
# flashback on
Di dalam kamar Bibi Ina, Rayyan menceritakan semuanya bahwa ia akan membantu Laras untuk mendapatkan alamat yang ada di rumahnya. Nana juga berada di kamar itu, karena selain sahabat sahabat Rayyan, Bibi Ina dan Nana juga mengetahui pekerjaan Rayyan selain sebagai seorang CEO.
"Nak, apa kamu yakin dengan keputusan mu?" tanya bibi, memanggil Rayyan dengan panggilan 'nak' atau nama saja karena Rayyan lah yang memintanya
"Iya, Tuan. Apa Tuan yakin? bahwa tuan akan membantunya?" tambah Nana.
"Iya, aku yakin. Entah mengapa, keinginanku untuk melindunginya begitu kuat," kata Rayyan sambil menatap lurus ke depan.
Bibi, Ina, dan Nana saling pandang dan tersenyum, lalu beralih memandang ke arah Rayyan yang masih menatap lurus ke depan.
Bibi berharap dan berkata dalam hatinya, "Semoga ini adalah langkah awalmu, nak, untuk membuka hatimu pada seorang perempuan. Bibi yakin bahwa kamu anak yang baik."
Nana juga berharap semoga tuannya dan perempuan itu bisa bersatu. "Semoga Laras dapat membuat tuan jatuh hati padanya," kata Nana dalam hatinya.
"Tapi aku takut nanti dia akan ketakutan setelah mengetahui siapa aku sebenarnya," kata Rayyan sambil menunduk.
"Entahlah, aku pun tidak tahu mengapa aku jadi selemah ini. Aku hanya takut dia disakiti orang lagi," kata Rayyan sambil melihat ke arah bibi dan Nana.
"Nak, malam ini kamu harus memberitahu semuanya kepada Laras. Bibi akan menemani kamu, tapi berusahalah menyakini dia. Berbicara dengan lembut padanya, karena bibi yakin trauma masa lalunya pasti sangat membekas," pujuk bibi kepada Rayyan
"Iya, bibi. Saya akan membantu sebisa saya," tambah Nana.
"Baiklah, bibi, Nana. Malam ini saya akan memberitahu semuanya kepada Laras," kata Rayyan.
Lalu, Rayyan melangkah keluar dari kamar bibi dan menuju ke kamarnya. Hanya Nana yang masih berada di kamar bibi.
"Bibi, Nana yakin tuan pasti sudah mulai membuka hatinya untuk perempuan itu. Semoga saja Laras bisa menerima kenyataan bahwa yang menyelamatkan dirinya adalah seorang mafia," kata Nana sambil melihat ke arah bibi.
"Iya, Nana. Bibi juga yakin bahwa dia sudah mencintai Laras karena tak pernah dia mempermasalahkan pekerjaannya seperti ini kepada seorang perempuan, apalagi yang baru dikenalnya. Berbeda dulu dengan kita," kata bibi sambil tersenyum.
"Baiklah, Nana. Ayo, Nana pergi dulu ke dapur. Aku sangat lapar... hihihihi," kata Nana yang melangkah keluar dari kamar bibi.
__ADS_1
# flashback off
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 malam, di ruangan itu sudah berkumpul Bibi, Rayyan, tiga orang anak buah Rayyan, dan Laras yang masih terkejut duduk di atas kursi.
"Maaf, semuanya. Nana terlambat," kata Nana yang tiba-tiba datang dari pintu masuk.
"Nana, apakah kamu juga sudah tahu bahwa Tuan Rayyan adalah seorang mafia?" kata Laras sambil memandang ke arah Nana.
"Iya, Nona Laras. Maaf ya, saya tidak bisa menceritakan semuanya padamu, saya tidak berani Nona dan juga bukan hak saya untuk menceritakan ini semua" jawab Nana sambil menunduk.
"Tidak apa-apa, Nana. Kamu tidak bersalah," kata Laras sambil melihat ke arah Rayyan dan langsung menunduk.
"Maafkan aku, Laras. Aku hanya ingin melindungi mu. Percayalah, aku tidak akan menyakitimu. Dan aku memohon kepadamu, jangan memberitahukan semua ini kepada orang lain," kata Rayyan membelakangi semua orang.
