rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
21


__ADS_3

Setelah beberapa menit Azka menunggu didalam mobil dan dia terus memperhatikan dari dalam mobil, betapa perhatian bosnya terhadap Laras. Dalam hati, Azka berucap, "Semoga kalian tetap bersatu sampai akhir hayat."


"Laras, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Rayyan sambil tetap memeluk pundak Laras.


"Iya, saya baik-baik saja, Mas," jawab Laras.


"Apa kita pulang saja?" tanya Rayyan lagi.


"Tidak, saya ingin melihat rumah saya, Mas," kata Laras sambil menatap mata Rayyan.


"Baiklah," jawab Rayyan.


Mereka berdiri dan menuju mobil yang sudah menunggu mereka, dipandu oleh Azka.


"Neng, ini ciloknya," kata penjual cilok tersebut.


"Eh, maaf ya, Bang. Sudah lama menunggu, ya?" jawab Laras sambil mengambil cilok dari tangan penjual dan membuka tas kecilnya untuk mengeluarkan uang bayarannya. Namun, Rayyan cepat tanggap dan memberikan dua lembar uang merah kepada penjual cilok.


"Ini terlalu banyak, Tuan," kata penjual cilok tersebut.


"Tidak apa-apa, rezekimu hari ini," kata Rayyan.


Laras tidak berkata apa-apa, dia hanya menatap wajah Rayyan.


"Terima kasih banyak, Tuan, Neng," kata penjual cilok tersebut.


"Sama-sama," jawab Rayyan.


"Kalau boleh tahu, apakah kalian suami istri? Kalian cocok, satu cantik dan satu tampan," puji penjual cilok tersebut.


"Eh, Abang bisa saja... dia ini..." kata Laras terputus dan langsung dipotong oleh Rayyan.


"Kalau begitu, kami pamit dulu. Terima kasih atas pujiannya. Assalamualaikum," kata Rayyan sambil menarik perlahan tangan Laras untuk menuju mobilnya.


"Waalaikumsalam," jawab penjual cilok.


Laras dan Rayyan masuk ke dalam mobil dan pergi menuju rumah Laras, diikuti oleh mobil lain yang membawa tiga orang anak buah Rayyan.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di depan rumah Laras. Namun, yang keluar dari mobil hanya Laras, Rayyan, dan Azka. Anak buah Rayyan tetap menunggu di dalam mobil, tidak jauh dari tempat mobil Rayyan berhenti. Mereka memantau dari jauh, siap sedia untuk membantu Laras jika orang tua Laras berperilaku kasar.


Di halaman rumah Laras, terlihat sebuah mobil yang asing bagi Laras. Dia berpikir, Mobil ini punya siapa? Ayahku tidak pernah punya mobil atau membeli mobil.


Laras terus menuju pintu masuk, didampingi oleh Rayyan dan Azka. Ketika mereka hendak masuk, hati Laras menjadi tidak tenang. Kemudian, dia mengucapkan salam.


"Assalamualaikum," kata Laras.


Namun, tidak ada jawaban dari dalam rumah.


"Aneh. Ada mobil, pintu terbuka, dan ada sepatu pria dan wanita, tapi tidak ada yang menjawab salam," kata Azka.


Mereka terus masuk karena Laras adalah tuan rumah. Laras juga sudah bertekad untuk mengungkap semuanya. Laras mempersilahkan mereka duduk, sambil ia sendiri ingin pergi ke dapur untuk mencari orang tuanya dan kakak tirinya. Namun, baru beberapa langkah Laras bergerak dari duduknya, dia mendengar suara ibu tirinya dan ayahnya yang berasal dari kamar mereka yang tak jauh dari ruang tamu.


"Anak itu bukan anak kandung ku. Dia juga bukan anak kandung Suci Argantara. Anak itu hanyalah anak angkat. Tapi mengapa Suci memberikan semua harta warisan kepadanya, ah... membuat aku kesal saja," kata sang ayah kepada ibu.


"Mana aku tahu. Seharusnya sebagian harta warisan itu sudah menjadi milikmu ," jawab sang ibu


"Tunggu, apa yang kau katakan tadi? Dia bukan anak kandungmu?" tanya sang ibu memastikan apa yang dikatakan oleh ayah.


