rahasia gadis terbuang milik sang mafia

rahasia gadis terbuang milik sang mafia
13


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul 10.00 pagi. Rayyan dan Laras sudah berada di ruang tamu. Dua anak buah Rayyan datang bersama seorang pria sebaya dengan ayah Laras.


"Assalamualaikum, tuan Rayyan," sapa pria tersebut kepada Rayyan yang memasuki ruangan diikuti oleh Laras, diikuti pula oleh dua orang anak buah Rayyan.


"Waalaikumsalam," jawab Rayyan sambil bangkit dari tempat duduknya, diikuti oleh Laras.


Mereka pun berjabat tangan bergantian. Rayyan mempersilahkan mereka untuk duduk.


"Bibi..." panggil Rayyan kepada Bibi Ina.


"Bi, tolong buatkan minuman ya," pinta Rayyan dengan sopan kepada Bibi.


"Eh, tidak perlu, biar saya saja yang membuatnya," kata Laras yang menawarkan diri.


"Kamu tetap di sini, jangan kemana-mana," kata Rayyan sambil memegang tangan Laras.


"Iya, Nona, biar Bibi saja yang membuatnya. Tidak apa-apa," jawab Bibi.


"Terima kasih ya, Bi. Maaf merepotkan," kata Laras yang sudah duduk kembali di samping Rayyan.


"Iya, Nona, tidak merepotkan kok, Nona. Sudah tugas Bibi. Ya sudah, Bibi ke dapur dulu," kata Bibi.


"Iya, Bi," jawab Rayyan dan Laras serentak.


Dari arah pintu masuk terlihat Azka yang mendekati mereka. "Assalamualaikum," sapa Azka kepada semua orang.


"Waalaikumsalam," jawab mereka semua.


Azka langsung duduk di sebelah Pak Alex.


"Pak Alex?" tanya Azka sambil melihat ke arah Pak Alex dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Iya, saya Pak Alex," jawab Pak Alex menerima jabatan tangan Azka.


"Tuan Rayyan, bolehkah saya bertanya sebelum tuan menyampaikan tujuan tuan meminta saya datang ke sini?" kata Pak Alex.


"Iya, boleh Pak, silahkan," jawab Rayyan.


"Gadis ini siapa?" tanya Pak Alex kepada Rayyan sambil terus menatap Laras.

__ADS_1


"Ini Laras, Pak," jawab Rayyan.


"Laras? Laras putri dari Ibu Suci Argantara dan Bapak Andre Argantara?" tanya Pak Alex, yang sudah menatap menunggu jawaban dari Laras.


"I...iya Pak Alex, saya putri dari mereka berdua," jawab Laras sambil menunduk.


"Nama aslimu?" tanya Pak Alex.


"Laras Irma Nabella," jawab Laras.


"Laras Irma Nabella Argantara," jawab Pak Alex sambil membuka tas yang dibawanya dan mengeluarkan beberapa kertas yang disimpan dalam map hijau.


"Dari mana Bapak tahu bahwa gadis ini adalah anak dari Bapak Andre dan Suci Argantara?" tanya Rayyan.


"Karena wajahnya mirip dengan ibunya, hanya bola matanya yang berbeda. Ibunya memiliki warna bola mata hitam, namun gadis ini memiliki bola mata coklat cerah," kata Pak Alex.


"Oh, ternyata Bapak sudah dapat mengetahui tujuan saya meminta Bapak datang ke rumah saya," ucap Rayyan.


"Jadi, Nona Laras tinggal di sini?" tanya Pak Alex.


"Iya Pak, ayah dan ibu tirinya telah membuangnya, dan ayah kandungnya sendiri tidak mengakui bahwa Laras adalah putrinya," kata Rayyan.


"Iya Pak, saya yang memberikan alamat tersebut. Maaf Pak, Laras tidak bisa mencari alamat Pak sendiri," kata Laras.


"Tidak apa-apa, Nona. Yang terpenting sekarang Nona aman, jauh dari mereka yang menyakitimu. Pantas saja ketika saya datang ke rumah Nona untuk menyampaikan pesan yang ditinggalkan oleh almarhum ibu Nona, Nona tidak ada. Kata ayah Nona, Nona sedang berlibur ke luar negeri bersama teman Nona," kata Pak Alex.


"Tidak, Pak. Saya tidak pernah pergi ke luar negeri. Kalau boleh tahu, apakah Bapak yang datang ke rumah saya 100 hari setelah ibu saya meninggal?" tanya Laras, memastikan.


