rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
47


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, Rayyan dan Laras telah sampai didepan markas, Rayyan memarkirkan mobilnya di samping mobil Azka.


Laras yang sudah tidak tahan lagi untuk bertanya berapa sebenarnya mobil yang dimiliki Rayyan langsung bertanya kepada Rayyan.


"Sebenarnya ada berapa mobil yang kamu miliki, Mas?" tanya laras yang masih berada didalam mobil.


"Kenapa?, apa kamu ingin belajar mobil atau ingin mempunyai mobil sendiri?" tanya Rayyan sambil membuka pintu mobil untuk keluar


"Saya hanya bertanya, berapa mobil yang Mas miliki," kata Laras sambil membuka pintu mobil juga untuk keluar


"Aku memiliki 3 mobil, itu, ini dan satunya lagi masih ada digarasi dirumah" kata Rayyan sambil menunjukkan mobil yang dibawa Azka, lalu mobil yang tadi dinaiki Laras.


"Oooo" jawab laras yang sudah turun dari mobil


"Ya, sudah ayo kita masuk" kata Rayyan


Laras hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Mereka berdua melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam markas. Rayyan mengajak Laras ke suatu ruangan kosong, yang biasanya Rayyan gunakan untuk berkumpul dengan anak buahnya atau membicarakan suatu rencana bersama dengan anak buahnya.


"Ayo, ikut aku" kata Rayyan yang mengambil tangan kanan Laras dengan tangannya sambil terus berjalan


"Mau kemana, Mas?" tanya Laras yang melangkah mengikuti Rayyan.


"Sudah ikut saja, aku ingin membawamu ke suatu ruangan, yang biasa kami gunakan untuk mendiskusikan suatu rencana" kata Rayyan sambil terus melangkah dan memegang tangan Laras


"Baiklah" kata Laras


Mereka pun melangkahkan kakinya menuju keruangan yang dimaksud. Sesampainya Rayyan dan Laras didepan pintu ruangan tersebut, Rayyan langsung membuka pintu tersebut.


Didalam ruangan tersebut sudah ada Azka, Elang dan seseorang laki-laki yang seumuran dengan Nana.


Laki-laki tersebut bangun dari duduknya, ketika melihat laras yang masuk kedalam ruangan.


Azka dan Elang ikut bangun dari duduk mereka, karena melihat Rayyan yang melangkah masuk dan duduk di sofa yang ada didalam ruangan tersebut.


Ketika Rayyan sudah duduk, Elang dan Azka juga ikut duduk kembali ke tempatnya, namun berbeda dengan seseorang laki-laki yang seumuran dengan Nana, dia terus menatap Laras yang telah duduk disamping Rayyan.


Laki- laki tersebut terus menatap kearah Laras, tanpa Laras sadari.


Rayyan yang sadar, bahwa Laras sedang ditatap oleh laki-laki tersebut langsung berbicara


"Kenapa kamu menatapnya seperti itu?" tanya Rayyan langsung menatap kearah laki-laki tersebut.


"Tidak, Tuan, tidak ada apa-apa" jawab laki-laki tersebut, namun matanya terus menatap ke arah Laras


"Jika tidak ada apa-apa, kenapa kamu menatapnya dengan seperti itu?" kata Rayyan yang kembali bertanya kepada laki-laki tersebut


Laki-laki tersebut tidak menjawab pertanyaan Rayyan, laki-laki tersebut malah bertanya kepada laras.


"Kamu, Laras kan?" tanya laki-laki tersebut yang masih berdiri


"Iya, saya Laras, ada apa?" tanya Laras kepada laki-laki tersebut

__ADS_1


"Kamu anak angkat dari Bapak Andre Argantara dan Ibu suci Argantara" tanya laki-laki tersebut


"Iya" kata Laras yang menjawab pertanyaan dari laki-laki tersebut sambil tersenyum


Rayyan, Azka dan Elang menjadi sedikit terkejut dengan laki-laki tersebut karena dia mengetahui nama orang tua dari Laras.


"Duduklah, jangan berdiri jika berbicara, itu tidak sopan" kata Azka


Laki laki tersebut tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya dan langsung duduk kembali ketempat duduknya.


"Kau ini siapa?" tanya Rayyan yang sudah penasaran, siapa laki-laki ini sebenarnya.


"Saya Candra, Tuan" kata laki-laki tersebut memperkenalkan dirinya kepada Rayyan dan Laras.


