rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
11


__ADS_3

Setelah Rayyan mengucapkan salam dan mematikan teleponnya, dia kembali mendekati Laras untuk memberitahunya tentang rumahnya yang sekarang.


"Laras, aku mendapat informasi dari anak buahku. Mereka mengatakan bahwa rumahmu sekarang kosong, dan semalam mereka melihat orangtuamu dan saudara tirimu membawa koper. Sepertinya mereka ingin pergi jauh. Apakah kamu tahu kemana mereka biasanya pergi?" tanya Rayyan yang sudah duduk kembali di samping Laras.


"Iya, Mas, saya tahu. Biasanya mereka pergi jalan ke luar negeri setiap bulan. Mereka biasanya berada di sana selama 1 hingga 2 minggu," kata Laras.


"Baiklah," kata Rayyan.


"Ada apa, Mas?" tanya Laras.


"Tidak apa-apa. Kamu jangan memikirkan pertanyaanku ini, aku hanya ingin tahu," pinta Rayyan agar Laras tidak cemas.


"Terima kasih banyak Mas karena sudah mau membantu saya. Setelah ini, saya tidak akan lagi merepotkan mu dan akan pergi dari rumah ini. Terima kasih banyak sudah mau memberikan bantuan kepada saya," ucap Laras sambil melihat wajah Rayyan.


"Bisakah kamu tidak mengucapkan kata-kata itu lagi? Aku tidak suka mendengarnya. Jika kamu merasa berhutang budi padaku, maka tetaplah di sini. Jangan pernah pergi dari rumah ini," bentak Rayyan dengan suara keras kepada Laras sambil menunjuk wajah Laras dengan jari telunjuknya.


Suara keras dan bentakan Rayyan berhasil membuat Laras terkejut. Terlihat dari bahunya yang sedikit terangkat, dan Laras memejamkan kedua matanya.


Setelah Rayyan berkata seperti itu, dia langsung berdiri dan pergi keluar lalu menutup pintu ruangan itu dengan kasar, suara pintu tersebut lagi-lagi membuat Laras terkejut.


Rayyan langsung menuju taman belakang yang terang karena banyak lampu yang dipasang di sana. Dia duduk di kursi taman untuk menenangkan kemarahannya. Setelah beberapa menit, dia menyadari perlakuannya terhadap Laras.


"Mengapa aku jadi begitu marah ketika dia berkata ingin pergi?, apa yang sebenarnya terjadi pada ku?, pasti saat ini dia akan kembali takut untuk menemui ku" kata Rayyan sendiri


"Aaaaaaaaaaaa" teriak Rayyan yang begitu keras melepaskan emosinya.


Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Di dalam ruangan itu, Laras yang ditinggal sendiri hanya bisa menangis. Dia lalu berfikir dan berkata dalam hatinya, "Mengapa dia marah padaku dan membentak ku seperti tadi? Apa ada yang salah dengan kata-kataku tadi?" kata Laras sendiri.


Laras pun keluar dari ruangan tersebut dan menuju kamarnya. Ketika ia baru ingin menutup pintu kamarnya, bibi yang keluar dari kamar Rayyan untuk mengantar baju yang sudah disetrika menyapa Laras.


"Laras," kata bibi memanggilnya.


"Eh, bibi..." kata Laras sambil cepat-cepat menghapus air mata di pipinya.


"Nak, kamu kenapa?" tanya bibi kepada Laras yang melihat air mata Laras.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, Bi. Laras hanya lelah dan ingin istirahat," alasan yang dikatakan Laras sambil tersenyum kepada bibi Ina.


"Baiklah, istirahatlah," kata bibi yang tidak ingin menekan Laras dengan memaksa dia bercerita.


"Laras masuk dulu, Bi. Assalamualaikum," kata Laras kepada bibi dan langsung menutup pintu kamarnya.


"Waalaikumsalam," jawab bibi.


Bibi pun turun hendak menuju kamarnya, namun dia melihat ke arah pintu belakang yang menuju taman terbuka.


Bibi Ina pun turun hendak menuju ke kamarnya, namun dia melihat ke arah pintu belakang yang menuju ke taman terbuka.


"Tadi pintu ini kan sudah saya tutup dan dikunci, kenapa bisa terbuka kembali? Siapa yang pergi ke taman malam-malam begini?" kata Bibi Ina sendiri.


