rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
36


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam, Elang sudah berada didepan pintu rumah Rayyan dan langsung mengetuk pintu tersebut


"Tok...Tok...Tok" suara pintu yang diketuk oleh Elang dari luar


"Assalamualaikum" kata Elang


"Waalaikumsalam" jawab Azka dari dalam rumah


Azka melangkahkan kakinya menuju pintu untuk membuka pintu dan membiarkan Elang masuk.


"Masuklah" kata Azka kepada Elang


"Baik Tuan, terima kasih" jawab Elang, ia pun masuk kedalam rumah Rayyan.


Azka kembali menutup dan mengunci pintu sesuai perintah Rayyan tadi


"Dimana Bos Rayyan?" tanya Elang kepada Azka yang sudah berada disampingnya


"Bos Rayyan menunggu kita diatas" kata Azka yang langsung melangkah menuju tangga untuk kelantai atas.


Elang yang mendapat jawaban tersebut langsung mengikuti langkah kaki Azka menuju tangga.


Saat di tangga, Azka tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Ada apa Tuan?" tanya Elang kepada Azka


"Kamu pergi lah dulu kekamar Nona Laras, Bos menunggu disana" kata Azka


"Tuan Azka, saya tidak tau dimana kamar Nona Laras" jawab Elang


"Oh iya saya lupa, sebentar saya panggilkan Bibi, biar Bibi yang mengantar mu kesana" kata Azka


"Baik Tuan" jawab Elang


Azka kembali turun dari anak tangga, ia melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk mencari Bibi Ina


Sesampainya di dapur, Azka melihat Bibi dan Nana yang sedang membuat kue.


"Assalamualaikum" kata Azka yang sengaja mengucapkan salam agar Nana dan Bibi tidak terkejut


"Waalaikumsalam" kata Nana dan Bibi serentak


"Ada apa Nak?" tanya Bibi Ina kepada Azka yang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Bibi, bisakah kau menolongku sebentar?" tanya Azka


"Bisa Nak, apa yang bisa Bibi tolong?" tanya Bibi kembali


"Tolong antarkan Elang kekamar Laras, Bi" kata Azka


"Elang?" tanya Bibi kepada Azka


"Iya, Elang adalah anak buah Tuan Rayyan, dia datang kesini ingin bertemu dengan Tuan Rayyan, tadi saya sudah memberitahukan ini kepada Tuan Rayyan, katanya dia menunggu dikamar Laras, Bibi bisa mengantarkannya sebentar?" tanya Azka kembali kepada Bibi

__ADS_1


"Bisa, sekarang dimana dia?" tanya Bibi


"Dia ada ditangga menunggu Bibi disana" kata Azka


"Baiklah, Bibi akan mengantarnya kekamar Laras" kata Bibi


"Terima kasih, Bibi" kata Azka


"Iya, sama-sama, Nak Azka" jawab Bibi


"Nana, kamu lanjutkan dulu buat kuenya, ini tinggal satu kali panggang lagi, setelah itu selesai" kata Bibi


"Iya Bibi," jawab Nana sambil tersenyum


"Bibi tinggal ya?" kata Bibi lagi


"Iya, Bibi, pergilah" kata Nana sambil menganggukkan kepalanya.


Bibi pun melangkahkan kakinya keluar dari dapur menuju tangga dimana Elang menunggu dirinya.


Sedangkan didapur, Nana yang terus dipandang oleh Azka, menjadi sedikit gerogi, tanpa sengaja Nana memegang pemanggang tersebut tanpa menggunakan sarung tangan.


"Aw....Panas sekali" kata Nana sambil meniup-niup tangannya yang memerah.


Azka yang melihat itu langsung mendekati Nana dan memegang tangan Nana yang terkena pemanggang tersebut.


"Kenapa kamu ceroboh sekali, Nana!" kata Azka dengan sedikit tegas sambil meniup-niup tangan Nana.


Nana hanya diam tidak berani menjawab perkataan Azka, dia juga sedikit terkejut dengan sikap Azka yang begitu perhatian kepadanya.


"Aku tau, aku ini tampan, tapi jangan ditatap seperti itu juga, aku tidak akan hilang" kata Azka yang berbicara tetapi tidak melihat kearah Nana


Nana yang ketahuan telah menatap wajah Azka, langsung menundukkan wajahnya.


"Apa tangan mu masih terasa panas atau sakit?" tanya Azka yang masih memegang tangan Nana.