"Iya, Nona. Saya yang datang. Waktu itu saya masih muda dan masih ganteng," kata Pak Alex sambil memainkan alis matanya.


"Pak Alex, jaga mata, jaga hati. Di rumah ada istri," kata Azka sambil tertawa.


"Nak Azka bisa saja," jawab Pak Alex.


"Pak Alex, boleh tidak kami tahu apa pesan alm. ibu Laras?" tanya Rayyan kepada Pak Alex.


"Tentu boleh, tuan. Sangat boleh," jawab Pak Alex.


"Terima kasih, Pak Alex," jawab Laras sambil tersenyum.

__ADS_1


Ketika Laras tersenyum, Rayyan tidak mengedipkan matanya. Dia berkata dalam hatinya, Kau sangat cantik, Laras. Kalau aku boleh egois, aku tidak mau kau pergi dari kehidupanku. Dan ku pastikan kau akan bahagia bersamaku hingga kita menua bersama. Kaulah yang berhasil membuka pintu hatiku yang tanpa aku sadari, entah dari kapan.


Rayyan baru mengalihkan pandangannya ketika Pak Alex memberikan beberapa kertas kepada Laras.


"Sertifikat tanah," kata Laras.


"Iya, sertifikat tanah ini adalah milik ibumu, nona. Tanah ini selama ini diincar oleh ayahmu. Ibumu telah mewariskan tanah beserta rumah yang sekarang ditempati oleh ayah dan ibu tirimu, kepadamu," kata Pak Alex kepada Laras.


"Jadi sekarang rumah tersebut milik nona?" tanya Azka spontan.


"Sebenarnya, bukan sekarang. Tetapi mulai dari hari pertama ibumu meninggal dunia," jawab Pak Alex.


"Kenapa ibu memberikannya kepada Laras, Pak?" tanya Laras yang sudah hampir menangis.


"Karena ibumu sudah mengetahui jika ayahmu sudah menikah dengan wanita lain. Ayahmu mengira bahwa ibumu tak mengetahui hal tersebut, tetapi ibumu sangat pandai dan sangat teliti. Ibumu sangat pintar. Tanpa sepengetahuan ayahmu, dia mengubah semua harta warisan menjadi milikmu saja. Tidak ada nama ayahmu," kata Pak Alex, yang menceritakan alasan ini kepada Laras.


Terlihat bibi datang membawa minuman dan cemilan dari arah dapur, lalu meletakkannya di atas meja di dekat sofa tempat mereka duduk. Setelah itu, bibi pergi kembali ke dapur.


"Laras, apa ibumu pernah memberi pesan atau meninggalkan pesan lain selain meminta kamu menemui saya?" tanya Pak Alex


"Tidak, Pak, tidak ada pesan lain. Tapi ibu pernah bilang agar saya menjaga dengan baik kotak berwarna merah," kata Laras


"Apakah kotaknya ada bersamamu saat ini?" tanya Pak Alex.


"Ada, Pak. Saya akan mengambilkannya sebentar," kata Laras.


"Baik," kata Pak Alex.


Namun setelah beberapa langkah, Laras kembali ke tempat duduknya.


"Kenapa?" tanya Rayyan heran.


"Kan kotaknya masih ada di kamarmu, Mas," kata Laras sambil menunduk.


"Kan aku sudah bilang, kalau kamu ingin melihatnya atau apa pun, ambillah di kamarku," kata Rayyan dengan lembut kepada Laras.


Kata-kata yang keluar dari mulut Rayyan berhasil membuat Azka dan dua orang anak buahnya terkejut. Pasalnya, tidak pernah seorang perempuan diperbolehkan memasuki kamar Rayyan, kecuali Bibi Ina. Bahkan Nana pun tidak diperbolehkan masuk ke kamarnya. Tetapi, ini baru beberapa hari Laras di sini, dan Rayyan memperbolehkan Laras masuk ke kamarnya. Kejadian ini sangat mengejutkan bagi Azka dan dua orang anak buahnya, sampai-sampai Azka tersedak ketika minum air yang dibawakan oleh Bibi.


"Ya sudah, kalau begitu, biar aku yang mengambilnya. Kamu tunggu di sini," kata Rayyan, lalu ia berdiri dan menuju tangga untuk pergi ke kamarnya dan mengambil kotak merah milik Laras.

__ADS_1


__ADS_2