
Jam sudah menunjukkan pukul 16.30 sore, Nana masih terus menggenggam kedua tangan Laras.
"Nana, apa kamu yakin aku adalah Kakak mu?" kata Laras yang bertanya kepada Nana
"Iya Kak, ayah ku yang memberitahukannya kepada ku" kata Nana
"Apa buktinya, Nana?" tanya Laras yang masih menatap kearah Nana
"Kalung, kalung yang Kakak kenakan sama dengan kalung yang aku kenakan, ini Kak, lihatlah" kata Nana sambil mengeluarkan kalung yang dia kenakan dilehernya
"Kalung seperti ini, bukan hanya kita berdua yang punya, Nana, kalung ini hanya kalung biasa" kata Laras
"Tidak Kakak, kalung ini...." kata Nana yang terpotong
"Kamu salah, Bee" kata Rayyan yang memanggil Laras dengan panggilan sayangnya didepan Bibi Ina dan Nana.
Bibi Ina dan Nana yang mendengar Tuan mudanya memanggil Laras dengan sebutan 'Bee' langsung menatap kearah Rayyan
"Mas" kata Laras yang sedikit memberi kode kepada Rayyan
"Bibi dan Nana sudah mengetahuinya, Bee" kata Rayyan
"Sudah mengetahui jika kita ada hubungan?" tanya Laras kepada Rayyan
"Hubungan apa?" tanya Bibi Ina dan Nana serentak
Laras sedikit lupa dengan masalah dirinya dan Nana karena ulah Rayyan yang memanggilnya dengan sebutan kesayangannya itu
"Kalian sudah menjadi sepasang kekasih?" tanya Bibi Ina
"Apa benar, Kak?" tanya Nana yang sudah mengubah panggilannya kepada Laras
Rayyan hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sedangkan Laras yang merasa malu hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Tidak usah malu, Nak, kami sudah mengetahui semuanya, Tuan Rayyan ini sudah menceritakan semuanya kepada kami, bahwa dia sangat menyukai dan mencintai kamu, Nak" kata Bibi Ina sambil mengelus kepala Laras yang masih tertunduk
"Kakak jangan menunduk terus, kami mendukung kok hubungan kalian" kata Nana
Laras masih enggan untuk mengangkat kepalanya.
Rayyan yang melihat Laras menundukkan kepalanya hanya tersenyum dan menggelengkan kepala karena melihat tingkah kekasihnya yang masih malu-malu.
"Lihatlah, Tuan, wajahnya sangat merah" kata Nana sambil tersenyum.
"Sudah-sudah" kata Bibi yang merasa sedikit tidak tega karena Rayyan dan Nana terus mengganggu Laras
"Jadi, sekarang Tuan muda, adalah calon kakak ipar ku" kata Nana sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nana, kita belum tentu adik Kakak" kata Laras dengan suara lembut karena takut akan melukai hati Nana
"Kakak, aku tidak bohong, aku berkata jujur, ayahku yang menceritakannya kepadaku" kata Nana
"Tapi saya tidak yakin, Nana" kata Laras
"Kakak, kalung ini adalah buktinya, Kak" kata Nana sambil memegang kalung yang dia kenakan
"Nana, kalung ini bukan hanya kita yang memilikinya" kata Laras lagi
"Bee, apa yang dikatakan oleh Nana benar, kalung itu adalah buktinya, bahwa kalian adalah saudara" kata Rayyan
"Dari mana kamu mengetahuinya, Nak?" tanya Bibi yang sudah bersuara
"Karena kalung yang mereka gunakan adalah kalung yang tidak ada lagi didunia ini Bi, hanya kalian berdua saja yang memilikinya" kata Rayyan yang memberitahu kedalam mereka semua.
"Jika kita memang saudara, kenapa orang tua kita membuang ku?" tanya Laras
"Kita beda ayah Kakak, kita satu ibu tapi beda ayah" jawab Nana
"Apa mungkin, aku adalah anak yang tidak diinginkan?" tanya Laras kepada Nana
"Entahlah, Kak, aku tidak peduli, yang penting sekarang aku sudah menemukan Kakak yang selama ini aku cari" kata Nana
Laras tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan menetap kearah Nana.
