rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
42


__ADS_3

Setelah Rayyan melihat pintu kamar Laras telah tertutup kembali, dia melangkah mendekati Laras yang sedang tertidur pulas dan melihat jam yang ada diatas lemari kecil samping tempat tidur Laras menunjukkan pukul 01.10 malam.


"Aku berharap kau juga menyimpan perasaan padaku, aku menyayangimu Laras Irma Nabella Argantara" kata Rayyan sambil menyelimuti tubuh Laras dengan selimut milik Laras.


Setelah Rayyan menyelimuti tubuh Laras, iya mengalihkan pandangannya ke sofa tempat tadi dia duduk bersama Elang dan Azka , Rayyan melihat beberapa gelas kotor yang ada disana, dia kembali ke sofa untuk mengambil gelas tersebut dan membawanya keluar menggunakan nampan yang tadi diletakkan oleh Nana dibawah meja.


Baru beberapa anak tangga yang dilewati oleh Rayyan untuk turun kedapur, terlihat Bibi yang juga ingin menaiki tangga.


"Apakah itu gelas kotor, Tuan?" tanya Bibi


"Iya Bi" jawab Rayyan


"Ya sudah, biar Bibi saja yang meletakkannya didapur, besok pagi baru dicuci, ini sudah sangat larut, sebaiknya Tuan istirahat" kata Bibi


"Iya Bi, ini sudah jam 01.20 malam, Bibi juga istirahat" kata Rayyan sambil memberikan nampan tersebut kepada Bibi


"Iya, Tuan" jawab Bibi yang tangannya langsung mengambil nampan yang diberikan oleh Rayyan


"Terima kasih, Bibi" kata Rayyan


"Sama-sama, Tuan, kalau begitu Bibi kedapur dulu" kata Bibi


"Iya Bi" jawab Rayyan


Bibi Ina membalikkan tubuhnya membelakangi Rayyan, namun baru beberapa langkah, Bibi kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke Rayyan


"Ada apa, Bibi?" tanya Rayyan yang melihat Bibi Ina kembali menghadapnya


"Em...Tuan, tadi Nak Elang menitipkan pesan untuk, Tuan" kata Bibi


"Pesan apa, Bi" tanya Rayyan


"Malam ini transaksi senjata api akan dilakukan di hutan Utara" jawab Bibi


"Kenapa harus malam ini, bukannya besok malam?, dan kenapa mereka yang menentukan tempatnya?" tanya Rayyan kembali kepada bibi


"Kata Nak Elang, orang-orang yang membeli senjata tersebut mendesak minta dipercepat" jawab Bibi Ina.


"Baik, Bi, terima kasih banyak" kata Rayyan


"Iya Tuan, Sama-sama, kalau begitu, Bibi kedapur dulu," jawab Bibi


"Iya, Bi" jawab Rayyan


Bibi Ina langsung menuju kedapur untuk meletakkan nampan yang berisi gelas kotor, setelah itu dia mematikan lampu yang ada didapur, lalu Bibi melangkahkan kakinya menuju kekamarnya untuk istirahat, tak lupa bibi mengunci pintu kamarnya.

__ADS_1


Azka yang melihat Bibi sudah kedapur tadi, langsung kembali kekamar Laras untuk mematikan lampu dan menghidupkan lampu tidur.


"Tidurlah, kau sangat cantik jika sedang tidur" kata Rayyan


Setelah Rayyan berkata seperti itu, dia pun melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Laras untuk keluar, setelah Rayyan keluar, dia menutup pintu kamar Laras kembali.


Rayyan menuju kekamarnya untuk istirahat, sebelum tidur dia kekamar mandi dulu, untuk menggosok gigi, dan mencuci kakinya, setelah selesai dia menuju ketempat tidurnya yang sangat empuk, sambil berbaring Rayyan meletakkan ponsel ke atas lemari kecil samping tempat tidurnya, Rayyan tidak lagi mengantikan pakaian karena dirinya sudah merasa sangat lelah.


Baru beberapa menit Rayyan merebahkan tubuhnya di kasur dan ingin memejamkan matanya, ponselnya berbunyi, Rayyan pun bangun dan mengambil ponsel tersebut, setelah ponselnya sudah dipegangnya, Rayyan melihat nama yang tertera disana.


"Elang!" kata Rayyan dengan suara pelan dan langsung duduk diatas tempat tidurnya


"Tidak pernah Elang menghubungiku tengah malam begini, apa yang terjadi?" kata Rayyan yang bertanya apa dirinya sendiri


Rayyan pun langsung menekan tombol hijau untuk menyambungkan panggilan dari Elang, setelah tersambung Rayyan langsung bertanya kepada Elang.