"Baiklah, saya berjanji tidak akan mengungkapkan semua ini kepada orang lain atau kepada siapapun, tetapi setelah kamu membantu saya mencari alamat Pak Alex, saya akan pergi dari sini. Saya tidak ingin membebani kamu," ucap Laras.
Kata-kata yang keluar dari mulut Laras berhasil membuat Bibi Ina dan Nana terkejut. Rayyan tidak menjawab, dia tetap tenang, tetapi hatinya berbeda. Aku tidak akan membiarkanmu pergi satu langkah pun dari kehidupanku, karena hanya kamu perempuan yang pernah aku bawa ke rumah dan satu-satunya perempuan yang aku beritahu jati diriku sebenarnya, kata Rayyan dalam hatinya.
"Baiklah," Laras mengambil alat yang diberikan oleh Rayyan dan meletakkannya di telinganya.
"Kalian bertiga, ini Laras, orang yang sudah ku kisahkan tadi," kata Rayyan kepada anak buahnya.
"Selamat malam, Nona," sapa mereka kepada Laras yang masih duduk di kursi.
"Iya, selamat malam," jawab Laras sambil melihat ke arah anak buah Rayyan.
"Di telinga salah satu dari mereka sudah terhubung dengan alat seperti yang kamu pakai. Kamu tinggal bicara saja, nanti mereka akan melakukan apa perintahmu ketika mereka berada di rumah orang tuamu," jelas Rayyan.
"Bagaimana caranya saya mengarahkan mereka? Saya tidak bisa melihat posisi mereka nantinya," tanya Laras yang masih duduk di kursi.
"Di jas salah satu di antara mereka sudah ada kamera kecil, kita bisa melihat posisi mereka nanti," jelas Rayyan.
"Baiklah, saya mengerti," kata Laras.
__ADS_1
Rayyan tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala sekali.
"Kalian bertiga, pergilah ke alamat ini. Ini rumah yang harus kalian masuki," kata Rayyan sambil memberikan selembar kertas berisi alamat yang telah ditulis oleh Laras.
"Siap, bos," jawab mereka setelah mengambil kertas tersebut, lalu segera pergi.
Bibi Ina, Nana, Rayyan, dan Laras yang masih berada di ruangan itu terdiam. Tak ada yang mengucapkan sepatah kata pun. Rayyan hanya menatap Laras, yang memandang ke depan melihat senjata api yang tersusun rapi di dinding ruangan.
Setelah beberapa menit, bibi Ina dan Nana meminta izin untuk pergi ke kamar masing-masing untuk istirahat.
"Kalau begitu, kami ke kamar dulu. Kami ingin istirahat," kata Bibi.
"Iya, Bi. Silakan. Terima kasih banyak, Bibi," ucap Rayyan.
"Iya, sama-sama," jawab Bibi dan Nana sambil tersenyum mengangguk.
"Bibi, maukah bibi temani Laras disini sebentar lagi?" tanya Laras memelas
"Kamu tidak perlu takut nona, tuan muda akan menjaga mu dan tidak akan menyakitimu" jawab bibi yang seolah olah mengerti mengapa Laras meminta nya untuk menemani dirinya di ruangan sekarang ini
Laras tidak menjawab, dia hanya mengangguk dan melihat sebentar kearah Rayyan dan langsung menunduk kembali
"kalau begitu bibi dan Nana kekamar kami dulu, kami ingin istirahat" kata bibi
"iya bi" kata Laras sambil melihat kewajah Rayyan lalu kembali menunduk
Di dalam ruangan itu, tinggallah Laras dan Rayyan. Laras mencoba mengumpulkan keberanian untuk bertanya kepada Rayyan mengapa dia bersedia membantu mencari alamat Pak Alex dan begitu ingin melindungi dirinya.
"Mengapa Anda ingin melindungi dan membantu saya?" tanya Laras dengan tegas.
Rayyan menatap Laras dan berkata, "Aku tidak dapat memberikan alasan yang tepat, tetapi aku hanya ingin melindungi mu."
Setelah Rayyan mengucapkan kata-kata itu, suasana menjadi sunyi tanpa ada lagi pembicaraan di antara mereka.
__ADS_1