Bibi Ina melangkah ke arah pintu dan ingin menutupnya kembali, namun dari pintu dia melihat Rayyan yang duduk di kursi dan termenung sendiri di taman tersebut. Bibi Ina pun menghampiri Rayyan lalu menyapanya dengan suara lembut agar Rayyan tidak terkejut.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya Bibi Ina mengubah panggilannya ke Rayyan.


"Eh... Bibi, tidak, tidak ada apa-apa, Bi. Rayyan ingin duduk di sini saja," alasan Rayyan.


"Benar kok, Bi. Rayyan tidak bohong. Hanya ingin duduk di sini saja, merasakan angin malam," bohong Rayyan kembali kepada Bibi Ina.


"Baiklah, kalau begitu, Bibi masuk dulu ya. Ingin istirahat di kamar," kata Bibi Ina kepada Rayyan.


"Baik, Bi," jawab Rayyan.


Bibi Ina pun melangkah meninggalkan Rayyan di taman sendiri, namun setelah beberapa langkah meninggalkan taman, Bibi Ina menoleh ke belakang dan mendekati Rayyan kembali.


"Nak, Bibi boleh bertanya," kata Bibi Ina.


"Boleh, Bi. Mau tanya apa, Bi?" jawab Rayyan.


"Tadi Bibi melihat Laras menangis, apa kamu mengetahui kenapa Laras menangis?" tanya Bibi Ina.


"Hmmm... Iya, Rayyan tahu," jawab Rayyan jujur.

__ADS_1


"Apa kamu yang membuatnya menangis, Nak?" tanya Bibi Ina lagi.


"Iya, Bi. Rayyan yang membuatnya menangis," jawab Rayyan kembali jujur dan menundukkan kepalanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Bibi Ina lagi.


"Rayyan tidak sengaja membentaknya, Bi. Dia berkata setelah aku membantunya, dia tidak akan mengganggu ku dan dia akan pergi dari ku," jawab Rayyan terus menunduk.


"Lalu?" tanya Bibi Ina.


"Rayyan tidak bisa mengontrol diri ketika mendengarkan dia ingin meninggalkan Rayyan. Rayyan tak mau kehilangan Laras, Bi," jujur Rayyan ke Bibi Ina.


Bibi Ina tersenyum mendengar Rayyan berbicara seperti itu. Berarti Rayyan sudah membuka pintu hatinya untuk Laras. Dan tanpa sepengetahuan mereka, Nana diam-diam merekam pembicaraan Rayyan yang mengatakan bahwa dia takut kehilangan Laras.


"Jika kamu merasa bersalah, pergilah menemuinya dan minta maaf kepadanya. Meminta maaf bukan berarti kamu mengalah, dan tidak berarti kamu rendah di hadapannya," nasehat bibi kepada Rayyan.


"Aku tidak mau, Bi. Masa harus minta maaf padanya? Dia yang memancing amarahku," kata Rayyan dengan sikap yang seperti anak kecil yang tidak mau mengalah.


"Nak, jika kamu tidak ingin kehilangannya, belajarlah untuk mengalah. Jika kamu terlalu keras kepadanya, bisa-bisa dia takut padamu dan akhirnya meninggalkanmu," kata bibi dengan harapan Rayyan akan terbuka hatinya untuk mengalah kepada Laras.


"Baiklah, Bi. Besok pagi, Rayyan akan bicara dengannya dan minta maaf padanya," kata Rayyan.


"Ya sudah, ayo masuk. Sudah larut malam, tidak baik bagi kesehatan," kata bibi kepada Rayyan.


"Iya, Bi. Ayo," jawab Rayyan yang sudah berdiri dahulu dari Bibi Ina


Keduanya pun masuk ke dalam rumah. Bibi mengunci pintu belakang kembali.


"Bibi, Rayyan kekamar dulu ya, mau istirahat" kata Rayyan


"Iya, pergilah, Bibi juga ingin istirahat dikamar" jawab Bibi


"Assalamualaikum bi" kata Rayyan


"Waalaikumsalam" jawab Bibi

__ADS_1


Rayyan pun menuju tangga untuk kekamarnya begitu juga dengan Bibi Ina yang melangkahkan kakinya menuju kamarnya untuk istirahat


__ADS_2