rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
22


__ADS_3

Mereka berdua terkejut melihat Laras yang sudah berdiri diambang pintu


"Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya ibu tirinya dengan nada marah.


"Ibu, kau diam lah. Aku hanya bertanya pada ayahku, ayah angkat ku," kata Laras sambil menekankan kata 'angkat'.


"Berani sekali kamu berbicara seperti itu padaku," kata ibu tiri Laras yang mendekati Laras.


"Bu, sudahlah," kata ayah Laras sambil menahan tangan istrinya.


"Kamu ini sebenarnya memihak kepada siapa sih?, selalu saja melindungi anak ini, anak angkat kamu ini" kata sang ibu sambil menghempaskan tangan ayah yang masih memegangnya untuk terlepas.


"Sudahlah Bu" kata sang ayah kembali.


"Dasar kamu anak yang tidak tahu berterima kasih. Aku yang sudah merawat mu sampai dewasa, dan setelah kau dewasa, kau pergi entah ke mana. Lalu kamu datang kemari dan masuk tanpa seizin pemilik rumah, kemudian kau mengakui bahwa rumah ini adalah milikmu, apa kau sedang bermimpi?" kata ibu tiri Laras.


"Merawat? Ibu bilang merawat ku? Ibu yang selalu menyiksa aku, memperlakukan aku seperti pembantu. Terkadang ibu tidak memperbolehkan aku makan. Apakah itu yang ibu sebut sebagai merawat ku?" tanya Laras yang mendekati dan berdiri di depan ibu tirinya.


"Kamu ini..." kata ibu tiri Laras sambil mengangkat sebelah tangannya untuk menampar Laras.


"Berani kamu menyentuhnya, akan ku potong tanganmu," suara Rayyan berhasil membuat ibu tiri Laras menurunkan tangannya.


"Siapa kamu? Masuk ke rumahku tanpa izin dariku?" tanya ayah Laras, menatap Rayyan dengan tatapan tajam.


Namun, bukan Rayyan yang menjawab pertanyaan ayah Laras, melainkan Laras sendiri yang menjawab.


"Dia adalah suamiku, dan aku berhak masuk ke rumah ini tanpa minta izin dari kalian. Aku adalah pemilik sah rumah ini," jawab Laras sambil menatap mata sang ayah.


Rayyan yang mendengar jawaban Laras yang mengakui dirinya sebagai suami Laras langsung memandang Laras yang serius tanpa keraguan saat menyebut dirinya sebagai suaminya.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Rumah ini milikku. Siapa kamu dan apa buktinya bahwa kamu yang berhak atas rumah ini?" tanya ayah Laras dengan wajah memerah menahan amarah dan tidak memperdulikan bahwa Laras sudah menikah atau belum.


Laras terlihat gugup karena dia lupa membawa bukti, yaitu sertifikat.


"Ini, lihat ini. Ibu Suci Argantara mewariskan semua harta warisannya kepada Laras Irma Nabella Argantara," jawab Rayyan sambil membuka map yang berwarna hijau untuk memperlihatkan kertas sertifikat milik Laras tanpa harus mereka pegang, takut mereka akan merobek bukti tersebut.


Rayyan sudah menyiapkan semuanya tanpa sepengetahuan Laras. Atas perintah Rayyan, Azka membawa sertifikat milik Laras dan Azka menyimpan sertifikat tersebut di dalam jasnya sehingga tidak diketahui oleh Laras.


Rayyan sudah memikirkan ini semua, pasti orang tua Laras tidak akan percaya jika tanpa bukti, mereka pasti menanyakan bukti kepada Laras dan benar saja, mereka menanyai bukti kepada Laras, azka pun menyerahkan sertifikat itu kepada Rayyan agar membungkam mulut orang tua Laras.


"Jadi, sekarang aku berhak mengusir kalian," kata Laras yang spontan.


"Kamu tidak bisa mengusir kami," kata kakak tiri Laras yang datang dari arah dapur dan langsung mendekati ayahnya dengan berjalan melewati Laras, Rayyan dan Azka.


