
Jam sudah menunjukkan pukul 00.00 malam, Azka yang sudah keluar dari kamar Nana langsung menaiki tangga untuk kembali kekamar Laras
Sesampainya dikamar Laras, Azka langsung membuka pintu kamar Laras, dan terlihat diatas tempat tidur, Laras sudah tertidur ditemani oleh Bibi Ina, Azka menoleh pandangannya kearah sofa dan terlihat Rayyan yang masih duduk di sana bersama Elang, Azka pun melangkah mendekati mereka.
"Lo lama sekali buat kopinya, apa dapurnya terlalu jauh?, kalau begitu, sepertinya dapur harus gue pindahin dilantai dua ini saja, agar lebih dekat" kata Rayyan sengaja menyindir Azka dan sambil melihat kearah Azka yang sedang melangkah mendekati mereka.
Azka yang mendapat sindiran dari Rayyan hanya diam saja dan duduk disamping Elang.
Setelah Azka duduk, Elang pun berpamitan ingin kembali kemarkas
"Baiklah ,Tuan, Bos, kalau begitu, saya akan kembali kemarkas, jika ada sesuatu yang terjadi di markas, saya akan memberitahukannya kepada kalian" kata Elang yang sudah berdiri dari duduknya.
"Baiklah, masalah ini ku serahkan padamu, mintalah Candra untuk cari tahu juga, kenapa Niel ingin melukai Laras, dan mengapa dia berani menganggu orang terdekat ku" kata Rayyan yang masih duduk.
"Baik, Bos" kata Elang yang menundukkan kepalanya sebentar lalu menegakkannya kembali.
"Pergilah" kata Rayyan
"Baik, assalamualaikum" kata Elang dan langsung melangkahkan kaki menuju pintu kamar Laras untuk keluar tak lupa Elang menutupnya kembali.
"Waalaikumsalam" jawab Rayyan dan Azka serentak.
Bibi yang duduk menemani Laras tidur melihat Elang keluar, dia pun mengikuti langkah kaki Elang keluar, karena akan menutup pintu depan dan juga menguncinya setelah Elang keluar dari rumah.
Laras yang sudah tertidur tidak menyadari bahwa Bibi dan Elang sudah keluar.
Disofa kamar Laras, Azka duduk sambil meminum kopinya langsung tersedak mendengar pertanyaan dari Rayyan
"Sudah lo pujuk jantung hati mu itu" kata Rayyan sambil meminum air yang tadi dibawa oleh Nana.
"Uhuk...Uhukk....uhukkk..." suara Azka yang tersedak
"Maksudnya?" kata Azka yang bertanya kepada Rayyan sambil melihat ke wajahnya dengan tangan masih memegang gelas kopi yang tadi dibawanya.
"Lo pikir, gue tidak melihat kejadian lo dan Nana didapur?" tanya Rayyan kepada Azka
__ADS_1
"Jadi lo ada memasang CCTV di dapur?" tanya Azka sambil meletakkan gelas kopi yang dipegangnya ke atas meja.
"Gue yang bertanya, kenapa balik bertanya, Azka" kata Rayyan dengan santainya
"Gue serius, Tuan Rayyan yang terhormat, lo ada masang CCTV didapur?, kapan" kata Azka yang kembali mengulangi pertanyaannya kepada Rayyan
"Bukannya lo yang mencari orang untuk memasang CCTV dirumah ini?, dan lo juga yang membantu orang tersebut untuk memasang CCTV di rumah gue ini kemaren" kata Rayyan yang mengingatkan Azka sambil kembali meminum minuman yang ada ditangannya.
"Gue lupa" kata Azka yang kembali mengambil segelas kopi yang tadi diletakkannya diatas meja dan meminum kopi tersebut.
"Bagaimana?" tanya Rayyan kembali
"Bagaimana apanya?" tanya Azka yang kembali meletakkan gelas kopi miliknya keatas meja.
"Azka, apa perlu gaji lo gue potong dulu baru lo akan menjawab dan paham apa yang gue maksud dengan kata 'bagaimana' itu?" kata Rayyan yang sengaja sedikit mengancam Azka sambil melihat ke arah Azka dengan tajam.
"Lo mah gitu, kurang asik lo, ancamannya sangat membuat gue galau, coba saja ancamannya di skorsing, tidak masuk kerja selama seminggu, pasti dengan senang hati gue terima," kata Azka sambil menyandarkan tubuhnya kesandaran sofa seolah-olah dia begitu putus asa.