"Sedikit panas, tapi tidak apa-apa, nanti akan hilang sendiri" kata Nana


"Pegang lah telinga ku, biasanya kalau begitu panasnya akan hilang" kata Azka sambil mengarahkan tangan Nana untuk memegang telinganya.


Nana tidak menjawab, dia hanya diam dengan perhatian yang diberikan oleh Azka, tetapi setelah beberapa detik, Nana tersadar bahwa tangannya saat ini memegang telinga Azka.


"Tu...Tuan, tolong lepaskan tangan saya, ini tidak sopan" kata Nana sambil menunduk


"Tidak apa-apa, apa masih terasa panas?" tanya Azka


"Sudah tidak lagi Tuan" jawab Nana


"Syukurlah kalau begitu" kata Azka yang langsung menurunkan tangan Nana namun masih digenggamnya.


"Tu...Tuan, tolong lepaskan tangan saya, saya ingin melihat kue itu, takutnya gosong" kata Nana


Azka langsung melepaskan tangan Nana, Nana yang tangannya sudah terlepas dari genggaman Azka langsung membalikkan tubuhnya untuk melihat kue yang dipanggangnya lalu mengangkatnya ketempat yang telah disediakan oleh Bibi Ina sebelumnya.

__ADS_1


"Untung tidak gosong" kata Nana dengan memelankan suaranya dan tanpa Nana pedulikan bahwa Azka yang dibelakanginya.


"Boleh aku mencobanya?" tanya Azka tepat ditelinga kanan Nana sehingga nafas Azka terasa dilehernya.


Nana tidak menjawab dengan suaranya, dia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Azka yang mendapat izin dari Nana, langsung mengambil kue yang baru diangkat oleh Nana.


"Aw.....Panas, panas sekali" kata Azka


"Sudah tau itu baru diangkat, ya tentu masih panas" kata Nana sambil memilih kue yang sudah dingin


"Ini, kalau yang ini sudah dingin" kata Nana sambil memberikan kue tersebut kepada Azka


"Kamu juga salah, kenapa tidak memperingatkan saya kalau kue itu panas" kata Azka yang tidak mau mengalah


"Bagaimana saya mau memberitahu, Tuan, kalau Tuan saja langsung ambil saja" kata Nana


"Tapi kamu sudah memberi izin saya untuk mengambilnya" kata Azka


"Iya, memang saya mengizinkan Tuan Azka untuk mengambilnya, tapi saya kira Tuan mengambil yang sudah dingin, bukan yang baru saya angkat" kata Nana lagi


"Oke....Oke, aku salah" kata Azka sambil memasukkan kue pemberian Nana kedalam mulutnya.


Nana tidak menjawab.


"Apa masih banyak?" tanya Azka


"Sekali panggang lagi" kata Nana yang berpindah dari tempat pemanggang ketempat mencuci piring karena ia mau mencuci peralatan yang sudah tidak digunakan.


"Apa aku boleh menemani mu?" tanya Azka


"Untuk apa?" tanya Nana kembali


"Tidak ada apa-apa, hanya ingin menemani kamu saja" jawab Azka yang memasukkan kue kedalam mulutnya sendiri


"Bukannya Tuan Azka, Tuan muda Rayyan dan Elang akan membahas hal penting, kenapa Tuan Azka malah ingin menemani saya, nanti Tuan Azka akan dimarahi oleh Tuan muda Rayyan jika tidak ada disana" kata Nana sambil tangannya sibuk mencuci peralatan


"Tidak apa-apa" kata Azka dengan santainya.


"Terserah Tuan saja" kata Nana


Setelah beberapa menit, kue yang terakhir dipanggang pun sudah matang, Nana mengangkat kue tersebut agar dingin, lalu membereskan semuanya.


Setelah selesai, Nana membuat air dan memindahkan kue yang sudah dingin ke piring lalu meletakan semuanya ke nampan agar memudahkan ia membawa semuanya kekamar Laras, Azka yang melihat Nana akan meninggalkan dapur sambil membawa nampan di tangannya langsung mengikuti Nana dari belakang.


"Kamu mau kekamar nona Laras kan?" tanya Azka


"Iya Tuan" jawab Nana sambil terus melangkah


"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Azka yang sudah memegang bahu kanan Nana dari belakang tepat didepan kamar Nana.


Nana yang bahunya dipegang oleh azka langsung berhenti melangkah.

__ADS_1


"Bicara tentang apa, Tuan?" tanya Nana


Azka tidak menjawab pertanyaan Nana, tetapi dia membawa Nana masuk kekamar Nana


__ADS_2