rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
18


__ADS_3

Di tempat lain, terlihat Laras sedang membuka pintu ruangan Lexi dan di belakang pintu itu, Lexi tampak seolah menunggunya.


"Wahhh... Lexi, kamu menunggu saya ya?" kata Laras.


Lexi hanya menatap ke arah Laras.


"Maafkan aku, saya membuatmu menunggu lama. Tadi saya makan dulu," kata Laras yang mendekat dan mengelus kepala Lexi.


Lexi memejamkan matanya untuk merasakan elusan tangan Laras.


"Lexi, saya mau kembali ke rumah. Nanti malam saya kesini lagi, tidak apa-apa kan?" kata Laras yang masih mengelus kepala Lexi.


Seolah-olah Lexi paham apa yang dikatakan oleh Laras, Lexi langsung membuka matanya.


"Tapi saya janji nanti malam saya kesini," kata Laras.


Lexi seolah-olah merajuk mendengar Laras mau pergi. Dia kembali duduk di tempat biasanya sambil memejamkan matanya dan melipatkan kaki depannya.


"Saya kan sudah menepati janji saya tadi untuk datang kesini, ya walaupun sebentar," kata Laras lagi sambil berjalan mendekati Lexi, namun Lexi tidak bergerak sedikit pun.


"Lexi," panggil Laras sambil mengelus kepala harimau putih tersebut.


"Saya janji nanti malam saya pasti kesini untuk bermain denganmu," janji Laras lagi.


Perlahan, Lexi mengangkat sebelah kakinya dan memegang tangan Laras seolah meminta Laras berjanji.


"Janji," kata Laras.


"Ya sudah, saya mau keluar dulu. Mereka yang lain pasti menunggu saya," ujar Laras sambil tersenyum dan mengelus kepala Lexi.


Laras pun berjalan menuju pintu dan melihat Lexi memandangnya, lalu Laras menutup kembali pintu ruangan tersebut.


Dari kejauhan terlihat Bibi, Nana, dan Rayyan duduk di sofa tempat mereka makan tadi, menunggu kedatangan Laras.


"Maaf membuat kalian menunggu lama," kata Laras.


"Tidak apa-apa, sudah ayo kita keluar," kata Rayyan sambil berdiri, diikuti oleh Nana dan Bibi.


"Mas, kucingnya?" tanya Laras sambil menunjuk ke arah Lucy dan Lacy.


"Iya, mereka ikut kita. Biar Bibi dan Nana yang membawa mereka," kata Rayyan.


"Biar Laras bantu bawa Lucy ya bi?" tanya Laras


"Tidak apa-apa, nona. Biar kami yang membawa mereka," kata Bibi, diangguki oleh Nana.


"Sudah, ayo kita keluar," kata Rayyan sambil melangkah menuju tangga dan pintu keluar.


Pintu itu terbuka dengan sendirinya, Rayyan meminta Bibi dan Nana langsung membawa kucing ke kamar kosong di sebelah kamar Laras.

__ADS_1


"Bibi, Nana, antar lah kucing itu dulu. Nanti malam kita kembali ke sini," kata Rayyan.


"Baik, tuan," jawab mereka serentak.


Bibi dan Nana langsung membawa kucing tersebut ke kamar yang dimaksud.


Tinggallah Laras dan Rayyan di atas pintu masuk ruang rahasia bawah tanah yang telah tertutup.


"Jika nanti aku tidak ada dan kamu ingin bermain di sini, silakan bermain saja," kata Rayyan.


"Lalu bagaimana caranya? Kan pintu ini hanya bisa dibuka olehmu, Mas," kata Laras.


Rayyan tidak menjawab, ia hanya berjalan menuju pot bunga mawar putih yang berada di dekatnya, tempat tombol pembuka pintu tersebut.


"Mendekat lah," pinta Rayyan.


"Ada apa, Mas?" tanya Laras.


"Kemari kan tanganmu," Rayyan langsung memegang tangan Laras.


"Lalu apa yang ingin kamu lakukan dengan tanganku?" tanya Laras bingung.


Rayyan tidak menjawab, ia hanya menggerakkan tangan Laras untuk menekan batu berbentuk persegi yang merupakan pembuka pintu ruang rahasia bawah tanahnya.


"Sidik jari kamu sudah tersimpan di sini," kata Rayyan.


"Jadi, maksudmu apa Mas?" tanya Laras yang masih tidak mengerti.