"Enak di lo, tak enaknya di gue, kerjaan kantor numpuk, jadi jangan macam-macam lo mau cuti atau kemana pun" kata Rayyan yang sudah menatap tajam kearah Azka.
"Tidak ada skorsing dan tidak ada cuti" kata Rayyan yang sudah berdiri dari duduknya.
"Iya, sorry, gue cuman bercanda" kata Azka yang menyudahi pertengkaran kecil antara dirinya dan sahabatnya.
"Jadi bagaimana lo dan dia?" tanya Rayyan kembali kepada Azka namun sudah membelakangi Azka
"Dia menerima cinta gue" kata Azka yang juga sudah berdiri dari duduknya.
Rayyan yang membelakangi Azka langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke Azka kembali
"Lo serius?" tanya Rayyan sedikit tidak percaya
"Iya, gue serius, dua rius malahan" kata Azka mengedipkan sebelah matanya.
"Jadi lo dan dia sudah jadian?" tanya Rayyan lagi
__ADS_1
"Sudah, tadi gue tak sengaja berkata kasar padanya saat didapur, lalu dia pergi kekamarnya dan saat gue ingin kembali kesini, gue mendengar dia menangis dan berkata dia salah memilih orang untuk dicintai, gue yang mendengar itu langsung membuka pintu kamarnya, gue bertanya apa benar dia mencintai gue, dia jawab iya, ya sudah, alhamdulilah cinta gue tak bertepuk sebelah tangan" kata Azka yang bercerita panjang lebar kepada Rayyan
"Gue hanya bertanya lo dan dia sudah jadian atau belum, bukan bertanya bagaimana lo dan dia bisa jadian" kata Rayyan yang menjawab dengan suara yang sedikit ditahan karena Laras yang ada ditempat tidur seperti sedikit terusik karena suara mereka berdua yang sedikit keras.
Azka yang paham juga mengecilkan suaranya.
"Gua dan Nana sudah jadian, lo kapan?" tanya Azka kepada Rayyan
"Gue lagi mencari orang yang tepat" jawab Rayyan
"Untuk apa lo mencari lagi?, yang didepan mata saja" kata Azka kepada Rayyan
"Maksud lo?" tanya Rayyan yang kurang mengerti maksud Azka
Azka tidak menjawab, dia hanya mengalih pandangannya kepada Laras yang sedang tertidur pulas diatas tempat tidurnya tanpa menggunakan selimut ditubuhnya.
"Laras maksud lo?" tanya Rayyan yang juga mengikuti arah mata Azka
"Iya, gue lihat lo begitu perhatian dengan dia" kata Azka
"Gue belum bisa untuk menjalin hubungan bersama Laras, gue takut, lo tau musuh gue banyak, gue khawatir, musuh-musuhku akan mengincar dia, karena musuhku tau, dia adalah kelemahan ku" kata Rayyan sambil menatap kearah Laras dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana yang ada di sisi kanan dan kirinya.
"Lo lupa, dia mempunyai ilmu bela diri dan pandai bermain senjata" kata Azka yang mengingatkan Rayyan akan kepandaian Laras.
"Tak semua senjata, Azka, hanya samurai yang dia bisa" kata Rayyan yang masih menatap ke arah Laras.
"Gue dan Nana akan mengajarkannya menggunakan beberapa senjata yang ada di markas" kata azka
"Entahlah, Azka, gue juga takut dia tidak mau menerima ku, tidak seperti Nana yang juga menyimpan perasaan kepada mu" kata Rayyan sambil menunduk dan kembali menatap ke arah Laras yang sedang tertidur.
"Gue yakin, dia juga menyukai lo, dia pasti akan menerima lo, percaya sama gue, lo juga harus percaya sama diri lo sendiri, yakinkan diri lo, bahwa lo bisa menjaga dirinya" kata Azka sambil memegang bahu kiri Rayyan
"Hm, baiklah, terima kasih" kata Rayyan sambil menepuk tangan Azka yang ada di bahunya menggunakan tangan kanannya.
"Sama-sama, kalau begitu gue kekamar dulu, mau istirahat" kata Azka yang sudah melangkah menuju pintu kamar Laras untuk keluar dan menuju kekamarnya tidak lupa Azka menutup pintu kamar Laras kembali
__ADS_1
Rayyan tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.