rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
39


__ADS_3

Tak lama dari kepergian Nana, Laras keluar dari kamar mandi menuju ketempat tidurnya


"Nona, kenapa Nana berlari seperti itu?, apa yang terjadi?" tanya Bibi yang duduk ditempat tidur Laras


"Tidak ada apa-apa, Bi" jawab Laras yang sudah duduk di samping Bibi


Dilain tempat, Nana sedang mengejar Azka yang ingin kedapur untuk membuat kopi, dari tangga Nana sudah melihat Azka yang akan masuk ke dapur, dia terus melangkah untuk mendekati Azka. Setelah Sampai didapur, Azka ingin membuat kopi untuk dirinya, ia mengambil gelas yang berada didalam lemari, lalu ingin mengambil gula, namun dari arah belakang Nana sudah memegang tempat gula tersebut.


"Biar saya yang membuatnya" kata Nana


"Tidak usah, biar saya sendiri" kata Azka yang langsung mengambil tempat gula yang ada ditangan Nana dengan sedikit kasar.


Nana tidak menjawab, dia hanya diam ditempat, ketika azka merampas tempat gula tersebut.


Ketika sudah memasukkan gula ke gelasnya, Azka meletakkan kembali tempat gula tersebut, lalu tangannya ingin mengambil tempat kopi yang ada disamping tempat gula tersebut, namun lagi-lagi Nana mengambilnya terlebih dahulu.


"Biar saya yang membuatnya, Tuan" kata Nana


"Biar saya saja, saya bisa sendiri" jawab Azka yang tangannya mengambil dengan sedikit kasar tempat kopi yang ada ditangan Nana.


Nana lagi-lagi tidak menjawab, dia hanya diam saja.


Setelah Azka menambahkan bubuk kopi kedalam gelas, dia mengembalikan tempat kopi tersebut ke tempatnya semula


Sekarang Azka ingin menuangkan air panas kedalam gelas, lagi-lagi Nana ingin membantunya. Nana lebih dulu memegang teko yang berisi air panas tersebut.


"Biar saya tuangkan airnya, Tuan" kata Nana yang sudah melangkah mendekati gelas yang berisi gula dan kopi.


"Saya bisa sendiri, tidak perlu dibantu" kata Azka


Lalu Azka mengambil teko tersebut dari tangan Laras dengan sedikit kasar membuat air yang ada didalam teko itu berguncang dan keluar mengenai tangan Laras.


"Aw..panas" kata Nana yang langsung meniupkan tangannya yang terkena air panas.


Azka mendengar suara Nana yang merasa kesakitan bukannya menolong, Azka malah terus menuangkan air panas kedalam gelasnya.


"Sudah ku katakan, aku bisa sendiri, tidak perlu dibantu" kata Azka yang membelakangi Nana.

__ADS_1


"Maaf Tuan, saya kekamar dulu" kata Nana yang melangkah keluar dari dapur dan sambil menahan tangisnya.


Azka tidak menjawab, dia kembali meletakkan teko yang berisi air panas tersebut ke tempatnya semula.


Nana berlari menuju kekamarnya, menutup pintu dan duduk ditepi tempat tidurnya untuk melepaskan air matanya yang tadi ditahan.


"Ternyata, dia bisa bersikap sekasar itu, secuek itu, dan kalau iya aku yang salah, setidaknya dengarkan dulu penjelasan ku, kalau begini, apa benar dia memiliki perasaan kepada ku?", aku salah menaruh hati, dia tidak memiliki perasaan apa-apa kepada ku, aku salah terlalu percaya dengan orang seperti dia, dengan sedikit kebaikan yang dilakukannya kepadaku, aku membalasnya dengan banyak menggunakan perasaan," kata Nana sambil menangis.


Azka yang masih berada didapur melangkah keluar dan ingin kembali kekamar Laras. Namun, saat berada didepan kamar Nana, ia mendengar suara isakan tangis yang seperti ditahan.


"Apa dia menangis?" kata Azka yang bertanya pada dirinya sendiri.


"Apa aku terlalu kasar padanya?" kata Azka lagi.


Azka yang berhenti didepan kamar Nana, ingin membuka pintu kamar tersebut dan ingin memastikan apa benar Nana menangis, namun saat sudah memegang pegangan yang ada di pintu kamar Nana, ia mendengar Nana kembali berkata.


