
Sementara itu, Bibi merasa sangat khawatir karena Laras tak kunjung kembali. "Bibi, biarlah Rayyan saja yang melihat Laras," kata Rayyan seolah-olah memahami kekhawatiran Bibi.
Dia berdiri dan melangkah menuju ruang Lexi. Saat sudah mendekati ruangan, Rayyan melihat pintu terbuka lebar. Tanpa ragu, Rayyan masuk ke dalam dan melihat Laras tertidur dengan tenang di atas perut Lexi.
"Rupanya kau tertidur, pantas saja lama sekali," kata Rayyan sambil tersenyum. Lexi pun terbangun dan memandang ke arah Rayyan.
"Apakah kau menyukainya?" tanya Rayyan sambil mendekati Lexi dan mengelus kepala Lexi. Seperti ada ikatan batin di antara keduanya, Lexi pun meraih tangan Rayyan seolah memberikan jawaban.
"Dia sudah tidur, kami harus kembali ke atas sekarang. Lain kali kalian pasti bisa bermain lagi," kata Rayyan sambil berusaha meyakinkan Lexi.
Lexi pun melipat tangannya dan menutup matanya dengan manis.
Rayyan dengan sangat hati-hati mengangkat tubuh Laras, agar tidurnya tidak terganggu, kemudian membawanya keluar dari ruangan Lexi. Setelah menutup pintu ruangan dengan kakinya, Rayyan membawa Laras ke sofa tempat bibi dan Nana menunggu. Bibi dan Nana terkejut melihat Laras diangkat oleh Rayyan, mereka awalnya mengira bahwa Lexi melukai Nana, tetapi kemudian menyadari dari kode yang diberi oleh Rayyan bahwa Laras hanya tertidur. Mereka dengan cepat mengerti situasinya dan menuju tangga untuk keluar dari sana.
Setelah mereka keluar, bibi dan Laras langsung menuju kamar masing-masing, sedangkan Rayyan membawa Laras ke kamar tidurnya agar bisa istirahat dengan nyaman. Bibi dan Nana berbicara saat mereka berjalan menuju kamar mereka.
"Bibi, kelihatannya mereka cocok ya. Dan tuan sepertinya menyukai Laras," kata Nana.
"Doakan saja mereka segera menikah dan bahagia selamanya," kata bibi.
"Iya, bibi. Nana masuk dulu ya, butuh istirahat, lelah sekali" kata Nana.
"Eh, Nana, apakah lampu dapur sudah dimatikan?" tanya bibi.
"Sudah, bibi. Saat kita mau pergi ke ruangan rahasia tadi, aku memastikannya," kata Nana.
"Oh, baiklah. Ayo, kita masuk dan istirahat," ajak bibi.
"Ayo," jawab Nana.
Mereka masuk ke dalam kamar masing-masing dan menutup pintu kamar mereka.
__ADS_1
Di kamar Laras, untungnya pintu kamarnya tidak tertutup rapat, sehingga Rayyan mudah membukanya. Rayyan dengan lembut meletakkan tubuh Laras di tempat tidur agar tidak terganggu.
"Kau cantik, baik, dan juga lembut. Aku mohon jangan pernah pergi dariku. Ini adalah kali pertamanya aku membuka hatiku untuk seorang perempuan, jadi aku berharap kau tidak akan mengecewakanku," ucap Rayyan sambil menyelimuti tubuh Laras dan mematikan lampu. Kemudian, ia menghidupkan lampu tidur.
Rayyan melangkah keluar dari kamar Laras dan tidak lupa menutup pintu kamar kembali.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Setelah Rayyan menutup pintu kamar Laras, dia melangkah menuju kamarnya untuk istirahat, melewati kamar yang ditempati oleh Lucy dan Lacy. Hatinya terarah untuk sebentar melihat mereka. Ketika Rayyan membuka pintu kamar tersebut, terlihat Lucy menggigit kain putih, diikuti oleh Lacy dari belakang. Mereka berjalan ke arahnya untuk memberikan kain itu kepadanya.
Rayyan tahu apa artinya mereka memberikan kain putih itu kepadanya.