"Candra, kenapa kamu ada disini?, bukannya kamu harus berada ditempat Niel?" tanya


"Candra, Bagaimana kamu bisa mengetahui bahwa saya adalah anak angkat dari ibu suci dan bapak Andre?" kata Laras yang bertanya kepada Candra


"Ibu saya yang menceritakannya kepada saya" kata Candra


"Ibu?" tanya Laras


"Iya" jawab Candra


Ketika Candra menyebutkan nama ibu, barulah dia teringat akan ibunya yang masih sakit dan masih berada dirumah


"Ya allah, Ibu!" kata Candra sambil berdiri dari duduknya


"Terima kasih banyak, Tuan Elang" kata Candra yang kembali duduk dari berdirinya


"Sama-sama, panggil saja saya 'Elang'," Kata Elang


"Baiklah, terima kasih banyak, Elang" kata Candra lagi


Elang tidak menjawab perkataan candra, dia hanya menganggukkan kepalanya.


"Tolong pertemukan aku dengan ibumu, Candra" kata Laras


"Iya, tapi tidak sekarang, karena saat ini ada yang ingin saya bicarakan kepada Tuan Rayyan" kata Candra


"Baiklah, saya akan menunggu kapan kamu bisa membawa saya untuk menemui ibumu" kata Laras


"Baiklah" kata Candra


"Apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku?" tanya Rayyan


"Tuan, saya mohon maaf, tidak bisa lagi kembali kesana untuk menjadi mata-mata kalian disana" kata Candra sambil menundukkan kepalanya


"Mengapa begitu?" tanya Rayyan yang menatap kearah wajah Candra


"Saya hampir saja ketahuan, karena mereka sudah mengetahui bahwa saya adalah seorang mata-mata," kata candra sambil menundukkan kepalanya


"Sudah, Tidak apa-apa, kalau begitu kamu boleh bergabung dengan kami" kata Rayyan

__ADS_1


"Terima kasih banyak, Tuan" kata Candra


Rayyan hanya menganggukkan kepalanya sekali sebagai jawaban.


"Kalau begitu, apa saja yang sudah kamu ketahui saat disana?" kata azka


"Saya hanya mendapat sedikit informasi dari anak buah Niel "kata Candra


"Apa itu?" tanya Elang


"Dalam waktu dekat ini, mereka akan melakukan penyerangan" kata Chandra


"Penyerangan?" tanya Azka


"Iya, Tuan Azka, mereka akan melakukan penyerangan terhadap Tuan Rayyan, mereka akan berbagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama akan menyerang rumah Tuan Rayyan dan kelompok kedua akan menyerang markas ini" kata candra yang menjelaskan semuanya


"Apa alasannya Niel melakukan ini semua?" kata Rayyan yang bertanya kepada Candra


"Saya dengar, Niel hanya ingin memberikan pelajaran kepada Tuan, karena sudah berani bermain-main dengannya" kata Candra


"Bermain-main?" tanya Laras tiba tiba yang bersuara


"Iya, Laras" kata Candra


Rayyan yang mendengar candra memanggil Laras tanpa sebutan 'Nona' langsung menatap ke arah Candra


"Panggil dia 'Nona' Laras" kata Rayyan yang menekankan kata Nona


"Baiklah, Tuan Rayyan, Nona Laras" kata Candra yang langsung mengubah panggilannya


Rayyan hanya menganggukkan kepalanya sedangkan Laras hanya tersenyum kepada Candra


"Baiklah, kalau begitu kita terima penyerangan ini dengan senang hati" kata Azka dan diangguki oleh Elang


"Kalian bertiga tunggu dimarkas, kumpulkan semua anak buah, dan bersiap-siaplah, jangan biarkan mereka memasuki kawasan markas, jadi kalian harus sudah bisa melumpuhkan mereka sebelum memasuki kawan ini, kalian bertiga paham kan maksudku?" kata Rayyan yang bertanya kepada Azka, Elang dan Candra


Mereka bertiga langsung menganggukkan kepalanya serentak


"Aku akan menunggu mereka dirumah" kata Rayyan sambil berdiri


"Apa kau yakin, Tuan?" tanya Elang


"Iya, aku yakin, aku tidak sendiri akan membawa beberapa anak buah" kata Rayyan


"Baiklah Tuan, kami yakin pada mu" kata Elang dan diangguki oleh Azka


"Kalau begitu, aku dan Laras akan pulang dulu" kata Rayyan


Mereka bertiga langsung berdiri dan menganggukkan kepalanya, Laras juga bangun dari berdirinya.


"Ayo, Laras" kata Rayyan mengajak Laras pulang


Rayyan langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut diikuti oleh laras, lalu mereka keluar menuju ke mobil untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2