"Iya, sepertinya ada seseorang yang meletakkannya di depan rumah ini," jawab sang ayah sambil mengingat kembali saat pertama kali Suci dan dirinya menemukan anak tersebut.


Malam hari sekitar pukul 21.00, terdengar suara tangisan bayi yang sangat dekat.


"Mas, aku mendengar suara tangisan bayi," kata sang istri.


"Iya, sepertinya berasal dari depan rumah kita," jawab sang suami.


"Ayo kita lihat, Mas," ajak istri.


Sang suami hanya mengangguk, dan mereka berjalan menuju pintu depan. Ketika mereka membukanya, terlihatlah seorang bayi perempuan yang sangat lucu di dalam keranjang bayi berbahan rotan.


"Ya Allah, Mas, ini anak siapa?" tanya sang istri sambil langsung menggendong bayi tersebut.


"Tidak tahu, tapi tunggu sebentar, ada surat yang ditinggalkan di sini," kata sang suami.


Mereka pun membaca isi surat tersebut:

__ADS_1


"Jagalah bayi ini, saya mempercayakan dia kepada kalian."


Di dalam keranjang bayi tersebut, terdapat kalung liontin cantik berwarna biru.


Lalu, sepasang suami istri ini membawa bayi dan keranjangnya masuk ke dalam rumah. Mereka merawat dan membesarkan bayi tersebut, serta memberi nama anak itu Laras Irma Nabella Argantara.


# flashback off


Laras yang ingin tahu segalanya mendekat ke arah pintu, mencoba mendengarkan pembicaraan ayah dan ibu tirinya. Laras begitu terkejut mendengar rahasia yang sangat menyakitkan hatinya. Dia meneteskan air matanya di depan pintu kamar ayah dan ibu tirinya sambil berbicara dalam hati, "Pantas saja ayah dengan mudahnya membuang diriku, ternyata aku bukanlah darah dagingnya." Kakinya seolah tak kuat menopang berat tubuhnya, dia lemah. Untungnya, Rayyan dengan sigap menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai.


"Kuatkan hatimu, kita akan mendengarkan apa lagi rahasia tentang dirimu yang disembunyikan oleh ayahmu," kata Rayyan.


"Iya, nona. Kami ada untuk membantu nona," sambut Azka yang berada di belakang Rayyan.


"Terima kasih," kata Laras.


Mereka kembali mendengarkan pembicaraan ayah dan ibu tirinya. Terdengar suara ibu Laras bertanya kepada ayah Laras


"Lalu, apakah kau tahu siapa orang tua kandung dari anak itu?" kata sang ibu


"Tidak, aku tidak tahu siapa orang tua kandung dari anak itu. Hanya liontin yang kami temukan bersama anak itu dulu," kata sang ayah.


"Lalu, kemana liontin itu kau letakkan?" tanya sang ibu kembali.


"Aku pun tidak tahu. Suci yang menyimpannya di dalam kotak, dan sampai saat ini kotak itu tak pernah aku lihat lagi," kata sang ayah bercerita.


"Kotak?" tanya Laras yang melihat kearah Rayyan disamping nya.


"Kemungkinan kotak merah milikmu yang aku simpan itu" jawab Rayyan yang juga sambil melihat ke arah wajah Laras


"Mas, saya mohon cari liontin itu" kata Laras kepada Rayyan.


"Nanti kita akan cari liontin tersebut didalam kotak merah milikmu itu, tetapi langkah awal yang harus kita lakukan saat ini adalah membuat mereka meninggal kan rumah ini" kata Rayyan yang diangguki oleh Azka.


"Baiklah," jawab Laras yang masih terlihat tenang


Beberapa detik kemudian, Laras sudah tidak tahan dengan semua ini, dia langsung membuka pintu kamar ayah dan ibu tirinya.

__ADS_1


"Apa lagi yang ayah rahasiakan tentang diriku?" kata Laras yang sudah masuk dan berdiri di depan pintu bersama Rayyan dan Azka.


"Laras!" kata mereka berdua serentak dan melihat ke arah pintu yang terbuka.


__ADS_2