rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
52


__ADS_3

Setelah beberapa menit, akhirnya Bibi Ina dan Nana sudah selesai mencuci piring kotor yang ada, Bibi Ina dan Nana langsung melangkahkan kaki mereka keruang tengah dimana Rayyan dan Laras menunggu mereka.


Ketika Bibi Ina dan Nana sudah berada diruang tengah, mereka langsung mengajak Rayyan dan Laras keruang latihan, untuk kembali berlatih


"Tuan, Nona Laras, bagaimana kalau kita langsung saja keruang latihan?" kata Bibi kepada Rayyan dan Laras


"Iya, sebentar lagi kita akan kesana, Bibi dan Nana duduklah dulu, kalian pasti lelah setelah mencuci piring" kata Laras


"Iya, Bi, istirahatlah sebentar, nanti kita akan latihan lagi" kata Rayyan


"Bibi dan Nana duduklah dulu" kata Laras


Bibi Ina dan Nana menganggukkan kepalanya serentak, lalu mereka duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut


Setelah beberapa menit mereka duduk bersama diruang tengah, Rayyan bangun dari duduknya.


"Kalau begitu, kita keruang latihan sekarang, kita kembali berlatih" kata Rayyan yang sudah berdiri.


"Ayo" jawab Laras lalu bangun dari duduknya


Bibi Ina dan Nana hanya menganggukkan kepalanya lalu mereka bangun dari duduknya.


Mereka pergi keruang latihan bersama-bersama dengan Rayyan didepan sedangkan Laras berada dibelakang Rayyan, Bibi Ina dan Nana berada dibelakang Laras.


Ketika mereka sudah berada didepan pintu ruang latihan, Rayyan langsung membuka pintu ruangan tersebut.


Rayyan, Laras, Nana dan Bibi Ina sekarang sudah berada didalam ruang latihan.


"Baiklah, kita latihan sebentar, setelah itu kita keluar untuk istirahat sebentar, aku takutnya, mereka akan menyerang kita tengah malam nanti" kata Rayyan


"Dari mana Tuan mengetahui jika akan terjadi penyerangan malam ini?" kata Nana yang bertanya kepada Rayyan


"Tadi pagi aku dan Laras kemarkas, dan bertemu dengan Candra, dia hampir ketahuan, tapi untungnya dia cepat kabur dari sana, dia kemarkas untuk memberitahukan bahwa Niel dan anak buahnya akan melakukan penyerangan" kata Rayyan


"Sebaiknya malam ini kita berpura-pura cepat tidur" kata Laras


"Maksud Nona Laras bagaimana?" tanya Bibi Ina


"Saya memiliki rencana" kata Laras


"Bagaimana?" tanya Rayyan


"Tapi, apa kalian yakin dengan rencana saya?" tanya Laras kepada mereka


"Coba jelaskan dulu, nanti kita pertimbangkan" kata Rayyan dan diangguki oleh Bibi Ina dan Nana

__ADS_1


"Saya ingin kita berpura-pura cepat tidur, matikan lampu disemua ruangan, termasuk kamar kita, tapi dikamar kita harus bersiap-siap, anak buah Mas harus bersembunyi terutama didapur, diruang tamu, atau dimana pun, saya yakin nanti pasti mereka akan menyusup masuk satu persatu, kita akan membunuh mereka tanpa ada pergerakkan atau secara pelan-pelan" kata Laras yang menceritakan rencananya


"Tuan, menurut Bibi tidak ada salahnya kita coba" kata Bibi Ina


"Tapi, itu sama saja membiarkan musuh masuk kedalam rumah" kata Rayyan


"Kita hanya menjebak mereka, Mas" kata Laras


"Apa Bibi yakin, jika mereka masuk ke dalam kamar Bibi, Bibi bisa mengatasinya sendiri?" tanya Rayyan kepada Bibi Ina sambil melihat kearah Bibi Ina.


"Belum bisa Bibi jawab, Tuan" kata Bibi


"Aku khawatir mereka akan menyakiti kalian, jika kalian sendiri-sendiri" kata Rayyan sambil mengalih pandangannya kearah Laras.


