
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Nana bergegas bangun dan mengerjakan salat subuh, lalu langsung turun ke dapur untuk membantu membuat sarapan pagi. Di dapur, sudah ada Bibi Ina dan Nana yang sedang mempersiapkan makanan pagi.
"Assalamualaikum, bibi, Nana," sapa Laras dengan hati-hati agar mereka tidak terkejut.
"Waalaikumsalam," mereka menjawab serentak.
"Nona, kenapa kamu ke sini? Lebih baik kamu ke kamar saja. Nanti tuan muda melihatmu, takutnya kamu dimarahi," ujar Nana yang terus bicara dan bertanya.
"Tidak apa-apa, Nana. Aku sengaja ke sini mau membantu kalian membuat sarapan," jawab Laras sambil tersenyum.
"Laras, sebaiknya kamu tunggu di kamar saja. Nanti, setelah masakannya sudah siap, bibi akan memanggilmu untuk makan," pinta bibi khawatir nanti Rayyan akan marah jika Laras keluar kamar tanpa izin seperti kemarin.
"Laras bosan di kamar terus, bi," adu Laras dengan wajah sedih.
"Tapi, Laras, nanti kami akan dimarahi oleh tuan muda jika keluar tanpa izinnya," kata bibi.
Entah sejak kapan Rayyan berada di dapur, tiba-tiba dia berkata "Tidak apa-apa, bi. Biarkan saja dia berbuat sesuka hatinya. Aku tidak akan memarahinya, tapi ingat, jangan keluar rumah tanpa seizinku."
Mereka terkejut mendengar suara Rayyan, terutama Laras. Dia tidak berani melihat wajah Rayyan, hanya menundukkan kepalanya dan menjawab dengan suara kecil namun bisa didengar, "Terima kasih, tuan," kata Laras.
Baru kali ini Laras berbicara dan memanggil Rayyan dengan sebutan "tuan." Biasanya, dia diam, menundukkan kepala, ketakutan, lalu menangis.
"Iya, sama-sama. Jangan takut lagi padaku. Aku tidak suka menyakiti perempuan jika mereka tidak melakukan kesalahan fatal. Aku akan melindungi mu dari orang-orang yang ingin menyakiti kamu," tanpa sadar Rayyan mengucapkan kata-kata seperti itu di depan bibi Ina dan Nana. Bibi Ina sangat berharap tuan mudanya akan luluh dengan gadis malang ini.
"Tuan, apa tuan tidak bekerja hari ini?" tanya bibi kepada Rayyan
"Tidak, bi. Hari ini dan 2 hari ke depan, Rayyan tidak masuk kantor, tapi bekerja dari rumah saja," jawab Rayyan sambil berjalan menuju meja makan.
Bibi Nana dan Laras melanjutkan kegiatannya memasak sarapan. Setelah masakan selesai dibuat, Bibi Nana dan Laras menatanya di meja makan yang telah ditunggu oleh Rayyan. Setelah menata makanan di atas meja, Bibi Nana dan Laras ingin kembali ke dapur, tiba-tiba suara Rayyan terdengar seperti memerintah.
"Kamu temani saya makan di sini," pinta Rayyan kepada Laras.
"Tapi, tuan, saya ingin membantu Bibi dan Nana di dapur," jawab Laras
"Tanpa alasan," tegur Rayyan dengan tegas, yang tidak ingin dibantah.
"Baiklah, tuan," kata Laras sambil menundukkan kepala dan memindahkan kursi untuk duduk.
Laras terus menundukkan kepalanya atau memandang ke arah lain, dia tidak berani menatap Rayyan.
"Apakah wajahku ada di bawah sana?" tanya Rayyan.
"Ti-tidak, tuan," kata Laras dengan gemetar.
"Ambilkan aku sarapannya," perintah Rayyan sambil sengaja membuat Laras bergerak agar tidak hanya diam-diam dan agar Laras mengeluarkan suaranya.
"Baik, tuan. Apa yang tuan inginkan?" tanya Laras dengan ragu.
"Nasi goreng dan ayam goreng saja," kata Rayyan.
"Ini, tuan. Sarapannya. Silakan," kata Laras saat memberikan piring berisi makanan kepada tuannya.
"Terima kasih," jawab Rayyan yang langsung memakan makanan yang telah diambil oleh Laras
"Sama-sama, tuan," jawab Laras sambil kembali duduk di tempatnya yang bersebelahan dengan Rayyan karena Rayyan yang memintanya.
__ADS_1
Laras kembali tidak mengeluarkan suaranya, dan tidak berani untuk menoleh sedikit pun k arah Rayyan yang sedang makan terkadang dia hanya melihat ke arah bawah dan kearah dapur karena pikirannya selalu ingin kesana membantu Bibi dan Nana
Setelah Rayyan selesai sarapan, Laras membersihkan meja makan. Ia membawa piring kotor ke dapur dan mencucinya lalu meletakkannya kembali di tempat semula. Setelah selesai, Laras kembali ke kamarnya.
