
Setelah Azka membawa Nana masuk kekamar Nana, Azka tidak lupa menutup pintu kamar Nana dan menguncinya.
Nana yang masih memegang nampan yang berisi kue dan air langsung meletakkan nampan tersebut diatas meja yang ada dikamar nya.
"Tuan, kenapa dikunci?" tanya Nana yang sedikit panik
"Tidak ada apa-apa, tenang lah, aku tidak ada niat buruk pada mu" kata Azka
"Lalu?, Tuan ingin apa?" tanya Nana
"Bisakah kau membuka kotak yang aku berikan sekarang?" tanya Azka
"Ya allah, Tuan, saya kira ada apa, baiklah kalau begitu,tunggu sebentar saya ambilkan kotaknya terlebih dahulu" kata Nana yang melangkah mendekati lemari pakaiannya dan membuka lemari tersebut untuk mengambil kotak pemberian Azka tersebut.
Setelah Nana mengambil kotak tersebut, ia menutup kembali pintu lemarinya lalu melangkah mendekati Azka yang masih berdiri didekat pintu kamarnya yang terkunci
"Ini kotaknya, Tuan" kata Nana
"Bukalah" kata Azka yang berdiri dan menyimpan kedua tangannya kedalam saku celana bagian kiri dan kanannya
"Baiklah, Tuan" jawab Nana
Nana melangkah mendekati tempat tidurnya dan duduk ditepi tempat tidurnya untuk membuka kotak pemberian Azka itu.
Azka yang berdiri didekat pintu kamar Nana pun melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Nana dan duduk ditepi tempat tidur Nana, tepatnya disamping Nana yang masih memegang kotak pemberian darinya.
Nana pun membuka kotak itu, dan melihat apa isi kotak tersebut.
"Tu..Tuan, dimana Tuan menemukan kalung ini?" kata Nana sambil mengeluarkan kalung tersebut dari kotak.
"Itu kalung milikmu yang pernah hilang bukan?" tanya Azka yang menatap ke arah wajah Nana disampingnya.
"Iya, ini milik saya, dulu ayah yang memberikan kalung ini kepada saya, kata ayah ini milik ibu" jawab Nana yang air matanya sudah menetes di pipinya
Azka yang melihat air mata Nana membasahi pipinya yang mulus, mengangkat sebelah tangannya untuk menghapus air mata Nana.
"Sudah, jangan bersedih lagi, kedua orang tua mu juga akan ikut sedih jika melihat mu seperti ini" kata Azka sambil menghapus air mata Nana dengan menggunakan tangannya
"Terima kasih Tuan, karena telah menemukan kalung ini kembali, kalung ini sangat berharga bagi saya" kata Nana sambil menggenggam kalung tersebut ditangan kanannya dengan air mata yang masih mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
"Iya, sama-sama" jawab Azka yang sudah meletakkan tangannya kembali kesamping dirinya yang sedang duduk
"Kalau boleh tau, dimana Tuan menemukan kalung ini?" tanya Nana sambil menghapus air matanya dengan tangannya
"Sudah, jangan dibahas lagi, yang penting kalung milikmu sudah ketemu" kata Azka sambil melihat wajah Nana
"Tapi Tuan, saat saya kehilangan kalung ini, kalung ini rusak, tidak bisa dipakai, tapi ini kenapa sudah bisa dipakai kembali?, apa Tuan memperbaikinya?" tanya Nana yang sudah menatap wajah Azka yang berada disampingnya.
"Iya, saya sudah memperbaikinya, katanya orang tersebut, kalung ini hanya ada dua didunia, karena permatanya yang langka" kata Azka
"Iya, saya tau, ayah saya juga berkata seperti itu" kata Nana yang kembali menunduk
"Permata yang selangka ini pasti sangat mahal, dari mana ibumu mendapatkan permata ini?" tanya Azka.
