
Jam menunjukkan pukul 20.30 malam, setelah selesai dengan makan malam, Bibi membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor yang ada, lalu menyiapkan makanan untuk Laras, setelah itu, Bibi keluar dari dapur membawa nampan yang berisi makanan untuk Laras, Bibi melangkah kan kakinya ke arah tangga untuk kekamar Laras.
Sedangkan Rayyan dan Azka duduk diruang tamu, tidak lupa Azka memberitahu bahwa Elang akan datang kesini untuk memberi informasi tentang siapa yang ingin melukai Laras waktu itu.
"Elang akan datang kesini" kata Azka yang langsung tutup poin
"Ada masalah apa?" tanya Rayyan
"Tentang Nona Laras yang ingin dilukai kemaren" jawab Azka santai
"Jam berapa dia kesini?" tanya Rayyan
" Jam 21.00 malam ini" jawab Azka yang lihat kearah jam dinding.
Rayyan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban
"Bibi, apakah makanan itu untuk Laras?" tanya Rayyan yang melihat Bibi keluar dari dapur sambil membawa nampan yang berisikan makanan dan menuju tangga untuk naik kelantai atas
"Iya Tuan, ini untuk Nona Laras" jawab Bibi dan berhenti melangkah
"Biar saya saja, Bi, yang membawa makanan tersebut, saya juga ingin kekamarnya untuk melihat keadaannya" kata Rayyan yang sudah berdiri dari duduknya dan mendekati Bibi.
"Baiklah, kalau begitu, ini makanannya" kata Bibi yang memberi nampan yang berisi makanan itu ke tangan Rayyan.
"Terima kasih Bibi" kata Rayyan dan langsung mengambil nampan yang diberikan Bibi.
"Sama-sama Tuan" jawab Bibi dan Bibi pun langsung kembali ke dapur.
"lo tunggu Elang sampai, setelah itu ajak dia kekamar Laras, gue tunggu kalian disana, kita akan membahas masalah ini dikamar nya, tidak apa-apa, dia juga harus tau, ini menyangkut keselamatannya" kata Rayyan
"Oke," jawab Azka
"Jangan lupa, tutup dan kunci pintu, setelah dia sampai dan masuk" kata Rayyan yang mengingatkan Azka
"Iya" jawab Azka sambil melihat jam yang ada didinding.
Rayyan melangkahkan kakinya menuju kamar Laras, setelah sampai didepan pintu kamar Laras, Rayyan mengetuknya terlebih dahulu
"Tok..Tok..Tok.." suara pintu kamar Laras yang diketuk oleh Rayyan dari luar
"Masuk saja" kata Laras dari dalam kamar yang masih ditemani oleh Nana.
Rayyan membuka pintu kamar Laras lalu menutupnya kembali ketika sudah masuk kedalam kamar Laras.
__ADS_1
"Tuan" kata Nana yang langsung berdiri dari duduknya
"Mas Rayyan" kata Laras
"Ini makan lah, setelah itu minum obat, agar lukamu cepat sembuh" kata Rayyan yang meletakkan nampan berisi makanan tersebut diatas meja kecil disamping tempat tidur Laras.
"Terima kasih, Mas" kata Laras
Rayyan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Rayyan langsung duduk disamping Laras diatas tempat tidur.
"Bagaimana dengan lukamu?, apa masih terasa perih atau sakit?" tanya Rayyan
"Sudah tidak terlalu perih dan sakit lagi" jawab Laras
"Syukurlah kalau begitu, jangan terlalu banyak gerak dulu" kata Rayyan memperingatkan Laras
"Iya Mas" jawab Laras
"Ini, makan lah dulu" kata Rayyan sambil tangannya mengambil semangkuk bubur yang tadi dibawanya, lalu memberikannya kepada Laras
Laras mengambil mangkuk tersebut, namun tidak kunjung menyuapkan bubur itu ke mulutnya.
"Kenapa tidak dimakan?" tanya Rayyan
"Tuan Rayyan, bagaimana Nona Laras bisa makan kalau tangan kirinya tidak bisa digerakkan" kata Nana
"Lalu?" tanya Rayyan yang sedikit binggung.
