
Didalam kamar, tinggal lah Laras dan Rayyan, Laras yang duduk ditepi tempat tidur hanya menundukkan kepalanya karena merasa malu, sebagian tubuhnya dilihat oleh Rayyan, namun Rayyan tidak perduli dengan itu, dia hanya tidak ingin Laras kehilangan banyak darah, Rayyan langsung duduk disamping Laras dan menekan luka tersebut agar tidak lagi mengeluarkan darah.
"Aw..ah...perih sekali" kata Laras sambil memejamkan kedua matanya menahan sakit pada lukanya.
"Maaf, aku tidak berbicara dulu saat ingin menekan luka mu" kata Rayyan yang merasa bersalah kepada Laras
Laras tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya, namun tetap memejamkan matanya karena menahan rasa sakit.
"Bukalah baju bela diri ini," kata Rayyan
Laras yang mendengar itu langsung membuka matanya dan menatap ke arah wajah Rayyan
Rayyan yang paham dengan tatapan Laras kembali bersuara
"Bukannya saat kamu memakai baju ini, kamu tidak melepaskan baju yang kamu pakai sebelumnya, jadi tidak apa-apa jika kamu melepaskan baju bela diri ini disini, saya tidak ada niat buruk kepadamu" kata Rayyan meyakinkan Laras
"Tapi bagaimana caranya, bahu ini jika digerakkan akan sakit dan kembali mengeluarkan darah" jawab Laras
"Biar aku bantu" kata Rayyan yang sudah bangun dari duduknya dan membantu Laras untuk membuka baju bela dirinya
Setelah baju yang Laras pakai terlepas, Rayyan kembali duduk disamping Laras
"Apa kepalamu masih terasa pusing?" tanya Rayyan kepada Laras
"Tidak, sudah sedikit berkurang" jawab Laras.
"Syukurlah kalau begitu" kata Rayyan lagi.
"Maaf Mas Rayyan, karena saya telah merepotkan mu" kata Laras
"Tidak, kamu tidak merepotkan" jawab Rayyan dengan tangan kanannya yang menekan handuk pada luka Laras.
"Kita pulang ke rumah Mas Rayyan saja, tidak perlu memanggil Dokter untuk kesini" kata Laras dengan suara pelan
"Apa kau yakin?" tanya Rayyan yang melihat kearah wajah Laras yang sedikit pucat
"Iya, saya yakin, kita pulang saja" jawab Laras lagi
"Apa kau yakin masih kuat berjalan?" tanya Rayyan kembali
"Yakin kok," jawab Laras pelan
"Baiklah kalau itu mau mu, kita pulang, pegang lah handuk ini dan tekan pada lukamu, agar tidak mengeluarkan darah kembali, nanti sebelum pulang, kita kerumah sakit dulu, agar lukamu diperiksa, takutnya pisau yang digunakan beracun dan itu dapat membahayakan nyawamu." kata Rayyan
Laras menganggukkan kepalanya, lalu berdiri dari duduknya, sambil menekan lukanya dengan handuk kecil milik Rayyan.
__ADS_1
Baru beberapa langkah Laras berjalan, kakinya tiba-tiba lemah, dan hampir terjatuh kelantai, untung saja Rayyan cepat menangkap tubuhnya dan membenarkan posisi Laras agar berdiri kembali.
"Kau yakin, masih kuat?" tanya Rayyan kembali kepada Laras
Laras hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Tanpa meminta izin dari Laras, Rayyan langsung mengangkat tubuh Laras dan membawanya keluar dari kamar pribadinya, tidak lupa dia menutup kembali pintu kamar tersebut menggunakan kakinya.
"Mas Rayyan, sebaiknya turunkan saja saya, tidak perlu seperti ini" kata Laras.
"Tidak apa-apa, nanti setelah sampai di mobil baru saya turunkan" jawab Rayyan yang terus melangkah.
"Mas Rayyan, saya malu dengan Kak Azka dan Nana nanti, ketika mereka melihat saya diangkat oleh Mas Rayyan," kata Laras
"Bisakah kau saat memanggilku atau berbicara padaku dengan tidak memanggil nama ku?, cukup kata 'Mas' saja" kata Rayyan yang sudah berhenti dari langkah nya dan menatap kearah wajah Laras.
"Ba..Baiklah Mas Rayyan, em... Maksudnya Mas" jawab Laras yang sedikit takut dengan suara tinggi Rayyan dan tatapan Rayyan.
