rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
14


__ADS_3

Di ruang tamu, Azka berbicara kepada Laras.


"Nona, apa yang Anda berikan sehingga dia begitu dekat denganmu? Dia belum pernah begitu dekat dengan perempuan mana pun, kecuali Bibi Ina dan Nana. Tapi sekarang, Anda sudah diperoleh olehnya sampai memasuki kamarnya. Wahhh... Nona, semoga kalian dipersatukan sampai kejenjang yang lebih serius, ya..." kata Azka, sambil diangguki oleh kedua anak buah Rayyan.


"Azka... apa yang kamu katakan, mau ku ganjar dengan pemotongan gaji" kata Rayyan, yang sudah ada di tangga untuk turun sambil membawa kotak merah milik Laras. Lalu, dia duduk kembali disamping Laras.


"Ini kotaknya, Pak," kata Rayyan lagi, sambil memberikan kotak tersebut kepada Pak Alex.


"Nona Laras, silakan dibuka. Kodenya adalah L.I.N.A, huruf kapital semua, yang merupakan singkatan dari nama Anda," kata Pak Alex, memberitahu Laras.


Laras memasukkan kodenya ke dalam kotak tersebut.


"Klek... klek..." bunyi kotak tersebut mengindikasikan bahwa sudah terbuka.


Laras pun membuka tutup kotak tersebut, dan terkejut lah mereka semua, kecuali Pak Alex yang sudah mengetahui isinya.


"Pak Alex, ini banyak sekali!" kata Laras sambil melihat ke arah Pak Alex.


"Iya, itu semua untukmu, Nona. Mulailah kehidupan baru, ibumu telah menitipkan semuanya padamu," kata Pak Alex.


"Terima kasih banyak, Pak Alex," kata Laras.


"Berterima kasihlah pada Tuan Rayyan, beliaulah yang membantu kita bertemu," kata Pak Alex, sambil menatap wajah Rayyan.


"Terima kasih banyak, Mas," kata Laras kepada Rayyan.


"Sama-sama," jawab Rayyan sambil memandang Laras.


"Sekarang, di mana Pak Alex tinggal? Dan hendak ke mana setelah ini?" tanya Rayyan.


"Saya tinggal di Kota B, dan tugas saya sudah selesai. Beban saya pun sudah tidak ada lagi. Setelah ini, saya tidak akan ada di sini lagi. Saya akan menetap di negara asal istri saya, yaitu Belanda," kata Pak Alex.


"Sekali lagi, terima kasih, Pak Alex," kata Rayyan.


"Sama-sama, Tuan. Saya senang bisa melihat Nona bahagia. Jagalah dia, Tuan Rayyan. Kelak, Tuan akan terbantu oleh keberadaan Nona Laras di samping Tuan," kata Pak Alex, yang sangat dihormati oleh Rayyan, namun Laras kurang mendengarnya karena sedang terfokus pada membaca sertifikat tanah miliknya yang tampak tidak mungkin.


"Kalau begitu, saya pamit," kata Pak Alex, yang sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Tunggu sebentar, Pak," kata Laras sambil menggenggam tangan Pak Alex, lalu memberikan sedikit hadiah berupa berlian yang diambilnya dari dalam kotak merah tadi.


"Terima kasih, Nona Laras," kata Pak Alex.


"Sama-sama, Pak Alex," jawab Laras.

__ADS_1


"Kapan Pak Alex berangkat ke Belanda?" tanya Rayyan, yang juga ikut berdiri.


"Saya dan keluarga saya akan berangkat ke Belanda sore ini, setelah kami bersiap-siap, sekitar pukul 15.00," kata Pak Alex.


"Azka, dan kalian berdua urus semuanya. Bantu Pak Alex untuk berangkat ke Belanda," perintah Rayyan kepada Azka.


"Baik, Bos," jawab Azka.


"Terima kasih banyak, Tuan Rayyan. Saya pamit dulu. Assalamualaikum," ucap Pak Alex.


"Waalaikumsalam," jawab Rayyan dan Laras.


Setelah semua orang pergi, tinggal Rayyan dan Laras di ruang tamu.


Jam menunjukkan pukul 12.00 siang ketika Rayyan dan Laras masih berada di ruang tamu. Tiba-tiba, terlihat bibi dari arah dapur berjalan mendekati mereka.


"Tuan, Nona, makanan sudah siap dan sudah waktunya untuk makan siang," kata bibi kepada mereka.


