memegang pisau kecil dan melukai bahu sebelah kiri Laras.
"Aduh, Ah.. Sakit sekali" kata Laras sambil memegang bahunya yang terluka
Rayyan yang mendengar suara Laras seperti kesakitan begitu panik.
"Kenapa?" tanya Rayyan
Laras tidak menjawab tetapi Rayyan mengerti karena tangan kanan Laras yang memegang bahu kirinya penuh dengan darah.
Rayyan langsung melihat ke arah pria yang melukai Laras dengan tatapan yang mengerikan.
"Potong tangannya!" kata Rayyan kepada anak buahnya
"Baik bos" jawab 2 orang anak buah Rayyan yang ada disana.
Barong yang ada didalam kandang meronta-ronta ingin keluar, seperti nya dia juga merasakan sakit yang dirasa oleh Laras.
"Lepas kan Barong" kata Laras dengan suara pelan
"Kerjakan!" kata Rayyan kepada anak buahnya.
"Baik Bos" jawab anak buah Rayyan.
Ketika pintu kandangnya terbuka, Barong langsung berlari menghampiri Laras dan Rayyan. Barong menjilati tangan kanan Laras yang penuh dengan darah, lalu melihat kearah pria yang melukai Laras yang hendak dikeluarkan oleh anak buah Rayyan untuk dipotong tangannya.
Ketika pria itu sudah keluar, Barong langsung mencakar tangan pria itu yang tadi melukai bahu Laras.
"Dasar singa gila!" teriak pria tersebut yang menahan rasa sakit dari cakaran Barong
"Barong" panggil Laras
Barong mendengar namanya dipanggil langsung mendekati Laras dan menjilati darah yang ada ditangan kanan Laras.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa, masuklah kembali ke kandang mu, ini hanya luka kecil" kata Laras dengan suara pelan
Barong langsung menunduk, seperti tidak mau berjauhan dengan Laras.
"Tenang lah, aku akan mengobatinya, sekarang kau masuklah ke kandang mu kembali" kata Rayyan
Barong pun melangkahkan kakinya untuk masuk kembali ke kandangnya, setelah itu anak buah Rayyan kembali menutup pintu kadang tersebut.
Rayyan melihat ke arah wajah Laras yang sedikit pucat karena menahan rasa sakit. Tanpa banyak bicara Rayan langsung mengangkat tubuh Laras dengan menggunakan kedua tangannya. Dia membawa Laras keluar dari ruangan tersebut.
Rayyan langsung membawa Laras ke kamar pribadinya yang ada di markas tersebut tidak jauh dari tempat berlatih tadi.
Azka dan Nana sudah berhenti latihan, mereka tahu ke mana Laras dan Rayyan pergi, jadi Azka dan Nana tidak lagi mencari mereka
Namun, baru beberapa menit mereka duduk dan beristirahat, terdengar suara Rayyan yang memanggil nama Azka dari dalam kamar nya.
"Azka!!" suara Rayyan yang begitu keras memanggil Azka sang asistennya
"Itu suara Tuan Muda, tapi mengapa berteriak seperti itu" kata Azka yang sudah berdiri dari duduknya diikuti oleh Nana.
"Azka!!" Suara Rayyan kembali terdengar memanggil namanya
"Pasti telah terjadi sesuatu, ayo cepat kita ke sana" kata Nana
"Ayo" jawab Azka
Azka dan Nana pun berlari menuju ke kamar Rayyan. Mereka melihat dari kejauhan pintu kamar Rayyan terbuka lebar, mereka Langsung masuk dan terlihat Laras duduk ditepi tempat tidur Rayyan sambil memegang bahu kirinya yang terluka.
"Maaf Tuan" kata Azka yang sudah menundukkan kepalanya.
"Nona, apa yang terjadi pada mu?" tanya Nana yang memberanikan diri untuk bertanya.
"Saya dilukai oleh tahanan yang ada dipenjara bawah tanah, tapi tidak apa-apa, ini hanya luka kecil" kata Laras
"Luka kecil katamu?" tanya Rayyan yang sudah meninggikan suaranya.
Laras tidak menjawab, wajahnya semakin pucat.