Laras yang ditinggalkan, menata kembali pot bunga tersebut ke tempat semula, lalu dia berbisik dalam hati, Mengapa dia seolah-olah mengistimewakan aku? Aku tidak memiliki hubungan apa pun dengannya. Apakah dia menyukai aku? Ah... sudahlah, aku hanya berkhayal saja. Laras kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


Laras menuju tangga untuk ke kamarnya. Dia ingin mandi dan mengerjakan salat Maghrib. Bibi dan Nana sudah mandi dan langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Rayyan sudah berada di kamar mandi, merendam dirinya di dalam bak mandi.


Jam menunjukkan pukul 19.30 malam. Bibi dan Nana sudah menyiapkan makanan dan meletakkannya di meja makan.


"Nana, bisakah kamu memanggil Tuan dan Nona Laras untuk makan?" pinta bibi.


"Tentu, Bi," jawab Nana sambil pergi ke kamar Laras.


Tok... tok... tok... terdengar suara ketukan pintu kamar Laras dari luar.


"Sebentar," jawab Laras dari dalam kamar.


"Ada apa, Nana?" tanya Laras saat membuka pintu kamar sambil memakai mukena yang diberikan oleh bibi beberapa hari yang lalu.


"Ya Allah," kata Nana terkejut.


"Apa yang terjadi, Nana?" tanya Laras lagi.


"Saya terkejut, Nona, melihat Nona memakai mukena seperti itu," kata Nana sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


"Maafkan saya, Nana. Saya baru selesai mengerjakan salat Maghrib. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Laras lagi.


"Oh, tidak apa-apa. Makan malam sudah siap. Silakan turun," kata Nana.


"Maaf, Nana, saya tidak membantumu dan Bibi memasak makanan," kata Laras.


"Tidak masalah, Nona. Anda turun saja dulu. Saya akan memanggil Tuan Rayyan," pamit Nana.


"Iya, sebentar lagi saya turun. Terima kasih, Nana," kata Laras, lalu menutup pintu setelah melihat Nana berjalan menuju pintu kamar Rayyan.


Tok... tok... tok... terdengar suara ketukan pintu kamar Rayyan dari luar.


"Tuan, makan malam sudah siap. Bibi meminta Tuan untuk turun," kata Nana.


"Iya, sebentar lagi," kata Rayyan dari dalam kamar tanpa membuka pintu.


Setelah Rayyan berkata begitu, Nana turun untuk bertemu bibi di meja makan.


"Mereka bilang sebentar lagi, Bi," laporkan Nana kepada bibi.


"Baiklah, tidak apa-apa. Kita bersihkan dapur dulu, nanti kita bisa ikut Tuan ke ruang bawah tanah," kata bibi.


"Baik, Bi." jawab Nana


Nana dan Rayyan terlihat turun bersama-sama. Mereka menuju ke meja makan, lalu Laras memanggil bibi dan Nana untuk bergabung makan bersama. Rayyan juga setuju dengan permintaan Laras.


Setelah mereka selesai makan malam, bibi dan Nana langsung mencuci piring kotor. Sementara itu, Laras pergi ke kamar Lucy dan Lacy untuk memeriksanya sebentar, dan Rayyan duduk di ruang tamu menunggu mereka semua.


"Nona Laras, kemana tuan?" tanya bibi yang mendekati Rayyan setelah mencuci piring bersama Nana


"Di atas, katanya mau ke kamar Lucy dan Lacy sebentar," jawab Rayyan.


"Maaf, membuat kalian menunggu lama," kata Laras sambil turun dari tangga.


"Kami saja baru selesai dari mencuci piring, nona," kata Nana


Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Sesuai dengan janji Laras kepada Lexi, si harimau putih, Laras akan datang lagi untuk mengajaknya bermain bersama.


"Bibi, Mas, Nana, saya ke ruang Lexi ya. Mau main sebentar dengannya," kata Laras.


"Iya, jangan lama-lama," kata Rayyan yang diangguki oleh Nana dan Bibi.


Laras menuju ke ruangan Lexi, sementara Nana, Bibi, dan Laras duduk di sofa sambil memakan makanan yang dibawa dari atas.


"Lexi..." kata Nana sambil membuka pintu ruangan tersebut.


Lexi seolah tahu siapa yang akan datang, dia langsung melompat ke arah Laras seperti minta digendong, membuat Laras terkejut dan tersandar dekat dinding ruangan itu.


"Lexi, kamu itu besar, mana kuat saya menggendong kamu," kata Laras sambil langsung memeluk Lexi.

__ADS_1


Setelah beberapa jam bermain dengan Lexi, Laras pun merasa mengantuk. Tanpa sadar lagi, dia tertidur dan perut Lexi menjadi bantal tidurnya. Lexi tidak terganggu dan ikut tertidur juga.


__ADS_2