"Kau sedang sakit, jadi wajar kalau aku mengangkatnya mu seperti ini, jadi jangan merasa malu kepada Nana dan Azka" kata Rayyan
Laras hanya diam, tidak lagi bertanya atau berbicara kepada Rayyan. Rayyan melanjutkan langkahnya menemui Azka dan Nana yang sedang menunggu kedatangan Dokter Aditia.
"Azka, Nana, kita pulang sekarang" kata Rayyan yang langsung melangkah keluar dari markas menuju mobilnya
"Pulang!" kata Azka dan Nana serentak
Beberapa anak buah Rayyan yang berada di pintu masuk, untuk berjaga-jaga disana, terkejut melihat Bos besar mereka mengangkat seorang perempuan
Saat Rayyan dan Laras lewat didepan mereka, mereka hanya menundukkan kepalanya tanpa berani mengeluarkan suara. Tetapi saat Rayyan dan Laras sudah jauh dan mendekati mobil barulah mereka berbicara dan menegakkan kepala mereka masing masing.
"Ini kejadian yang tidak pernah terjadi" kata salah satu diantara mereka.
"Iya, ini tidak pernah terjadi dan tidak akan pernah terjadi lagi" kata yang satu nya lagi dan yang lainnya hanya menganggukkan kepala mereka
Azka melangkah keluar diikuti Nana dibelakangnya dan berhenti didekat anak buah Rayyan yang berada di pintu masuk.
Anak buah Rayyan yang melihat Azka dan Nana berhenti dihadapan mereka, mereka langsung menundukkan kepalanya.
"Seperti biasa, jaga markas dengan benar, jika terjadi sesuatu, cepat beri tahu aku" kata Azka kepada anak buah Rayyan yang ada disana.
"Siap" kata mereka serentak.
Setelah anak buah Rayyan menjawab Azka langsung menggenggam tangan Nana.
"Ayo" kata Azka mengajak Nana.
__ADS_1
Nana yang tangannya digenggam oleh Azka pun hanya menganggukkan kepalanya dan langsung mengikuti langkah kaki Azka menuju ke mobil.
"Buka pintu nya" kata Rayyan kepada Azka yang melihat Azka sudah dekat dengannya.
Azka langsung membukakan pintu mobil bagian belakang
Rayyan langsung masuk bersama Laras dan mendudukkan Laras diatas pangkuannya.
Nana yang sudah membukakan pintu mobil di bagian belakang, tepatnya disamping Laras menjadi memundurkan langkah nya untuk masuk ke mobil, namun tetap membiarkan pintu mobil tersebut terbuka lebar.
"Mas, saya bisa duduk sendiri, jangan dipangku seperti ini" kata Laras dengan wajah yang sudah sedikit merah karena malu dilihat oleh Nana dan Azka
"Kenapa?" tanya Rayyan dengan santainya.
"Saya malu Mas" kata Laras yang menundukkan kepala.
Rayyan tidak menjawab perkataan Laras.
"Nana, kamu duduk didepan saja" kata Rayyan
"Baik Tuan" jawab Nana, lalu ia menutup kan kembali pintu mobil yang tadi dibukanya, beralih membuka pintu mobil bagian depan tepatnya samping Azka nantinya.
"Cepatlah, kita kerumah sakit terlebih dahulu" kata Rayyan
"Baik Tuan" jawab Azka dan Nana yang langsung masuk kedalam mobil.
Azka langsung melajukan mobil menuju rumah sakit yang lumayan jauh dari markas mereka.
Didalam perjalanan, Azka bertanya kepada Rayyan.
"Tuan, jika kita kerumah sakit umum, apa tidak berbahaya nantinya?" tanya Azka kepada Rayyan
"Tenang saja, di bagasi mobil ini ada beberapa topi dan beberapa masker, berhentilah sebentar untuk mengambilnya" kata Rayyan
Azka pun menghentikan mobil yang dikendarainya
"Nana, apa kamu bisa mengambilkan topi dan masker yang ada di bagasi?" tanya Rayyan
"Bisa Tuan, sebentar" kata Nana yang langsung turun dan pergi kebagian belakang mobil lalu membuka bagasi mobil tersebut
"Didalam kotak biru, Nana" kata Rayyan yang mengerti jika Nana sedikit kesulitan menemukan topi dan masker yang dimaksudnya.
"Iya Tuan" jawab Nana
"Bawa saja kotak biru itu keluar Nana" kata Rayyan
__ADS_1
"Baik tuan", jawab Nana