"Nana, sadarlah, kau tak pantas dengannya, dia itu orang yang tinggi derajatnya dari pada kamu, sedangkan kamu hanya pembantu disini, jadi tak boleh berharap lebih, dia itu majikan mu, sadarlah Nana, sadarlah, buanglah jauh-jauh perasaan bodoh mu" kata Nana yang berbicara kepada dirinya sendiri


Azka yang ingin membuka pintu kamar Nana langsung mengurungkan niatnya, dan berkata didalam hatinya "Nana menyukaiku?".


Nana yang begitu terkejut melihat Azka masuk tanpa permisi dan mengunci pintu kamarnya menjadi berdiri dari duduknya.


Air mata Nana masih ada di pipinya dan Azka melihat itu, Azka yang membawa segelas kopi ditangannya menuju ke samping tempat tidur Nana untuk meletakkan kopi yang ada ditangannya diatas lemari kecil milik Nana, lalu Azka kembali melangkah mendekati Nana yang sedang berdiri.


"Tu..Tuan mau apa?" tanya Nana dengan gugup karena takut.


Namun Azka tidak menjawab, dia hanya terus maju dan menatap kewajah Nana. Ketika sudah berada dihadapan Nana, Azka langsung mengangkat tangan kanannya untuk menghapus air mata Nana yang ada di pipinya.


Nana tidak bersuara, disaat Azka mengangkat tangannya, Nana berfikir Azka akan menamparnya, dia langsung memejamkan kedua matanya, seolah-olah siap untuk ditampar oleh Azka.


"Kenapa kamu memejamkan matamu?" tanya Azka sambil tangannya menghapus air mata di pipi Nana dengan lembut.


Nana tidak menjawab, dia terus memejamkan matanya, kedua tangannya meremas kedua sisi ujung bajunya sendiri.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Azka lagi yang sudah tidak menghapus air mata Nana


Nana tidak menjawab dan tidak berani membukakan kedua matanya.

__ADS_1


"Nana, bukalah mata mu" kata Azka


Nana tidak menjawab tetapi melakukan apa yang dikatakan oleh Azka.


Nana membuka kedua matanya namun dia menundukkan kepala sehingga saat iya membuka mata, lantai kamarnya lah yang pertama dia lihat.


Azka yang melihat itu tanpa meminta izin langsung mencium kening Nana yang sedang menunduk.


"Cup.." suara bibir Azka yang mencium kening Nana


"Nana, lihat aku" kata Azka yang sudah memegang dagu Nana dan mengangkat kepala Nana agar dirinya dapat melihat wajah Nana. Nana yang diperlakukan seperti itu merasa gugup


"A...Ada apa, Tuan, Tu..Tuan kenapa?" tanya Nana yang gugup


"Maafkan aku, aku salah" kata Azka dan langsung memeluk Nana.


"Maaf untuk apa, Tuan?" tanya Nana, dia tidak berani untuk membalas pelukan Azka.


"Maafkan aku, yang tadi kasar pada mu" kata Azka yang masih memeluk Nana.


"Tidak apa-apa, Tuan" jawab Nana


"Balaskan lah pelukan saya, Nana" kata Azka dengan suara lembutnya


"Tapi Tuan, sa...." kata Nana yang terpotong oleh Azka


"Saya mohon" kata Azka yang sudah mengeluarkan air matanya.


Nana merasakan bahunya yang sedikit basah, dan dia yakin bahwa Azka sedang menangis tanpa bersuara, dia pun membalas pelukan Azka.


"Tuan kenapa menangis?" tanya Nana sambil mengelus punggung Azka.


"Aku minta maaf, aku salah, aku tadi begitu cemburu ketika kamu bersikap seolah-olah begitu perhatian dengan teman mu itu" kata Azka yang masih memeluk Nana


"Ya allah, Tuan, saya dengan candra tidak ada hubungan apa-apa, saya bersikap seperti tadi, itu hanya merasa kasihan, jika terjadi sesuatu pada Candra siapa yang akan merawat dan menjaga ibunya" jawab Nana


Azka tidak menjawab, dia terus memeluk tubuh Nana dengan membenamkan wajahnya dileher Nana.

__ADS_1


__ADS_2