Nana tidak menjawab dia hanya tersenyum simpul kepada Rayyan dan mengangkat kedua bahunya seakan-akan menjawab bahwa dirinya juga tidak tau
"Baiklah kalau begitu, saya ingin turun ke dapur dulu, untuk membantu Bibi" kata Nana yang langsung melangkah keluar dari kamar Laras tanpa mendengar jawaban Laras dan Rayyan lagi, Nana menutup kembali pintu kamar Laras setelah dia keluar.
Nana yang turun dari tangga melewati ruang tamu, melihat Azka yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Rasa hati ingin sekali mendekatinya, tapi ah..Nana kamu harus sadar diri, harus tau batasan kamu" kata Nana dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Azka
Nana kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju ke dapur, baru beberapa langkah, Azka yang melihat Nana, langsung memanggilnya
"Nana" kata Azka memanggil Nana
"Iya Tuan" jawab Nana yang sudah berhenti dari langkah nya dan menghadap ke Azka yang duduk diruang tamu
"Bisa kesini sebentar?" tanya Azka
__ADS_1
Nana tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya untuk mendekati Azka diruang tamu
"Ada apa Tuan?" tanya Nana yang sudah berdiri disamping Azka.
Azka yang mendapat pertanyaan dari Nana langsung menyimpan ponselnya ke saku celananya dan langsung berdiri dari duduknya.
"Apakah kotak yang aku berikan kemaren sudah kau buka?" tanya Azka yang sudah menghadap kearah Nana.
"Belum Tuan, saya tidak sempat, maaf Tuan" kata Nana yang menundukkan kepalanya
"Tidak apa-apa, nanti bukalah kotaknya, semoga kau suka dengan isinya" kata Azka yang berdiri dihadapan Nana sambil memasukkan kedua tangan kedalam saku celana bagian kiri dan kanan.
"Iya, Nanti saya akan membukakannya" jawab Nana yang masih menundukkan kepalanya.
Azka yang sedikit geram dengan Nana yang terus menunduk, tangan kanannya langsung memegang dagu Nana untuk diangkat agar dirinya dapat melihat dan menatap wajah Nana dengan jelas.
"Jika berbicara dengan ku, angkat lah wajah mu, karena wajahku tidak ada dibawah sana" kata Azka yang masih memegang dagu Nana
"Iya tuan, ma...Maafkan saya" kata Nana yang sedikit gugup karena mata Azka menatap wajahnya
"Tu...Tuan, boleh lepaskan dagu saya?" tanya Nana yang masih sedikit gugup
Azka tidak menjawab pertanyaan Nana, Azka tersenyum melihat wajah Nana yang sedikit memerah mungkin karena malu.
"Tu..Tuan, saya ingin ke dapur untuk membantu Bibi, tolong lepaskan dagu saya ini" kata Nana kembali
Azka tidak menjawab, Azka mendekatkan bibirnya ke kening Nana
"Cup...." suara bibir Azka yang mencium kening Nana
Nana yang mendapat perlakuan seperti itu langsung membulatkan matanya sambil menatap kewajah Azka, seolah meminta penjelasan kepada Azka.
Azka yang mengerti dengan tatap Nana, hanya tersenyum tapi tidak mengeluarkan suara.
"Tu..Tuan, kenapa melakukan itu?" tanya Nana yang dagunya masih dipegang oleh Azka
"Sudah, jangan banyak bertanya, katanya mau ke dapur untuk membantu Bibi disana, pergilah" kata Azka yang sudah melepas kan dagu Nana dari tangan nya.
Nana tak bertanya lagi, ia langsung melangkahkan kakinya dengan cepat kearah dapur, setelah dia merasa dagu nya terlepas dari tangan Azka.
"Dasar pemalu, baru digitukan saja, sudah memerah wajahnya" kata Azka sambil tersenyum.
Azka duduk kembali di sofa yang ada diruang tamu sambil menunggu kedatangan Elang.
__ADS_1