"Tuan, sebaiknya cepat panggilkan dokter, kasihan Nona Laras sudah kehilangan banyak darah, takutnya senjata yang digunakan tahanan tersebut memiliki racun yang berbahaya" kata Nana
"Sudah, aku sudah meminta Aditia kesini" jawab Rayyan
"Mas, saya ingin minum" kata Laras dengan suara pelan
"Sebentar, aku ambil kan," Jawab Rayyan
Rayyan langsung mengambil sebotol air mineral yang ada diatas meja kecil disamping tempat tidurnya, lalu kembali duduk disamping Laras dan membukakan botol tersebut.
"Ini minum lah" kata Rayyan yang memberikan air minum tersebut kepada Laras.
__ADS_1
"Tuan, bagaimana Nona Laras bisa mengambil air itu, tangan kanannya memegang luka dibahu nya," kata Nana
"Eh.. Maaf, aku lupa, sebentar aku ambil kan sedotan" kata Rayyan yang melangkah kembali ke meja kecil yang ada disamping tempat tidur untuk mengambil sedotan.
"Ini, minumlah, biar aku yang memegang botolnya" kata Rayyan
Laras hanya menganggukkan kepalanya lalu meminum air yang diberikan oleh Rayyan
"Sudah" kata Laras
Rayyan menganggukkan kepalanya lalu menutup kembali botol minuman tersebut dan meletakkannya kembali ketempat semula.
"Kenapa Aditia ini lama sekali, tidak bisakah dia sedikit cepat" kata Rayyan yang sudah sedikit geram
"Sabar Tuan, sebentar lagi pasti dia akan sampai" kata Azka
"Nana, kepala saya pusing" kata Laras dengan suara yang pelan sambil melihat kearah Nana yang sudah berada disampingnya.
Rayyan yang mendengar keluhan Laras walau suara Laras pelan menyuruhnya untuk berbaring.
"Berbaringlah di atas tempat tidur itu, tidak apa-apa" jawab Rayyan
"Tidak usah Mas Rayyan, nanti darah saya mengotori tempat tidur mu" jawab Laras
"Azka, lo keluar lah dulu dan tunggulah Dokter Aditia,Nana bantu saya untuk membersihkan darah ditangan Laras, saya akan mengambil handuk lembut dikamar mandi untuk menekan lukanya agar tidak mengeluarkan darah lagi" kata Rayyan
"Baik Tuan" kata mereka serentak
Azka melangkahkan kakinya menuju pintu keluar untuk menunggu kedatangan Aditia sesuai perintah Rayyan.
Rayyan langsung menuju kamar mandi untuk mengambil handuk lembutnya, untuk menekan luka dibahu Laras agar tidak mengeluarkan darah lagi, sedangkan Nana membantu Laras untuk membuka baju bagian kirinya, agar darah yang ada disana bisa dibersihkan
"Pelan-pelan saja Nona" kata Nana
Laras hanya tersenyum simpul lalu membukakan baju sebelah kirinya, untung saat Laras menggunakan baju bela diri, dia tidak melepaskan baju yang dipakainya, jadi saat pria tahanan itu melukai bahu Laras, lukanya tidak begitu dalam dan besar, karena baju yang digunakannya cukup tebal.
"Ini, pakai lah handuk ini untuk menekan luka itu, agar darahnya tidak mengalir keluar" kata Rayyan.
"Mas, kamu diluar saja, biar kan Nana saja yang membantu saya" kata Laras yang menunduk karena merasa malu.
"Kenapa?" apa kau malu karena aku melihat sebagian tubuh mu?" tanya Rayyan yang langsung di jawab Laras dengan menganggukkan kepalanya.
Rayyan tidak lagi bertanya kepada Laras tetapi dia bertanya kepada Nana.
"Nana, apa darah ditangan dan di bahu Laras sudah dibersihkan?" tanya Rayyan
"Sudah Tuan, Nona hanya perlu menekan lukanya menggunakan handuk ini" jawab Nana
"Biar saya yang melakukannya" kata Rayyan yang langsung melangkah mendekati Laras dan mengambil handuk ditangan Nana.
__ADS_1
"Nana, Kamu keluarlah, temani Azka menunggu Dokter Aditia, Laras biar saya yang mengurusnya" kata Rayyan.
Nana hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan langsung melangkah menuju pintu keluar setelah keluar tidak lupa dia untuk menutup pintu kembali.