
Didalam ruang rahasia bawah tanah milik Rayyan, tinggallah Rayyan dan Laras yang saat ini berada didalam ruang latihan.
Rayyan yang tadinya sudah melepaskan kedua tangannya dari bahu dan dagu Laras, kini tangannya kembali memegang kedua bahu Laras
"Coba ulangi perkataan kamu tadi?" tanya Rayyan
"Perkataan yang mana, Mas?" tanya Laras yang sedikit binggung
"Aku ini siapa bagi mu?" kata Rayyan yang mengulangi pertanyaannya kepada Laras.
"Calon suami saya" jawab Laras dengan santainya
"Coba ulangi lagi" kata Rayyan yang kini tangannya sudah berpindah memeluk pinggang Laras
"Kamu itu adalah calon suami saya" jawab Laras lagi
Rayyan yang mendengar jawaban dari Laras langsung menarik tubuh Laras agar lebih dekat dengan dirinya
"Mas, kata mau keruang senjata" kata Laras yang mengingatkan Rayyan.
"Tidak, aku hanya berbohong kepada Bibi Ina dan Nana agar mereka keluar duluan, jadi aku bisa berdua denganmu disini" kata Rayyan yang tangannya masih memeluk pinggang Laras.
"Dosa Mas, kan itu orang tua" kata Laras
Rayyan tidak menjawab perkataan Laras, Rayyan hanya tersenyum kearah Laras yang saat ini berada didalam rengkuhannya
"Mas, lepasin, saya mau keluar" kata Laras yang berusaha melepaskan tangan Rayyan yang berada dipinggangnya.
"Sudah, diamlah sebentar, biarkan begini sebentar saja" kata Rayyan
"Kenapa Mas jadi manja begini?" tanya Laras kepada Rayyan
"Aku memang manja, hanya saja aku dituntut harus mandiri dan ya seperti yang kamu lihat, aku adalah seorang mafia" kata Rayyan
"Iya, iya" kata Laras
"Bolehkan, jika aku terus manja kepadamu?" tanya Rayyan kepada Laras
"Iya Mas, boleh, saya suka kamu manja tapi hanya kepada saya saja, tidak boleh dengan orang lain" kata Laras
"Kenapa?, kamu cemburu?" tanya Rayyan yang masih memeluk pinggang Laras
"Siapa yang cemburu" kata Laras
__ADS_1
"Kamulah" jawab Rayyan sambil mencubit hidung Laras
"Mana ada saya cemburu" kata Laras
"Baiklah-baiklah, kamu tidak cemburu" kata Rayyan yang mengalah dari Laras
"Lepasin, Mas" kata Laras sambil berusaha kembali untuk melepaskan diri dari Rayyan
"Memangnya kamu tidak suka ya, jika berdekatan denganku?" tanya Rayyan
"Bukan begitu, Mas" jawab Laras
"Baiklah, tidak apa-apa, pergilah keluar dan kembalilah ke atas, nanti aku akan menyusul" kata Rayyan yang sudah melepaskan Laras.
"Mas, bukan saya tidak suka, tapi saya hanya belum terbiasa saja" kata Laras mencoba memberi pengertian kepada Rayyan sambil menggenggam kedua tangan Rayyan
"Tidak apa-apa, kamu keluarlah dulu" kata Rayyan sambil melepaskan kedua tangannya dari genggaman Laras
Laras yang merasakan bahwa Rayyan sedang marah padanya langsung menundukkan kepalanya dan melangkah keluar dari ruang latihan tersebut.
Rayyan yang melihat Laras keluar dengan menundukkan kepalanya merasa bersalah dan berkata didalam hatinya "Apa aku kelewatan ya?, aku hanya pura-pura merajuk, apa aku membuatnya bersedih?" kata Rayyan yang bertanya kepada dirinya sendiri.
Laras berjalan keluar menuju ruang tengah dan duduk di sofa yang ada di sana.
Ketika sampai diruang tengah, Rayyan melihat Laras sedang duduk di sofa lalu Rayyan melangkahkan kakinya untuk mendekati Laras.
