rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
09


__ADS_3

Setelah setengah jam berlalu, anak buah Rayyan akhirnya tiba di alamat yang diberikan oleh Rayyan.


"Bos, kami sudah sampai," kata anak buah Rayyan.


"Bagus, kalian dengarkan saja instruksi dari nona kalian," kata Rayyan, yang juga menggunakan alat serupa dengan Laras di telinganya.


"Baik, bos," jawab mereka.


Laras sedikit terkejut ketika mendengar Rayyan menyebut dirinya sebagai 'nona kalian' kepada anak buahnya.


"Laras, bicaralah," kata Rayyan, yang berhasil membuat Laras terkejut.


"Eh... iya..." jawab Laras.


Beberapa detik kemudian, Laras terlihat bingung. Dia tidak tahu harus memanggil anak buah Rayyan dengan nama apa. Namun, tiba-tiba Rayyan tampak mengerti dan meminta Laras untuk memanggilnya dengan nama Elang, karena Elang-lah yang menjadi komandan di antara mereka.


"Panggil saja Elang, karena dia lah yang memimpin disana" kata Rayyan


Laras hanya mengangguk sebagai jawaban bahwa dirinya sudah mengerti


"Elang," panggil Laras dengan lembut.


"Iya nona, saya Elang" jawab Elang yang namanya dipanggil oleh Laras


"Saya minta, jangan masuk melalui jendela. Setiap jendela dilengkapi dengan laser yang sengaja dipasang oleh ayah untuk keamanan. Jika kalian terkena laser itu, kalian bisa terluka, ditangkap, dan dianggap sebagai pencuri sungguhan," kata Laras.


"Jadi, bagaimana kami harus masuk, nona?" tanya Elang.


"Apakah kalian sudah masuk ke halaman rumah saya?" tanya Laras.


"Sudah, nona. Kami sudah berada di depan pintu rumah nona," jawab Elang.


"Baiklah, pergilah ke belakang rumah. Di sana, ada pintu rahasia yang bentuknya persis dengan dinding rumah. Namun, pasti ada keanehan yang terlihat. Cobalah untuk menemukannya," pinta Laras.


"Baik, nona. Kami akan mencarinya," jawab Elang.


Beberapa menit kemudian, Elang berbicara kepada Laras.


"nona Laras, kami sudah menemukan pintunya. Apa yang harus kami lakukan lagi sekarang?" tanya Elang.


"Dibawah pintu itu terdapat batu kecil berbentuk bulan sabit, Injaklah batu itu perlahan agar suara pintu yang terbuka nanti tidak terdengar," kata Laras.

__ADS_1


"Baik, Nona," jawab Elang.


Laras tidak menjawab; dia hanya menatap wajah Rayyan. Rayyan mengerti apa yang terlintas dalam pikiran Laras.


"Tenanglah, mereka bertiga adalah orang kepercayaanku. Sebutkan lah kata sandinya," kata Rayyan.


"Baik, tuan," Laras mematuhi permintaan Rayyan.


"Kata sandinya adalah namaku, tetapi terbalik," kata Laras.


"Kata sandinya adalah namaku, tetapi terbalik," kata Laras.


"Tidak, Nona. Di situ tertulis kata sandinya tidak lengkap," adu Elang.


"Elang, saya akan mengejanya karena sandi tersebut menggunakan nama panjang saya. Kamu yang tekan huruf-hurufnya di sana," pinta Laras.


"Baik, Nona," jawab Elang.


Laras pun menyebutkan huruf-huruf dari namanya, dan pintu berhasil terbuka.


"Pintunya sudah terbuka nona," kata Elang.


"Cobalah cari tempat tidur, karena di bawahnya ada laci kecil. Di sana terdapat kata kunci. Buatlah nama pendek saya, tetap menggunakan huruf kapital" kata Laras.


"Apakah ada buku diary berwarna biru di sana?" tanya Laras.


"Ada, Nona," jawab Elang.


"Ambil buku itu, lalu tutup kembali lacinya," kata Laras.


"Baik, sudah, Nona," jawab Elang lagi.


"Baiklah kalau begitu kami akan keluar dari sini," Kata Elang yang memberitahu kepada Laras dan Rayyan diseberang


"Tunggu, jangan keluar dulu. Bolehkah kamu tolong bukakan lemari di dekat tempat tidur disana, lalu ambilkan kotak merah yang ada di sana?" pinta Laras.