"Entahlah, kalau soal itu saya tidak tau, tetapi ayah saya pernah bercerita kepada saya, saat ayah menemukan ibu saya, ibu saya dalam keadaan mengandung" kata Nana
"Mengandung kamu?" tanya Azka yang sudah penasaran
"Bukan, bukan mengandung saya, tetapi kakak" kata Nana
"Kakak?" tanya Azka lagi
"Iya, Kakak saya, tetapi beda ayah, saat ayah menemukan ibu, ibu tinggal sendirian dirumah sederhana, ayah tidak mempermasalahkan kandungan ibu, ayah akan menganggap anak yang ada didalam kandungan ibu tersebut sebagai anak kandungnya, tetapi ibu menolak pendapat ayah, setelah ibu melahirkan, ibu meminta ayah untuk meletakkan bayi tersebut kerumah sepasang suami istri yang nantinya akan mengurus anak itu, dan akan mengganggap anak tersebut sebagai anak kandungnya karena suami istri tersebut tidak memiliki anak" kata Nana
"Jadi kalung yang satunya lagi ada pada kakak saya" jawab Nana sambil melihat ke wajah Azka
"Apa kau yakin soal itu?" tanya Azka lagi
"Iya, saya yakin, karena ayah sendiri yang menceritakannya kepada saya, bahwa saat ayah akan meninggalkan kakak saya dirumah sepasang suami istri itu, ayah meletakkan kalung yang sama persis dengan kalung saya ini didekat kakak saya" kata Nana sambil mengangkat kalung itu seolah-olah menunjukkan kepada Azka
"Apa kamu sudah menemukan kakak kamu itu?" tanya Azka
"Maksudnya?" tanya Nana
"Maksud saya, apakah kamu pernah bertemu dengan Kakak kamu itu?" kata Azka
"Belum" kata Nana
"Apa kamu mengetahui dimana rumah sepasang suami istri yang ayah kamu ceritakan itu?" tanya Azka
__ADS_1
"Tidak, saya tidak mengetahuinya, Tuan" jawab Nana
"Kakak kamu itu perempuan kan?" tanya azka kembali.
"Iyalah Tuan, kalau laki-laki tentu saya akan memanggilnya dengan Abang" jawab Nana
"Ada juga saya dengar orang-orang memanggil saudara laki-lakinya dengan sebutan Kakak" kata Azka yang memberi alasan kepada Nana.
"Kalau saya tidak Tuan, saya berbeda dengan orang-orang, kalau saudara laki-laki saya panggil Abang, dan jika perempuan saya akan memanggilnya kakak" kata Nana sambil tersenyum
"Baiklah, Nanti jika ada waktu, aku akan membantu mu mencari kakak mu" kata Azka dan diangguki oleh Nana
"Terima kasih banyak Tuan karena telah menemukan kalung ini, dan telah memperbaikinya kembali" kata Nana sambil memegang kalung tersebut ditangannya
"Iya, sama-sama" jawab Azka sambil melihat kewajah Nana
Nana terus menetap kearah kalung yang ada ditangannya.
"Sini, biar aku pakaikan" kata Azka yang dengan pelan mengambil kalung yang ada ditangan Nana.
"Tidak perlu, Tuan" kata Nana yang tangannya ingin mengambil kembali kalung tersebut.
"Tidak apa-apa" jawab Azka yang sudah membuka pengait kalung tersebut
"Nanti saya bisa meminta bantuan Bibi Ina saja, Tuan" kata Nana sambil yang tangannya masih ingin mengambil kalung tersebut dari tangan Azka.
"Sudah, diamlah, biar aku yang memakaikannya pada mu, berbalik lah" kata Azka
Nana yang sudah tidak bisa apa-apa lagi hanya menurut saja dengan perintah Azka, Nana pun membalikkan tubuhnya dan membelakangi Azka, agar mudah untuk Azka memasangkan kalung tersebut dilehernya.
"Sudah selesai" kata Azka
"Terima kasih banyak, Tuan" jawab Nana
"Iya, sama-sama" jawab Azka
"Kalau begitu, ayo kita kekamar Nona Laras, pasti semuanya sudah berada disana" kata Nana
"Ayo" ajak Azka dan berdiri dari duduknya menuju pintu kamar Nana lalu membukanya.
__ADS_1
"Sebentar saya simpan kotak ini dulu" kata Nana
Azka menganggukkan kepalanya dan menunggu Nana menyimpan kotak tersebut.