
Jam sudah menunjukan pukul 02.00 sini hari, suasana dirumah Rayyan begitu mencengkam, ditambah lagi setiap ruangan banyak terdapat darah dan jasad para laki-laki yang menyerang dikediaman Rayyan.
"Mas, apa mereka masih ada?" tanya Laras yang masih bersembunyi disamping jendela kamar Rayyan
"Entahlah, aku tidak tau, sebentar aku akan melihat CCTV melalui ponselku" kata Rayyan yang langsung mengeluarkan ponsel yang ada disaku celananya namun tetap bersembunyi disamping jendelanya kamarnya
"Bagaimana, Mas?" tanya Laras kepada Rayyan yang sedang fokus melihat layar ponselnya
"Sepertinya Niel hanya mengirim anak buahnya segini untuk menyerang kita disini, dia kira dirumah ini tidak ada yang bisa bela diri, dan dia kira aku tidak tidak ada disini" kata Rayyan
"Alhamdulilah kalau begitu, akhirnya selesai juga" kata Laras yang hendak melangkah mendekati Rayyan yang berada disamping jendela sebelahnya
Namun tiba-tiba, seorang laki-laki menodongkan senjata berupa samurai pada leher Laras dari jendela yang masih terbuka lebar
Rayyan yang melihat itu tidak mengeluarkan bersuara, dia membiarkan orang tersebut masuk terlebih dahulu kedalam kamarnya.
Rayyan memberi kode kepada Laras agar tidak melihat kearahnya agar laki-laki tersebut tidak curiga.
Setelah laki-laki tersebut masuk kedalam kamar melalui jendela, Rayyan yang ada disamping jendela sebelahnya langsung mengayun pedang yang ada ditangannya kearah kepala laki-laki tersebut.
Laki-laki tersebut tidak bisa lagi mengelak dan alhasil membuat kepala laki-laki tersebut berpisah dari tubuhnya.
Laras langsung memeluk tubuh Rayyan sambil menangis dalam pelukan Rayyan
"Kamu tidak apa-apa, Bee?" kata Rayyan sambil mengelus kepala Laras
Laras yang berada didalam pelukan Rayyan hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban
"Sudah-sudah, tidak apa-apa, aku ada disini untuk melindungi mu" kata Rayyan sambil terus memeluk Laras dan menenangkannya
"Apa mereka masih ada?" tanya Laras yang sudah tidak memeluk Rayyan tetapi masih dekat dengan Rayyan
"Sepertinya sudah tidak ada lagi, kamu duduk saja ditempat tidur, biar aku saja yang menunggu disini" kata Rayyan
Laras menggelengkan kepalanya
"Kenapa?" tanya Rayyan kepada Laras
"Saya juga ingin membantu kamu, Mas" kata Laras
"Baiklah, boleh, tapi hapus dulu air matanya" kata Rayyan yang menghapus air mata Laras yang ada di pipi kiri dan kanannya.
"Iya Mas" kata Laras sambil tersenyum kepada Rayyan
Rayyan pun tersenyum kearah Laras.
"Mas, sebaiknya tutup saja jendelanya, jika mereka kembali menyerang, itu akan menghambat mereka untuk masuk kesini" kata Laras
__ADS_1
"Baiklah, Bee" kata Rayyan yang langsung melangkah mendekati jendela untuk menutupkannya.
Setelah Rayyan menutup kembali jendela kamarnya, Rayyan kembali menekan tombol pada alat yang ada di telinganya.
"Bagaimana?, apakah semuanya aman?, apa ada yang terluka?" tanya Rayyan melalui alat yang ada di telinganya itu
"Kami ditaman belakang aman, Bos" kata anak buahnya
"Kami didapur aman, Bos" kata anak buahnya
"Kami dikamar Nona Laras aman, Bos" kata anak buahnya
"kami dikamar Nana aman, Bos" kata anak buahnya
"Bagaimana kalian yang ada didapur?" apa disana aman?" tanya Rayyan karena anak buahnya yang diperintahkan untuk berjaga didapur tidak memberitahu kondisi mereka.
Namun tidak ada jawaban yang didapatkan oleh Rayyan
"Bagaimana keadaan dapur sekarang?" kata Rayyan yang kembali bertanya melalui alat yang ada di telinganya tersebut
Namun, lagi-lagi Rayyan tidak mendapatkan jawaban.
Rayyan yang merasa khawatir langsung mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya untuk melihat kondisi dapur
"Kenapa, Mas?, apa yang terjadi?" kata Laras yang bertanya kepada Rayyan
"Mas, minta anak buahmu yang berada dikamar Nana untuk mengecek keadaan dapur" kata Laras
"Baiklah" kata Rayyan sambil ingin menekan tombol pada alat yang ada di telinganya.