Rayyan langsung duduk disamping Laras dan membuat Laras sedikit terkejut
"Eh...Mas, ternyata kamu, saya kira siapa" kata Laras yang melihat kearah Rayyan
"Kenapa?, kamu terkejut, Bee?" kata Rayyan sambil mengelus kepala Laras
"Sedikit, saya kira Mas masih didalam ruang latihan" kata Laras
"Maafkan perilaku aku yang tadi ya, mungkin kamu belum terbiasa, maafkan aku, aku mungkin terlalu memaksakan diri agar kamu terbiasa dengan sikap ku" kata Rayyan yang tangannya sudah tidak lagi mengelus kepala dan rambut Laras.
Rayyan menundukkan kepalanya karena merasa bersalah, dirinya berfikir sendiri bahwa dia tidak boleh memaksa untuk Laras terus dekat dengannya, memaksa Laras untuk menerima semua sikap dan perilakunya
"Tidak apa-apa, Mas, kamu tidak salah, sewajarnya kamu bersikap seperti tadi, tapi saya belum terbiasa saja, karena ini baru pertama kalinya saya menjalin hubungan" jawab Laras sambil tersenyum
Rayyan yang mendengar apa yang dikatakan Laras itu, langsung melihat kearah Laras dan menatap mata Laras yang juga melihat kearahnya.
"Kamu tidak berbohongkan, Bee?" tanya Rayyan
__ADS_1
"Berbohong soal apa, Mas?" kata Laras yang bertanya kepada Rayyan karena dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Rayyan
"Aku adalah orang pertama yang menjalin hubungan dengan mu" kata Rayyan
"Iya, saya tidak berbohong, Mas" jawab Laras
"Terima kasih, kamu telah membukakan pintu hati mu untukku, Bee" kata Rayyan sambil menggenggam kedua tangan Laras dan pandangannya masih menatap kearah mata Laras
"Sama-sama, Mas, saya harap kamu serius dengan saya, bukannya hanya merasa kasihan kepada saya" kata Laras yang juga menatap kearah mata Rayyan
"Aku janji, setelah semuanya aman, aku akan menikahi mu, secepatnya" kata Rayyan
Laras hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Kalau begitu, ayo kita keatas, kita mandi dan bersiap-siap, untuk tengah malam nanti" kata Rayyan
"Mas, jika malam nanti benar-benar mereka melakukan penyerangan, tidak mungkin kita membunuh mereka menggunakan pistol pasti kedengaran suaranya, katanya mau secara diam-diam" kata Laras yang mengingatkan Rayyan
"Jadi, kita harus bagaimana dan menggunakan apa?" tanya Rayyan
"Kita harus menggunakan senjata tajam, seperti pedang, samurai, belati, pisau, atau yang lainnya" jawab Laras
"Baiklah, kalau begitu, ayo ikut aku keruang senjata, untuk mengambil beberapa senjata tajam untuk kita gunakan" kata Rayyan
Laras tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya sekali
Rayyan dan Laras melangkahkan kaki mereka menuju keruang senjata yang ada disana, setelah mereka sampai diruang senjata, Rayyan menyuruh Laras memilih senjata apa yang ingin dia gunakan, begitu juga dengan dirinya, Rayyan memilih menggunakan pedang dan belati yang tidak terlalu pendek dan tidak juga terlalu panjang.
Laras mengambil senjata berupa samurai yang pernah dia gunakan waktu pertama kali masuk kedalam ruang rahasia bawah tanah ini.
"Bagaimana dengan anak buahmu, Mas?" tanya Laras kepada Rayyan
Rayyan yang paham apa yang dimaksud oleh Laras langsung mengambil beberapa senjata lagi untuk anak buahnya
Laras mengambil 2 senjata lagi, dia mengambil 2 buah pedang dan itu berhasil membuat Rayyan melihat kearahnya
"Ini untuk Bibi dan Nana" kata Laras yang mengerti kenapa Rayyan melihatnya
"Baiklah, kalau begitu, kita kembali keatas dan memberikan senjata ini kepada mereka" kata Rayyan
Laras hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Rayyan dan Laras melangkahkan kakinya keluar dari ruang senjata dan menuju kearah pintu utama untuk keluar dari ruang rahasia bawah tanah milik Rayyan.
__ADS_1