"Baiklah, kotak sudah kami ambil, nona. Apa ada yang ingin nona ambil lagi?" tanya Elang.


"Tidak, hanya itu saja. Pastikan pintu ditutup dengan benar, terutama pintu keluar," kata Laras sambil mengingatkan mereka.


"Baik, nona. Kami akan keluar sekarang," kata Elang.

__ADS_1


"Baik, terima kasih," kata Laras.


"Sama-sama, nona," jawab Elang.


Mereka pun keluar dari rumah Laras dan langsung menuju ke rumah Rayyan untuk mengantarkan buku dan kotak milik Laras.


Waktu telah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, semua anak buah Rayyan telah berkumpul kembali di ruangan yang telah ditentukan. Laras tertidur lelap di atas sofa di tengah ruangan. Setelah memutuskan percakapan dengan Elang, ia beralih ke sofa untuk sekedar duduk tetapi karena matanya sudah tidak bisa diajak kompromi, ia pun tertidur di sofa panjang yang ada disana.


"Bos, ini barangnya," ucap Elang yang sudah sampai dirumah Rayyan dan langsung masuk ke ruangan dengan suara agak keras.


"Sstttt, bisakah kau berbicara lebih pelan? Kau tidak melihat dia sedang tertidur," tegur Rayyan, melihat Laras terganggu oleh suara Elang yang begitu keras.


"Maaf, bos. Saya tidak tahu," bisik Elang pelan.


"Sudahlah, taruh saja barangnya di atas meja itu," pinta Rayyan.


"Baik, bos," sahut Elang.


"Kalian boleh kembali ke markas," kata Rayyan kepada Elang dan anak buah lainnya.


"Baik, bos," serentak mereka menjawab sambil segera meninggalkan ruangan.


Setelah mereka pergi, Rayyan mendekati Laras yang sedang tidur di sofa.


"Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku meninggalkanmu di sini," kata Rayyan pada dirinya sendiri.


Rayyan menatap wajah Laras yang begitu tenang. Hatinya seakan tak rela jika nanti, setelah dia menemukan alamat Pak Alex, Laras tidak lagi berada di dekatnya. Tangan Rayyan bergerak dengan sendirinya, ingin menyentuh wajah Laras. Namun, dengan cepat Rayyan menyadarkan dirinya akan tindakannya.


"Apa yang sebenarnya aku alami ini? Rayyan, sadarlah..." kata Rayyan sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Rayyan yang tidak tega meninggalkan Laras begitu saja, mengangkat tubuh Laras dan mengantarkannya ke kamar. Setelah beberapa langkah, Rayyan meninggalkan ruangan tersebut. Lampu di dalam ruangan secara otomatis terpadam sendiri dan pintu ruangan tersebut terkunci kembali.


Untungnya, pintu kamar Laras tidak ditutup dengan rapat oleh Laras ketika dia dijemput oleh Rayyan menuju ke ruangan Rayyan tadi.


"Untunglah kamarmu tidak terkunci, jadi aku tidak kerepotan," kata Rayyan.


Rayyan meletakkan tubuh Laras perlahan dan hati-hati di atas tempat tidur, agar Laras tidak terganggu. Dia menutupi Laras dengan selimut, mematikan lampu, dan menghidupkan lampu tidur. Setelah itu, dia keluar dari kamar Laras dan menuju kamarnya, tidak lupa menutup pintu kamar Laras.


Di kamar Rayyan, dia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelah selesai dia mengantikan pakaian nya dengan baju tidurnya, dia langsung ke tempat tidurnya. Dia merebahkan dirinya di kasur empuknya dan menatap langit-langit kamarnya.


"Semoga setelah aku membantu mencarikan mu alamat yang kau butuhkan, aku masih bisa melihat wajahmu, meskipun kau tahu pekerjaanku berbahaya. Entah sejak kapan aku mulai merasakan perasaan seperti ini," kata Rayyan dalam hati.

__ADS_1


Rayyan pun mematikan lampu dan menghidupkan lampu tidurnya. Lalu, ia memejamkan matanya untuk tidur dan masuk ke alam mimpinya.


__ADS_2