
Pagi harinya, jam menunjukkan pukul 07.00. Laras tengah bermain dengan ikan-ikan di kolam sendirian. Dia begitu senang, terlihat dari wajahnya yang terus tersenyum.
Saat Laras berjalan di tepi kolam untuk pindah tempat duduk, dia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Untunglah, tiba-tiba Rayyan datang dari belakang dan menangkap serta memeluk pinggang Laras dengan sebelah tangannya.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Rayyan kepada Laras setelah membenarkan posisi Laras agar dapat berdiri kembali.
"Aku baik-baik saja, terima kasih," jawab Laras sambil tertunduk.
"Apakah kamu masih ingin duduk dan bermain di kolam ini?" tanya Rayyan.
"Iya, aku akan masuk sebentar lagi," jawab Laras sambil tetap tertunduk.
"Baiklah, aku akan menemanimu karena ada hal penting yang ingin kukatakan padamu," kata Rayyan.
"Baiklah, kita bisa duduk di sini saja," kata Laras sambil langsung duduk di tepi kolam, memasukkan kakinya ke dalam air tanpa melihat wajah Rayyan.
Rayyan hanya mengikuti kata-kata Laras. Ia juga ikut duduk di tepi kolam dan memasukkan kakinya ke dalam kolam ikan tersebut, tidak lupa melepaskan alas kakinya.
"Mas mau bicara apa? hal penting apa yang ingin Mas bicarakan?" tanya Laras kepada Rayyan sambil melihat ikan-ikan yang bermain di kakinya.
"Maaf," kata Rayyan sambil langsung menatap wajah Laras.
Laras yang sedang menggoyangkan kakinya pelan-pelan di dalam kolam ikan tiba-tiba berhenti dan terdiam. Pandangannya tidak berani berpindah, dia menunduk untuk melihat kakinya di dalam kolam.
"Aku yang berbicara padamu, aku di sini, bukan di bawah sana," kata Rayyan dengan suara pelan sambil tetap menatap wajah Laras.
"Maaf, untuk apa, mas?" tanya Laras masih menunduk.
"Lihatlah aku, Laras," pinta Rayyan.
Laras pun memberanikan diri untuk melihat dan menatap wajah Rayyan.
"Maafkan aku karena telah memarahi mu, membentak mu dan membuatmu menangis tadi malam," kata Rayyan sambil menatap wajah Laras.
"Tidak apa-apa, mas. Saya yang salah, saya tidak tahu balas budi," kata Laras.
"Laras, kamu tidak salah. Aku yang terlalu emosional. Maafkan aku, ya?" kata Rayyan masih menatap wajah Laras.
"Mas, saya sudah memaafkan mu. Tidak apa-apa. Kamu juga telah membantu aku. Terima kasih banyak. Maaf jika aku..." kata Laras yang belum selesai.
"Ssttt, kamu tidak bersalah. Jangan meminta maaf padaku," kata Rayyan sambil meletakkan jari telunjuknya hampir menyentuh bibir Laras, seolah-olah memintanya untuk diam.
__ADS_1
Laras terdiam dan menatap ke arah mata Rayyan, tak berani berbicara lagi. Namun tiba-tiba, ponsel Rayyan berbunyi.
"Sebentar, aku angkat telepon dulu. Kamu jangan kemana-mana," kata Rayyan.
"Baik, Mas," jawab Laras.
Rayyan mengangkat telepon tersebut, dia berdiri untuk sedikit menjauh dari tepi kolam tempat mereka duduk tadi. Ternyata, telepon itu dari anak buahnya yang ditugaskan mencari alamat Pak Alex.
"Assalamualaikum, Bos," kata salah satu dari mereka.
"Waalaikumsalam," jawab Rayyan.
"Bos, kami sudah menemui Pak Alex dan memintanya datang ke rumah Bos. Beliau akan datang jam 10.00 pagi, Bos," kata anak buah Rayyan tersebut.
"Baik, terima kasih," kata Rayyan singkat.
"Sama-sama, Bos. Kalau begitu, kami akan kembali ke markas," kata anak buah Rayyan.
"Tidak perlu ke markas, kembali kesini. Aku masih membutuhkan bantuan kalian," titah Rayyan kepada anak buahnya.
"Baik, Bos. Kami akan kembali ke rumahmu. Kalau begitu, kami berangkat dulu," kata anak buah Rayyan yang akan kembali ke rumah Rayyan.
"Ya, berhati-hatilah," kata Rayyan.
