rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
15


__ADS_3

Setelah selesai mencuci piring kotor, Laras naik tangga menuju kamarnya untuk istirahat. Ketika Laras ingin membuka pintu kamarnya, suara Rayyan terdengar dan membuatnya terkejut.


"Laras," kata Rayyan.


"Oh, ya Allah... eh, iya mas?" tanya Laras yang segera memutar badannya menghadap Rayyan sambil mengelus-elus dadanya


"Maaf telah membuatmu terkejut," kata Rayyan.


"Tidak apa-apa mas, ada apa?" tanya Laras.


"Apakah kamu ingin ke rumah orangtuamu, maksudku rumahmu? Sekedar melihat-lihat atau sekalian memberitahukan semuanya kepada mereka?" tanya Rayyan.


"Iya, saya ingin sekali pergi ke rumah itu, tapi tunggu sebentar ya. Biar ayah, ibu, dan kakak tiriku pulang dan ada di rumah," kata Laras.


"Baiklah, kalau begitu," kata Rayyan.


"Mas Rayyan," panggil Laras saat Rayyan hendak menuju tangga untuk turun ke lantai bawah.


"Iya, ada apa?" tanya Rayyan sambil membalikkan badannya menghadap Laras.


"Apakah mas bisa menemani saya jika pergi ke rumah untuk memberitahu semuanya kepada mereka?" tanya Laras yang menundukkan kepala.


"Jika kamu ingin bertanya kepada seseorang, tataplah mata orang tersebut," kata Rayyan.


"Iya," jawab Laras sambil masih menundukkan kepala.


"Lihatlah aku," pinta Rayyan.


Laras mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Rayyan.


"Baiklah, aku akan menemanimu ke sana. Nanti aku juga akan membawa Azka dan anak buahku, takutnya mereka nekat melakukan hal-hal yang tidak semestinya," kata Rayyan.


"Terima kasih," ucap Laras dengan rasa terima kasih.


"Laras, bisa kau ikut denganku sebentar? Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," kata Rayyan sambil menatap mata Laras.


"Kemana, Mas?" tanya Laras.


"Ikut saja, Bibi dan Nana sudah menunggu di sana," kata Rayyan.


Mendengar Rayyan menyebut nama Nana dan Bibi Ina, Laras menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu," kata Laras.


Lalu, Laras dan Rayyan menuruni anak tangga menuju ke suatu tempat yang dimaksud oleh Rayyan. Namun, baru beberapa langkah menuruni tangga, ponsel Rayyan berbunyi. Rayyan mengeluarkan ponsel tersebut dari saku celananya dan langsung melihat siapa yang menelponnya. Ternyata, Azka yang sedang menghubunginya.


"Assalamualaikum," sapa Azka.


"Gue cuma mau kasih tau lo, Pak Alex berangkat ke Belanda tidak jadi jam 03.00 sore, tapi sekarang," kata Azka tanpa formalitas.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Lo urus dulu semuanya, setelah itu kembali ke markas. Nanti malam gue kesana," kata Rayyan.


"Oke, sip... Assalamualaikum," sapa Azka.


"Waalaikumsalam," jawab Rayyan.


Setelah mematikan sambungan telponnya, Rayyan kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.


Sebelum mereka menuju ke tempat yang dimaksud, Rayyan terlebih dahulu mengunci pintu depan, lalu mereka pun melangkah ke taman belakang rumah.


"Kenapa kita ke taman, Mas?" tanya Laras.


"Kita tidak ke taman," kata Rayyan.


"Apa maksudmu?" tanya Laras kembali.


Rayyan melangkah ke arah pot bunga mawar yang berwarna putih, lalu ia menggeser pot bunga tersebut. Terlihatlah sebuah batu berbentuk persegi. Rayyan pun menekan batu tersebut, terdengar suara seperti pintu yang terbuka. Rayyan melangkah ke arah sebelah kolam ikan yang ada di taman tersebut, Laras mengikuti langkah Rayyan. Ketika Laras melihat ke bawah, terlihat ada anak tangga yang menuju ke suatu tempat.


"Mas, apa ini ruangan rahasia bawah tanah?" tanya Laras.


"Iya, hanya aku, Bibi Ina, Nana, dan Azka yang mengetahui ini. Sekarang kamu juga harus mengetahuinya," kata Rayyan.