"Apa saat ini kamu masih mempunyai foto orang tua kita?" tanya Laras kepada Nana
"Kalau makamnya, apa kamu tau dimana letak makam mereka?" tanya Laras kembali kepada Nana
Nana hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban bahwa dirinya tidak tau dimana letak makam orang tuanya.
"Kenapa?" tanya Laras kepada Nana
"Dulu aku tau makam mereka, tapi sekarang pemakaman itu sudah hilang entah kemana, aku pun tidak tau Kak, tempat tinggal ku dulu kampung sangat damai dan tentram tapi sekarang sudah menjadi kota yang ramai dan hiruk-pikuk, jadi aku tidak tau lagi dimana makam tersebut" kata Nana
"Baiklah, Nana, aku percaya dengan kamu, bahwa kamu adalah adik ku, saudara ku" kata Laras
"Terima kasih, Kak" kata Nana sambil menggenggam kedua tangan Laras
"Bolehkah aku memeluk mu, Kak?" tanya Nana
"Tentu boleh, sini, peluklah Kakak mu ini" kata Laras sambil merentangkan kedua tangannya menunggu Nana memeluknya"
Nana yang mendapat izin dari Laras, langsung memeluk tubuh Laras dengan erat, Laras yang dipeluk oleh Nana, membalas pelukan sang adik yang baru dijumpai itu.
Rayyan dan Bibi yang melihat Kakak beradik ini sedang berpelukkan hanya tersenyum.
__ADS_1
Setelah beberapa saat Laras dan Nana berpelukkan, mereka berdua akhirnya melepaskan pelukannya.
"Aku sayang sama Kakak" kata Nana
"Aku juga sangat menyayangimu, Nana" jawab Laras
Rayyan yang mendengar Laras berkata seperti itu langsung menarik tubuh Laras dan memegang kedua bahu Laras.
"Bee, kamu tidak pernah mengatakan bahwa kamu menyayangiku" kata Rayyan dengan kedua matanya yang menatap kearah mata Laras
"Mas, dia adikku, tentu aku sangat menyayanginya, Mas" kata Laras
"Jadi, aku tidak pantas untuk kamu sayangi?" tanya Rayyan yang suara dibuat sesedih mungkin
"Mas, ih, kamu ini, kenapa seperti ini sih, kan Nana adik saya, Mas" kata Laras
"Jadi, aku ini siapa kamu?" tanya Rayyan yang seolah-olah sedih
"Mas, kamu ih, tanpa saya jawab pun, Mas tau kan kamu itu siapa bagi saya" kata Laras
"Aku ini siapa kamu, Laras?" tanya Rayyan kembali sambil memegang kedua bahu Laras
"Mas" kata Laras sambil menundukkan kepalanya karena malu dengan pertanyaan Rayyan
"Aku ini siapa bagi mu, Laras?" tanya Rayyan kembali sambil sebelah tangannya memegang dagu Laras agar laras mengangkat kepalanya.
"Ka....kamu calon suami saya" kata Laras
"Kamu yakin?" tanya Rayyan yang masih memegang dagu Laras
Laras hanya menganggukkan kepalanya sekali.
"Baiklah, calon istriku" kata Rayyan yang sudah melepaskan kedua tangannya dari bahu dan dagu Laras.
Bibi Ina dan Nana hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
"Bibi dan Nana kembalilah keatas dulu, saya dan Laras ingin keruang senjata sebentar" kata Rayyan
"Tapi, pintunya tidak bisa terbuka jika Tuan tidak ikut keluar" kata Bibi
"Nana, bukannya kamu bisa membuka pintu tersebut?" tanya Laras
"Iya, Kak, aku bisa membuka pintunya" kata Nana
"Baiklah kalau begitu, kami keluar dulu, Tuan, Nona" kata Bibi yang berpamitan kepada Laras dan Rayyan
"Assalamualaikum" kata Bibi Ina dan Nana serentak
__ADS_1
"Waalaikumsalam" jawab Rayyan dan Laras serentak juga.
Bibi Ina dan Nana langsung melangkahkan kaki mereka untuk keluar dari ruang latihan, lalu mereka menuju pintu keluar dari ruang rahasia bawah tanah milik Rayyan untuk kembali keatas sesuai perintah Rayyan.