"Waalaikumsalam," jawab Rayyan dan segera menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
Rayyan kembali menemui Laras yang masih menunggu, duduk di tepi kolam bermain bersama ikan-ikan di dalamnya.
"Maaf agak lama ya," kata Rayyan kepada Laras.
"Tidak, tidak lama kok," jawab Laras.
"Laras," panggil Rayyan.
"Iya, ada apa?" jawab Laras sambil menoleh ke arah Rayyan.
"Apa kamu benar dengan ucapanmu? Jika setelah menemukan alamat Pak Alex, kamu akan pergi dari rumah ini?" tanya Rayyan, sambil menatap mata Laras.
"Hmmm... emangnya kenapa?" tanya Laras sambil menggoyangkan kakinya di dalam kolam, pandangannya beralih ke ikan yang bermain di dekat kakinya.
"Aku tanya serius, Laras. Apa kamu serius dengan ucapanmu itu?" tanya Rayyan kembali.
__ADS_1
"Hmm, ya... belom tau sih. Kan mau cari tempat tinggal dulu," jawab Laras.
"Apa kamu yakin mau pergi dari rumah ini setelah bertemu dengan Pak Alex?" tanya Rayyan kembali, yang tidak puas dengan jawaban Laras tadi.
"Jika mas yang menginginkan saya pergi secepatnya, ya... saya akan pergi. Tetapi jika mas masih mau menerima saya di rumah mas, ya... saya akan tinggal di sini," jawab Laras, sambil melihat ke arah wajah Rayyan, namun kakinya tetap bergoyang di dalam kolam.
"Jika aku tak mengizinkan kamu pergi selamanya dari rumah ini, bagaimana?" tanya Rayyan kepada Laras.
"Ya... saya tidak akan pergi, berarti saya masih diterima oleh mas di sini, di rumah mas. Namun, jika mas sudah berani kasar ke saya atau menyakiti saya, ya... saya lebih baik pergi saja, daripada saya tersiksa," jawab Laras dengan enteng, sambil melihat ke arah ikan-ikan di kolam.
"Baik kalau begitu," kata Rayyan, sudah mengalihkan pandangannya ke arah lurus ke depan.
"Kenapa mas bertanya seperti itu? Apa orang tua mas akan pulang kesini dan mas takut ketahuan kalau mas membawa perempuan ke rumah mas?" ucap Laras tanpa jeda.
"Laras, kedua orang tua saya sudah meninggal, dan saya adalah anak yatim piatu," kata Rayyan sambil menatap ke depan.
"Maaf mas, saya tidak tahu, dan maaf bukan maksud saya menyinggung mas tadi. Maaf membuat mas bersedih," kata Laras, melihat ke arah wajah Rayyan.
"Tidak apa-apa," kata Rayyan.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.00, namun mereka berdua masih tetap bermain di kolam ikan. Lalu, Rayyan menyampaikan pesan yang disampaikan oleh anak buahnya, yang telah tiba dan duduk di kursi dekat pintu masuk yang sengaja disediakan untuk bersantai.
"Laras," panggil Rayyan.
"Iya, Mas. Ada apa?" tanya Laras sambil memandang ke arah Rayyan.
"Sebentar lagi Pak Alex akan datang," kata Rayyan sambil menatap lurus ke depan.
"Apa? Mas sudah menemukan alamat Pak Alex? Mas serius, kan? Mas beneran, kan? Tidak bohong, kan?" ujar Laras dengan heboh, melemparkan banyak pertanyaan kepada Rayyan.
"Satu-satu saja bertanya, aku bingung menjawab yang mana dulu," jawab Rayyan.
"Tanpa saya ulangi, Mas tentu ingat semua pertanyaan saya tadi," kata Laras.
"Hmm, baiklah, saya jawab. Iya, saya sudah menemukan alamat Pak Alex. Dia berjanji akan datang ke rumah ini jam 10.00. Saya tidak bohong, saya serius," jawab Rayyan sambil memandang wajah Laras.
Sangat bahagianya, Laras spontan memeluk pinggang Rayyan yang berada di sampingnya.
"Ehh, maaf, Mas. Maaf, saya terlalu bahagia. Maaf, saya tidak sengaja," kata Laras yang langsung kembali ke posisinya semula.
Rayyan tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya, tetapi pandangannya tetap lurus ke depan.
__ADS_1
"Sekarang, kita menunggu Pak Alex di ruang tamu saja," kata Rayyan.
"Baik, Mas," jawab Laras.