Di sore hari, Laras merasa bosan berada di dalam kamar. Ia ingin bermain di taman untuk melihat ikan di kolam. Laras keluar dari kamarnya dan menutup pintu dia ingin melangkah menuju tangga, tanpa menyadari bahwa Rayyan juga sedang menuju tangga untuk mengambil air minum.
"mau kemana?" tanya Rayyan tiba-tiba, membuat Laras terkejut.
"Eh... tuan, saya ingin izin pergi sebentar ke taman belakang. Saya ingin bermain dengan ikan di kolam," kata Laras.
"Baik, pergilah," jawab Rayyan.
Rayyan turun dengan cepat menuju dapur, sedangkan Laras menuju halaman belakang. Tiba di halaman belakang, Laras langsung menuju kolam ikan. Ia memasukkan kakinya ke dalam air kolam, Laras yang asik bermain dengan ikan ikan yang ada didalam kolam tersebut tiba-tiba terkejut oleh suara Rayyan yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya.
"Boleh aku bertanya?" tiba-tiba Rayyan berkata.
"Tentu, tuan," spontan Laras menjawab.
"Mengapa ayahmu membuang mu sampai begitu tega sehingga ia tidak menganggap mu sebagai anak kandungnya sendiri?" tanya Rayyan sambil duduk di samping Laras, dia juga memasukkan kakinya kedalam kolam ikan tersebut
"Saya tidak tahu, tuan. Saya benar-benar tidak mengetahui tentang hal itu," jawab Laras dengan sedih.
"Mohon maaf jika aku membuatmu sedih dan mengingatkannya kembali," kata Rayyan.
"Tidak apa-apa, tuan," jawab Laras.
Rayyan melihat wajah Laras yang tegar, dia tetap memandang lurus ke depan.
Entah dari mana Laras mendapat keberanian untuk berbicara banyak kepada Rayyan
"Tentu, boleh. Akan kucoba membantu mu semampuku." jawab Rayyan dengan cepat yang juga memandang wajah Laras dengan intens seolah menunggu kata dari mulut Laras
"Maukah tuan membantu saya untuk mencari alamat Pak Alex?," kata Laras
"Pak Alex?" tanya Rayyan.
"Iya, tuan. Sebelum ibu sakit dan meninggal, beliau meminta saya untuk mencari Pak Alex jika terjadi sesuatu. Namun, karena kondisi saya saat itu tidak memungkinkan, saya tidak bisa pergi ke rumahnya. Ibu memberikan alamat rumah Pak Alex pada saya, tapi catatan alamat itu sekarang berada di rumah yang ditempati oleh ayah, ibu, dan kakak tiri saya sekarang ini" cerita Laras panjang lebar kepada Rayyan.
"Apakah kamu masih ingat di mana kamu meletakkan catatan alamat itu?" tanya Rayyan pada Laras.
"Masih, tuan. Saya masih mengingatnya," jawab Laras cepat.
"Baiklah, aku akan menyuruh anak buahku menyusup ke rumahmu untuk mengambil alamat tersebut," kata Rayyan kepada Laras.
"Baik, tuan. Terima kasih banyak, tuan," kata Laras tanpa sadar memegang tangan Rayyan karena kebahagiaannya.
"Maaf, tuan. Maaf, saya tidak sengaja," ucap Laras sambil menunduk dan menjauhkan tangannya dari tangan Rayyan
"Tidak apa-apa, sudahlah. Ayo kita masuk. Ini sudah senja," ajak Rayyan.
"Iya, tuan," jawab Laras.
"Oh ya, Laras, nanti malam pukul 12.00, aku akan mengetuk pintu kamarmu. Kita akan berkumpul, aku akan memberitahumu tempatnya," kata Rayyan.
"Baik, tuan," jawab Laras.
__ADS_1
Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar masing-masing. Di kamar Laras, dia duduk berpikir dan berkata dalam hati, "Apa yang dimaksud dengan 'anak buah' oleh Rayyan? Siapa sebenarnya Rayyan ini? Dan apa pekerjaannya?"
"Ah, sudahlah, yang penting dia tidak akan menyakiti saya dan mau membantu saya mencari alamat Pak Alek," kata Laras pada dirinya sendiri sambil menuju kamar mandi untuk berwudhu dan kemudian melaksanakan sholat Maghrib di kamarnya.
Sementara di kamar Rayyan, dia juga berpikir dan berbicara dalam hatinya sendiri, "Mengapa saya mau membantunya? Padahal sebelumnya saya tidak pernah seperti ini."