"Maaf, Bi. Laras lupa membantu Bi memasak makanan," kata Laras dengan penyesalan.


"Tidak apa-apa, Nona," kata bibi sambil tersenyum ramah.


"Terima kasih, Bi," ucap Rayyan dengan rasa terima kasih.


"Iya, Bi," jawab mereka serentak


Laras menutup kotak merah miliknya dan memberikannya kepada Rayyan.


"Mas, bisakah kamu menyimpannya?" kata Laras.


"Mengapa harus aku? Ini untukmu, kamu bisa menggunakannya sesuai kebutuhanmu," kata Rayyan.


"Hmm... Saya bingung mau menyimpannya di mana. Saya takut hilang. Jadi, tolong kamu yang menyimpannya," kata Laras sambil mengulurkan kotak merah tersebut kepada Rayyan.


"Baiklah, jika begitu, aku akan menyimpannya. Tetapi, jika kamu membutuhkannya, ambillah di kamarku," kata Rayyan yang menerima kotak merah tersebut.


Bibi yang mendengarnya tidak terkejut karena dia sudah mengetahui bahwa Rayyan menyukai Laras, jadi wajar saja dia memperbolehkan Laras masuk ke dalam kamarnya.


"Baik, mas. Terima kasih banyak," kata Laras.


"Iya, sama-sama."


Laras dan bibi menuju meja makan dahulu, sementara Rayyan melangkah menuju tangga untuk ke kamarnya dan menyimpan kotak merah milik Laras.

__ADS_1


Laras sudah duduk di meja makan, tetapi bibi tidak ikut makan karena dia sudah makan sebelum memanggil Laras dan Rayyan. Bibi langsung ke kamarnya untuk istirahat sebentar. Laras yang duduk di kursi meja makan belum mengambil makanan karena dia menunggu kedatangan Rayyan, agar mereka bisa makan bersama.


Setelah menunggu selama 10 menit, akhirnya Rayyan pun turun dan menuju meja makan. Rayyan duduk tepat di samping Laras, lalu melihat ke arahnya.


"Kenapa kamu belum makan?" tanya Rayyan kepada Laras.


"Sengaja, mau menunggumu agar kita bisa makan bersama-sama," kata Laras yang sudah berdiri lalu mengambil piring dan mengisi makanan untuk Rayyan.


"Nasinya segini cukup?" tanya Laras kepada Rayyan sambil memperlihatkan nasi di piring ke arah Rayyan.


"Iya, cukup," kata Rayyan sambil melihat wajah Laras tanpa berkedip.


"Mas mau lauk apa?" tanya Laras.


Rayyan tetap diam, tanpa menjawab pertanyaan dari Laras.


Laras mengalihkan pandangannya ke Rayyan, karena dia tidak mendengarkan jawaban dari Rayyan


"Mas, mau lauk yang mana?" tanya Laras


Rayyan, yang terlihat telah menatap wajah Laras, langsung menunjuk ke lauk yang disukainya.


"Hmm, ayam saja," kata Rayyan sambil menunjuk ke lauk yang diinginkannya.


"Ini mas makanannya," kata Laras, menyerahkan piring yang berisi makanan ke hadapan Rayyan.


Kemudian Laras mengambil piring untuk dirinya sendiri dan duduk kembali untuk makan.


"Selamat makan, Mas," kata Laras sambil tersenyum kepada Rayyan yang baru hendak menyuapi makanan ke mulutnya.


"Selamat makan juga," jawab Rayyan sambil segera menyuapi makanan ke mulutnya.


Setelah makan, mereka duduk sebentar di meja makan untuk berbincang.


"Mas, bolehkah aku meminta sedikit berlian dari kotak itu?" tanya Laras.


"Kenapa kamu harus meminta izinku?" tanya Rayyan.


"Nanti setelah saya mengambil berlian itu, saya ingin menjualnya. saya tidak tahu tempat untuk menjualnya, jadi saya membutuhkan bantuanmu. Apakah kamu mau membantu ku Mas, untuk menjualnya?" tanya Laras.


"Baiklah, nanti aku akan membantumu untuk menjualnya," jawab Rayyan sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Terima kasih banyak, Mas," jawab Laras yang juga berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Rayyan langsung menuju tangga menuju kamarnya, sementara Laras berdiri untuk membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor di dapur.


__ADS_2