"Tunggu dulu Mas, coba kamu lihat baik-baik, pantas saja mereka yang ada didapur tidak bisa menjawab pertanyaanmu, mereka sedang mengincar seseorang yang sedang bersembunyi dikamar mandi dapur, Mas" kata Laras yang memperhatikan layar ponsel Rayyan
"Dari mana kamu mengetahuinya?" tanya Rayyan yang kembali memperhatikan layar ponselnya
"Ini Mas, saya memundurkan rekaman CCTV yang ada didapur, ada seseorang laki-laki yang berlari kearah kamar mandi yang ada didapur" kata Laras sambil menunjukkan yang dia lihat kepada Rayyan
Rayyan hanya menganggukkan kepalanya lalu mengelus kepala Laras.
"Kamu begitu teliti, Bee" kata Rayyan sambil mengelus kepala Laras
Laras tersenyum kearah Rayyan lalu pandangan kembali fokus kearah layar ponsel Rayyan
Setelah beberapa menit mereka fokus dengan layar ponsel Rayyan yang memperlihatkan kondisi dapur dimana anak buah Rayyan yang berada disana telah berhasil membunuh seorang laki-laki yang tadi bersembunyi dikamar mandi dapur
"Syukurlah, mereka berhasil" kata Laras
"Iya, Alhamdulilah" kata Rayyan yang langsung mematikan layar ponselnya dan menyimpannya kembali kedalam saku celananya
__ADS_1
Setelah Rayyan menyimpan ponselnya kembali, Rayyan langsung menekan tombol pada alat yang ada di telinganya, untuk berbicara kepada anak buahnya
"Ini sudah jam 03.30 dini hari, sepertinya mereka tidak akan menyerang lagi, jadi kalian bisa beristirahat, namun tetap ditempat" kata Rayyan
"Baik, Bos" kata mereka semua
"Baik, Tuan" jawab Bibi
Semua anak buah Rayyan beristirahat sesuai tempat yang tadi mereka jaga.
"Bibi, bagaimana kondisi Nana?" tanya Rayyan melalui alat yang masih ada di telinganya
"Nana sudah tidak apa-apa, Tuan" jawab Bibi
"Alhamdulilah kalau begitu, aku akan meminta anak buahku untuk mengeluarkan mayat yang ada disana" kata Rayyan
"Baik, Tuan" jawab Bibi
Setelah Rayyan berbicara seperti itu ke Bibi Ina, Rayyan langsung melangkahkan kakinya menuju kearah lemari kecil yang berada disamping tempat tidurnya
"Ini Bee, minum lah dulu, bukannya tadi kamu ingin minum" kata Rayyan sambil memberikan segelas air putih kepada Laras
"Iya, Mas, terima kasih" kata Laras sambil tangannya mengambil gelas yang diberikan oleh Rayyan.
"Ini, Mas, tolong letakkan kembali keatas lemari kecil itu, nanti saya akan membawanya ke dapur" kata Laras sambil tangannya memberikan gelas yang masih berisi setengah air putih itu kepada Rayyan
Rayyan langsung mengambil gelas yang berada ditangan Laras dan langsung meminum air yang masih ada didalam gelas tersebut.
"Mas, itu kan sisa saya, kenapa Mas meminumnya, itu masih ada yang didalam botol" kata Laras
"Biarlah, ini saja, kamu marah?" tanya Rayyan kepada Laras
"Saya tidak marah, tapi itu sisa saya, tidakkah Mas merasa jijik" kata Laras
"Tidak jijik, aku suka" kata Rayyan sambil tangan sebelahnya meletakkan gelas tersebut kembali ketempat semula.
Setelah Rayyan meletakkan gelas tersebut, Rayyan langsung menghidupkan kembali lampu kamarnya dan menekan tombol pada alat yang ada di telinganya
"Kalian semua, singkirkan mayat mereka, baik yang ada di kamarku atau dimana pun, aku ingin tidak ada lagi darah atau apapun yang tertinggal," kata Rayyan
"Baik, Bos" kata semua anak buah Rayyan
"Bibi Ina, tunggu saja dikamar, mereka akan membersihkan semuanya" kata Rayyan kepada Bibi
"Baik, Tuan" jawab Bibi Ina
Setelah Rayyan berkata seperti itu semua anak buahnya langsung bergerak dan membersihkan semua kekacauan dan mengumpulkan mayat-mayat yang ada untuk dikirim kemarkas Niel sebagai pemimpin mereka.
__ADS_1