"Aku berjanji akan berusaha membuatnya nyaman dengan keberadaan ku. Aku ingin menikahinya, tapi aku takut dia menolak ku. Dan jika dia sudah menjadi milikku, dia akan menjadi incaran musuh-musuhku karena menganggap dia sebagai kelemahanku. Aku tidak ingin dia dalam bahaya, terutama jika dia terluka," kata Rayyan yang berjongkok sambil mengelus kedua kucingnya, lalu meletakkan kembali kain itu ke tempatnya.
"Kalian tidurlah, aku ke kamar dulu. Aku ingin istirahat. Besok aku harus masuk kerja," kata Rayyan yang sudah melangkah keluar dan menutup pintu kamar tersebut.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi. Laras sudah berada di dapur bersama bibi dan Nana, menyiapkan sarapan dan meletakkannya di atas meja makan. Rayyan yang sudah siap dengan setelan jas yang membuatnya terlihat tampan membuat Laras tak berkedip. Untungnya, bibi yang melihat hal itu langsung menyenggol tangan Laras yang sedang menatap Rayyan.
"Nona, saya tahu nona mengagumi Tuan Rayyan," kata bibi.
Lagi dan lagi, bibi dan Nana diminta Laras untuk makan bersama mereka, dan permintaan tersebut disetujui oleh Rayyan.
Setelah mereka selesai makan, Bibi dan Nana langsung mencuci piring kotor. Rayyan berdiri dan melangkah menuju ruang tamu. Laras, yang ingin ke kamar, dipanggil oleh Rayyan untuk duduk sebentar di ruang tamu.
"Laras, kesini sebentar," panggil Rayyan yang sudah duduk di sofa.
"Iya mas, ada apa?" tanya Laras yang sudah mendekati Rayyan.
"Aku mau mengajakmu untuk melihat rumahmu. Ayah, ibu, dan kakak tirimu akan pulang hari ini," kata Rayyan.
"Tapi saya takut mas, saya tidak berani menemui mereka, apalagi berbicara dengan mereka," kata Laras.
"Aku kan sudah janji padamu, aku akan ikut menemanimu dan membawa Azka serta anak buahku," kata Rayyan.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu," jawab Laras.
"Nanti siang jam 02.00, kita berangkat. Aku akan menjemputmu, jadi bersiap siaplah," pinta Rayyan yang sudah berdiri untuk pergi ke kantornya.
"Baik mas," jawab Laras.
Rayyan melangkah menuju pintu keluar dan diikuti oleh Laras. Setelah menganggukkan kepalanya ke arah Laras seolah berpamitan, Rayyan masuk ke mobil yang ada Azka, sang asisten pribadi dan juga sebagai sekretaris pribadi yang menjadi sopirnya.
Melihat mobil yang membawa Rayyan sudah melaju kencang, Laras pun masuk ke rumah.
Didalam perjalanan kekantor, Azka terlihat sedikit marah kepada Rayyan
"Dasar lo ya, gue tungguin lo di markas, katanya mau datang tadi malam" kata Azka seolah mengingatkan Rayyan dengan janjinya sendiri
"Sorry, gue lupa, tadi malam gue keruang rahasia" kata Rayyan
"Sendiri?" tanya Azka yang sedikit curiga
"Gue bawa Bibi, Nana dan gadis itu" kata Rayyan
Tanpa sengaja Azka menginjak rem mobilnya, karena mendengar Rayyan membawa orang lain masuk ke ruang rahasianya
"Lo mau bunuh gue atau apa?" tanya Rayyan yang sedikit kesal karena hampir saja wajahnya menghantam kursi depan yang diduduki oleh Azka
"Sorry-sorry, gue nggak sengaja, tapi tunggu, gue nggak salah dengar ni, lo bawa gadis itu?" tanya Azka kembali karena merasa kurang yakin
"Iya," jawab Rayyan singkat
"Lo suka sama tu gadis?" tanya Azka yang kembali menjalankan mobilnya menuju kantor Rayyan
"Entahlah, yang gue rasa saat bersamanya, hati ini menjadi lebih tenang dan rasanya begitu nyaman" kata Rayyan.
__ADS_1
Setelah Rayyan berkata seperti itu, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka hingga tak terasa mereka telah sampai didepan kantor yang menjulang tinggi milik Rayyan.