
Mereka berdua sampai di meja makan yang sudah ditunggu oleh bibi.
"Bibi, Nana mana?" tanya Laras.
"Sebentar, dia masih di dapur membuatkan ayam goreng," jawab bibi.
"Oh, baiklah," jawab Laras.
"Sudah jadi, bibi ayam gorengnya," kata Nana yang keluar dari dapur sambil membawa ayam goreng yang sangat wangi.
"Nana, duduk di sebelah aku, ya?" kata Laras yang sengaja mengosongkan satu kursi di tengah antara dirinya dan Azka.
Nana yang tidak tahu apa-apa mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Azka, lalu Laras pindah ke seberang tepatnya berhadapan dengan Nana.
Terlihat dari dapur, Rayyan turun menuju meja makan dengan santai.
"Maaf membuat kalian menunggu lama," kata Rayyan sambil langsung duduk di samping Laras.
"Tidak apa-apa," jawab bibi dan Laras serempak.
"Bukannya tadi sudah turun, kenapa kembali kekamar?" tanya Azka yang penasaran.
"Bukan urusan lo" Jawab Rayyan singkat dan padat.
"Sudah, ayo kita makan," kata Laras yang menjadi penengah agar tidak terjadi pertengkaran panjang lagi diantara mereka.
"Ayo," jawab Rayyan yang duduk disamping Laras
Azka, Bibi, dan Nana menganggukkan kepala, sebagai jawaban dari ajakan Laras. Dimeja makan, seolah-olah terdapat dua pasang suami istri. Dimana Laras dan Nana spontan berbicara kepada Azka dan Rayyan.
"Mau di ambilkan?" kata Laras dan Nana serentak.
"Boleh," jawab Rayyan dan Azka dengan nada serentak pula.
Bibi yang melihat itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Mereka pun makan dengan lahapnya tanpa ada suara, hanya ada dentingan garpu dan sendok.
Setelah selesai makan, Nana, Laras, dan bibi langsung membawa piring kotor ke dapur untuk dicuci.
"Nona, biar saya saja yang mencuci piring kotor ini," kata Nana.
"Tidak apa-apa, Nana. Oh iya, Bi, bibi ke depan saja. Tidak apa-apa, tuh, duduk di meja makan bersama mereka," kata Laras.
"Tidak, nona, tidak apa-apa. Saya membantu kalian di sini saja," jawab bibi.
"Tidak apa-apa, Bibi. Biar Nana sama Laras saja yang mencucinya," pintu Laras kembali.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nona. Kita bersihkan sama-sama," jawab bibi.
"Hmm, baiklah, Bibi," jawab Laras pelan.
Niat hati Laras yang sengaja ingin berdua dengan Nana hilang karena bibi ingin membantu mereka. Laras sengaja ingin berdua dengan Nana karena ingin bertanya sedikit tentang dirinya.
Setelah lama menunggu, Rayyan dan Azka melihat Nana, bibi, dan Laras keluar dari dapur.
"Sudah jam 09.30 malam, sebaiknya kita istirahat," kata Rayyan.
"Iya, kita istirahat saja," jawab bibi.
"Baiklah," jawab Laras, Azka, dan Nana.
Mereka pun pergi ke kamar masing-masing untuk istirahat, dan bibi sebelum ke ruang meja makan sudah mematikan lampu dapur.
Pagi hari, jam menunjukkan pukul 05.00 dimana Laras yang sudah bangun, langsung melaksanakan shalat Subuh, kewajiban seorang umat Muslim. Setelah menyelesaikan shalatnya, ia turun ke bawah untuk membantu bibi dan menyiapkan sarapan pagi. Namun, ketika akan keluar, ia teringat akan Lucy dan Lacy yang berada di ruang sebelah kamarnya.
"Aku akan melihat mereka terlebih dahulu," kata Laras pada dirinya sendiri, lalu melangkah menuju kamar Lucy dan Lacy.
Laras membuka pintu kamar tersebut perlahan. Ia melihat keduanya sedang tidur di tempat tidur masing-masing. Rayyan sengaja meminta Azka membawa tempat tidur dari ruang bawah tanah kemarin.
Laras kemudian kembali menutup pintu ruangan tersebut perlahan agar tidak mengganggu tidur mereka.