"Ada apa?" tanya Rayyan yang langsung tutup poin


"Bos, anak buah Niel telah menggagalkan transaksi kita, karena mereka telah melaporkan kepada polisi jika akan ada transaksi senjata ilegal di hutan Utara malam ini, pihak kepolisian langsung mendatangi hutan Utara, untungnya kami belum pergi kesana, jadi kami tidak ketahuan oleh pihak kepolisian" kata Elang.


"Niel, lagi?" kata Rayyan sambil mengepalkan tangannya


"Iya, Bos" kata Elang


"Entahlah, Bos, sepertinya ada mata-mata disekitar kita." kata Elang


"Baiklah, malam ini jangan lakukan transaksi itu, aku akan meminta Azka untuk kemarkas, untuk membantumu disana" kata Rayyan


"Baik, Bos" kata Elang yang ada diseberang sana


Rayyan langsung melihat jam yang ada diponselnya yang menunjukkan pukul 01.45 malam.


"Aku akan kekamar Azka saja, dia kalau sudah tidur, seperti orang mati, tidak akan sadar walau rumah ini runtuh" kata Rayyan yang turun dari tempat tidurnya.


Rayyan langsung menuju pintu kamar untuk keluar, tidak lupa dia menutupkan pintu kamarnya kembali.


Setelah sampai didepan kamar Azka, Rayyan langsung membuka pintu kamar tersebut.


Terlihat Azka yang masih terjaga dan duduk diatas tempat tidur sambil memangku laptop.


"Lo belum tidur?" tanya Rayyan yang langsung melangkah menuju ketempat tidur untuk mendekati Azka


"Yang lo lihat bagaimana?" kata Azka yang kembali bertanya kepada Rayyan namun pandangannya tidak beralih, Azka masih tetap fokus melihat kearah laptop.


Rayyan langsung duduk disamping Azka yang sedang fokus dengan laptopnya.

__ADS_1


"Ini semua rencana Niel, yang ingin menjebak kita, agar kita ketahuan oleh pihak kepolisian" kata Azka


"Sudah ku duga, termasuk mereka, orang-orang yang ingin membeli senjata api kita, pasti mereka suruhan Niel" kata Rayyan


"Iya, gue sudah mencari informasi tentang mereka semua yang ingin membeli senjata kita, namun tidak ada, mereka hanya menyamar untuk menjebak kita" kata Azka


"Lo, tau dari mana?" gue belum memberitahukan lo soal masalah ini" kata Rayyan yang bertanya kepada Azka


"Gue diberitahu oleh Azka, bahwa transaksi akan dilakukan malam ini juga, dan gue curiga, tidak pernah sebelumnya pembeli yang menentukan tempat transaksi" kata Azka


"Tak salah gue, mempercayai lo sebagai tangan kanan gue, belum gue perintah lo sudah dapat menyelesaikannya" kata Rayyan sambil menepuk bahu kiri Azka


"Ini tidak gratis, Bosku" kata Azka sambil menaik turunkan kedua alis matanya.


"Dasar lo mata duitan, iya, gue kasih bonus lo" kata Rayyan yang mengeluarkan ponselnya untuk mentransfer uang ke rekening Azka


"Gue akan Videocall dengan Elang dimarkas" kata Azka


"Itu, sudah ku kirim bonus mu" kata Rayyan sambil menyimpan kembali ponsel kedalam saku celananya.


"Terima kasih banyak, Bos, lo memang terbaik" kata Azka sambil mengacungkan kedua ibu jarinya kehadapan Rayyan


"Sudah cepat, hubungi Elang" kata Rayyan


"Ini lagi dihubungi" kata Azka


Setelah beberapa kali mencoba menghubungi Elang, akhirnya Elang menjawab panggilan Videocall dari Azka


"Assalamu'alaikum, Tuan, Bos" kata Elang


"Waalaikumsalam" jawab Rayyan dan Azka


"Di Markas aman?" tanya Azka


"Aman, Tuan, Bos" jawab Elang dari seberang sana karena melihat Azka bersama dengan Rayyan.


"Ya sudah, aku cuma ingin memberitahumu, transaksi itu adalah rencana Niel, jadi tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, Jika mereka meminta melakukan transaksi lagi, atau ingin membeli senjata kita lagi, jangan diladeni lagi" kata Azka.


"Baik, Bos" jawab Elang


"Kalau begitu, kau istirahat lah" kata Rayyan


"Baiklah kalau begitu, assalamualaikum, Tuan, Bos" kata Elang


"Waalaikumsalam" jawab Rayyan dan Azka serentak.

__ADS_1


__ADS_2