"Ah, sudahlah, yang penting saya sudah menepati janji saya untuk membantunya mencari alamat tersebut," kata Rayyan. Dia segera menghubungi tiga anak buahnya agar datang ke rumahnya pada pukul 10 malam nanti, karena mereka akan melakukan aksi pada pukul 12 malam.
Jam telah menunjukkan pukul 12.00 tepat saat Rayyan mengetuk pintu kamar Laras dengan lembut.
"Tok... tok..." suara pintu bergema akibat ketukan Rayyan.
Laras membuka pintu kamarnya dan kaget melihat Rayyan yang ditemani oleh tiga pria berpakaian seragam hitam di belakangnya.
"Tuan... mereka siapa?" tanya Laras dengan rasa takut yang terpancar dari wajahnya.
"Jangan khawatir, mereka tidak akan menyakitimu. Mereka adalah anak buahku, dan merekalah yang akan menyusup ke rumahmu nanti," ucap Rayyan dengan penuh keyakinan, berusaha menenangkan Laras agar tidak merasa cemas seperti sebelumnya.
"Baiklah kalau begitu tuan. Saya percaya padamu," jawab Laras sambil mencoba mengendalikan ketakutannya.
"Baiklah, sekarang ikutilah kami. Kita akan merencanakan langkah-langkah selanjutnya," ajak Rayyan dengan tulus, mengajak Laras untuk bergabung dalam rapat tersebut.
"Iya, tuan," sahut Laras dengan hormat, mengikuti Rayyan dan para pria tersebut.
Mereka semua pergi ke ruangan yang telah ditentukan oleh Rayyan. Laras berjalan di belakang Rayyan, sementara anak buah Rayyan mengikutinya di belakang Laras.
Mereka akhirnya tiba di depan pintu ruangan yang dimaksud oleh Rayyan. Rayyan membuka pintu dengan menempelkan telapak tangannya di dinding dekat pintu tersebut.
Mereka memasuki ruangan itu, namun tiba-tiba ruangan tersebut menjadi terang benderang seolah-olah lampu akan menyala secara otomatis ketika ada yang memasukinya.
Laras terdiam dan tidak berkata apa-apa. Dia sangat terkejut melihat sekelilingnya dipenuhi oleh berbagai macam senjata api. Laras terkejut dan terduduk, dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ternyata, Rayyan adalah seorang mafia. Namun, sebelum dia bisa memproses informasi itu, dia dikejutkan oleh suara pintu yang tertutup secara tiba-tiba.
"Tuan... tuan, ternyata tuan adalah se...seorang mafia," kata Laras terbata-bata.
"Iya, Laras. Maafkan aku. Aku telah membohongimu, tapi percayalah padaku. Aku tidak akan menyakitimu. Aku akan membantumu sebisa yang aku bisa dan akan melindungi mu. Tapi berjanjilah untuk tidak mengatakan kepada siapapun bahwa aku adalah seorang mafia," pinta Rayyan kepada Laras.
Laras tidak menjawab, dia hanya mengangguk perlahan. Dia tidak sanggup berdiri, salah satu anak buah Rayyan mengambil kursi untuk Laras duduk, sementara yang lain bersiap-siap mengangkat Laras ke kursi.
"Biar aku saja," kata Rayyan sambil melangkah mendekati Laras.
"Saya bisa sendiri, Tuan. Tidak apa-apa," kata Laras, mencoba berdiri untuk duduk di kursi, namun kakinya tidak mampu menopang berat tubuhnya. Untungnya, Rayyan dengan cepat menangkap tubuhnya sebelum menyentuh lantai.
Rayyan mengangkat tubuh Laras dan menempatkannya di kursi.
"Ini, Laras. Minumlah dulu," kata bibi yang tiba-tiba muncul dari belakang.
Suara bibi berhasil membuat Laras terkejut, dan ia menatap bibi terus sampai bibi mengulurkan gelas ke depannya pun dia tidak sadar
"Bibi Ina, bibi tahu kalau tuan Rayyan adalah seorang mafia?" tanya Laras.
"Bibi Ina, bibi tahu kalau tuan Rayyan adalah seorang mafia?" tanya Laras.
"Iya, Laras. Maaf, bibi tidak memberitahukan semuanya kepada kamu, karena menurut bibi, bibi tidak berhak untuk memberitahu ini semua" kata bibi kepada Laras.
"Iya, bibi. Tidak apa-apa," jawab Laras sambil mengambil air yang diulur oleh bibi Ina dan langsung meminumnya hingga habis lalu dia mengembalikan gelas itu kepada bibi yang masih berdiri ditempatnya
__ADS_1
"Ini bi, gelasnya, terima kasih banyak bi," kata Laras