"Assalamualaikum, Bibi, Nana," sapa Laras dengan hati-hati agar tidak membuat mereka terkejut.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak.
"Bibi, ini kan masih pagi sekali, jam 05.30, jadi, Laras ingin membuat ayam panggang," kata Laras.
"Baik, Nona, saya akan membantu," jawab Nana.
"Terima kasih, Nana," kata Laras.
"Sama-sama, Nona," jawab Nana.
Mereka sibuk memasak di dapur, Laras dan Nana memasak ayam panggang, sedangkan Bibi mencuci peralatan dapur yang digunakan oleh dirinya dan Nana tadi,
Dikamar Rayyan, ia menghubungi Azka melalui ponselnya untuk datang ke kamarnya. Setelah Rayyan mengetahui bahwa panggilannya diangkat, tanpa memberi kata salam, Rayyan langsung berbicara kepada Azka.
"Kekamar gue sekarang," kata Rayyan yang langsung tutup poin.
"Sabar, gue baru selesai mandi, tunggu sebentar," jawab Azka yang langsung memutuskan panggilan dari Rayyan lalu berlari menuju lemari untuk memakai pakaiannya dengan cepat.
"Dasar anak buah tidak tau sopan santun, bosnya belum selesai bicara, sudah dimatikan" umpat Rayyan sambil melihat ke ponsel yang masih ditangannya.
__ADS_1
Sedangkan dikamar Azka, dengan cepat dia memakai pakaian, dia memakai pakaian santai saja terlebih dahulu, lalu menyisir rambutnya sambil berjalan kearah kamar Rayyan.
Setelah beberapa menit berlalu. Azka pun sampai didepan pintu kamar Rayyan dan menyimpan sisir disaku kiri celananya.
"Tok...Tok.. Tok.." suara pintu kamar Rayyan yang diketuk oleh Azka dari luar.
"Bos" kata Azka.
"Masuk saja!" kata Rayyan dari dalam kamar
Azka pun membuka pintu kamar Rayyan, Azka melihat Rayyan menunggu kedatangannya sambil duduk di sofa yang ada di kamarnya.
"sorry, gue lama" kata Azka yang mendekati Rayyan lalu mendaratkan bokongnya di sofa yang berhadapan dengan Rayyan.
"Tidak apa-apa" jawab Rayyan
"Ada apa?, kenapa memanggil gue sepagi ini?" tanya Azka kepada Rayyan
"Apakah ada informasi lain tentang lo dan Elang selidiki itu?" tanya Rayyan kepada Azka.
"Belum, gue dan Elang masih menyelidikinya. Jika ada sesuatu, pasti Elang akan menghubungi gue," jawab Azka.
"Baik, gue tunggu," kata Rayyan.
"Siap, bos," jawab Azka.
"Untuk berjaga-jaga, gue akan mengajarkan perempuan itu menggunakan senjata api dan sedikit ilmu bela diri agar dia bisa melindungi dirinya sendiri jika aku tidak bersamanya," kata Rayyan.
"Bos, lo perhatian juga sama tu perempuan, cieee.. ada hati ni yeee," ejek Azka kepada Rayyan.
Rayyan yang mendapat ejekan dari Azka langsung melemparkan bantal sofa yang ada dibelakangnya ke arah wajah Azka.
"Tidak kena, bos," ejek Azka
"Awas saja lo," kata Rayyan.
Azka tidak menjawab, dia kembali bertanya serius kepada Rayyan.
"Bos, gue nanya serius ni sama lo, secara gue kan sahabat lo ni, apa lo bener ada perasaan kepada nona Laras? Sepertinya perempuan itu terus mendapat perhatianmu," tanya Azka.
"Entahlah, gue juga belum bisa memastikan hati gue. Perasaan gue sekarang hanya ingin melindunginya. Gue takut nantinya musuh gue akan mengincarnya. Musuhku akan mengganggap dia adalah kelemahan ku," jawab Rayyan.
"Kalau saran gue, lo cepat-cepatlah halalkan dia. Kalau masalah musuh akan mengincar dia, Nana dan bibi bisa menjaganya," jawab Azka memberi saran.
"Entahlah, nanti aku pikirkan lagi," jawab Rayyan.
__ADS_1