"Tapi kenapa saya juga harus tahu, Mas?" tanya Laras, memandang Rayyan.


"Sudahlah, jangan banyak bertanya. Ayo, kita masuk. Bibi dan Nana sudah menunggu di sana," kata Rayyan.


"Baiklah, ayo," jawab Laras.


Mereka pun melanjutkan menuruni anak tangga tersebut. Ketika mereka baru beberapa anak tangga di bawah, pintu yang tadi mereka lewati tiba-tiba tertutup sendiri.


"Mas, bagaimana kita akan keluar nanti?" tanya Laras dengan rasa takut yang sedikit terpancar dari wajahnya.


"Pintu ini akan terbuka sendiri jika aku yang keluar bersamamu. Tetapi jika aku tidak keluar, pintu ini tidak akan terbuka," kata Rayyan sambil mencoba mengurangi kekhawatiran Laras.

__ADS_1


"Oh, begitu ternyata," kata Laras dengan suara pelan, tetapi raut wajahnya masih tampak cemas.


"Sudah, ayo kita lanjut turun," kata Rayyan dengan penuh semangat, berharap bisa mengalihkan pikiran Laras dari ketakutannya.


Laras hanya mengikuti setiap langkah Rayyan tanpa berkata atau bertanya sepatah kata pun lagi. Di dalam benaknya, Laras hanya merasa takut bahwa Rayyan akan meninggalkannya atau bahkan melakukan sesuatu yang jahat padanya.


Mereka terus melangkah turun hingga akhirnya sampai di sebuah ruangan yang cukup besar. Di dalam ruangan itu, terdapat beberapa pintu yang mengarah ke ruangan-ruangan lain. Bibi Ina dan Nana, yang sedang duduk di kursi sofa, langsung berdiri saat melihat Rayyan dan Laras tiba.


"Maaf, bibi dan Nana. Kami baru saja sampai," kata Rayyan.


"Tidak apa-apa, tuan," ucap bibi dengan menganggukkan kepala, disetujui oleh Nana.


"Laras, ini adalah ruangan yang tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan anak buahku sendiri tidak mengetahuinya. Ingatlah! Jika ada sesuatu yang terjadi padaku dan aku meminta kamu untuk bersembunyi, lari ke sini dan bersembunyi lah sampai aku menjemputmu," kata Rayyan.


"Tapi bagaimana jika tuan tidak bisa menjemput Nona Laras? Pintu ruangan ini hanya akan terbuka jika tuan ikut keluar," kata Nana.


"Aku pastikan, aku akan menjemputnya," janji Rayyan kepada Laras.


"Nana, kamu ajak Laras untuk melihat-lihat ruangan ini," kata bibi.


"Tidak perlu, bi. Biar aku saja yang menemaninya. Bibi dan Nana bisa istirahat di sini, tidak apa-apa," kata Rayyan.


"Baiklah, kalau begitu. Bibi dan Nana akan ke dapur sebentar. Tadi, bibi membawa sedikit makanan dari atas," kata bibi.


"Iya, bi. Kami akan pergi ke ruangan itu dulu ya," kata Rayyan sambil menunjukkan salah satu pintu di sana.


"Iya, pergilah," kata bibi.


Lalu Rayyan dan Laras melangkah menuju pintu yang dimaksud oleh Rayyan. Sementara itu, Bibi dan Nana pergi ke dapur mini yang ada di dalam ruangan bawah tanah tersebut.


"Mas, ini ruangan apa?" tanya Laras ketika mereka berdiri di depan pintu ruangan tersebut.


"Masuk saja, nanti kamu akan tahu," kata Rayyan


"Kenapa begitu gelap? Mengapa tidak ada lampu untuk pencahayaan?" tanya Laras saat ia hanya beberapa langkah masuk ke dalam ruangan. Rayyan memang sengaja membuatnya gelap, takut Laras terkejut jika melihat isi ruangan ini sekaligus.


"Berjanjilah padaku, jangan kaget melihat isi ruangan ini," kata Rayyan seraya melihat ke arah Laras.


"Aku akan berusaha," jawab Laras.


"Jika kau takut, berdirilah dibelakang ku, jangan bergerak, dan jangan berteriak" kata Rayyan memperingatkan Laras

__ADS_1


"Iya, aku tidak akan berteriak" jawab Laras.


__ADS_2