"Mengapa aku tidak bisa mengusir kalian?" tanya Laras.


"iya kan Bu?" tanya kakak tiri Laras kepada ibunya.


Namun sang ibu tidak menjawab dia hanya melihat ke arah sang suaminya.


"Hei Nona, jika kau tidak tau apa-apa, maka lebih baik kau diam saja, jangan banyak tanya" kata Azka yang sudah geram saat pertama kali melihat kakak tiri Laras yang gaya jalannya dibuat seanggun mungkin sehingga membuat mata Azka sakit melihatnya


"Aku tahu, Ayah yang ada dihadapan ku ini bukan ayah kandungku, melainkan ayah angkat ku dan satu hal yang perlu kau ketahui, rumah dan tanah ini sekarang adalah milikku," kata Laras sambil menunjuk sertifikat yang ada di tangannya kepada Rayyan.


"Ayah, apakah benar rumah ini miliknya, bukan milik Ayah?" tanya kakak tiri Laras


Tetapi sang Ayah tidak menjawab pertanyaan tersebut, dia hanya menunduk dan menganggukkan kepalanya.


"Ayah, dia kan bukan anak Ayah, tapi kenapa dia yang memiliki hak atas rumah ini? Ayah tidak adil, aku anak kandung Ayah, bukan dia, seharusnya aku yang memiliki hak atas rumah ini." kata kakak tiri Laras dengan nada yang kasar.

__ADS_1


"Bukan aku yang memberinya, tapi Suci, istri pertamaku," kata Ayah Laras.


"Jadi kita akan tinggal di mana, Ayah?" tanya kakak tiri Laras lagi.


"Kamu bisa diam tidak, kita harus mengemas barang-barang kita terlebih dahulu. Kita akan pergi dari sini. Ayahmu tidak ada gunanya, dia bahkan tidak bisa mengurus hal kecil seperti ini. Sudah lama aku menyuruhnya untuk membunuh anak ini, tapi terlalu banyak alasan," kata Ibu tiri Laras sambil menunjuk ke arah Laras dan melangkah mendekati lemari untuk mengambil koper.


Mereka pun mulai mengemas barang-barang mereka dan pergi dari rumah itu. Ketika sang ibu ingin melangkah keluar untuk meninggalkan rumah tersebut, dia melihat ke arah Laras.


"Aku akan membuatmu membayar semua ini dada anak yang tidak tahu diri dan tidak tau berterima kasih," kata sang ibu kembali kepada Laras seolah olah mengancam Laras.


Laras tidak menjawab perkataan dan ancaman sang ibu, dia hanya berkata dalam hatinya, Aku akan meminta mas Rayyan untuk tetap mengawasi kalian. Apa lagi, Ayah, aku akan tetap menyayangi Ayah.


Mereka pun pergi dari rumah tersebut dengan menggunakan mobil yang tadi Laras lihat di halaman rumah.


"Ternyata Ayah membeli mobil. Dulu ketika masih ada Ibu, Ayah selalu memarahi kami jika kami membahas tentang ingin membeli mobil," kata Laras pelan namun masih bisa didengar oleh Rayyan.


"Sudahlah, jangan kau ingat-ingat lagi kenangan pahit yang sudah berlalu, biarlah berlalu," kata Rayyan sambil melihat ke arah Laras.


Laras tidak menjawab. Dia hanya tersenyum ke arah Rayyan. Rayyan dan Azka duduk kembali di sofa ruang tamu. Laras mendekati mereka dan berbicara kepada mereka.


"Kalian duduk saja disini. Saya akan pergi ke dapur sebentar. Saya akan membuatkan minuman dan mengambil beberapa cemilan untuk kalian. Oh iya, Kak Azka, mau minum apa? Dan Mas Rayyan, mau minum apa?" tanya Laras kepada mereka.


"Aku ingin kopi saja, jangan terlalu manis," kata Rayyan.


"Aku ingin teh es saja," kata Azka.


"Baiklah, tunggu sebentar ya," kata Laras.


Rayyan dan Azka menganggukkan kepala mereka bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2