
Sesampainya didepan pintu rumah Rayyan, Azka langsung mengetuk pintu tersebut.
"Tok....Tok....Tok" suara pintu rumah Rayyan yang diketuk oleh azka dari luar
"Assalamualaikum" kata Azka
Namun Azka tidak mendapatkannya jawaban, kemudian Azka mengetuk kembali pintu rumah Rayyan lagi
"Tok...Tok...Tok" suara pintu yang kembali terdengar
"Assalamualaikum" kata Azka lagi
"Waalaikumsalam" jawab Nana dari dalam rumah Rayyan
"Kamu tidak apa-apa, Nana?" tanya Azka langsung memegang kedua bahu Nana yang sedang berdiri didekat pintu yang telah dibukanya
"Alhamdulilah, saya tidak apa-apa?" jawab Nana sambil sedikit terkejut dengan sikap Azka
Brian yang melihat keduanya hanya terdiam dan berkata didalam hatinya "kenapa Azka begitu perhatian dengan Nana?, apa jangan-jangan mereka..." kata Brian yang langsung menatap kearah Azka yang sudah tidak memegang bahu Nana lagi.
Azka yang sadar bahwa saat ini Brian menatap tajam kearahnya
"Kenapa lo menatap gue seperti itu?" tanya Azka kepada Brian
Namun Brian tidak menjawabnya, Brian mengalihkan pandangannya kearah Nana yang berada disamping Azka
Nana sadar bahwa saat ini dirinya sedang ditatap oleh Brian, Nana tidak berani membalas tatapan tajam Brian, dia hanya menundukkan kepalanya
Azka juga melihat tatapan tajam yang diberikan oleh Brian kearah Nana yang sedang menunduk.
"Jaga pandangan dan tatapan lo itu" kata Azka yang tangan kanannya mengalihkan kepala Brian kearah lain
"Apa kalian berdua ini adalah sepasang kekasih?" tanya Brian kepada Azka dan Nana
Namun Azka dan Nana tidak menjawab, mereka hanya saling melihat satu sama lain, dan tanpa sepengetahuan mereka, pembicaraan mereka didengar oleh seseorang dan pertanyaan yang Brian berikan kepada Azka dan Nana pun dijawabnya.
"Iya, mereka sudah menjadi sepasang kekasih" kata Rayyan menjawab pertanyaan Brian sambil berjalan mendekati mereka didepan pintu rumahnya.
"Sejak kapan kalian berdua pacaran?" tanya Brian lagi kepada Azka dan Nana
"Sebelum penyerangan dari anak buah Niel terjadi" jawab Azka sambil melihat kearah Nana yang terus menundukkan kepala.
"Nana, kamu boleh pergi dan kembali kedapur, ada hal penting yang ingin aku bicarakan kepada mereka berdua" kata Rayyan yang mengerti perasaan Nana yang saat ini pasti sedang malu.
"Baik tuan, saya kedapur dulu, permisi" kata Nana yang langsung melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membantu Bibi Ina disana.
"Kalian berdua, duduklah dulu diruang tamu, aku ingin keatas sebentar" kata Rayyan sambil melangkahkan kakinya menuju tangga untuk kekamarnya
__ADS_1
Azka dan Brian tidak menjawab, mereka langsung masuk dan duduk disofa yang ada diruang tamu sambil menunggu kedatangan Rayyan.
"Brian, tumben lo cepat sampainya, biasanya lo yang paling lama" kata Azka
"Sengaja, gue kesini cepat-cepat biar bisa makan disini, gue pengen merasakan masakan dari perempuan itu" kata Brian
"Nona Laras maksud lo?" tanya Azka
"Iya" jawab Brian
"Oke, gue juga belum makan sih, gue pengen jantung hati gue yang memasak makanan untuk gue" kata Azka yang sengaja berbicara seperti itu agar Brian sedikit iri dan mencari pasangan untuk dirinya.
"Nana maksud lo?" tanya Brian yang tidak mengerti maksud Azka yang sengaja berbicara seperti tadi.
"Iyalah, siapa lagi coba" kata Azka
"Gue tidak iri ya sama yang namanya pacaran, gue tidak mau pacaran, jika ketemu dan perempuan itu nerima gue, gue langsung nikahin aja" kata Brian
"Wihhhhhh.....Keren sahabat gue nih...." kata Azka sambil menepuk bahu kiri Brian
"Iyalah, biar langsung tidak bisa diambil orang lagi" tambah Brian
"Niat gue juga gitu, pengen cepat-cepat nikahi Nana" kata Azka sambil menundukkan kepalanya.