"Begini saja Tuan, saya dan Bibi akan menunggu mereka dikamar Bibi Ina, sedangkan kamar saya, letakkan 2 orang anak buah Tuan" kata Nana yang memberi saran


"Baiklah kalau begitu, aku dan Laras akan menunggu mereka dikamar ku, sedangkan kamar Laras aku akan meminta 2 orang anak buah ku menunggu disana" kata Rayyan


Laras yang mendengar dirinya dan Rayyan akan berada dalam satu kamar langsung menoleh kearah wajah Rayyan


Rayyan sadar bahwa Laras sedang menatapnya, namun dia tidak menghiraukannya.


"Baiklah, kalau begitu, kita lanjutkan latihannya" kata Rayyan


"Baik, Mas" kata Laras


Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 sore, mereka sudah selesai dengan latihan mereka.


"Kita istirahat sebentar disini" kata Rayyan


Laras, Nana dan Bibi Ina menganggukkan kepalanya serentak.


Lalu mereka pun duduk sebentar ditepi ruang latihan untuk beristirahat.


Saat ini, Nana duduk disamping Laras, tidak sengaja Nana melihat kalung yang dipakai oleh Laras, Nana berkata didalam hatinya "Kenapa kalung yang dikenakan oleh Nona Laras sama persis dengan kalungku ini, apa jangan-jangan......"


"Maaf, Nona, apa boleh saya bertanya?" kata Nana


"Boleh, Nana, tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan" jawab Laras


"Dari mana Nona mendapatkan kalung yang Nona kenakan itu?" tanya Nana


"Oh, kalung ini, entahlah Nana, saya tidak tau kalung ini dari mana, yang saya tau dan yang saya dengar, ketika orang tua angkat saya menemukan saya, kalung ini sudah ada didekat saya" kata Laras sambil memegang kalung yang ada dilehernya.


"Orang tua angkat?" tanya Nana yang sudah menghadap kearah Laras

__ADS_1


"Iya, orang tua angkat, saya diangkat oleh keluarga yang sangat baik, tapi sayang, semuanya sudah berubah semenjak ibu sudah meninggal dan ayah sudah menikah lagi, ayah sudah tidak menganggap saya sebagai anaknya, dia telah membuang saya" kata Laras


"Maaf, Nona, saya tidak bermaksud membuat Nona bersedih" kata Nana


"Tidak apa-apa, Nana" jawab Laras sambil tersenyum


"Jika, boleh tau siapa nama orang tua angkat Nona?" tanya Nana


"Ibu suci Argantara dan bapak Andre Argantara, mereka sepasang suami istri yang tidak memiliki keturunan, makanya mengangkat dan menganggap saya sebagai anak kandung mereka satu-satunya" kata Laras


"Apa orang tua angkat Nona tidak menceritakan kapan mereka menemukan Nona?" tanya Nana


"Mereka menemukan saya didepan rumah, seperti saya anak yang tak diinginkan" kata Laras


"Kapan waktunya?, malam?, siang?, sore?, atau pagi?" kata Nana


"Kamu ini Nana, bertanya itu satu-satu?" kata Bibi Ina


"Tidak apa-apa, Bi" kata Laras


"Maaf, Nona" kata Nana


Laras hanya tersenyum kearah Nana sambil menganggukkan kepalanya sekali.


"Saya ditemukan oleh ibu dan ayah angkat saya saat malam hari" kata Laras


"Malam?" tanya Nana


"Iya" jawab Laras


Saat itu juga, air mata Nana langsung meleleh di pipinya, Laras yang melihat itu menjadi terheran-heran, begitu juga dengan Bibi Ina dan Rayyan


"Nana, kenapa kamu menangis?", ada apa Nana?" tanya Laras sambil memegang kedua bahu Nana


"Ada apa, Nana?" tanya Bibi Ina


Rayyan tidak bertanya, dia hanya melihat kearah Nana


"Kakak, aku ini adikmu" kata Nana yang sambil menggenggam kedua tangan Laras


Laras yang mendengar itu langsung terkejut dan menatap mata Nana yang saat ini tengah mengeluarkan air matanya.


"Kakak?" kata Laras sambil menatap kearah Nana


"Iya, Kakak, kita satu ibu, tapi beda ayah, aku sudah lama mencari keberadaan Kakak" kata Nana

__ADS_1


Laras tidak menjawab dia hanya terus menatap kearah mata Nana.


__ADS_2