"Gue dukung tu kalau itu, langsung aja lo tanya sama orangnya, coba aja dulu" kata Brian
"Nah gitu dong, jadi laki-laki harus berani" kata Brian sambil menepuk bahu kanan Azka
"Terima kasih sahabatku " kata Azka
Brian hanya anggukan kepala sambil tersenyum kecil.
Ditempat lain, Rayyan yang baru sampai didepan pintu kamar Laras langsung mengetuk pintu tersebut.
"Tok...Tok... Tok" suara pintu kamar Laras yang diketuk oleh Rayyan dari luar
"Bee..., apa kamu sudah bangun?" tanya Rayyan kepada Laras dari luar
Namun Rayyan tidak mendapatkan jawaban dari Laras didalam.
"Bee...." kata Rayyan yang masih memanggil Laras dari luar kamar Laras.
Namun lagi-lagi Rayyan tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Rayyan membuka pintu kamar Laras yang memang tidak dikunci
Rayyan melihat Laras yang masih tertidur diatas tempat tidurnya.
"Pantas saja aku panggil kamu tidak menjawab, Bee, ternyata kamu masih tidur" kata Rayyan yang melangkah masuk kedalam kamar Laras dan kembali menutup pintu kamar tersebut.
__ADS_1
Rayyan melangkahkan kakinya untuk mendekati Laras yang masih tertidur pulas diatas tempat tidurnya.
"Kasian kamu, Bee, pasti kamu lelah sekali, tapi ini sudah tidak pagi lagi, aku akan membangunkannya" kata Rayyan yang sudah duduk ditepi tempat tidur Laras sambil melihat kearah wajah Laras yang masih tertidur.
"Bee....Sayang, ayo bangunlah, sudah jam 10.00 pagi, Bee" kata Rayyan sambil mengelus kepala Laras agar laras terbangun dari tidurnya
Laras merespon hanya dengan menarik selimutnya hingga menutupi setengah wajahnya
Rayyan yang melihat tingkah lucu Laras hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Bee...Ayo bangun sayang, jam segini sudah tidak bagus lagi untuk tidur, sayang" kata Rayyan yang lagi-lagi sengaja mengelus kepala Laras dan membuka selimut yang menutupi sebagian wajah Laras agar terbangun dari tidurnya
"10 menit lagi ya, Mas" kata Laras yang masih memejamkan matanya.
"Bee...Ini sudah jam 10.00, Bee" kata Rayyan
Laras tidak lagi merespon ucapan Rayyan, Laras kembali menarik selimut hingga kembali menutup sebagian wajahnya dan Laras kembali tertidur.
Rayyan yang melihat itu tidak lagi membangunkan Laras, Rayyan melangkahkan kakinya menuju kekamar mandi yang ada dikamar Laras ini, Rayyan mengisi bathtub yang ada disana dengan air hangat, setelah dirasanya cukup, Rayyan menutup kran air tersebut kembali.
Rayyan keluar dari kamar mandi Laras dan melangkahkan kakinya mendekati tempat tidur untuk kembali membangunkan Laras.
"Bee......Sayang....Bangun dulu setelah itu kamu mandilah, airnya sudah ku siapkan dikamar mandi" kata Rayyan sambil mengelus kepala Laras
Namun Laras tidak merespon sama sekali apa yang diucapkan oleh Rayyan
"Baiklah, kalau begini, jangan salahkan aku, Bee" kata Rayyan yang langsung membuka selimut yang menutupi tubuh Laras dan mengangkat tubuh Laras, Rayyan membawa Laras menuju kekamar mandi yang ada didalam kamar Laras.
"Mas!?," kata Laras yang sedikit terkejut karena tubuhnya diangkat oleh Rayyan
"Kenapa?" tanya Rayyan yang masih terus melangkah menuju kekamar mandi dengan mengangkat tubuh Laras.
"Oke-oke, saya mandi, Mas bisa turunkan saya" kata Laras
"Sudah terlambat, Bee" kata Rayyan dengan wajah yang dibuat seserius mungkin
"Mas, jangan macam-macam, turunkan saya, saya janji akan mandi" kata Laras yang memohon kepada Rayyan
"Oke, baiklah, janji langsung mandi ya" kata Rayyan yang masih belum menurunkan tubuh Laras
"Iya, janji" kata Laras
"Baiklah, kalau begitu saya keluar dulu, langsung mandi ya, Bee" kata Rayyan sambil menurunkan tubuh Laras
"Iya, Mas" jawab Laras yang sudah berdiri dengan benar
Rayyan pun keluar dari kamar mandi Laras, dan membiarkan Laras untuk mandi dahulu
__ADS_1